Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27: Langkah Catur di Ujung Tanduk
Matahari baru saja naik beberapa jengkal di ufuk timur, namun hawa panas sudah mulai terasa membakar aspal di luar gerbang Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya. Di dalam salah satu ruang tunggu umum yang dipenuhi bau asap rokok dan kopi instan murahan, beberapa kerabat jauh keluarga Narendra berkumpul dengan wajah cemas. Namun, tak satu pun dari mereka yang memiliki keberanian atau aset yang cukup untuk mengajukan jaminan penangguhan penahanan bagi Arka dan Sheila.
Di koridor tahanan wanita, derap langkah kaki sipir yang beradu dengan lantai semen terdengar nyaring, menghentikan histeria kecil yang baru saja reda di sel nomor empat.
"Tahanan atas nama Sheila! Ada kunjungan kuasa hukum." teriak sipir wanita sembari mengetuk jeruji besi dengan tongkat kayu.
Sheila yang tadinya meringkuk di sudut kasur tipis langsung menegakkan tubuhnya dengan susah payah. Perutnya yang membuncit tujuh bulan terasa sangat berat, membuat setiap pergerakannya diiringi ringisan menahan nyeri di pinggang. Dengan rambut yang kusut dan daster abu-abu yang kini bernoda bekas keringat, dia melangkah tertatih-tatih keluar sel.
Di ruang kunjungan yang dibatasi sekat kaca tebal, Pengacara Hotma sudah menunggu dengan wajah masam. Tas kerja kulitnya diletakkan begitu saja di atas meja kayu yang baret-baret.
Begitu duduk di kursi kayu, Sheila langsung meraih gagang telepon penghubung dengan tangan gemetar. "Pak Hotma, Tolong saya. Keluarkan saya dari sini sekarang juga. Perut saya sering kencang sejak semalam. Saya tidak mau melahirkan di klinik penjara yang kotor ini." jeritnya tertahan, air matanya langsung tumpah membasahi pipinya yang cekung.
Hotma menghela napas panjang, menyesap sisa kopi hitamnya sebelum menjawab melalui gagang telepon di seberang kaca. "Nyonya Sheila, harap tenang. Kondisinya saat ini sangat sulit. Pihak pelapor Reno Mahendra didukung penuh oleh tim hukum Atmadja Group. Adrian Atmadja secara pribadi telah meletakkan pengaruhnya di kejaksaan. Semua pengajuan penangguhan penahanan yang saya kirimkan kemarin sore langsung ditolak mentah-mentah tanpa alasan yang jelas."
"Lalu apa gunanya saya membayar Anda dengan sisa perhiasan yang saya punya?." suara Sheila meninggi, membuat sipir di sudut ruangan meliriknya dengan tatapan memperingatkan.
"Sisa perhiasan Anda itu bahkan hampir tidak cukup untuk membayar biaya administrasi gugatan balik yang kita rencanakan," sahut Hotma dingin, mulai kehilangan kesabaran menghadapi histeria Sheila. "Satu-satunya celah kita sekarang adalah memanfaatkan kondisi fisik Anda. Saya sedang mengupayakan surat keterangan medis dari dokter independen yang menyatakan bahwa kehamilan Anda berisiko tinggi jika terus berada di dalam sel seluas dua kali tiga meter ini. Jika disetujui, Anda bisa dipindahkan sebagai tahanan kota atau minimal dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara dengan status tahanan rumah sakit."
Mendengar kata 'tahanan rumah sakit', secercah harapan palsu kembali menyala di mata licik Sheila. "Lakukan secepatnya Pak, Tolong... secepatnya."
Di belahan kota Jakarta yang lain, tepatnya di bangsal perawatan kelas tiga Rumah Sakit Umum Daerah, Siska Narendra terbaring dengan wajah layu yang menghadap ke arah jendela luar. Bunyi bip konstan dari mesin monitor detak jantung di samping ranjangnya terdengar monoton dan menyedihkan.
Sebagai mantan sosialita yang dulunya hanya sudi menginjakkan kaki di rumah sakit internasional di Singapura, berada di bangsal dengan sekat gorden tipis yang memisahkannya dengan tiga pasien BPJS lainnya adalah siksaan mental terbesar bagi Siska. Separuh tubuh bagian kanannya masih sulit digerakkan akibat serangan stroke ringan, membuat bibirnya tampak sedikit miring saat mencoba berbicara.
Pintu bangsal terbuka perlahan. Langkah kaki yang diseret terdengar mendekat. Siska bersusah payah menolehkan kepalanya. Harapannya untuk melihat sosok rekan bisnis atau kerabat kaya yang datang membawa bantuan seketika sirna saat melihat siapa yang berdiri di balik gorden.
Reno Mahendra berdiri di sana.
Adik kandung Davira itu tampil sangat rapi dengan setelan jas kasual tanpa dasi. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, menatap Siska dengan pandangan mata yang tidak memiliki setitik pun rasa belas kasihan.
"Bagaimana rasanya, Nyonya Siska?" tanya Reno, suaranya begitu rendah namun sangat jelas terdengar di telinga Siska. "Berada di bangsal yang sama dengan orang-orang yang dulu selalu Anda sebut sebagai 'rakyat kelas bawah'?"
Siska mencoba menggerakkan tangan kirinya yang bebas, menunjuk Reno dengan jari yang gemetar. "K-kamu... anak nakal... b-bajingan..." ucapnya terbata-bata, suaranya sengau dan tidak jelas akibat cedera saraf bicaranya.
"Simpan energimu, Siska," Reno melangkah satu kali mendekati ranjang, lalu membungkuk sedikit demi memastikan kata-katanya tertanam dalam di benak wanita tua itu. "Hari ini, tim hukum kami resmi menyita seluruh sisa tabungan pribadimu yang tersebar di tiga bank swasta. Kami juga sudah melacak rekening atas nama adik iparmu yang sempat kamu gunakan untuk mencuci uang hasil penjarahan warisan Mahendra."
Reno tersenyum tipis, senyuman yang sangat dingin. "Besok, jaminan kesehatan kelas tiga ini pun akan dicabut karena tidak ada lagi dana yang tersisa di rekeningmu untuk membayar iuran mandiri. Kamu akan dipindahkan ke fasilitas perawatan sosial milik pemerintah jika tidak ada satu pun keluargamu yang mau menjemputmu. Dan kurasa... Arka tidak akan bisa menjemputmu sampai dua puluh tahun ke depan."
Air mata kemarahan dan keputusasaan perlahan meleleh dari sudut mata Siska yang mulai keriput. Dia ingin berteriak memaki Reno, namun tenggorokannya terasa tersumbat oleh rasa sesak yang teramat sangat.
"D-Davira... di mana... j-jalang itu..." ucap Siska dengan sisa kekuatannya.
"Kak Vira tidak memiliki waktu untuk melihat rongsokan sepertimu, Siska." sahut Reno ketus sembari menegakkan punggungnya. "Dia sedang sibuk memulai hidup baru yang sangat bahagia, jauh dari bayang-bayang keluarga Narendra yang busuk."
Reno membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Siska yang kini hanya bisa menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan dada yang naik turun menahan sesak napas yang kian menghimpit.
***
Sore harinya, di area pusat perbelanjaan elite di kawasan Jakarta Selatan, suasana terasa sangat hangat dan damai.
Vira Mahendra melangkah dengan anggun di sepanjang koridor toko buku anak-anak. Gaun rajut berwarna krem berpotongan longgar yang dikenakannya tampak sangat serasi dengan mantel tipis berwarna senada. Rambut hitamnya dibiarkan terurai indah, membingkai wajahnya yang kini tampak jauh lebih segar dan bercahaya, tanpa ada sisa-sisa kesedihan masa lalu yang membekas.
"Tante Cantik, Elvano mau buku yang ini." seru Elvano kecil sembari berlari kearah Vira, menunjukkan sebuah buku cerita bergambar dinosaurus T-Rex berukuran besar.
Vira berlutut di atas lantai marmer yang bersih, sejajar dengan tinggi Elvano. Dia tersenyum sangat manis, senyuman tulus yang hanya ia perlihatkan saat bersama anak ini dan Adrian. "Oh, Elvano suka dinosaurus yang ini? Tante bacakan ceritanya nanti di rumah ya?"
"Mau! Elvano mau Tante yang bacakan!" jawab anak laki-laki itu dengan mata bulatnya yang berbinar riang, lalu dengan manja merangkulkan kedua tangan kecilnya di leher Vira.
Vira membalas pelukan hangat itu, menenggelamkan wajahnya di rambut halus Elvano. Naluri keibuannya yang sempat direnggut paksa bersama dengan rahimnya yang diangkat tiga tahun lalu, kini seolah menemukan muara kedamaian yang sesungguhnya pada diri Elvano. Menyayangi Elvano tidak membuatnya merasa kurang sebagai seorang wanita, justru sebaliknya, anak ini memberinya kekuatan baru untuk terus melangkah maju.
Adrian Atmadja berdiri tidak jauh dari mereka, menyandarkan tubuh tegapnya pada pilar kayu toko buku dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Sepasang mata elangnya yang biasanya memancarkan aura dingin dan intimidatif di dunia bisnis, kini melembut sempurna saat menatap interaksi kedua orang yang paling berharga dalam hidupnya itu.
Adrian melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Vira berdiri. Genggaman tangan Adrian terasa begitu kokoh dan hangat, sebuah pegangan yang seolah berjanji tidak akan pernah membiarkan Vira terjatuh lagi.
"Kamu terlalu memanjakannya, Vira," ucap Adrian dengan nada suara baritonnya yang rendah namun sarat akan kelembutan yang teramat dalam.
"Elvano anak yang sangat pintar dan manis, Tuan Adrian. Dia pantas mendapatkan semua mainan dan buku yang dia inginkan," sahut Vira sembari menatap Adrian, rona merah tipis tanpa sadar terbit di kedua pipinya saat menyadari betapa dekatnya jarak wajah mereka saat ini.
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman menawan yang sangat jarang ia perlihatkan pada dunia luar. Jari-jari kokohnya menyelip di antara jemari lentik Vira, menggenggamnya erat dengan posisi protektif di depan umum.
"Minggu depan, setelah sidang tuntutan Arka selesai, aku sudah mengatur perjalanan pribadi kita ke resor pegunungan di Swiss," bisik Adrian, mendekatkan wajahnya ke telinga Vira hingga hembusan napas hangatnya membuat debaran halus di dada Vira kian bertalu-talu. "Hanya ada kita bertiga. Elvano, aku, dan kamu. Kita tinggalkan seluruh keriuhan kota ini untuk sejenak."
Vira menatap genggaman tangan mereka, lalu mendongak menatap sepasang mata elang Adrian yang memancarkan komitmen mutlak. "Terima kasih, Adrian... untuk semuanya."
Langkah catur pertama untuk menghancurkan keluarga Narendra telah diletakkan dengan sempurna di atas papan. Namun, Vira tahu persis bahwa untuk memastikan mangsanya tidak akan pernah bisa bangkit lagi, dia harus terus mengawasi setiap pergerakan mereka hingga palu hakim diketuk untuk terakhir kalinya.