Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Vanya menekan tombol kirim, lalu mengangkat wajah seolah tidak terjadi apa-apa.
RUPS belum selesai.
Hendro sudah kehilangan alasan paling mudah untuk menyingkirkan Kiana, tetapi pria itu tidak pernah menyerah hanya karena satu pintu tertutup. Ia duduk kembali, merapikan jasnya, lalu menatap kepala legal perusahaan.
"Baik," katanya. "Jika prosedur notaris harus dibuka, saya tidak akan menghalangi."
Kalimat itu terdengar terlalu mudah.
Kiana menatapnya.
Hendro melanjutkan, "Namun aktivasi hak suara empat puluh persen menyangkut stabilitas Bintang Grup. Kita tidak bisa menyerahkan suara sebesar itu kepada seseorang yang belum membuktikan kapasitas operasionalnya."
Vani langsung menegakkan tubuh. "Pak Hendro, klausul wasiat tidak menyebut syarat tambahan soal kapasitas operasional."
"Saya tidak mengubah wasiat." Hendro menatap para komisaris. "Saya hanya mengusulkan rekomendasi RUPS. Jika Kiana ingin hak suara itu dipakai penuh dalam arah strategis perusahaan, maka Langit AI yang dia banggakan harus membuktikan diri."
Kiana sudah menduga ia akan menyerang dari sisi bisnis.
Tetapi ruangan tetap menahan napas saat Hendro menyalakan layar proyektor dan menampilkan slide Cakrawala AI.
"Cakrawala AI sudah berada di dalam ekosistem Bintang Grup. Vanya membawa framework internasional dan komunikasi global. Kalau Kiana merasa Langit AI lebih unggul, mari buktikan." Hendro berhenti sebentar. "Enam bulan. Dalam enam bulan, Langit AI harus mencapai tiga kali basis pengguna aktif Cakrawala AI dalam modul yang sebanding. Jika gagal, rekomendasi aktivasi hak suara ditunda dan dibawa kembali ke RUPS berikutnya."
Beberapa komisaris langsung berbisik.
"Tiga kali?"
"Itu berat."
"Tapi kalau sistemnya memang bagus..."
Vanya mengangkat wajah pelan. Mata berkacanya kembali, kali ini dibungkus keberanian pura-pura. "Aku tidak keberatan bersaing secara sehat. Kalau Kiana memang percaya pada Langit AI, seharusnya ini bukan masalah."
Manis.
Licin.
Kiana hampir ingin tertawa.
Enam bulan bukan ujian teknologi semata. Itu jebakan waktu, tekanan publik, dan usaha Hendro untuk membuat hak waris Engkong terlihat seperti bonus yang harus ia menangkan ulang.
Namun jika ia menolak, besok narasi yang keluar akan sederhana: Kiana takut bersaing.
Kiana berdiri lagi.
"Enam bulan cukup."
Ruangan kembali hening.
Hendro menyipitkan mata. "Pikirkan baik-baik."
"Saya sudah pikirkan." Kiana menatap layar Cakrawala AI, lalu kembali pada para komisaris. "Langit AI akan mencapai tiga kali pengguna aktif Cakrawala AI dalam modul sebanding. Tetapi syarat itu tidak boleh menghapus fakta hukum hari ini: prosedur notaris untuk aktivasi empat puluh persen hak suara tetap dimulai dan dicatat dalam berita acara."
Vani langsung menambahkan, "Kami minta kalimat itu masuk secara eksplisit. Tantangan bisnis adalah catatan performa, bukan penghapusan hak waris."
Om Song mengetuk meja pelan. "Saya setuju. Wasiat Engkong harus dihormati. Tantangan bisnis boleh dicatat, tapi prosedur notaris tetap berjalan."
Satu per satu, beberapa komisaris mengangguk.
Hendro menahan senyum yang hampir hilang. "Masukkan ke berita acara."
Kepala legal mengetik cepat.
Di layar notulen, kalimat itu muncul.
Prosedur notaris untuk aktivasi empat puluh persen hak suara atas nama Kiana Lim dibuka, dengan catatan evaluasi performa Langit AI terhadap Cakrawala AI dalam jangka waktu enam bulan.
Kiana membaca kalimat itu sampai selesai.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia membiarkan dirinya bernapas lega.
Tidak besar.
Tidak terlihat.
Hanya satu napas yang cukup untuk membuat tangannya tidak lagi sedingin tadi pagi.
Rapat ditutup hampir pukul tiga sore.
Begitu keluar dari ruang rapat, Vani langsung menarik Kiana ke lorong kecil dekat toilet eksekutif.
"Lo gila," bisiknya. "Tiga kali dalam enam bulan?"
"Langit bisa."
"Aku nggak tanya Langit. Aku tanya kamu."
Kiana menyandarkan punggung ke dinding sebentar. Kakinya baru terasa lelah setelah semua orang pergi. "Aku juga bisa."
Vani menatapnya, lalu menghela napas. "Iya. Lo bisa. Tapi malam ini tidur."
"Setelah aku cek dokumen."
"Aku tunggu di luar. Lo ke toilet dulu, muka lo udah kayak orang habis perang."
Kiana ingin membantah, tetapi cermin di dekat lift menunjukkan wajahnya memang terlalu pucat. Ia menitipkan tas kerja di kursi dekat lorong, tepat di depan Vani, lalu masuk ke toilet eksekutif hanya beberapa menit.
Ketika ia kembali, Vani sedang menerima telepon dari Pengacara Tjen.
Tas kerja hitam masih di kursi.
Namun posisi penguncinya berubah.
Kiana berhenti.
Vani melihat wajahnya dan langsung memutus telepon. "Apa?"
Kiana membuka tas.
Map merah ada.
Flashdisk demo ada.
Laporan Navara Tech ada.
Matriks Cakrawala ada.
Tetapi kompartemen dalam yang berisi akta perkawinan legalisir kosong.
Untuk sesaat, suara pendingin ruangan terdengar terlalu keras.
"Akta nikahnya hilang," kata Kiana.
Wajah Vani langsung berubah. "Apa?"
Kiana membongkar tas sekali lagi. Tidak ada.
Vani menahan sumpah serapah di ujung lidah. "Aku berdiri di sini. Cuma beberapa menit. Aku cuma angkat telepon sebentar."
"Ada yang tahu aku ke toilet."
"Vanya." Mata Vani tajam. "Dia yang tadi kirim pesan."
Kiana menutup tas perlahan. "Bisa Vanya. Bisa Papa."
"Papa?"
"Hanya Papa yang tahu seberapa penting akta itu untuk menunda prosedur. Vanya mungkin bergerak karena perintah, tapi orang yang paling paham nilai dokumennya adalah Papa."
Mereka meminta rekaman CCTV lantai itu.
Butuh hampir dua puluh menit sampai staf keamanan membawa mereka ke ruang monitor kecil. Rekaman menunjukkan lorong luar ruang rapat, kursi dekat toilet, dan sudut lift.
Pada menit Kiana masuk toilet dan Vani menoleh menerima telepon, seorang petugas kebersihan bertopi masuk dari sisi service corridor. Tubuhnya agak membungkuk, wajahnya tertutup masker. Ia berhenti sebentar di dekat kursi, seolah merapikan tempat sampah kecil.
Lalu pergi.
Gerakannya terlalu cepat.
Terlalu tepat.
Kiana menatap layar tanpa berkedip.
"Zoom wajahnya," kata Vani.
Staf keamanan menggeleng. "Resolusinya pecah, Bu. Kamera koridor ini memang agak lama."
"Tentu saja," gumam Vani. "Kamera selalu mendadak jelek saat dibutuhkan."
Kiana tidak berkata apa-apa.
Amarahnya tidak meledak. Justru masuk ke tulang, dingin dan padat.
Mereka turun ke parkiran lewat lift tamu untuk menghindari koridor utama. Tetapi di lobi samping, seseorang menunggu di dekat pilar marmer.
Jovian.
Ia mengenakan kemeja biru tua dengan lengan digulung, wajahnya jauh lebih gelap daripada terakhir kali Kiana melihatnya. Sepertinya kabar RUPS sudah sampai padanya lebih cepat dari lift turun.
"Kiana."
Vani langsung maju setengah langkah. "Hari ini bukan waktu yang tepat."
Jovian tidak menatap Vani. Matanya terkunci pada Kiana. "Kamu menikah?"
Kiana bahkan tidak heran.
Di Jakarta, kabar buruk sering naik lift lebih cepat daripada orang.
"Ya."
Rahang Jovian mengeras. "Dengan siapa?"
"Bukan urusanmu."
"Kiana, jangan bicara seperti itu." Suaranya turun, mencoba lembut, tetapi tepinya tajam. "Aku hanya ingin tahu siapa orang yang kamu pilih. Kamu tahu dunia ini tidak sesederhana yang kamu kira."
Kiana menatapnya.
Ada waktu ketika kalimat seperti itu akan membuatnya berhenti. Dulu Jovian selalu terdengar seperti orang yang tahu lebih banyak, lebih dewasa, lebih pantas dipercaya.
Sekarang ia hanya terdengar seperti pria yang tidak tahan kehilangan kendali.
"Duniaku memang tidak sederhana," kata Kiana. "Justru karena itu aku tidak butuh kamu menambahkannya."
Wajah Jovian berubah. "Aku akan cari tahu."
"Silakan."
"Kalau dia tidak pantas untukmu..."
"Kamu tidak punya hak menilai siapa yang pantas untukku."
Kalimat Kiana memotongnya bersih.
Orang-orang di lobi samping mulai melirik.
Jovian tampak seperti ditampar, tetapi rasa sakit itu segera berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. "Kamu menikah hanya untuk melawan Hendro?"
"Sekali lagi, itu bukan urusanmu."
"Kamu sedang memakai dirimu sendiri sebagai senjata."
Kiana tersenyum dingin. "Setidaknya kali ini aku yang memegang senjatanya."
Vani menarik lengan Kiana pelan. "Kita pergi."
Jovian tidak mengejar, tetapi suara terakhirnya mengikuti mereka sampai pintu parkir.
"Aku akan tahu siapa dia, Kiana."
Kiana tidak menoleh.
Malamnya, ketika ia sampai di apartemen, Hans sudah menunggu di depan pintu dengan kaus hitam sederhana dan rambut masih basah. Ia melihat wajah Kiana, lalu melihat tas kerja di tangannya.
"Masuk."
Kiana masuk tanpa membantah.
Begitu pintu tertutup, semua kekuatan yang ia pakai sepanjang hari seperti retak sedikit.
"Akta perkawinan kita dicuri," katanya.
Hans tidak tampak terkejut. Atau mungkin ia hanya terlalu terlatih untuk tidak menunjukkan keterkejutan.
"Yang legalisir?"
"Iya. Yang asli legalisir untuk RUPS. CCTV buram. Orangnya pakai seragam kebersihan palsu atau asli, belum tahu."
Hans mengambil tas kerja dari tangannya dan meletakkannya di meja, bukan merebut, hanya membantu mengurangi beratnya.
"Tidak apa-apa."
Kiana menatapnya. "Bagaimana bisa tidak apa-apa?"
"Catatan Sipil punya arsip. Nomor registrasi sudah dicatat di berita acara RUPS. Salinan notaris dan data Vani masih ada. Akta bisa diminta ulang."
Kiana membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ia tahu itu benar.
Tetapi kehilangan dokumen yang tadi pagi menjadi senjatanya tetap terasa seperti seseorang merampas bukti bahwa ia baru saja menang.
Hans berdiri di depannya. "Yang penting, hari ini kamu menang."
Kiana menunduk.
Kata itu membuat dadanya sakit dengan cara yang aneh.
"Belum sepenuhnya."
"Tapi pintunya sudah terbuka."
Ia mengangkat wajah.
Hans menatapnya dengan tenang. "Mereka mencuri kertas karena tidak bisa mencuri fakta."
Kiana diam.
Lalu napas yang sejak sore tertahan akhirnya keluar.
Di luar jendela, lampu kota mulai menyala satu per satu. Di dalam apartemen, tas kerja hitam terbuka di meja, kehilangan satu dokumen, tetapi tidak kehilangan arti.
Kiana menatap Hans dan untuk pertama kalinya hari itu, rasa marahnya tidak lagi sendirian.
Besok, mereka bisa mengurus salinan baru.
Malam ini, ia hanya ingin percaya pada kalimat Hans.
Mereka mencuri kertas, bukan fakta.