Krystal dinikahkan dengan seorang pengacara muda oleh kakeknya sendiri tanpa sepengetahuannya. Ketika pernikahannya sudah sah dan terdaftar secara legal, suaminya datang dan membawanya pergi dari kediaman pamannya. Tidak ada pilihan lain bagi Krystal selain menerima pernikahan ini. Lalu apa jadinya jika sang suami menuntut Krystal untuk memberinya keturunan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cellestinee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balada Rumah Tangga 2
"Fokus dong Vin. Lo jelalatan terus dari tadi" bentak gue ke Galvin lewat layar monitor. Selama gue balik Jakarta, Galvin masih menetap di Macau. Kadang-kadang kita bahas kerjaan lewat email, chat, atau webcam kayak gini.
"Ehehehe... maaf bu. Habis di sini banyak cewek cantik sih. Suka khilaf ini mata" celutuknya.
"Khilaf apa demen?" ejek gue.
"Ya namanya juga cowok, bu. Dimana-mana cowok normal itu kayak kucing. Di kasih baunya ikan aja udah ngeong-ngeong. Apalagi kalau ikannya menawarkan diri buat diterkam. Langsung hap deh. Sudah kodrat itu bu.. hukum alam." cengir Galvin membela diri.
"Apaan... cowok macem lo aja kali.." gue masih ngeles.
"Nih ya bu, saya kasih tau. Sealim-alimnya cowok pasti bakal oleng kalau dihadepin sama cewek cakep. Tinggal sejauh mana pertahanan dirinya. Apalagi kalau dipepet terus sama ceweknya, tinggal tunggu waktu aja sampai game over."
"Sok tahu banget kamu"
"Yaelah ibu, masih nggak percaya aja. Yang ngomong cowok tulen loh ini. Bangsa kita itu paling lemah sama cewek cantik. Bukan berarti kita bisa jatuh cinta gitu aja, tapi hanya sekedar kagum sama visualnya. Bahkan yang namanya cowok itu bisa pacaran tanpa cinta. Nidurin cewek tanpa cinta aja bisa. Kan yang penting wajah sama bodinya dulu bu. Kalau enak diterusin, kalau bosen cari yang lain. He..he.."
"Dasar buaya"
"Emang... tapi kan cewek juga mau-mau aja dibuayain. Dikasih perhatian dikit aja baper. Ya nggak bu..?"
Ingin ku berkata kasar, tapi ada benernya juga apa yang diomongin Galvin barusan. Sial. Gue jadi kepikiran gini kan. Niat hati nggak mau suudzon tapi apalah daya diri gue yang emang selalu insecure ini.
Teori kelelakian yang diomongin panjang lebar sama Galvin tadi bener-bener ngena sama kehidupan pribadi gue. Sebelumnya gue nggak terlalu kenal Kai, tapi begitu dia baik-baikin gue, guenya jadi baper. Keterusan sampai sekarang. Hati gue dibikin lompat indah kalau dia udah dalam mode romantis. Sampai-sampai gue serahin semua jiwa raga gue buat dia. Tapi apa dia bener-bener tulus sama gue? Nanti kalau udah bosen sama gue, apa dia bakalan ninggalin gue?
Yang namanya cowok tetep aja cowok. Serigala berbulu domba. Mana si ulet keket itu nempel-nempel mulu sama suami gue. Gimana kalau suami gue oleng? Gimana kalau dia ada main di belakang gue? Duh...
Pokoknya gue harus cari tau. Akhirnya gue gedor-gedor pintu apartemen Chelsea yang bersebelahan sama apartemen gue.
"Loh, kak Krystal? Tumben kakak malem-malem gini? Ada apa kak?" Chelsea terkejut melihat gue dihadapan pintu apartemennya.
"Nih buat elo" langsung gue sodorin satu kotak roti brownies matcha ke hadapan dia. Cuma basa-basi aja sih gue ngasih roti. Gue kan niatnya mau investigasi.
Tanpa dipersilakan gue nyelonong masuk gitu aja ke apartemennya. Gue lihat sekeliling, memperhatikan interior ruang tamu yang didominasi warna putih. Terlihat beberapa pigura tergantung rapi di dinding menuju ruang tengah. Menunjukkan foto siluman kelabang ini dengan keluarganya. Eits, bentar. Sosok yang familiar tertangkap indera pengelihatan gue di antara kerumunan orang dalam foto itu. Ditengah berdiri si ulet keket, tersenyum manis dengan toga dikepalanya dan sebuah map bertuliskan The University of Sidney. Gue tebak ini foto wisudanya. Di sebelah kanan dan kirinya ada dua orang lelaki dan perempuan paruh baya. Kemungkinan besar, mereka itu adalah orang tua Chelsea. Dan di dalam foto itu Chelsea merangkul lengan lelaki yang sangat gue kenal. Lelaki itu tersenyum manis ke kamera. Senyum yang setiap hari bikin gue jantungan. Senyum yang selalu gue rindukan. Senyum suami gue.
"Udah berapa lama lo kenal Kai" selidik gue.
"Emm.. berapa lama ya? Sejak kak Kai tinggal di Sidney. Kak Kai kan dulu tinggalnya di asrama kampus. Satu lingkup sama rumah dinas Daddy aku." jelas Chelsea sambil berjalan menuju dapur dan membuka kulkas di sudut ruangan. Setelah memasukkan kotak roti ke dalam mesin pendingin, dia balik bertanya, "Kak Krystal mau minum apa?"
"Apa aja deh" celutuk gue mengekor di belakang.
Chelsea sibuk membuatkan gue secangkir kopi ketika gue menemukan sesuatu tergeletak di atas meja dapurnya. Gue nggak mau berpikiran negatif, tapi semakin gue liat-liat semakin gue yakin kalau benda itu adalah dasi milik Kai. Ya, gue sangat yakin. Dasi yang nggak pernah gue lihat lagi di kloset Kai beberapa hari belakangan ini. Di ujung sebelah dalamnya ada sedikit robekan. Robekan yang gue tutup dengan tie clip berinisial nama dia. Kenapa dasi suami gue bisa ada di sini?
"Chels, ini dasi siapa?" gue pura-pura bego.
Chelsea menyelesaikan adukan terakhirnya dan membawa cangkir itu ke hadapan gue. Dilihatnya barang yang ada dalam gengaman gue. Satu tangannya menggaruk-nggaruk kepalanya terlihat sedikit berpikir.
"Dasi? Kok ada dasi di sini? Chelsea kan nggak punya dasi?"
Ini dia bener-bener nggak tahu apa cuma pura-pura bego sih. Oke, saatnya gue bergerilya lagi.
"Lo lagi ngapain? Berantakan banget sih tuh meja" gue langsung menuju ruang tengah setelah menyerutup beberapa tegukan kopi.
Meja di hadapan sofa itu dipenuhi dengan kertas-kertas yang gue yakini berhubungan sama penelitiannya Chelsea. Tapi sebuah kertas kecil berlogo Garuda Indonesia menyita perhatian gue. Dua buah tiket penerbangan ke Milan. Satu tiket bertuliskan nama Chelsea, dan satunya lagi bertulisna nama.... suami gue.
Mulut gue ternganga. Gue lihat hari dan jam penerbangan mereka sama. Nomor kursinya pun bersebelahan. Sebersit memori terngiang di kepala gue. Memori saat gue mengangkat telepon Kai di Macau. Bukankah gadis yang menelopon suami gue waktu itu juga menyebut-nyebut Milan?
Oke tenang, Klee. Lo harus tenang. Be classy.