Cita-cita adalah hal mutlak yang harus dicapai. Sedangkan, prinsipnya dalam bekerja adalah mengabdi. Namun sebagai gadis miskin tanpa pendidikan penuh ini — pantaskah Meera menjadi sasaran orang-orang yang mengatakan bahwa 'menjadi simpanan adalah keberuntungan'?
Sungguh ... terlahir cantik dengan hidup sebagai kalangan bawah. Haruskah ... cara terbaik untuk lepas dari jeratan kemalangan serta menggapai apa yang diimpi-impikan — dirinya harus rela menjadi simpanan pria kaya raya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sintaprnms_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 : Tuan Juga Termasuk Pria Kaya, Kan?
...25 : Tuan Juga Termasuk Pria Kaya, Kan?...
“Enggak, Nduk. Kenapa toh kamu mikir kayak gitu? Pasti gara-gara konco-koncomu iku (teman-temanmu itu), ya?”
Dalam dekapan Mah Lilin, Meera menggelengkan kepala.
“Ndak (nggak) tahu diri gimana? Ndak tahu terimakasih gimana juga? Tuan Abhi, yang seharusnya berterimakasih menurut Mah Lilin, Nduk. Jaman sekarang dapat pelayan yang bisa dipercaya itu susahne (susahnya) minta ampun. Untung alhamdulillah, kamu mau kerja ndek (di) sini. Jadinya Tuan ndak repot-repot cari orang kan?”
Meera merubah posisi ke kiri. “Aku seneng, Mah. Mimpiku satu-satu terkabul. Tapi aku — akunya takut, sama pandangan orang-orang. Apalagi, Mah Lilin dengarkan? Aku dapat tawaran dari Produser Film. Aku … takut banget dipandang sebelah mata. Soalnya, keadaanku kayak gini, aku takut orang-orang kayak mereka bisa semena-mena lagi ke aku Mah …”
Usapan lembut di kepala, cukup menenangkan bagi Meera. Mah Lilin berujar, “Ndek (di) mana pun kita, Nduk — sebagai manusia, ndak (nggak) pernah luput dari ucapan manusia lain. Wes (sudah) ndak usah mikir aneh-aneh. Kalau misal kamu yakin sama bakatmu, wes (sudah) ambil kesempatan fokus ae (aja) sama tujuan.”
Esok hari di Villa. Tuan Abhimana pulang sekitar pukul lima pagi. Dari jendela bertirai terawang Meera dapat melihat Pak Lin membuka gerbang. Dari dalam Meera hanya diam menatap. Hampir seminggu, akhirnya Tuan pulang ke Villa, batinnya.
Miss Ferdina bilang, Tuan tinggal di Surabaya beberapa hari. Dan Meera berpikir apakah ini karena kejadian di gudang itu? Apakah Tuan merasa bahwa ia tidak pantas mengetahui keadaan Tuan?
Tok. Tok. Pintunya diketuk, Meera mengalihkan arah pandang ke pintu. “Iya?”
“Meera, bisa keluar sebentar? Tolong siapin kopi buat Tuan. Aku masih bantu Bu Mira masak.”
“Ya.”
Udara di luar masih dingin. Meera mengambil syal, menguncir rambutnya kesamping dan bercermin sebentar, memoles sedikit pewarna bibir.
Ia diminta untuk menyajikan kopi. Okay Meera, ambil napas, buang. Tangannya memang kuat nampan dan mengetuk pintu. Hingga Tuan Abhimana mengizinkannya masuk.
“Tuan, permisi.” Meera menunduk, meletakkan secangkir kopi di meja. “Saya letakan di sini.”
Tidak ada suara, sampai Meera hampir mencapai pintu. Ia mendengar Tuan Abhimana berujar, “Selamat.”
Hm? Selamat? Meera berbalik. “Se-lamat?”
“Beritanya cukup naik, sampai saya tertarik untuk melihat langsung.” Tuan Abhimana menutup laptop kerjanya. Beliau menatap. “Kamu cukup mahir memikat orang-orang seperti mereka, Ra. Nggak salah, Gan Tarak berniat merekrutmu menjadi aktris-nya.”
Mendengar itu … rasanya membuat Meera tak nyaman. “Saya hanya tampil … sesuai dengan isi dalam cerita.”
“Ya. Justru karena kamu tampil sangat — sesuai dengan isi cerita. Itu semakin membuat orang-orang tertarik,” ujar Tuan Abhimana.
Nampan itu, masih Meera pegang kuat-kuat. Ia berusaha untuk menjawab, “Saya menganggap ini, sebagai pujian. Terimakasih. Karena Tuan, sepertinya juga tertarik dengan saya — sama seperti mereka.”
Kaki sudah ingin meninggalkan ruangan. Namun Tuan Abhimana kembali berkata, “Jelas, Ra. Memangnya siapa yang nggak tertarik dengan wanita cantik?”
Wanita cantik? Detik pertama Meera tidak memahami, lalu pada detik berikutnya. Ia mengerti. Secara tidak langsung, Tuan memberi pujian yang terdengar seperti kesombongan bagi dirinya. Atau ini lebih terdengar sebagai hinaan?
“Dan kamu juga benar, Ra. Kecantikan adalah hal yang disukai setiap pria.” Tuan Abhimana menatap lurus. “Termasuk saya.”
Mengingat apa yang terjadi pada Tuan, sedikit membuat Meera sadar, bahwa Tuan tidak akan berani melakukan apa-apa. Maka dengan keberanian yang tersisa, dirinya tetap berdiri di tempat, sampai Tuan mendatanginya tepat di depan dan berhadapan.
“Sudah menemukan calon suami yang tepat, ya?”
Pertanyaan itu memproses otak Meera. Calon suami? Yang tepat? Sebentar … bukankah tadi sedang membahas penampilannya dan Produser Film — ah iya … dirinya sadar, sudah terkonseksi maksud dari ucapan Sang Tuan.
“Pria kaya ...” Tuan Abhimana menunduk menatap lebih dekat. “Kamu tampil di Opera, demi menarik perhatian dari Gan Tarak itu, kan, Ra?”
Senyuman bermain di bibir Tuan, pertanyaan yang di lempar seolah bukan apa-apa. Mata pun tidak bergeming, setiap dari tatapan itu tidak akan bisa mengintimidasinya.
“Untuk apa saya jauh-jauh datang ke Surabaya, dan tampil di panggung besar …” Meera menjeda. “Demi seorang pria bernama Anthony itu, Tuan?”
Tuan Abhimana terdiam.
“Sedangkan …”
“Sedangkan …”
Apa? Sedangkan apa? Abhimana menunggu ucapan yang akan keluar dari wanita — yang mulai berani ini. Sial, bagaimana bisa Meera bahkan tidak takut berada di satu ruangan dengannya? Bahkan saling menatap seperti ini pun, Meera tetap berani dan diam di tempat.
“dihadapan saya sekarang ada Anda — Anda juga termasuk pria kaya, kan, Tuan?”
Hah? Gue … Astaga Meera. Ya, sama sekali tidak salah. Bagaimana pun dirinya juga lah pria kaya. Tetapi apa maksud dari ucapan itu?
“Saya ragu Produser Film itu tertarik dengan bakat.” Meera memutuskan kontak mata. Wanita itu mundur selangkah. “Karena seperti yang Tuan tahu. Setiap pria tertarik dengan wanita cantik. Dan bagi saya pria kaya bukanlah pria dari keluarga Gan Tarak saja. Anda — Anda juga termasuk.”
“Jadi tolong berhenti menyebutkan, bahwa secara langsung saya tampil di Opera, demi pria bernama Anthony itu. Saya mengenal saja pun tidak, apalagi berniat menggoda dan mengklaim pria itu sebagai calon suami saya,” sambung Meera.
Mendengar ucapan Meera membuatnya mengangkat satu sudut bibir. Bagaimana mungkin Meera berani berbicara seperti ini?
“Bisa ulangi ucapanmu tadi …” Abhimana dengan menatap intens. “Tentang saya?”
Langkah kecil itu terlihat mundur. Meera menundukkan pandangan. “Saya — minta maaf jika tadi saya terdengar tidak sopan. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya — saya permisi, Tuan!”
Eh? Dia pergi? Bahkan … lari? Ya Tuhan, Meera. Abhimana menggeleng tak percaya dengan tingkah wanita di depannya ini. Sedetik berani, sedetik kemudian salah tingkah dan malu? Oh ya ampun. Gadis pemalu, selamanya akan pemalu.
POV Meera.
Sungguhan!
Aku tidak bermaksud melibatkan Tuan, atau menyamakan Tuan dengan Anthony Gan Tarak itu, tetapi kan — tidak salah, kan?! Tuan juga termasuk pria kaya. Mereka sama-sama pria kaya. Jadi apa yang salah? Aku kan mengatakan kebeneran!
Namun bukan berarti aku ini … berharap Tuan menjadi — Ya Allah! Aku benar-benar berharap Tuan tidak salah paham. Mulutku ini tidak bisa dijaga! Asal bicara saja! Membuat malu!
“Okay Meera … tenang.” Aku mengambil dan membuang napas beberapa kali. Lalu berjalan menuju kamar.
Dan ya ...
Keputusanku sudah bulat. Aku mencintai seni teater, aku suka berakting, dan aku suka dimana bakatku dihargai. Mungkin yang dikatakan oleh teman-teman benar, ini adalah kesempatan. Namun aku, tidak memilih menghubungi Anthony Gan Tarak langsung. Akan lebih baik menghubungi Pengelola Opera. Bahkan sebelum pulang kemarin pun saat tampil, beliau — Nyonya Pauline Van Rossum memintanya bertemu lagi di Minggu terakhir bulan ini.
“Ya, Minggu besok! Aku bakalan bicara sama Nyonya. Aku udah yakin sama keputusanku,” gumamku.
...[tbc]...
1051 kata, Kak. Jangan lupa tekan like. Dukung MENGABDI terus yaaa 🤍