Sarah sang pemeran utama beserta para survivor lainnya telah berada di sebuah dunia tiruan yang nampak aneh. Mereka harus bisa bertahan hidup dengan melewati permainan yang di sebut dengan " 25 aturan iblis ", dimana permainan ini memiliki setiap aturan dan teka teki yang cukup menyulitkan. yang berhasil bertahan hidup sampai akhir, adalah pemenangnya. lalu hadiah yang akan di terima adalah satu permintaan apa saja yang diinginkan...... Mampukah Sarah dan para survivor lainnya keluar dari dunia aneh itu..? lalu bagaimana caranya Alena adik perempuan Sarah yang telah menghilang selama 12 tahun berada di dunia itu....?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhamad aidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Aturan ke lima di mulai...
Mereka semua anak-anak berjumlah sepuluh orang. Usianya tidak jauh dari tujuh sampai tiga belas tahun. Game ini benar-benar tak pandang bulu dengan berbagai usia dan gender, mereka yang terjebak di dunia ini di paksa untuk bermain hingga mati. Sarah mengepalkan tangannya ketika tahu semua ini. Mereka yang berada di sini adalah korban ,entah darimana berasal namun semuanya satu tujuan di sini, di paksa bermain hingga mati.
" Siapa mereka...? ". Salah satu bocah menunjuk kami berempat. Mereka nampak waspada terhadap kami.
" Tenanglah, mereka orang baik ". Hadi tersenyum mencoba menghibur dan mencairkan suasana.
" Apa mereka bersenjata... ? ". Salah satu anak bertanya. Dia yang paling kecil diantara kerumunan anak-anak yang masih mewaspadai kami.
Hadi mengangguk, lalu mencoba memberi pengertian. Anak-anak itu masih terlihat waspada dengan kami berempat. Hadi dan Dian menuntun kami masuk ke ruang bawah tanah. Ternyata salah satu lantai ruangan itu memiliki pintu rahasia, sebuah tangga menuju ke bawah, nampaknya tempat itu berada di dalam bendungan. Hadi menunjuk beberapa ruangan tempat mereka tinggal , seperti tempat tidur dan tempat makan.
" Aku ingin bertanya...? " Sarah sedikit penasaran tentang mereka.
" Apa kalian datang dari tempat yang sama....? ".
" Tidak.... ". Hadi menggeleng.
" Aku sendiri hanya remaja pada umumnya, anak tunggal. Yang ku ingat saat itu aku bersama kedua orang tuaku akan mengunjungi rumah nenek yang berada di pegunungan, ketika kami melewati terowongan bukit, tiba-tiba saja semua sudah berubah. Di sana juga aku bertemu dengan Dian dan yang lainnya. Mereka juga terjebak seperti diriku ".
" Terowongan...? Lalu bagaimana dengan anak-anak...? ".
" Mereka kami temukan ketika kami berhasil lolos dari game aturan pertama. Semua orang dewasa tewas melindungi kami. Karena itu kami saling melindungi. Ketika aku dan beberapa orang lolos dari game aturan pertama, anak-anak ini juga tiba, Mereka berasal dari panti asuhan, katanya mereka sedang melakukan tamasya ketika memasuki jalanan pepohonan yang membentuk lorong ,mereka semua juga berakhir di tempat ini ".
Sarah mulai menerka dari apa yang di katakan Hadi soal perihal yang sama, yaitu terowongan, semua yang terjebak di sini berasal dari terowongan yang berbeda-beda, seperti layaknya pintu masuk ke dimensi lain.
" Terima kasih atas infonya... ". Sarah tersenyum lalu pergi begitu saja.
Kami semua berkumpul dalam satu ruangan, lalu duduk bersama dan makan hidangan sederhana, ikan bakar. Hasil tangkapan beberapa anak yang berhasil menangkap ikan. Bagiku mereka, anak-anak yang tangguh dan mulai mengerti cara bertahan hidup.
Hari berlalu dengan cepat, hingga jangka waktu visa kami hanya tinggal satu hari lagi sebelum besok telah habis. Mau tidak mau kami harus bermain kembali.
" Apa tidak ada cara lain...? ". Sarah sedikit emosi ketika anak-anak itu juga harus ikut bermain. Kebetulan masa visa mereka pun akan habis bersamaan dengan kami. Mereka di paksa untuk ikut bermain dalam game penuh kematian ini.
" Mereka yang ada di dunia ini artinya mereka adalah pemain. Bagaimana pun game hrus di lakukan, itu cara satu-satunya untuk bertahan hidup ". Alena menjelaskan perihal aturan di dunia ini.
" Gak usah khawatir , saya dan Dian akan ikut bermain juga, demi melindungi mereka ". Hadi melirik ke arah anak-anak. Kami semua sudah bersiap seiring senja datang. Game biasa akan di mulai ketika matahari terbenam.
Perlahan matahari pun mulai terbenam ketika suara alarm sistem terdengar nyaring menandakan bahwa game iblis ini akan di mulai. Kali ini areanya ada empat dan salah satunya berada di dekat markas kami.
" Dengar, apapun yang terjadi tetap berada di dekat kami ". Sarah mengkoordinasikan anak-anak untuk berada di dekat orang-orang dewasa. Anak-anak itu hanya mengangguk, lalu kami pun berjalan pergi beriringan ke arena game aturan ke lima. Di bawah cahaya rembulan yang terang, kami berjalan menyusuri gelapnya malam tanpa listrik, hanya pencahayaan bulan saja.
Para survivor berkumpul di kaki gunung , di salah satu arena game akan di mulai. Sarah dan genknya menjadi survivor terakhir yang tiba. Ramai, ada beberapa orang yang ikut serta dan rata-rata mereka adalah orang dewasa hingga paruh baya. Sarah dan genknya jadi perhatian karena anak-anak yang ikut serta.
" Selamat datang para survivor, di game dua puluh lima aturan iblis. Kita memasuki game aturan ke lima ".