Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.
Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Sang Ratu dan Tikaman Pertama
Gerbang besi tempa setinggi lima meter itu terbuka perlahan tanpa suara, bagai sepasang sayap hitam yang menyambut kepulangan sang penguasa malam. Di balik gerbang itu, terbentang jalan setapak beraspal mulus yang diapit oleh barisan pohon cemara kipas yang berdiri tegak, seolah-olah sedang memberikan penghormatan bisu kepada iring-iringan tiga mobil mewah yang melaju lambat.
Di ujung jalan, berdirilah Kediaman Atmadja.
Sebuah mahakarya arsitektur neoklasik yang megah, bertengger kokoh di atas perbukitan eksklusif di pusat kota. Pilar-pilar putih silindris yang menjulang tinggi menyangga atap segitiga yang agung, memantulkan cahaya lampu sorot taman yang temaram. Tempat ini bukanlah sekadar rumah; ini adalah sebuah takhta, monumen kekuasaan dari dinasti bisnis yang telah menggenggam urat nadi perekonomian negeri ini selama setengah abad.
Rolls-Royce Ghost hitam yang membawa Naya berhenti tepat di depan teras utama yang dilapisi marmer Carrara putih. Dua baris pelayan berpakaian seragam hitam-putih rapi sudah berdiri menyambut dengan kepala tertunduk dalam.
Pintu mobil dibukakan. Kaki telanjang Naya yang kini telah bersih dari debu aspal melangkah turun, menapak di atas karpet merah tebal yang sengaja digelar dari pintu mobil hingga ke dalam lobi utama. Jubah kasmir hitam milik Baskara masih tersampir longgar di bahunya, melindunginya dari angin malam yang enggan beranjak.
Naya berhenti sejenak. Ia mendongak, menatap fasad rumah masa kecilnya yang telah ia tinggalkan selama tiga tahun demi sebuah ilusi yang bernama pengabdian istri. Bau harum kayu cendana dan minyak esensial lavender yang akrab segera menyapa indra penciumannya, mengusir sisa-sisa bau amis sup herbal dan parfum murah keluarga Adijaya yang sempat mengotori memorinya.
"Selamat datang kembali di rumah, Nona Muda Anindya," ucap Baskara dengan suara yang bergetar halus oleh keharuan, berdiri setengah langkah di belakangnya.
Naya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, lalu melangkah masuk. Setiap ketukan langkah kakinya di atas lantai marmer terdengar bagaikan ketukan takdir yang baru.
Ia langsung menuju ke lantai atas, ke dalam kamar pribadinya yang luasnya bahkan melebihi seluruh lantai bawah rumah Reza. Kamar itu dibiarkan persis seperti saat ia pergi: tempat tidur berkanopi dengan seprai sutra abu-abu, lukisan cat minyak bernilai miliaran rupiah di dinding, dan jendela Prancis besar yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota Jakarta yang tampak kerdil di bawah sana.
Naya melangkah ke kamar mandi yang berlapis batu giok alam. Di bawah pancuran air hangat yang berlimpah, ia memejamkan mata. Ia membiarkan air melarutkan sisa-sisa ketakutan, kesabaran yang keliru, dan rasa sakit yang sempat bersarang di tubuhnya. Ketika ia menyeka cermin yang berembun, ia menatap bayangan dirinya sendiri.
Pipi kirinya masih sedikit bengkak dan memerah akibat tamparan Reza. Sudut bibirnya yang robek telah mengering, meninggalkan bekas luka kecil yang berwarna keunguan. Naya menyentuh bekas luka itu dengan ujung jarinya.
"Rasa sakit ini adalah harga terakhir yang kubayar untuk kebodohanku," bisik Naya pada bayangannya sendiri di cermin. Tatapan matanya kini sedingin es utara, tajam bagai belati yang baru diasah. "Dan mulai besok, kalian yang akan membayar bunganya."
Setelah mengenakan gaun tidur sutra berwarna hitam malam yang elegan, Naya melangkah ke ruang kerja pribadi mendiang ayahnya di ujung koridor. Ruangan itu didominasi oleh rak buku kayu ek tua yang menjulang hingga ke langit-langit, dipenuhi oleh ribuan literatur hukum dan bisnis. Di tengah ruangan, sebuah meja kerja jati berukuran raksasa berdiri dengan kokoh.
Baskara telah menunggu di sana. Di atas meja kerja, telah tersusun rapi beberapa map kulit berwarna hitam dan sebuah laptop yang menyala.
"Nona Muda," Baskara memulai, sikapnya berubah menjadi sangat profesional saat menyerahkan map pertama. "Ini adalah seluruh data aset atas nama Reza Adijaya dan ibunya, Ningsih. Termasuk rumah yang mereka tempati saat ini."
Naya membuka map tersebut. Lembar demi lembar ia balik dengan gerakan yang anggun namun dingin. Di bawah lampu meja yang hangat, deretan angka dan dokumen legalitas itu tampak bagaikan rantai yang siap menjerat mangsanya.
"Rumah di kawasan Menteng itu..." Naya bergumam, suaranya mengalun rendah. "Bukankah itu dibeli atas nama anak perusahaan Atmadja Group, PT Sinar Surya?"
"Benar, Nona Muda," jawab Baskara dengan senyum tipis yang sarat makna. "Tiga tahun lalu, saat Anda meminta kami memfasilitasi pernikahan Anda tanpa sepengetahuan Tuan Reza, kami membeli rumah tersebut dan meminjamkannya kepada Tuan Reza di bawah kontrak fasilitas jabatan manajer menengah. Secara hukum, rumah itu sepenuhnya milik Atmadja Group."
Naya tersenyum dingin. "Jadi, mereka tidur di atas tanahku, makan dari piring yang kubeli, dan merayakan kepergianku di bawah atap yang kumiliki." Ia menutup map tersebut dengan bunyi prak yang tegas. "Tarik kembali fasilitas itu. Aku ingin mereka tahu bagaimana rasanya kehilangan langit di atas kepala mereka."
"Lalu, bagaimana dengan mobil Mercedes-Benz yang dikendarai Tuan Reza?" tanya Baskara lagi.
"Mobil itu dibeli dengan skema kredit yang seluruh cicilannya didebit otomatis dari rekening yayasan bayangan kita yang dialokasikan untuk nafkah pribadiku. Bekukan rekening itu besok subuh. Biarkan pihak bank yang melakukan tugasnya dengan menyeret mobil itu dari tangannya di depan umum."
Naya kemudian beralih ke dokumen berikutnya. Sebuah draf surat yang dicetak di atas kertas linen tebal berlogo firma hukum terbaik di negeri ini: Surat Gugatan Cerai.
Di bawah draf itu, tertulis alasan gugatan: Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan ketidakcocokan yang mutlak.
Naya mengambil sebuah pena bulu berujung emas murni—pena kesayangan ayahnya yang dulu sering digunakan untuk menandatangani kontrak-kontrak senilai triliunan rupiah. Tanpa keraguan sedikit pun, ia menorehkan tanda tangannya di atas garis bertuliskan namanya: Anindya Naya Atmadja.
Tanda tangan itu meliuk tajam, seolah-olah memotong habis seluruh sisa masa lalunya dengan sekali tebas.
"Kirimkan surat ini besok pagi, tepat pukul sembilan," perintah Naya, menyerahkan dokumen yang telah ditandatanganinya kepada Baskara. "Pastikan kurir pengadilan mengantarkannya langsung ke kantor Reza, di depan rekan-rekan kerjanya dan atasannya. Aku ingin surat cerai ini menjadi hidangan pembuka yang merusak nafsu makannya."
"Sesuai perintah Anda, Nona Muda," Baskara membungkuk hormat, menerima dokumen tersebut bagaikan seorang jenderal yang menerima titah perang dari rajanya. "Apakah Anda juga ingin saya memproses pemecatannya besok?"
Naya menyandarkan tubuhnya ke kursi kulit yang empuk, menatap keluar jendela besar ke arah kegelapan malam yang perlahan mulai memudar di kaki langit.
"Jangan terburu-buru, Paman Baskara," bisik Naya dengan nada yang sangat tenang, namun tersirat kekejaman yang terukur di dalamnya. "Jika kita langsung menghancurkannya sekaligus, permainan ini akan selesai terlalu cepat. Aku ingin mereka merasakan kepanikan yang merayap perlahan. Aku ingin mereka kehilangan pegangan satu per satu, hingga mereka tidak tahu lagi lantai mana yang aman untuk dipijak."
Naya mengetukkan jemarinya yang lentik di atas meja jati.
"Besok pagi, biarkan dia menghadapi surat cerai ini terlebih dahulu. Biarkan dia merasa cemas akan kehilangan reputasinya sebagai suami yang sempurna. Dan saat dia mencoba menghubungiku untuk memaki..." Naya menjeda kalimatnya, matanya berkilat berbahaya. "...dia akan menyadari bahwa nomor telepon yang ia miliki hanyalah milik seorang Naya yang miskin, yang kini telah ia kubur di bahu jalan tol."
Langit di luar sana perlahan mulai menampakkan warna biru keabu-abuan. Fajar pertama setelah malam yang panjang akhirnya datang. Namun bagi keluarga Adijaya, fajar ini bukanlah awal dari hari yang baru, melainkan awal dari badai yang akan menyapu bersih seluruh dunia palsu yang telah mereka bangun dengan kesombongan.