NovelToon NovelToon
Mahar 5000

Mahar 5000

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Romantis / Pengantin Pengganti / Duda
Popularitas:134.2k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"

Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.

"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"

baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Pagi itu, sinar matahari menembus tirai putih kamar penginapan, menyentuh pipi Citra yang masih bersandar di dada Rama. Suara ombak dari kejauhan terdengar lembut, seolah dunia sedang memulai hari dengan tenang.

Rama membuka mata lebih dulu. Ia menatap wajah Citra yang tampak damai dalam tidur. Bibirnya terangkat kecil, lalu tanpa pikir panjang, ia menunduk dan mengecup pelipis istrinya.

Citra menggeliat pelan, lalu tersenyum saat matanya terbuka. “Pagi…” suaranya lembut.

“Pagi juga, cantik,” jawab Rama dengan senyum hangat.

Ia mencium bibir Citra singkat — lembut, hangat, dan sederhana, tapi cukup membuat pipi Citra merona.

“Aman kah pagi-pagi begini?” godanya.

“Enggak aman sama sekali. Kamu tau enggak, laki-laki kalau pagi suka bangun sendiri,” balas Rama, membuat Citra terkikik kecil.

"Oh ya?"

"Udah lama tidur bareng. Dan kamu enggak ngrasain apapun?"

Pipi Citra merona saat merasakan sesuatu yang mengeras Rama gesekkan di pahanya.

"Pak..."

"Ngilu banget, Cit..." keluh Rama sebelum ia melahap bibir mungil istrinya. Ia bisa saja menuntaskan hasratnya sekarang, tapi... Dia tak ingin Citra menyerahkannya karena terpaksa. Karena kewajibannya sebagai seorang istri. Tapi, karena memang keinginan Citra sendiri.

####

Mereka turun ke restoran kecil di penginapan. Aroma roti panggang dan kopi menyambut mereka. Citra menata rambutnya cepat, lalu duduk di depan Rama yang sudah menyiapkan sarapan.

“Rencananya Bapak kerja hari ini?” tanya Citra sambil menyendok omelet.

Rama menggeleng. “Nggak. Aku pengen jalan-jalan aja. Nggak jauh, cuma nyusurin pantai, mungkin mampir ke tempat yang kamu suka.”

Citra menatapnya, tersenyum lembut. “Bapak tuh… bisa-bisanya ambil cuti cuma buat nemenin aku.”

Rama mengangkat alis. “Kalau bukan buat kamu, buat siapa lagi?”

Mereka tertawa kecil. Suasana pagi terasa sempurna—sampai ponsel Rama bergetar di meja.

Nada dering itu terdengar biasa, tapi entah kenapa membuat dada Rama berdegup tak enak. Ia meraih ponsel, melihat layar. Nomor tak dikenal, namun bertuliskan ‘Polisi Lalu Lintas’.

Alis Rama berkerut. “Halo?”

Suara di seberang tegas, resmi. “Selamat pagi. Ini dari unit lalu lintas Polres Kota. Mohon maaf, apakah benar saya berbicara dengan Bapak Rama Aditya Notonegoro?”

“Ya, saya sendiri.”

“Mohon maaf, Pak. Kami menemukan nomor Anda sebagai kontak terakhir yang dihubungi oleh saudara Rava Pratama. Beliau baru saja mengalami kecelakaan di Jalan Sudirman sekitar pukul tujuh pagi. Saat ini sudah dibawa ke RS Purnama.”

Waktu seakan berhenti.

Rama terdiam, wajahnya mendadak pucat. “Apa… apa Anda bilang tadi? Kecelakaan?”

“Ya, Pak. Sudah mendapat pertolongan pertama.”

“Baik… saya ke sana sekarang.” Rama menutup telepon dengan tangan bergetar.

Citra menatapnya bingung. “Pak Rama? Ada apa?”

Rama menatapnya dengan mata berkaca. “Rava… kecelakaan.”

Citra terperanjat. “Apa?!”

“Dia di RS Purnama. Aku harus ke sana sekarang.”

"Citra ikut, Pak."

Tanpa pikir panjang, mereka segera bergegas. Dalam perjalanan, suasana mobil hening. Hanya suara mesin dan detak jantung yang terasa.

“Cit,” ucap Rama di tengah perjalanan, “tolong kabari Lani. Pakai ponselku. Aku nggak bisa nyetir sambil telepon.”

Citra menatap ponsel di tangannya, ragu. “Baik, Pak.”

“Katakan yang perlu aja. Rava kecelakaan, di rumah sakit Purnama…”

Citra mengangguk pelan. Ia membuka kontak Lani, lalu mengetik pesan pendek:

Rava kecelakaan. Sekarang di RS Purnama.

Pesan terkirim. Tapi belum sempat Citra lega, ponsel langsung berdering. Nama Lani terpampang di layar.

“Dia nelpon,” bisik Citra.

“Angkat aja,” kata Rama tanpa menoleh.

“Tidak apa-apa kah kalau Citra yang angkat?”

“Enggak papa. Kamu istri saya, Cit.”

Citra menarik napas, menekan tombol hijau. “Halo, tante Lani…”

“Citra?” suara di seberang langsung meninggi. “Kenapa kamu yang angkat?! Mana Rama?! Itu ponsel dia kan?!”

“Mas Rama lagi nyetir, Tante. Dia minta Citra yang jawab.” Citra sengaja menyematkan Mas pada Rama karena ngomong sama mantannya suami.

“Kasih ke Rama sekarang! Aku mau ngomong sama dia!”

“Enggak bisa, Tante. Mas Rama enggak mau, dia lagi nyetir, enggak boleh sambil telpon. Mas Rama cuma sampaikan pesan itu aja.”

“Diam kamu! Enggak usah sok ngatur! Kasih Rama sekarang!”

Rama akhirnya meraih ponsel dari tangan Citra dan menekan tombol end call dengan wajah dingin.

“Dia yang sok ngatur. Matiin aja, bikin jengkel.”

Citra menatap suami lama, "Nanti Tante Lani salah paham, dikira citra yang matiin."

“Lani urusan saya,” ucap Rama lembut, tapi matanya tetap fokus ke jalan. “Terima kasih, Cit. O iya, panggil Mas nya lanjutin ya.”

Begitu tiba di rumah sakit, suasana sudah ramai. Lani berdiri di lorong depan ruang gawat darurat bersama suaminya, dan Cantika yang menangis sambil berjongkok. Begitu melihat Rama dan Citra datang, wajah Lani langsung berubah.

“Rama!” teriaknya dengan mata merah. Ia menghampiri cepat, wajah penuh amarah. “Kamu puas sekarang? Anakmu kecelakaan karena stres lihat kalian mesra di depan orang banyak!”

“Kenapa malah menyalahkan kami?” Rama balik bertanya, menahan diri.

"Karena ini memang salah kalian!"

"Bukan! Sejak awal, kalianlah memulainya. Aku hanya selesaikan masalah yang kalian buat. Dia kecelakaan karena dia tidak berhati-hati! Jangan selalu menyalahkan orang lain! Jangan berlagak jadi korban, padahal kalianlah pelakunya!"

"Jangan bertengkar di sini, ini rumah sakit," kata suaminya Lani.

Lani membuang muka, rasanya dia masih sangat marah dan gak terima. Apalagi, melihat Rama datang bersama wanita lain, diam-diam Lani terbakar.

Citra hanya diam di belakang Rama, entah kenapa malah membakar dada Lani.

"Ini semua gara-gara kamu!"

Tangan Lani sudah mengulur maju. Tapi, sebelum Lani melangkah lebih dekat, Rama sudah memegang lengannya. “Jangan macam-macam, Lani. Kalau kamu berani sentuh Citra, aku nggak akan diam.”

Lani mendelik. “Kamu bela dia? Ini semua, gara-gara dia!”

"Salah!" Rama menatap tajam. “Rava dulu yang menghianati Citra. Dia nikah sama sepupunya sendiri, hamilin dulu malah. Jadi jangan salahkan orang yang cuma berusaha melanjutkan hidup.”

Lani terdiam, wajahnya memerah. suaminya buru-buru menarik tangannya. “Sudah, Lan. Kalau masih mau ribut di sini, aku seret kamu pulang!”

Cantika memeluk perutnya yang masih datar, wajahnya pucat. Iq juga tau sudah tak ada ruang untuk menyalahkan Citra, jadi dia ambil aman saja. “Ma, Sudahlah, Sekarang yang terpenting adalah Rava.”

Dokter keluar dari ruangan, membuat semua terdiam.

“Saudara pasien atas nama Rava Pratama?”

Rama langsung maju. “Saya ayahnya, Dok. Gimana keadaannya?”

“Sudah stabil. Ada patah tulang di kaki kanan, dan luka di kepala, tapi tidak membahayakan nyawa.”

Semua mengembuskan napas lega. Lani langsung menitikkan air mata. “Boleh dilihat?”

“Silakan, tapi satu-satu dulu.”

Lani dan Cantika masuk lebih dulu. Rama menoleh ke Citra. “Kamu mau ikut masuk?”

Citra menggeleng. “Enggak, Pak. Citra tunggu di taman saja.”

Di dalam kamar rawat, Rava terbaring lemah dengan perban di kepala. Cantika duduk di sisi tempat tidur, menggenggam tangannya.

“Va… kenapa sih pergi pagi-pagi gini?” suaranya lirih.

Rava membuka mata pelan. “Nyari udara segar. Suntuk.”

“Udara segar atau… kamu masih mikirin Citra?”

Rava menatap istrinya sekilas, lalu mengalihkan pandangan. “Jangan banyak tanya, Cantika. Aku pusing. Di mana Papa? Apa dia datang? Sendiri atau sama Citra?” tanya Rava yang semakin membuat Cantika sesak. Masih tentang Citra, meski sudah hamil, tapi dia masih juga belum bisa menghapus Citra dari hati suaminya.

Pintu kamar berderit terbuka. Rama masuk perlahan. Tatapan Rava langsung berubah dingin.

“Pa…”

Rama mendekat, "Cantika, tolong tinggalkan kami sebentar," pintanya pada menantunya. Cantika mengangguk pelan, lalu berjalan keluar.

Rama berganti menatap anaknya dengan mata sendu. “Istirahatlah. Jangan terlalu banyak berpikir. Kamu harus cepat pulih..”

“Kenapa papa menikahi Citra?”

Rama menarik kursi, duduk di sisi tempat tidur. “Karena kamu tak datang...”

Tubuh Rava makin berguncang, air matanya berderai begitu saja.

"Rava! Kamu laki-laki, tegakkan kepalamu dan perbaiki yang sudah kamu hancurkan."

"Paaa..." Rava tersedu-sedu. "Kenapa papa menikahi Citra... Aku... Aku... Enggak bisa lagi..."

Pikiran Rava makin kacau jika memikirkan dirinya tak mungkin bisa menikahi ibu tirinya...

"Rava! Dengarkan Papa. Apa yang sudah terjadi, sudah tak bisa diubah lagi. Kamu sudah menanam benih di rahim Cantika, bertanggung jawab lah pada mereka."

Rava semakin tersedu. Ucapan papanya semakin membuat Rava hancur dari dalam. Sesal... Hanya itu yang tersisa...

1
Susi Akbarini
untung fahri masih cinta..
kalo dah ditinggal pegi..

gigit jari bakalan lani
klao kehilangan 2 suami
EkaYulianti
sebelum resepsi
partini
ku kira suaminya lani tegas ehh melohoyyy,dah tau lihat pula istri nya kaya gitu
Rahmawati
selamat ya citra dan Rama, akhirnya Rama akan punya darah daging sendiri
Rahmawati
kayaknya fadli nih yg bunuh daud
Rahmawati
penasaran siapa yg ngomong sama Daud tadi itu,
Rahmawati
lani ketakutan gitu, berarti bener rava buka anak biologis rama
Rahmawati
nah nah, apa rava bukan anak Rama ya
Rahmawati
opo meneh to, nenek peyot😂
Rahmawati
setres bu lani ini, gagal move on padahal udah punya suami
Rahmawati
makanya belajar sopan santun km cantika
Rahmawati
ke PD an km lani😂
Rahmawati
enaknya punya mertua kayak bu lilis
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
anak ku lahir Oktober 2011
meninggal Juni 2012
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
ya allah cerita ini sama seperti aku yang kehilangan anakku di usia 7 bulan sedih
😭😭
tenny
suaminya lani namanya rubah2 kadang Fahri kadang Fadli entah mana yg bener 😄
tenny: semangat Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
Rahmawati
cantika gk tau diri bgt
Rahmawati
syukurin km rava, siapa suruh tinggal dirumah rama
Ma Em
Innalillahi wainnailaihi rojiun Cinta anak yg blm punya dosa pasti akan masuk sorga , semoga Cantika dan Rava diberikan kesabaran menghadapi cobaan ini manusia hanya berusaha tapi nasib Allah yg menentukan .
Rahmawati
gk boleh dong, nanti rava gangguin citra lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!