Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Pagi Pertama Tanpa Bel
Pukul lima tepat. Kegelapan di dalam blok asrama putra lantai empat puluh dua tidak dipecahkan oleh dengung alarm ultrasonik ataupun dering bel yang biasa mereka dengar selama masa seleksi. Sebagai gantinya, pencahayaan siber di langit-langit mendadak berpendar putih benderang secara instan, disusul oleh suara mekanis wanita yang datar, dingin, dan bergaung langsung melalui speaker internal di setiap kapsul tidur.
“Pemberitahuan. Waktu pengumpulan koridor dimulai sekarang. Batas toleransi kehadiran: lima menit. Terlambat satu menit sama dengan kehilangan sepuluh poin disiplin. Deteksi biometrik diaktifkan.”
Pengumuman singkat tanpa basa-basi itu bagaikan sengatan listrik bagi para penghuni kamar. Dalam hitungan detik, tirai-tirai siber kapsul terbuka secara paksa. Suasana ruang komunal yang tadinya sunyi langsung berubah menjadi kekacauan yang teratur. Langkah kaki yang tergesa-gesa, deburan pintu loker, dan desis kain seragam yang dikenakan terburu-buru memenuhi ruangan.
Para siswa di sepanjang koridor luar mulai berlarian, saling mendahului menuju lift dan tangga darurat dengan wajah-wajah yang dipenuhi ketakutan akan kehilangan poin di hari pertama.
Di dalam kompartemen mereka, Raka Elang sudah melesat keluar pintu sejak detik ketiga, bahkan tanpa menoleh ke belakang. Nareswara dan Gavin bergerak dengan efisiensi tinggi, mengenakan almamater mereka dengan gerakan taktis yang terukur dan langsung menyusul ke koridor.
Farel sudah siap di depan pintu, namun langkahnya tertahan ketika melihat ke arah sudut ruangan. "Dimas! Cepat!"
"T-tunggu! Dasiku!" Dimas panik setengah mati. Jarinya yang gemetar membuat simpul dasi abu-abu gelapnya justru melilit kusut. Wajahnya pucat pasi, matanya terus melirik ke arah jam digital dinding yang terus menghitung mundur dengan kejam. Sisa waktu: dua menit. "Sial, kenapa simpulnya tidak mau terbentuk?!"
Di tengah kepanikan itu, Atharva tetap berdiri tenang di depan lokernya. Almamaternya sudah terpasang rapi tanpa satu pun lipatan yang salah. Dengan ritme yang konstan, ia melangkah mendekati Dimas, menepis tangan temannya yang gemetar dengan lembut namun tegas, lalu menarik ujung dasi tersebut. Hanya dengan tiga gerakan tangan yang presisi, simpul dasi Dimas terbentuk dengan sempurna.
"Jalan," ucap Atharva datar, menepuk bahu Dimas.
Dimas tertegun sesaat sebelum mengangguk cepat. "Terima kasih, Atharva!"
Mereka berempat Atharva, Farel, Dimas, dan Gavin yang menahan pintu langsung keluar ke koridor, bergabung dengan arus lautan siswa yang bergerak cepat menuju aula utama di lantai dasar.
Tepat pukul lima lebih empat menit dan lima puluh sembilan detik, lima ratus sembilan puluh delapan siswa telah berbaris rapi di aula utama yang megah. Dua siswa dari distrik satelit tertahan di gerbang sensor karena terlambat tiga detik, dan layar hologram raksasa di atas mereka langsung berkedip merah, memotong sepuluh poin dari profil mereka secara instan di depan mata semua orang.
Di atas podium mekanis, Profesor Adrian Surya Pradana berdiri tegak. Mantel hitamnya tampak berkilau di bawah lampu aula, dan sorot matanya yang tajam menyapu barisan siswa yang masih terengah-engah.
"Selamat pagi," suara Profesor Adrian menggema, tenang namun mengintimidasi. "Kalian baru saja melewati ujian pertama hari ini: kesadaran situasional. Di Nexus, tidak akan ada bel yang mengingatkan kalian untuk bertahan hidup. Dunia nyata tidak pernah memberi tanda sebelum krisis menghantam."
Adrian berjalan perlahan di atas podium, membiarkan layar hologram raksasa di belakangnya menampilkan visualisasi grafis sebuah sistem baru yang rumit. Di puncak layar tersebut, tertulis dengan huruf kapital tebal: SISTEM PERINGKAT NEXUS (NRS).
"Mulai hari ini, kehidupan kalian di akademi ini tidak lagi diukur berdasarkan nilai akademik konvensional atau seberapa cepat kalian menghafal teori," lanjut Profesor Adrian, suaranya menusuk keheningan aula. "Nilai ujian bertulis kalian sekarang hanya menyumbang dua puluh persen dari total eksistensi kalian di sini."
Layar di belakangnya terpecah menjadi empat kuadran besar yang menyala dalam warna berbeda.
"Sistem Peringkat Nexus yang baru akan menilai empat pilar mutlak secara real-time: Disiplin yang diukur dari ketepatan waktu dan kepatuhan protokol; Kepemimpinan yang diuji dalam simulasi krisis kelompok; Integritas yang dipantau melalui sensor moralitas siber; dan Kontribusi taktis kalian dalam setiap Tantangan Biner."
Semua siswa menahan napas. Itu artinya, setiap gerak-gerik mereka, setiap keputusan kecil, bahkan cara mereka berinteraksi di asrama, sedang dihitung oleh algoritma sentral.
"Setiap poin yang kalian dapatkan atau hilangkan akan langsung memengaruhi posisi kalian pada papan skor. Dan ingat aturan Pasal 14," Profesor Adrian menghentikan langkahnya, menatap lurus ke arah barisan depan, tepat di mana Atharva berdiri dengan ekspresi netral. "Sistem ini diperbarui setiap hari secara otomatis pada pukul dua puluh empat nol-nol. Peringkat terakhir di setiap semester tidak memiliki tempat di kota ini."
Adrian mematikan proyektor podium, meninggalkan para siswa dalam ketegangan baru yang jauh lebih mengikat daripada hari kemarin. Nilai di atas kertas tidak bisa lagi menyelamatkan mereka. Di dalam ekosistem Nexus yang baru ini, mereka dipaksa untuk menjadi manusia sempurna di setiap lini atau bersiap dihapus dari papan skor selamanya.
...****************...
Keheningan yang menyelimuti aula utama setelah pengumuman itu terasa lebih berat daripada gravitasi. Masing-masing siswa berdiri mematung, menatap papan skor NRS yang kini mulai memproyeksikan angka-angka dinamis di samping lencana mereka. Angka-angka itu berkedip setiap detik, naik dan turun berdasarkan data biometrik dan sensor perilaku yang diproses secara konstan oleh algoritma akademi.
"Kalian memiliki waktu sepuluh menit untuk menyesuaikan diri dengan antarmuka baru ini," Profesor Adrian mengumumkan dengan nada yang hampir terdengar bosan, seolah ia baru saja meluncurkan aplikasi permainan, bukan sistem yang menentukan nasib ratusan remaja. "Setelah itu, segera bergerak menuju Ruang Simulasi Korporat. Tantangan Biner pagi ini bersifat kelompok."
Setelah Profesor Adrian turun dari podium dan menghilang ke balik pintu berlapis baja, aula itu seketika pecah menjadi kebisingan. Namun, itu bukan riuh rendah percakapan biasa; itu adalah suara gesekan sepatu, bisikan terburu-buru, dan ketukan jari di layar hologram pribadi yang kini menjadi satu-satunya jaminan keselamatan mereka.
Atharva tidak langsung bergerak. Ia berdiri diam, memperhatikan bagaimana papan skor di atasnya memperbarui data miliknya. Angka-angka itu berubah begitu cepat, merespons setiap detak jantung dan perubahan kecil dalam konsentrasinya.
"Kau melihat itu?" Farel berbisik di sampingnya, suaranya sedikit gemetar. Ia menunjuk ke bagian integritas di profil miliknya yang menunjukkan angka delapan puluh empat persen, lalu turun drastis menjadi delapan puluh dua persen hanya karena ia merasa gugup. "Sistem ini membaca emosi kita. Semakin kita merasa takut, semakin rendah skor integritas kita. Ini jebakan."
"Benar," sahut Atharva pelan. "Mereka tidak hanya menuntut tindakan yang benar. Mereka menuntut ketenangan mental yang sempurna. Jika kamu takut, sistem menganggapmu tidak stabil secara psikologis untuk menjadi pemimpin."
Di depan mereka, Raka Elang tampak sedang memamerkan skornya kepada beberapa siswa dari Sektor Atas. Skornya stabil di angka tinggi. Ia tertawa kecil, melirik ke arah Atharva dan Farel dengan pandangan merendahkan. "Susah ya, menjadi orang yang harus berjuang dari nol? Integritas kalian bahkan tidak sampai di garis aman. Sebaiknya kalian segera mengundurkan diri sebelum sistem benar-benar menendang kalian keluar."
Nabila, yang mendengar ejekan tersebut, tampak ingin membalas, namun Dimas menarik lengannya dengan keras. "Jangan, Nabila. Itu yang dia inginkan. Kalau kita terpancing, skor integritas kita akan terjun bebas."
Atharva tidak menghiraukan Raka. Ia sedang fokus pada satu baris data di bagian kontribusi pada lencana miliknya sendiri. Angka itu melonjak pesat setelah ia berhasil mengambil berkas dari ruang arsip tadi malam sebuah anomali yang seharusnya terdeteksi sebagai pelanggaran disiplin berat, namun justru memberikan kenaikan skor pada kolom kontribusi.
Sistem ini tidak sedang menghukum pembangkangan, pikir Atharva dalam hati. Sistem ini sedang menyeleksi siapa yang cukup berani untuk melanggar aturan dan cukup pintar untuk tidak tertangkap.
"Ayo," Atharva memberi instruksi singkat. "Jangan menatap papan skor terlalu lama. Semakin lama kalian menatapnya, semakin sistem menyadari bahwa kalian takut kehilangan peringkat."
Mereka berempat pun mulai melangkah keluar dari aula, bergabung dengan arus enam ratus siswa lainnya yang kini bergerak menuju Ruang Simulasi Korporat. Setiap langkah mereka di atas lantai kaca siber tersebut tercatat dan dianalisis. Tidak ada lagi ruang untuk kesalahan kecil, tidak ada lagi ruang untuk keraguan. Di Nexus Academy, pagi ini telah menandai dimulainya era di mana manusia bukan lagi subjek pendidikan, melainkan variabel dalam perhitungan algoritma yang kejam.