Sinopsis: Mati konyol akibat tersedak tutup pulpen saat mencoba pamer trik sulap di depan kucingnya, Raditya dilempar oleh Dewa Administrasi yang burnout ke Aethelgard—dunia fantasi purba yang super kejam dan mematikan.
Bukannya dibekali pedang suci atau sihir penghancur masal, Raditya hanya diberi sebuah Sistem Survival yang hobi menghujat, bermulut sarkas, dan gemar memberikan hadiah absurd seperti panci aluminium. Tanpa kemampuan bertarung, Raditya terpaksa mengandalkan logika Bumi yang pas-pasan, keberuntungan yang aneh, dan adu bacot dengan sistemnya sendiri demi tidak mati untuk kedua kalinya di dasar rantai makanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Operasi Bumi Hangus Lembah Apel
Keenam goblin itu mulai mengecilkan lingkaran kepungan mereka. Makhluk-makhluk berkulit hijau keriput itu mengeluarkan suara mendecit parau, liur berlendir menetes dari sela-sela gigi mereka yang kuning dan tajam. Mereka menatap Raditya bukan sebagai manusia, melainkan seonggok daging segar yang siap dicincang.
Goblin terdepan yang bertubuh paling besar melompat maju, mengacungkan tombak kayu berujung batu runcing langsung ke arah tenggorokan Raditya.
Ding!
[Analisis Ancaman Monster]:
Target: 6x Goblin Hutan Liar (Level 5-7).
Karakteristik: Makhluk berotak udang, agresif, tidak memiliki kapasitas untuk bernegosiasi, dan hanya paham bahasa kekerasan.
Saran Sistem: Jangan mencoba mengajak mereka berdiskusi tentang sistem kasta atau keadilan sosial. Eksekusi total adalah satu-satunya pilihan rasional jika Anda masih ingin melihat hari esok.
"Gak usah disuruh, Sistem. Muka mereka beneran gak ada ramah-ramahnya," bisik Raditya, matanya menegang.
Dengan kelincahan yang didorong oleh rasa panik dan sepatu bot taktis barunya, Raditya melompat mundur dua langkah, menghindari tusukan tombak pertama. Di saat yang sama, tangan kirinya yang menggenggam ketapel taktis bergerak secepat kilat. Targetnya bukan tubuh kecil para goblin yang lincah meliuk-liuk, melainkan sesuatu yang jauh lebih besar dan statis di atas kepala mereka.
Rumpun pohon Apel Peledak Jiwa.
Gelar [Pelempar Sayur Profesional] langsung menyala di dalam kornea matanya, mengunci tiga buah apel bermotif batik yang paling matang dan bergelantungan tepat di atas gerombolan monster hijau tersebut.
JEPREEEEEET!
Suara lecutan karet lateks militer menggema keras. Peluru jamur batu keras melesat akurat, menghantam tangkai apel teratas.
TAK!
Apel berukuran sebesar kepala manusia itu terlepas, jatuh meluncur bebas ke bawah, dan mendarat tepat di atas pundak goblin pembawa tombak. Benturan keras itu langsung memicu ketidakstabilan bubuk mesiu organik di dalam buah.
Ding!
[Detonasi Organik Aktif]: Sampai jumpa di akhirat, Bro Hijau.
BOOOOOOOOOOM!!!
Ledakan berwarna jingga pekat disertai kilatan api sihir meledak dengan daya hantam yang luar biasa. Gelombang kejutnya langsung mengoyak tubuh tiga goblin terdekat, melempar serpihan daging hijau dan daun-daun kering ke udara dalam radius tiga meter. Tanah tempat mereka berdiri seketika menghitam, menyisakan asap pekat berbau vitamin C gosong.
Ding!
[Notifikasi Sistem]: 3x Goblin Hutan berhasil dibumi hanguskan. Anda mendapatkan +60 Poin Survival. Sisa target: 3 ekor yang mulai mempertanyakan pilihan hidup mereka.
Tiga goblin tersisa yang berada di lingkar luar ledakan terlempar ke tanah. Monster tak berakal itu tidak mengenal rasa takut yang logis, melainkan insting kegilaan. Melihat teman-temannya hancur, mereka justru melolong histeris, bangkit dengan mata merah menyala, dan menerjang Raditya secara membabi buta dari tiga arah berbeda.
Satu goblin melompat dari atas batu, mencoba mencakar wajah Raditya dengan kuku-kukunya yang beracun.
"Aduh, gak punya cabai buat diledakin lagi!" Raditya sempat panik mengingat persediaan Cabai Aether-nya sudah lunas dipakai semalam melawan serigala.
Namun, otak kafeinnya yang masih bekerja cepat langsung melihat solusi lain. Tepat di samping goblin yang meloncat itu, ada dahan pohon Apel Peledak yang melandai rendah. Raditya tidak menembak sang goblin, melainkan menembakkan jamur batunya langsung ke buah apel yang paling dekat dengan jalur lompatan monster itu!
JEPRET!
TAK!
Peluru jamur menghantam buah apel itu tepat saat tubuh si goblin lewat di sampingnya.
BOOOM!
Ledakan udara dari samping itu menghantam tubuh sang goblin seperti dipukul palu raksasa. Goblin itu langsung terpental horizontal di udara, menabrak dua temannya yang berada di tanah di bawahnya hingga mereka bertiga bergulingan seperti pin boling jatuh.
Raditya tidak menyia-nyiakan momen emas ini. Selagi ketiga goblin itu bertumpuk dan pusing di tanah, dia membidik ranting utama di atas mereka yang menampung lima buah apel peledak sekaligus.
"Ini namanya panen raya, dasar monster jelek!"
JEPREEEEEET!
Tembakan pamungkas menghantam pangkal ranting tersebut hingga patah. Lima buah apel mercon jatuh bersamaan, menimpa tepat di atas tumpukan ketiga goblin itu.
BOOM! BOOM! BOOM! BOOM! BOOM!
Rentetan ledakan beruntun yang masif mengguncang seluruh lembah kecil itu. Kepulan asap warna-warni membubung tinggi ke langit Aethelgard. Ketiga goblin terakhir seketika lenyap, hancur berkeping-keping dan menyuburkan tanah lembah sebagai abu hitam yang menyedihkan.
Suasana lembah kecil itu mendadak hening total. Hanya menyisakan suara gemercik sisa api yang membakar semak-semak dan aroma belerang organik yang menyengat.
Raditya menurunkan ketapel taktisnya, napasnya terengah-engah, memandang area pertempuran yang kini sudah bersih dari tanda-dua kehidupan monster. Tidak ada negosiasi, tidak ada tawanan, hanya pembersihan memanfaatkan lingkungan secara jenius.
Ding!
[Pertempuran Selesai - Evaluasi Pembersihan Total]:
Hasil: 6x Goblin tereliminasi secara sempurna menggunakan 100% properti alam sekitar. Hemat inventaris, ramah kantong, tapi sangat tidak ramah bagi kelangsungan hidup goblin.
Hadiah Diperoleh: +120 Poin Survival (Total Hadiah Pembantaian: 180 Poin).
Sisa Saldo Poin Anda Saat Ini: 670 Poin!
Raditya mengusap keringat di dahinya dengan lengan kemeja flanelnya. "Lebih hemat peluru ternyata kalau pinter manfaatin pohon mercon ini."
Dia berjalan mendekati bekas lokasi ledakan pertama. Di antara abu hitam goblin yang hangus, Raditya melihat sesuatu yang berkilau terkena pantulan cahaya matahari sore. Sebuah kantong kulit kecil yang tampaknya tahan api, terikat di pinggang salah satu bangkai goblin sebelum hancur.
Raditya menggunakan ujung belati taring serigala bayangannya untuk memungut kantong tersebut agar tangannya tidak kotor.
Ding!
[Deteksi Barang Jarahan (Loot Drop)]:
Anda menemukan: 1x Peta Kulit Kusam Suku Goblin.
Analisis Informasi: Peta ini digambar dengan darah tikus, menunjukkan lokasi sebuah Goa Batu Merah berjarak 500 meter ke arah barat. Di dalamnya terdapat tanda silang besar bertuliskan "Kotak Besi Keras Banyak Kilau".
Catatan Sistem: Selamat, insting merampok balik Anda telah terpicu oleh selembar kulit kusam.
Raditya membuka peta tersebut. Meskipun gambarnya sangat kasar seperti coretan anak TK, sistem otomatis menyinkronkannya dengan Mini-Map v2.0 miliknya. Sebuah jalur baru berwarna merah menyala langsung terbentuk di sudut matanya, mengarah lurus menembus hutan lebat menuju ke sebuah bukit batu di bagian barat lembah.
"Kotak besi keras banyak kilau?" Raditya menyeringai, memasukkan peta itu ke salah satu dari dua belas kantong celana kargonya. "Pasti itu kotak jarahan yang gak bisa mereka buka karena otak mereka gak sampai buat nyari kunci atau linggis."
Dia memeriksa ketapelnya, memastikan persediaan jamur batunya masih cukup di kantong kiri, lalu menatap ke arah matahari yang mulai merendah, memancarkan warna ungu tua yang menandakan malam akan segera tiba.
"Sistem, saldo enam ratus tujuh puluh poin, senjata siap, lokasi target sudah dikunci. Mari kita hanguskan sarang mereka sekalian dan ambil kotak besarnya," ujar Raditya penuh semangat penjelajah yang kini agak gesrek.
[Sistem Merespons]: Saran yang sangat efisien. Mari kita tunjukkan pada ekosistem lokal ini siapa predator sachet yang sebenarnya. Menuju Goa Batu Merah, grak!