Ketika perasaan datang di waktu yang berbeda, ketika perasaan datang di kala harapan sudah sirna. Andra Dwi Anggara, harus menelan sakitnya penyesalan ketika terlambat menyadari perasaan sahabatnya, Gabriella Tamara.
Tujuh tahun Gabriella mencintai Andra, namun lelaki itu tak pernah menyadari. Ketika Gabriella sudah pergi dan membuka hati untuk cinta yang lain, Andra baru menyadari perasaan yang ada dalam dirinya, yang ternyata adalah rasa cinta.
Gabriella dihadapkan pada pilihan yang sulit, mempertahankan Kairi Da Vinci, lelaki yang sudah menjadi keksihnya.
Ataukah kembali pada Andra, sahabat lama yang pernah mencuri hatinya?
Disaat Gabriella sudah yakin pada satu pilihan, lagi-lagi kenyataan mempermainkan jalan hidupnya. Satu fakta pahit menggoyahkan cinta yang telah ia jalin.
Sanggupkah Gabriella melewati ujian yang menderanya?
Kepada siapakah ia melabuhkan hatinya?
Temukan jawabannya hanya dalam novel TENTANG RASA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Punya Aku
Pukul 04.00 dini hari Dimas, dan Ella tiba di rumah. Sebuah rumah dengan gaya klasik yang besar dan mewah.
Ella berdecak kagum saat mobilnya mulai memasuki pelataran rumah.
"Kita sudah sampai El." ucap Dimas.
"Rumah Kak Dimas sangat besar."
"Benarkah?" kata Dimas sambil tertawa.
Ella mengangguk.
"Belajarlah yang rajin. Kejar cita-cita dengan sungguh-sungguh.
Kelak kau juga bisa memiliki rumah yang seperti ini." ucap Dimas sambil mengusap puncak kepala Ella.
Ella menatap Dimas, dan tersenyum.
"Ayo kita masuk." Ajak Dimas.
Lalu mereka keluar dari mobil. Ella mengekor di belakang Dimas, ikut masuk kedalam rumah. Baru beberapa langkah mereka masuk, dua orang pelayan datang menghampiri.
"She's my sister, she will stay here.
please serve her well (Dia adikku, dia akan tinggal di sini. Tolong layani dia dengan baik)" ucap Dimas pada salah satu pelayannya.
"Yes Sir." jawab pelayannya.
"Prepare a bed for her now (sekarang siapkan tempat tidur untuknya)"
"Yes Sir."
"El, kamu istirahatlah dulu di kamarmu." ucap Dimas pada Ella.
"Baik Kak." jawab Ella.
"Come with me Miss (mari ikut saya Nona)" ucap sang pelayan sambil menatap Ella.
"Okay." jawab Ella.
Lalu Ella mengikuti sang pelayan.
Mereka menuju ke salah satu kamar di lantai dua. Kamar yang sangat besar. Bahkan lebih besar dari ruang tamu di rumah Ella.
Ella menatap takjub, perabotan-perabotan yang serba mengkilap, dan aneka pernak-parnik yang Ella yakini tidaklah murah.
"Wah kamar yang sangat indah." gumam Ella.
"Did you say something Miss (apakah anda mengatakan sesuatu Nona)?" tanya pelayan.
Ella menoleh sambil tersenyum.
"There is no (tidak ada)" jawab Ella
Pelayan itu mengangguk. Lalu dia pamit undur diri.
"Thank you." ucap Ella sebelum pelayan itu pergi.
Lalu Ella berjalan, dan duduk di tepi ranjang, benar-benar nyaman.
Sensasi empuknya sangat berbeda dengan kasur yang ada di rumah.
Lalu Ella berbaring. Melepaskan rasa lelah akibat perjalanan panjang.
Dan tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya ia pun tertidur.
***
Jarum jam menunjukkan angka 07.00 pagi hari. Dimas yang saat itu baru saja mandi, pergi ke lantai atas untuk menemui Ella, dan mengajaknya sarapan.
Ia sedikit terkejut melihat pintu kamar Ella yang terbuka lebar.
Kemana Ella, mungkinkah dia sudah keluar, pikirnya kala itu.
Lalu ia masuk dan melihat Ella sedang tertidur di ranjang.
Dimas mengerutkan dahinya melihat posisi tidur Ella. Bagaimana tidak, Ella tertidur dengan kaki yang menjuntai kebawah ranjang, masih lengkap dengan sepatunya.
Dan tas selempang yang belum terlepas dari bahunya.
"Apa kau selelah itu El?" gumam Dimas.
Lalu ia mengangkat tubuh Ella, dan membaringkannya di ranjang dengan benar. Tak lupa ia juga melepas sepatu dan tas Ella.
Kemudian ia keluar, dan menutup pintu kamarnya.
***
Ella mengerjapkan matanya, dan menggeliat pelan. Mengumpulkan kesadarannya yang sebagian masih tertinggal di dunia mimpi.
"Jam berapa ya sekarang." gumamnya pelan dan serak.
Tangannya meraba-raba kesamping kanan dan kiri.
"Dimana ponselku."
Lalu tangannya menyentuh sesuatu yang terasa asing baginya.
Empuk, lembut, besar, dan panjang.
Apa ini?
Lalu ia membuka matanya lebar-lebar.
"Hah, sejak kapan aku punya guling."
ucap Ella dengan kaget.
Lalu ia bangkit dari tidurnya, dan duduk dengan tegap. Mengamati setiap jengkal ruangan yang ia tempati.
"Aduh aku lupa. Aku kan sudah berada di London." ucap Ella setelah kesadarannya pulih total.
Lalu ia mengambil tasnya dan melihat ponselnya.
"Hah sudah jam 12 siang, perasaan aku tidur cuma sebentar deh." gumam Ella.
Lalu ia buru-buru beranjak dari ranjang, dan bersiap-siap untuk mandi.
Setelah mandi Ella turun kebawah.
Ia melihat beberapa pelayan sedang sibuk di dapur. Mereka sedang menyiapkan makan siang. Ella berjalan dan menghampiri mereka.
"What can I help you (apa yang bisa saya bantu)?" tanya Ella kepada salah satu pelayan yang sedang memotong sayur.
"No need. Please wait there.
the food will be ready soon (tidak perlu, silahkan tunggu di sana.
makanannya akan segera siap)" jawab pelayan sambil tersenyum, dan menunjuk ke arah meja makan.
"Okay." lalu Ella pergi.
Sebenarnya Ella ingin membantu, namun karena mereka menolak, Ella jadi merasa canggung, dan memilih pergi. Ia menuju meja makan, namun ia tak tahu apa yang akan ia lakukan. Duduk di sana sendirian rasanya membosankan.
Dimas yang saat itu baru keluar dari kamarnya, datang menghampiri Ella.
"El." panggil Dimas.
"Kak Dimas." Ella tersenyum.
"Kamu sedang apa?" tanya Dimas yang saat itu melihat Ella mondar-mandir di dekat meja makan.
Ella menggeleng.
"Tidak ada. Aku ingin membantu mereka, tapi mereka menolak."
"Diam dan duduklah. Kamu adikku, sudah tentu mereka menghormatimu." ucap Dimas sambil tersenyum.
"Aku tidak enak diperlakukan seperti itu."
"Terus?" tanya Dimas.
Ella diam tidak menjawab.
"Kamu di sini untuk belajar El. Untuk kuliah, dan untuk merintis karir.
Berhentilah merasa sungkan. Aku akan sangat senang, kalau kamu bersikap biasa saja. Aku membantu kamu, itu sudah seharusnya.
Aku akan merasa lega setelah melihat kamu sukses. Kamu mengerti maksudku kan?" ucap Dimas panjang lebar.
"Duduklah." sambung Dimas.
Ella menurut. Ia duduk di depan Dimas. Tak lama kemudian pelayan datang dan menyajikan makanannya.
"Ayo makan, kamu tadi tidur nyenyak banget, jadi aku tidak membangunkanmu untuk sarapan. Sekarang kamu pasti lapar." kata Dimas.
"Iya Kak." jawab Ella sambil tersenyum.
Jujur sejak tadi perutnya memang sudah mulai keroncongan.
Setelah makan siang Dimas pergi ke ruang kerjanya, ada beberapa tugas yang harus ia kerjakan.
Sedangkan Ella, ia kembali ke kamarnya. Berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.
Dia sedikit kesal saat pesan chat yang ia kirim tak kunjung mendapat balasan.
"Kemana sih kamu." gumamnya pelan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Ella tertawa kegirangan saat melihat tulisan "Andra is calling" di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama ia langsung menggeser tombol yang berwarna hijau.
"Hallo." ucap Ella.
"Hallo El." jawab Andra.
Hati Ella langsung berdebar saat mendengar suara Andra.
Ah rasanya sudah lama sekali, aku tidak bertemu dengan pemilik suara ini, batin Ella kala itu.
"Kamu lagi apa Ndra?"
"Ini baru sampai rumah."
"Dari mana, kamu gak kerja?"
"Ini aku dari kantor El.
Dimarahin Mama kalau bolos kerja." jawab Andra sambil tertawa.
"Jam segini kok sudah pulang?"
"El jangan aneh-aneh ya. Di sini sudah malam."
"Benarkah?" ucap Ella menggoda Andra.
"Aku jadi ragu kamu akan diterima di Universitas Imperium, atau tidak." balas Andra.
"Jangan sembarangan." ucap Ella sambil tertawa.
"Gimana London?" tanya Andra.
"Bagus."
"Kamu suka?"
"Lumayan."
"Tapi jangan lupa pulang."
"Hah."
"Katanya bagus, siapa tahu terus betah banget sampai lupa pulang." ucap Andra sambil terkekeh.
"Jangan sembarangan. Aku masih punya keluarga di sana."
"Juga masih punya aku." jawab Andra pelan dan serius.
Apa maksud dari kata-kata ini.
Bersambung........