Ahimsa Radeya Sanjaya adalah kandidat Presdir dari kerajaan bisnis milik kakeknya. Salah satu syarat yang harus dia penuhi sebelum menjadi seorang Presdir pilihan adalah menikahi perempuan pilihan kakeknya. Sevim Zehra Mahveen adalah perempuan yang harus dia nikahi.
Awalnya Ahimsa menyetujui syarat tersebut hanya untuk mendapatkan posisi sebagai Presdir. Namun, akhirnya dia jatuh cinta kepada Sevim. Sayangnya, meskipun saling mencintai, tapi mereka seringkali dibuat salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mrs. Ahimsa Sanjaya
Esok adalah hari pernikahannya dengan Ahimsa. Pengajian di rumah keluarga Sevim digelar. Acara yang hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat serta ibu pengajian komplek. Berlangsung dengan hikmat dan penuh haru. Terutama, bagi papa Sevim.., papa Affandy yang akan melepas putri semata wayang sekaligus anak bungsunya. Dengan suara tercekat di tenggorokan. Beliau, menyampaikan pesannya kepada Sevim yang bersimpuh.
Sevim Zehra Maveen, putri cantik Papa. Hari ini adalah hari terakhir papa menjadi laki-laki yang menanggung dirimu. Bertanggung jawab atas apa yang terjadi padamu . Nak, besok, kamu dipersunting oleh laki-laki yang akan menjadi pemimpinmu, menjadi imammu , yang akan membimbing mu. Papa sedih, tapi juga bahagia karena kamu akan memasuki dunia baru. Dunia yang akan mengajarimu tentang banyak hal. Pesan papa.., jadilah istri Sholihah untuk suamimu, jadilah ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak. Papa dan Mama selalu berdoa, semoga pernikahanmu menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah. Kamu tetap putri kecil Papa....
Sebuah pesan singkat namun sarat akan makna. Sevim dan Mama Eliza bercucuran air mata ketika Papa Affandy memberikan wejangannya.
"Makasih pah.., maaf kalo selama ini Sevim banyak mengecewakan papa.., doakan pernikahan Sevim pa..",
"Patuhi suamimu nak.., datang ke Papa kalo Ahimsa sampai menyakitimu.., Papa yang akan menasehati..", bisiknya pada putrinya. Papa Affandy mengusap rambut Sevim sambil tersenyum. Matanya berkaca, namun kelopak matanya masih mampu menahan air mata.
Sevim beralih sungkem kepada mama Eliza. Terisak ketika Sevim memandang mamanya dengan berderai airmata.
"Mah...",
"Vim..., bentar lagi kamu jadi istrinya Aa'..., jadi istri yang berbakti ya. Mamah selalu doakan kamu.., semoga pernikahan kalian bahagia..,jangan manja lagi ya...",
"Sevim masih pengen sama mamah..",
"Kamu bisa tiap hari datang ke sini kalo kamu mau.., oke?"
"Mah...,maafin Sevim kalo selama ini ada salah.., doain Sevim ya mah..",
"Pasti sayang.., udah ah jangan nangis, nanti make up kamu luntur..",
Sevim memejamkan matanya ketika mamanya menciumi seluruh wajahnya. Sebagai anak bungsu dan perempuan satu-satunya. Sevim memang selalu dimanja oleh mamanya. Rasanya ada sesuatu yang hilang, tapi cepat atau lambat ini semua juga akan terjadi.
Acara ijab qobul dilangsungkan di kediaman orang tua Sevim. Tepat pukul 10 pagi, status Sevim berubah menjadi Mrs. Ahimsa Sanjaya ketika Ahimsa Radeeya Sanjaya mengucapkan ikrarnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sevim Zehra Mahveen binti Affandy Ramadhan dengan mas kawin berupa logam mulia 999 gram, dibayar tunai...",
Sah....
Sah...
Pernikahan Ahimsa dan Sevim dinyatakan sah oleh para saksi. Mama Eliza dan Hyana menuntun Sevim, untuk bertemu dengan suaminya untuk pertama kali. Dari kejauhan sudah bisa Ahimsa lihat kecantikan perempuan yang saat ini sudah menjadi istrinya. Senyumnya mengembang, matanya hidup serta gerakannya yang anggun semakin membuat mata Ahimsa terpaku.
"Itu istri kamu Aa'..menantu mamah. Cantik ya..",bisik mamah Anin yang berdiri di dekat putranya.
"Udah nggak sabar buat nanti malam mah..", jawab Ahimsa.
"Nggak sabar buat apa? orang kamu udah incip duluan...", omel mami Anin yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari suaminya.
Sevim tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Menjadi pusat perhatian dari hadirin, serta mendapatkan pandangan intens dari Ahimsa membuat Sevim malu. Mendapatkan arahan dari pembawa acara, Sevim mencium tangan sang suami sebagai tanda bakti pertamanya sebagai seorang istri. Menyematkan kecupan di kedua pipi Sevim setelahnya. Ahimsa terlihat sangat bahagia.
"Jangan dibibir Aa' ciumnya...",
"Ciumannya disitu aja..jangan dilanjutin..",
Suara yang terdengar berasal dari Hyana serta Mami Anin. Keduanya memperingatkan Ahimsa agar tidak keblabasan. Mami Anin dan Hyana sudah hafal betul kebar-baran Ahimsa yang terkadang diluar nalar.
"Siap-siap nanti malam, Se..", bisik Ahimsa di telinga Sevim.
Siapa sangka, kedua mempelai yang terlihat sangat serasi, ternyata menikah karena perjodohan. Belum ada cinta diantara mereka, hanya sebuah ketertarikan yang saat ini sudah berubah menjadi keterikatan. Ahimsa adalah suami Sevim, dan Sevim adalah istri Ahimsa. Mereka berdua terikat dalam ikatan suci pernikahan.
Seperti artis yang bersikap profesional. Raut muka Sevim terlihat bahagia. Selalu mengukir senyumnya, untuk menutupi perasaan hatinya yang entah itu apa. Sevim sedih, tapi dia juga bahagia melihat Papa Mamanya yang terlihat sangat bahagia dengan pernikahannya dengan Ahimsa.
"Are you,ok?", ucap Ahimsa yang menyentuh tangan Sevim.
"Oke ..",
"Happy..",
"Happy.., Sevim nggak pernah liat Papa sama Mama sebahagia ini. Dulu, waktu kak Fahmy nikah sama istrinya, Mamah nangis terus...",
"Kenapa?",
"Karena perjodohan..",
"Bukannya kita juga menikah karena perjodohan?",
"Nggak tau.., mamah katanya feeling kalo Aa', bakalan bahagiain anak perempuannya..",
"Itu udah pasti..",
"Rossy..?",
"Aku nggak mau bahas dia..",
"Kenapa? kan pacarnya Aa'..",
"Ini hari pernikahan kita.., Aa'..nggak mau bahas perempuan lain selain istri Aa'..",
"Hmmm..",
"Kamu nggak nanya Aa'..?",
"Aa'.. bahagia nggak jadi suami Sevim?",
"Bahagia..",
"Makasih..",
"Kenapa makasih..?",
"Meskipun bahagia bukan karena cinta, tapi seenggaknya Sevim tau kalo Aa' happy.., kita sama-sama bahagia..",
"Menurut kamu, Aa' bahagia karena apa?",
"Setelah jadi suami Sevim..., Aa' jadi Presdir..bener kan?",
"Aa'.., jadi Presdir setelah kita punya 2 anak.., kamu nggak inget kata kakek?",
"Hmmmm, inget.., terus kenapa?",
"Nanti malam kamu bakalan tau..",
"Kenapa nunggu nanti malam, sekarang kan bisa?",
"Kamu yakin? kita ngelakuin itu disini?",
"Apa ?",
"Kuda-kudaan..",
"Aa'..nggak jelas..",
Di dalam kamarnya, Sevim melepas baju pengantinnya dengan dibantu oleh tim wardrobe. Menghapus riasan yang membuat wajahnya terlihat sangat cantik. Kata Bian, aunty Sevim sudah seperti bidadari. Sangat cantik.
Ceklek..
Pintu kamar Sevim terbuka dan masuklah seorang pria muda tampan yang menggunakan pakaian adat Sunda. Tidak lain tidak bukan dialah Ahimsa, pria yang saat ini sudah resmi menjadi suaminya.
Kaget dengan kehadiran Ahimsa, Sevim buru-buru mencari sehelai kain, atau sesuatu yang bisa menutupi tubuh bagian atasnya yang hanya dibalut dengan sebuah kemben. Dadanya yang padat berisi, mempertontonkan kedua gundukan yang menyembul.
"Mbak.., tolong dong..", ucapnya.
"Loh kenapa mbak?",
"Nggak apa-apa..",
Aa'.., kenapa langsung nyelonong gitu aja sih? Sevim kan kaget..",
"Kenapa? ini kamar kamu kan?",
"Iya..",
"Ya udah, Aa'..berarti nggak salah dong..",
"Kan Sevim baru ganti baju..",
"Nggak usah malu-malu.., nanti juga Aa' liat semuanya kok..",
Dengan lantangnya, Ahimsa berbicara seolah hanya Sevim dan dia saja yang berada di kamar tersebut.
"Aa'....",
"Iya istriku..",
"Keluar dulu ya..,"
"Aa' laper Se..",
"Belum makan? abis ya makanannya..",
"Tolong ambilin..",
"Iya bentar.., Aa keluar dulu dong..",
"Mereka aja yang disuruh keluar, Aa' mau ganti baju juga, Aa' udah gerah..",
"Dikamar lain aja Aa..",
"Nggak perlu mbak Sevim. Ini kami juga udah selesai kok beberesnya...",
"Mbak..tapi aku nggak ngusir..",
"Iya tau..,kita mau langsung cabut ke hotel. Sampai ketemu disana ya mbak..",
"Ooh..oke mbak kalo gitu.., sampe ketemu..",
Sevim segera menutup pintunya kamarnya setelah mereka pergi.
"Kamu mau apa?",tanya Himsa yang melihat Sevim menenteng bajunya hendak masuk ke dalam kamar mandi.
"Ganti baju Aa'.., buka kembennya.., Sevim juga gerah..",
Ahimsa beranjak dari duduknya. Dia menghampiri Sevim.
"Mau Aa..bantu nggak..?",
"Hmmmmm...ngggggg....nggak usah..",
"Pengaitnya banyak Se.., pasti susah banget..",
"Nggak perlu Aa..",
"Nurut sama suami..",
Ahimsa maju satu langkah. Jarak keduanya saat ini sangat dekat.
"Dari tadi Aa'..udah nahan.., pengen lakuin ini..", ucapnya memeluk Sevim.
"Aa' please, jangan sekarang. Kita masih ada acara resepsi..",
"Sekarang Se..", bisiknya. Tangan Ahimsa lincah melepas satu persatu pengait kemben yang melilit tubuh bagian atas Sevim. Yakin sudah terlepas, Ahimsa dengan segera melepas kemben yang dipakai oleh istrinya.
"Aa'...,jangan...Sevim belum siap..",cegah Sevim dengan kedua tangannya yang memegangi kemban yang hampir terlepas. Sevim langsung keluar dari kurungan tubuh Ahimsa. Sevim bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
Ahimsa tersenyum , merasa di permainkan oleh Sevim.
Tapi, nanti malam kamu nggak akan lolos, Sevim sayang..
Spill malam pertama nggak nih..🤭
semoga ad kelanjutan season 2nya
Selamat ya Sevim untuk kelahiran baby girl