Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut."Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis."Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas."Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Jelita berdiri mematung di depan lemari, tangannya gemetar memegang helai gaun beludru hitam yang sangat indah itu. Ia melirik Arjuna yang masih berdiri di belakangnya dengan senyum tipis yang penuh arti. Pangeran itu seolah tidak punya niat sedikit pun untuk memalingkan wajah atau keluar dari kamar.
"Arjuna... bisakah kamu membiarkan aku berganti pakaian lebih dulu?" pinta Jelita dengan wajah yang sudah memerah padam hingga ke telinga.
Bukannya menjauh, Arjuna justru melangkah maju. Ia melingkarkan lengannya yang kokoh di pinggang Jelita, menarik punggung gadis itu hingga menempel erat di dadanya. "Kenapa harus malu, Ratu Kecilku? Di mataku, kau adalah keindahan yang paling sempurna, baik dengan gaun itu maupun tidak," bisiknya dengan suara bariton yang serak dan menggoda.
Jelita mencoba memprotes, namun suaranya tertahan di tenggorokan saat Arjuna mulai mengecup bahunya dengan lembut, tepat di atas kerah turtleneck yang ia pakai. Perlakuan Arjuna yang sangat "berani" dan memuja ini membuat jantung Jelita berdegup tidak karuan. Meskipun mulutnya meminta Arjuna pergi, jauh di dalam hatinya, Jelita tidak menampik bahwa ia sangat menyukai perlakuan manis namun posesif dari sang Pangeran.
Arjuna memutar tubuh Jelita dengan perlahan hingga mereka berhadapan. Ia menatap mata Jelita dengan tatapan yang seolah-olah ingin menelan seluruh jiwa gadis itu ke dalam keabadian.
"Biarkan aku yang membantumu," ucap Arjuna pelan. Dengan satu gerakan tangan yang magis, pakaian kuliah Jelita seolah luruh menjadi butiran cahaya, dan gaun kerajaan itu perlahan menyatu dengan tubuh Jelita.
Tangan Arjuna yang dingin menyentuh kulit punggung Jelita saat ia merapikan kaitan gaun tersebut. Sentuhan itu mengirimkan sensasi hangat sekaligus dingin yang membuat tubuh Jelita lemas. Arjuna kemudian mengangkat dagu Jelita, menatap bibirnya yang bergetar.
Cup!
"Kau sangat mempesona, Jelita. Aku merasa tidak ingin membagimu dengan rakyatku di aula nanti. Aku ingin menyembunyikanmu di sini, hanya untukku sendiri," bisik Arjuna sebelum mendaratkan ciuman yang dalam dan penuh perasaan di bibir Jelita.
Ciuman itu bukan lagi sekadar ikatan perjanjian, melainkan ungkapan rasa cinta yang telah terpendam selama ratusan tahun. Jelita memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut dalam pesona sang Pangeran Kegelapan. Ia lupa akan dunia manusia, lupa akan kampusnya, dan hanya fokus pada kehangatan dingin yang ditawarkan Arjuna.
Setelah momen romantis yang membuat Jelita hampir lupa bernapas itu berakhir, Arjuna melepaskan dekapannya perlahan, meskipun matanya tetap mengunci Jelita.
"Sekarang, mari kita tunjukkan pada dunia bawah, siapa penguasa mereka yang baru," ajak Arjuna sambil mengulurkan tangannya yang besar.
Jelita menyambut tangan itu dengan mantap. Takdirnya sudah bulat. Ia melangkah keluar dari kamarnya melalui pintu yang kini sudah berubah menjadi gerbang cahaya ungu menuju aula utama istana Astina Maya.
Gemerlap aula utama Astina Maya seketika hening saat gerbang cahaya itu terbuka. Ribuan makhluk, dari yang berwujud ksatria tangguh, dayang-dayang cantik berpakaian kuno, hingga sosok-sosok bayangan yang tinggi besar, semuanya berdiri kaku menunggu kehadiran sosok yang telah lama diramalkan.
Arjuna melangkah keluar dengan gagah, tangannya menggenggam erat jemari Jelita, menuntunnya menuruni tangga pualam yang seolah bercahaya di bawah kaki mereka.
Begitu kaki Jelita menginjak lantai aula yang dingin namun megah, Arjuna mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi ke udara. Suaranya menggelegar, bergaung di setiap sudut ruangan, menembus dimensi keheningan.
"Wahai penghuni Astina Maya! Saksikanlah malam ini! Penantian berabad-abad telah usai. Cahaya yang hilang telah kembali ke pelukanku!" teriak Arjuna dengan penuh otoritas. "Hormatilah dia sebagaimana kalian menghormatiku. Inilah Ratu kalian, pemilik separuh jiwaku!"
Seketika, seperti gelombang laut yang tenang, ribuan penghuni alam gaib itu bersimpuh serentak. Suara gesekan pakaian dan dentuman lutut yang menyentuh lantai menciptakan harmoni yang magis.
"Sembah suci untuk Gusti Ratu Jelita..." bisik mereka serempak, menciptakan gema yang membuat bulu kuduk Jelita merinding, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa haru yang luar biasa.
Arjuna membawa Jelita menuju singgasana kembar yang terbuat dari kayu jati berlapis emas dan batu mulia. Ia mendudukkan Jelita di sana, lalu ia sendiri duduk di sampingnya, tetap dengan tangan yang tak mau lepas dari genggaman Jelita.
Para jenderal hantu maju satu per satu, meletakkan pedang mereka di depan kaki Jelita sebagai simbol perlindungan.
Para dayang membawakan nampan berisi perhiasan dari mutiara hitam dan kain sutra yang ditenun dari benang awan, semuanya dipersembahkan untuk Jelita.
Jelita menatap lautan makhluk yang tunduk padanya. Ia teringat Dinda yang tadi pagi bercanda ingin menjadi asistennya. Jika Dinda melihat ini, mungkin sahabatnya itu akan pingsan karena saking hebohnya.
"Apakah kau bahagia, Jelita?" bisik Arjuna tepat di telinganya, sementara para penari mulai meliuk-liuk di tengah aula dengan gerakan yang sangat halus.
Jelita menoleh, menatap wajah Arjuna yang kini tampak sangat damai. "Selama kau ada di sampingku dan tidak ada yang terluka, aku merasa... aku berada di tempat yang tepat, Arjuna."
Pesta itu berlangsung dengan sangat megah. Makanan-makanan gaib yang manis dan harum terus berdatangan. Namun, di tengah kemeriahan itu, Jelita menyadari sesuatu. Meskipun ia seorang Ratu di sini, hatinya tetaplah manusia. Ia melihat bayangan dunia manusia di sebuah cermin besar di sudut aula—ia melihat rumahnya yang sepi, dan teman-temannya yang mungkin sedang belajar.
Arjuna yang menyadari kegelisahan kecil di mata Jelita, merapatkan duduknya.
"Jangan khawatir. Malam ini milik kita. Esok, saat fajar menyapa, kau akan kembali menjadi mahasiswi cantikmu itu lagi. Tapi ingat, setiap tetes darahmu kini telah terikat dengan sumpahku."
Setelah kebisingan pesta dan sorak-sorai para penghuni istana mereda, Arjuna membawa Jelita menjauh dari keramaian aula utama. Dengan satu jentikan jari, mereka berpindah ke sebuah taman rahasia yang terletak di puncak tertinggi istana Astina Maya—sebuah tempat yang hanya boleh dimasuki oleh Sang Raja.
Taman itu tidak memiliki atap, membiarkan cahaya dari ribuan bintang dunia gaib yang berwarna ungu dan perak menyinari mereka. Bunga-bunga yang hanya mekar di malam hari mengeluarkan aroma yang sangat memabukkan, lebih harum dari melati manapun di bumi.
Arjuna menuntun Jelita ke sebuah bangku panjang yang terukir dari kristal hitam. Ia duduk di sana, lalu menarik Jelita untuk duduk di pangkuannya. Ia melingkarkan lengannya di pinggang ramping Jelita, membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma tubuh Jelita yang bercampur dengan wangi bunga surga.
"Akhirnya... hanya ada kau dan aku," bisik Arjuna dengan suara yang sangat lembut, jauh dari kesan angkuh yang ia tunjukkan di depan rakyatnya. "Tahukah kau betapa tersiksanya aku selama ratusan tahun menunggu momen ini?"