Aku tidak tahu dosa apa yang telah aku lakukan di kehidupan sebelumnya sehingga tuhan menghukumku Seperti ini.
Aku Terjerat Dalam hubungan pernikahan Dimana Akulah orang ketiganya, Bangga? bahagia? tentu tidak, Aku seorang wanita mana mungkin aku akan bahagia diatas luka wanita lain Seburuk apapun wanita itu dia tetap seorang wanita dan sebaik apapun aku, Akan jauh lebih buruk dari pada dia.
Menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan bukanlah sebuah kebanggaan, melainkan sebuah hukum yang tengah aku jalani.
Jika diluar sana beberapa wanita bangga menjadi orang ketiga, tetapi aku justru menyesal, karena hinaan, cemoohan, serta makian, sudah menjadi Nyanyi wajib yang selalu terdengar ditelingaku.
Aku tidak berdaya jika harus melawan Nama besar Keluarga Sanjaya. Tapi jangan sebut Nama aku Luna jika aku mudahkan Semua keinginannya.
Silahkan langsung di baca 👉
Tinggalkan Jejak jika kalian suka dengan 💬🌟❤️ Terima kasih 🙏🙏🙏
Ingat Warning,⚠️⚠️⚠️21+++
Jangan lupa Follow IG Vivia129
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vi_via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepo
Begitu Reval tiba di kamar rawat Anita, istrinya itu tengah tertidur! mungkin karena pengaruh obat yang di berikan dokter.
Reval mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Anita, ia duduk menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu.
Kepala Reval berdenyut memikirkan kedua istrinya, Sesekali ia memijit pangkal hidungnya. Reval mengeluarkan benda pipih dari saku celananya, Setelah mengotak atik layarnya Reval langsung menempelkan benda pipih itu ke daun telinganya.
Tut.. tut.. Tut..
" Hallo."
" Bunda."
" Iya, ada apa Kak, tumben kakak telpon bunda." Tanya Bunda Vio dari sebrang sana. Suara wanita paruh bayah itu terdengar begitu hangat di telinga Reval.
" Bunda lagi sibuk." Bukannya menjawab ia malah balik bertanya.
" Nggak! Ada apa sih kak, ngomong aja jangan buat bunda khawatir." Tanya bunda Vio lagi.
" Reval boleh minta tolong sama bunda." Bunda vio yang mendengar Reval Kembali bertanya hanya bisa mendesah sambil menggeleng kepalanya.
" Boleh."
" Aku di rumah sakit Bun, Anita tadi pendarahan soalnya aku nggak sengaja mendorongnya."
" Astaga kamu ini, ya sudah bunda ke sana! Kirim alamat rumah sakitnya." Ucap Bunda Vio, ia langsung memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.
Disaat Reval sedang pusing memikirkan Anita dan Luna. Istri keduanya itu justru menjalankan hari harinya seperti biasa, berkat bantuan Mama Emma dan Tika serta rekan kerja di ruangan Ginek lain.
Mama Emma membantu Luna mendapatkan mess yang sama dengan Dina. sedangkan mobil Luna ia bawah pulang kerumahnya.
Mungkin cara mama Emma salah tetapi ia juga seorang wanita, tidak mungkin dia melihat Luna begitu saja tanpa membantunya. Luna adalah wanita yang berhasil merubah keponakannya menjadi lebih baik! tentu saja dia tidak akan diam jika Luna tersakiti.
" Ma, Luna izin makan malam di luar ya." Suara Luna mengagetkan Mama Emma. Malam ini, Mama Emma dan Luna kebagian Sip malam.
" Sama siapa."
" Sama Dina." Kening mama Emma berkerut.
" Bukannya Dina sip siang ya."
" Dia tukaran sama temannya ma."
" Ya sudah, jangan lama! beli juga makanan buat teman teman kamu."
" Siap bos." Ucapnya memberi hormat.
" Sudah jangan banyak tingkah sana pergi, jangan lupa pakai masker! mama nggak mau senyum kamu ini menjadi senyum yang terakhir."
" Makasih Ma! sudah bantu Luna." Luna memeluk tubuh mama Emma untuk menyalurkan rasa terima kasihnya.
...💋💋💋💋💋...
Luna pergi ke ruang kebidanan untuk menemui Dina, " Permisi Ko, Dina nya! dimana ya?" Luna bertanya kepada seorang mantri yang berwajah Tionghoa itu.
" Di depan Luna! dia sama Erni dapat tugas jaga pasien ruang VVIP. Taulah Lun orang kaya." Ucapnya.
" Ya sudah aku ke depan dulu! makasih ya Ko."
" Sama sama lun."
Luna langsung menemui Dina di ruangan VVIP, Begitu sampai di ruangan itu, Luna hanya melihat Erni sedangkan Dina tidak ada.
" Jamud! Dina mana."
" Eeh kamu lun! ngagetin aja! teman kamu lagi didalam temani dokter Harris periksa pasien." Erni menunjuk ruangan VVIP yang letaknya beberapa langkah dari tempat duduknya.
Luna membulatkan bibirnya membentuk huruf O, ia duduk di samping Erni. " Luna." panggil Erni.
" Iya."
" Akhir akhir ini aku perhatikan, kamu sering banget pake masker! Sakit?"
" Nggak."
" Lah terus kenapa pake masker."
" Pengen make aja! kenapa nggak boleh."
" Boleh aja sih! tapi jujur ya, aku penggap lihat nya."
" Tapi aku nggak." Luna tersenyum kepada Erni walaupun wanita yang bergelar jamud itu tidak dapat melihat senyumnya.
Sekitar lima belas menit menunggu akhirnya Dokter harus keluar dari ruangan itu bersama lelaki yang telah ia hindari hampir sebulan ini, di ikuti sahabatnya. Andai Luna punya kantong ajaib! mungkin ia sudah masuk dan bersembunyi di dalamnya.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading.. 💋💋...
💋 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍
gak apa thor penulis jg manusia biasa kami pembaca blm tentu bisa nulis, terima kasih dgn kisah ini. saran sih dikit, cerita ini babyak sedihnya jd bacanya nyesek. semangat berkarya
aku heran ama dion berbuat salah udah tahu kena minta dicegah oleh melly untuk tdk celap celup... lebay dion mah
aku gsk kebayang lho thor cinta namun sejauh itu jaraknya