Eiren Azura merupakan gadis periang denga wajah cantik dan penuh keberanian. Dia merupakan gadis yang tidak memiliki prestasi apa pun dalam bidang kuliahnya. Sebuah kesalahan membuatnya harus berurusan dengan Adelio Cetta, seorang dosen tampan, tetapi juga galak. Semua bermula dari kesalahannya hingga dia mengetahui begitu banyak tentang dosen populer yang digandrungi begitu banyak wanita.
Adelio Cetta, merupakan pria yang selalu bertanggung jawab dan terpaku pada masa lalu. Keberadaan Eiren perlahan melunturkan pandangannya tentang seorang wanita. Perlahan, gadis tersebut mampu mengikis benteng yang selalu dibangunnya hingga menjulang tinggi.
》》》》》
Aku berusaha menjauh darimu, menghindari luka yang masih begitu baru menampilkan goresannya. Namun, takdir begitu kejam menarikku hingga kembali padamu.
Eiren Azura
》》》》》
Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Apa pun yang kamu pikirkan saat ini. Aku hanya akan membawamu dalam genggamanku.
Adelio Cetta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 25_Stop Janji Manis
Abian menghela napasa kasar ketika Adelio sudah keluar dari ruangannya. Matanya masih menatap lekat pintu yang baru saja ditutup dengan keras oleh anaknya, bahkan terdengar seperti membanting dari pada menutup. Helaan napas lagi-lagi terdengar ketika mengingat tatapan tajam dari Adelio. Rasanya pikirannya semakin berkecambuk.
Abian meraih ponselnya dan menekan nomor seseorang. “Halo, cepat ke ruangan saya,” perintahnya dan langsung mematikan ponsel.
“Aku harus memastikan siapa wanita itu. Aku tidak mau jika nantinya Adelio melakukan kesalahan yang sama,” gumam Abian dengan mata menajam.
Abian masih diam dengan pungung yang disandarkan ke kursi kebesarannya. Lama ia menunggu seseorang yang sudah menjadi tangan kanannya. Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar dan menampilkan pria dengan pakaian hitam dan wajah datar dengan mata menatap tajam.
“Anda mencari saya, Tuan?” tanya pria tersebut. Usianya terbilang tidak jauh dri Elio.
Abian menegakan tubuh dan mengambil salah satu foto yang disisakan di laci meja keja. Jemarinya mulai meletakan gambar Eiren di meja dan menyodorkan ke arah pemuda di hadapannya.
“Cari tahu mengenai wanita ini. Aku memberimu waktu dua hari untuk menemukan samua tentang wanita ini, Boy,” ucap Abian dengan nada tegas.
Boy yang saat itu melihat langsung mentap dengan tajam. Jemarinya mulai menarik foto tersebut dan menatap dengan pandangan meneliti. “Dia siapa, Tuan?” tanya Boy mulai penasaran. Pasalnya wanita yang berada dalam foto bukanlah seorang pebisnis karena dia yakin, usianya masih sangat muda.
Abian menunjukan tatapan mematikan dan memandang Boy penuh penekanan. “Jangan banyak bertanya dan lakukan tugasmu. Aku tidak menerima pertanyaan sama sekali, Boy.”
Boy mengangguk dan kembali menunduk. “Maaf, saya terlalu lancang.”
“Keluar dan lakukan tugasmu,” ujar Abian dengan suara tegas.
“Baik.” Boy langsung mundur dan berbalik. Dia segera keluar dari ruangan Abian dan menatap foto tersebut dengan pandangan menajam karena dia seperti pernah melihat sosok itu.
Abian kembali menatap dingin ruangannya. “Kita akan lihat, Elio. Apa kali ini kamu memang menemukan gadis yang sama atau tidak,” desisnya dengan tatapan menajam.
_____
“Hooo..baru pulang ke rumah rupanya.”
Eiren menatap pintu kamarnya dengan perasaan malas. Suara dari lantai satu cukup keras hingga mencapai ke dalam kamar tidurnya. Helaan napas kasar terdengar enggan untuk tetap berada di tempat tersebut.
“Apa mereka gak pernah bisa akur kalau ketemu?” keluh Eiren yang langsung menutup telinganya dengan bantal. Dia malas mendengar pertengkaran yang selalu didengar ketika berada di rumah.
“Memangnya kenapa kalau aku baru pulang? Ada masalah? Bahkan kamu juga baru pulang dari rumah simpanan kamu, kan, Arda?” teriak mama Eiren yang masih berada di lantai satu.
“Apa kamu bilang, hah? Aku bahkan sibuk kerja dan kamu sibuk main dengan pria lain!”
Eiren yang mendengar langsung membuang kesal bantalnya. Dengan perasaan kesal yang sudah di ubun-ubun, Eiren segera turun dari ranjang dan mengambil tasnya. Langkahnya semakin cepat membawa ke lantai satu.
“Kamu ini gak tahu diri ya, Audi!”
“Stop!” cegah Eiren ketika papanya sudah mengangkat tangan dan siap melayangkan ke arah mamanya berada.
Arda yang melihat anaknya langsung diam dengan tangan yang mengapung di udara. Eiren mendekat ke arah kedua orang tuanya dengan tatapan dingin.
“Mama sama Papa gak bisa apa akur sebentar? Eiren pulang ke rumah mau tenangin diri, tetapi malah gak ada ketenangan sama sekali,” keluh Eiren dengan suara datar.
“Maaf, sayang. Papa hanya gak suka dengan sifat mama kamu. Dia hanya bisa berfoya-foya dan menghabiskan hasil kerja keras papa. Dia bahkan selingkuh dari papa dengan pria yang jauh lebih muda,” jelas Arda dengan mata menatap Audi tajam.
“Hey, jaga ucapan kamu. Jangan cuma aku yang kamu persalahkan. Kamu ngaca dong. Kamu aja suka main cewek ke sana-sini,” ucap Audi sembari mengacungkan tangan dan mengoreksi penampilan Arda dengan senyum sinis.
“Setidakny akau bis....”
“Stop,” bentak Eiren lagi dengan suara kesal.
Arda dan Audi langsung diam. Mereka menutup mulut rapat-rapat dan mengepalkan tangan menahan kesal. Eiren menatap keduanya denan pandangan pasrah dan menghela napas pelan.
“Kenapa kalian tidak bercerai saja, sih?” ujar Eiren mulai lelah mendengar celotehan tidak penting dari kedua orang tuanya.
“Eiren!” bentak Audi dengan mata menajam. “Jaga ucapan kamu. Mama sama Papa gak mau bercerai karena gak mau nantinya kamu merasa malu memiliki keluarga yang gagal,” lanjut Audi dengan wajah yang menunjukan kekesalanannya.
Eiren yang mendengar tertawa kecil dan menatap kedua orang tuanya dengan bibir yang menahan tawa. “Mama sama Papa gak mau Eiren malu?” tanya Eiren dengan nada mengejek. Namun, setelahnya dia langsung menatap kedua orang tuanya dengan pandangan lekat.
“Mama sama Papa itu gak nyadar, apa? Selama ini keluarga kita memang udah gagal. Semua orang tahu kalau keluarga kita itu sudah hancur. Papa sering pulang malam dengan keadaan mabuk. Mama sering keluar dengan pria lain dan bermesraan di luara tanpa memikirkan anak yang kalian tinggalkan,” bentak Eiren mengeluarkan semua keluh kesah yang selama ini dipendam.
“Eiren,” pangggil Audi pelan. Matanya menatap Eiren yang sudah memandang keduanya dengan penuh luka.
“Mama tahu apa yang Eiren rasakan ketika mendengar kalian bertengkar? Eiren lelah! Eiren lelah mendengar kalian meribukan masalah yang tidak penting,” ucap Eiren dan menatap papanya dengan tajam. “Kalau Papa merasa Mama menang menghabiskan uang hanya untuk kesenangan di luar, hentikan uang yang Papa berikan. Sita semua kartunya. Dan Mama,” Eiren membalik tubuh dan menatap mamanya dengan tatapan yang sama. “Kalau Mama udah gak cinta, kenapa masih tetap bertahan. Mama bisa berpisah dengan Papa dan berpacaran sepuasnya dengan yang lain. Gampang, kan?”
“Eiren! Jaga ucapan kamu!” bentak Arda dengan mata membelalak.
“Apa, Pa?” jawab Eiren dengan nada yang tidak kalah tinggi. “Papa mau bilang yang Eiren katakan itu salah? Atau memang pandangan Eiren selama ini salah? Bahkan kalian tidak tahu, kan, kalau selama ini aku tidak pernah pulang ke rumah!” tegas Eiren dengan tangan mengenap.
Audi dan Arda langsung diam seketika. Matanya menatap Eiren yang menertawakan kebodohan dan ketidakpedulian mereka selama ini.
Eiren menatap orang tuanya dengan tawa tertahan sekaligus pandang penuh kekesalan. “Kalian pikir apa yang sudah kalian lakukan? Kalian membahagiakanku? Salah. Kalian hanya memikirkan diri kalian sendiri selama ini. Kalian orang tua yang tidak pernah memperhatikanku sama sekali. Bahkan sudah beberapa tahun aku jarang pulang, kalian juga tidak tahu.”
“Eiren, maafkan papa. Papa terlalu sibuk untuk mencari uang agar kamu merasa tercukupi dan bahagia,” ujar Arda menyesal dengan sikap cueknya selama ini.
Eiren tertawa kecil dan menggeleng pelan. Dia benci ketika dijadikan alasan untuk sebuah perbuatan. Padahal, tidak ada hal baik yang terjadi kepadanya. “Stop jadikan Eiren untuk keegoisan kalian sendiri dan stop berikan janji manis. Karena nyatanya, Eiren hanya mendapatkan kebohongan dari kalian.”
Eiren menghela napas dan segera melangkah meninggalkan rumah. Audi dan Arda hanya diam memperhatikan anak mereka yang sudah pergi dan semakin menjauh.
_____
💞💞💞💞
Hai-hai..ketemu lagi sama Kim. Jangan lupa like, comment, tambah ke favorit, vote dan follow Kim ya. Semangat membaca sayang-sayangkuh..
Jangan lupa ya, besok Kim mau update cerita Bara, Dave dan Alice yang berjudul "Relationship Goals". Jangan sampai ketinggalan yah.
Kalau ada yang gak tau mereka, bisa coba baca Wedding Drama sayang..
See you again 😚😚
💞💞💞💞