Karena pria yang mencintainya meninggalkan dirinya di hari pernikahannya membuat Lavanya mau tidak mau harus menikah dengan Mike.
Mike berusaha untuk menjalani pernikahan mereka meski pernikahan itu didasari tanpa cinta dan Lavanya tidak mudah membuka hatinya.
Percekcokan terjadi di antara mereka, Lavanya benar-benar tidak ingin mencoba untuk rumah tangganya dan tidak mungkin berpisah karena keluarga calon suaminya itu dikenal oleh orang banyak dan sangat terhormat.
Sahabatnya masuk dalam rumah tangga mereka dan menghancurkan rumah tangga itu dengan Mike mencari kenyamanan pada Arumi.
Ketika Lavanya menyadari adanya yang tidak sehat dalam rumah tangganya, bagaimana dirimu manfaatkan dan terlalu sibuk untuk dirinya dan sampai akhirnya mengetahui perselingkuhan suaminya. Lavanya ternyata tidak mundur dan justru maju untuk merebut suaminya kembali.
Bagaimana kelanjutan hubungan pernikahan antara Mike dan Lavanya. Apakah pada akhirnya Lavanya kembali mendapatkan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 Tetap Menghindar
"Hal yang paling penting yang kamu lakukan adalah mengabaikan perkataan Clara dan jangan justru terjerumus dengan semua perkataannya," sahut Brahmana.
"Apa maksud Papa? Apa Papa ingin mengatakan bahwa aku sangat jelek dan tidak pantas untuk dicontoh?" Clara sudah pasti kesal.
"Clara diamlah dan jangan terus-menerus memotong pembicaraan orang tua!" tegas Maria lagi-lagi memberi teguran kepada Clara yang membuat Clara kesal dengan menghela nafas.
"Saya tidak harus mengajari kamu seperti anak kecil yang berusia 5 tahun, kamu sudah dewasa dan sudah pasti tahu apa yang baik yang perlu kamu lakukan dan apa yang tidak harus kamu lakukan, karena kamu sudah menjadi bagian keluarga ini dan otomatis kamu juga akan ikut tersorot, jadi berpenampilan lah yang menarik dan tidak kampungan," ucap Maria berbicara apa adanya.
"Oke, saya tidak meminta kamu untuk melakukan secara langsung, semua butuh proses. Saya yakin hari demi hari kamu berada di rumah ini dan hati kamu akan tergerak untuk mengubah penampilan kamu menjadi lebih baik dan lebih enak dilihat sebagai istri dari putra keluarga terpandang di negara ini dengan penampilan yang berkelas," ucap Maria memberi penekanan kepada menantunya itu agar bisa menyesuaikan dirinya dengan keluarga terpandang tersebut.
"Lavanya lakukan saja pelan-pelan dengan senyuman kamu yang terpenting jangan mempermalukan keluarga," sahut Brahmana lebih santai berbicara tidak secara blak-blakan seperti istrinya dan sementara Mike hanya diam saja yang menikmati sarapannya tanpa ingin berkomentar.
"Aku tidak mengerti ya Tuhan, mengapa hamba harus masuk ke dalam rumah ini. Apakah peraturan di rumah ini benar-benar jauh dari engkau, bukankah apapun yang dimiliki manusia di dunia ini tak lain adalah titipan dan hanya sementara," batin Lavanya.
Matanya kembali memandang Ibu mertuanya yang melanjutkan sarapannya, cara memegang garpu dan sendok itu benar-benar berbeda bagaimana sarapan roti yang dipotong masuk ke dalam mulutnya, terlihat berkelas dan elegan.
Sama dengan ayah mertuanya yang juga terlihat santai, Clara adik iparnya dan juga suaminya, entah apa alasannya mengapa Tuhan meletakkannya diantara orang-orang yang berkala sah dan berwibawa seperti itu dan sementara dirinya hanyalah gadis biasa.
Selama dekat Damian, Lavanya tidak pernah dihadapkan dengan hal-hal seperti itu karena Damian jika merupakan pria sederhana yang menjadi Lavanya yakin menerima lamaran dari pria tersebut.
*****
Lavanya pagi ini terlihat menyiram tanaman menggunakan pipa air. Penampilan seperti biasa, terlihat sederhana, hanya menggunakan blouse yang di padukan dengan rok putih sebetisnya.
Maria keluar dari rumah ingin memasuki mobil, wanita itu tidak lepas dari penampilan berkelas, elegan dengan barang-barang branded yang ia gunakan, langkahnya harus terhenti ketika melihat menantinya menyiram tanaman.
"Apa yang kamu lakukan?" Lavanya seketika berhenti melakukan hal itu.
"Saya sedang menyiram tanaman?" jawabnya.
"Saya tahu, maksud saya untuk apa kamu melakukannya? Apa pelayan di rumah ini kurang banyak sehingga kamu ingin menggantikan mereka? Lavanya di rumah ini kamu sudah menjadi istri Mike dan bukan pembantu baru,"
"Kamu sengaja jika tiba-tiba ada media yang masuk ke dalam rumah ini dan melihat kamu seperti ini? Kamu ingin membuat spekulasi buruk bahwa kamu diperlakukan seperti pembantu di rumah ini?" tanya Maria dengan nada suaranya terdengar begitu kesal atas apa yang telah dilakukan menantunya.
"Dari pada kamu melakukan hal-hal yang membuang waktu seperti ini, sebaiknya kamu pelajari majalah yang telah saya berikan kepada kamu, majalah fashion dan cara wanita berpenampilan menarik, memakai riasan dan juga cara melayani suami dengan baik, kamu sudah menjadi istri dan harus tahu tugas kamu sebagai istri dan bukan menciptakan masalah!" tegas Maria.
"Maaf. Ma," sahut Lavanya.
"Huuuu, kepala saya bisa pecah, jika kamu tidak mengerti juga apa yang saya katakan," Maria geleng-geleng kepala dan kemudian langsung pergi.
"Apa yang aku lakukan salah?" tanyanya di dalam hati.
*****
Lavanya berada di dalam kamar mewahnya yang saat ini sedang membersihkan tempat tidur, ranjang besar yang sudah dia gunakan lebih dari satu bulan bersama dengan suaminya.
Lavanya seketika menjadi kaget ketika ada yang memeluknya dari belakang membuatnya langsung membalikkan tubuh.
Ternyata Mike yang melakukan hal itu, Lavanya langsung terlihat panik dan ketakutan.
"Kenapa Lavanya? Kenapa kamu bersikap seperti itu kepada saya?" tanya Mike.
"Kamu mengejutkanku," sahut Lavanya.
"Saya minta maaf jika membuat kamu takut, tetapi seharusnya respon kamu tidak berlebihan seperti itu ... Lavanya....." Mike melangkah mendekatinya dan seketika Lavanya semakin panik yang mencoba untuk menghindar.
"Tolong jangan sentuh saya....." pinta Lavanya.
"Kamu masih belum siap juga?" tanya Mike memastikan dan mencoba untuk mengerti kondisi istrinya.
Lavanya menganggukkan kepala yang tidak berani menatap Mike.
"Ini sudah 1 bulan pernikahan kita, saya berusaha untuk menjaga jarak dari kamu meski tidur satu ranjang, saya membiarkan kamu bersosialisasi di kamar ini dan termasuk dekat saya untuk melakukan penyesuaian, lalu kamu sampai saat ini belum siap juga?" tanyanya lagi.
"Saya butuh waktu, tolong mengerti," sahut Lavanya.
"Sampai kapan Lavanya, sampai kapan saya harus menunggu kamu, saya laki-laki normal dan kurang sabar apa saya kepada kamu, saya berusaha untuk tidak mengganggu kamu dan tidak melarang kamu melakukan apapun yang kamu mau, saya berusaha untuk mengajak kamu berbicara agar kita berdua bisa sama-sama rileks dan bagaimanapun kita harus melanjutkan pernikahan ini, suka tidak suka pernikahan ini sudah terjadi dan tidak mungkin ada perpisahan hanya karena ketidakcocokan diantara kita!" tegas Mike.
"Kamu tahu bagaimana orang tuaku dan tidak mungkin ada perpisahan!" tegas Mike.
"Tetapi saya belum siap karena saya ...."
"Masih menunggu Damian?" tanyanya memotong kalimat tersebut.
"Kamu pikir dia akan kembali dan kamu pikir setelah dia kembali maka kamu akan bisa bersamanya?" tanya Mike.
"Lavanya saya adalah suami kamu saat ini dan saya memiliki hak untuk melakukan apapun kepada kamu, itu merupakan hak ayah yang harus kamu berikan!" tegas Mike.
"Tolong jangan memaksa saya, saya tidak bisa membuka hati saya begitu mudah, tolong mengerti saya," ucap Lavanya dengan suaranya terdengar lirih.
"Berapa selama lagi saya harus menunggu?" tanya Mike.
"Saya tidak bisa menjawab. Saya butuh ketenangan untuk saat ini dan sebaiknya kita tidak tidur di kamar yang sama," ucap Lavanya membuat Mike semakin kaget dengan mengerutkan dahi.
"Apa kamu bilang?" tanya Mike.
"Saya jujur tidak nyaman tinggal di kamar ini," jawab Lavanya.
"Jadi selama ini kamu takut tidur satu kamar dengan saya, kamu selalu waspada dan takut jika saya melakukan hal yang tidak tidak kepada kamu dan padahal saya ada suami kamu?" tanya Mike.
Lavanya tidak berkomentar apapun dan hanya menunduk.
"Hah!" Mike sudah tidak bisa berkata-kata yang mengusap wajahnya kasar sampai ke rambutnya, benar-benar terlihat frustasi dan padahal selama ini dia berusaha untuk menciptakan kenyamanan dalam pernikahan mereka.
"Terserah kamu ingin melakukan apapun yang kamu, saya juga merasa tidak ada gunanya berbicara dengan kamu," sahut Mike tampak begitu pasrah dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Lavanya keluar dari kamar tersebut.
Lavanya melihat kepergian suaminya, sepertinya Mike sudah marah, tetapi dia bukan tipe laki-laki marah harus diungkapkan dengan suara meninggi.
Bersambung......
reputasinya , kamu dan seluruh keluarga