Candy Jovanka adalah seorang gadis cantik dan polos yang sedikit bodoh dari keluarga kaya. Ketika dia berusia 18 tahun, ke dua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan mobil.
Candy yang baru saja lulus sekolah harus menanggung hutang yang di miliki oleh perusahaan keluarganya yang tiba-tiba bangkrut.
Tidak dapat menanggung beban hutang yang terlalu banyak, kedua bibi dan Pamannya berakhir menjual gadis itu pada seorang Vampire Bangsawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Monster, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 Sebuah Pilihan
Wajah Edward tampak kosong saat kedua mata berwarna peraknya menatap taman di hadapannya itu dengan pandangan kosong.
Di terduduk sendiri di taman yang tenang itu setelah kepergian James karena permintaannya.
Edward hanya terduduk diam disana seolah seluruh hidupnya hampa. Dia tidak tahu harus melakukan apa atau memutuskan apa.
Suara James terus berdenging di telinganya untuk membuat pilihan.
Tapi masalahnya Edward tidak bisa memilih!
Edward mencintai Candy dan tidak akan pernah bisa dan tidak ingin mengorbankan gadis itu tidak peduli apa yang terjadi.
Disisi lain dia juga tidak bisa menyerah untuk menjadi Manusia!
Jika Edward berkata bahwa dia ingin mencari cara lainnya, dia bisa menunggu untuk mendapatkan cara lain jika itu dahulu. Tapi sekarang dia tidak bisa menunggu!
Edward ingin menjadi manusia saat ini juga agar bisa menjalani hidup bersama Candy. Dia ingin mati bersama Candy dan menjalani kehidupan hingga Tua bersamanya.
Tentu saja Edward bisa mengambil sedikit sampel darah Candy dan membuat serum itu. Masalahnya adalah hal yang akan terjadi setelahnya.
Jika Edward kembali menjadi Manusia, dia bisa hidup Damai bersama Candy sampai menua. Tentu itu adalah mimpi yang indah. Hanya saja para Harimau yang berada dalam bayangan tidak akan tinggal diam.
Mereka pasti akan bergerak untuk menculik Candy dan memeras seluruh tetes darah dari tubuhnya untuk membuat Serum untuk kepentingannya. Sedangkan Edward yang telah menjadi Manusia tidak akan bisa melawan dan melindungi Candy!
Jika dia memilih untuk tetap Menjadi Vampire, Edward akan bisa melindungi Candy. Tapi dia akan kehilangan gadis itu seiring berjalannya waktu yang berlalu.
Tidakkah ini terlalu ironis?
Kenapa Takdirnya begitu menyedihkan?
Helaan nafas yang panjang terdengar dari bibir Edward, dia bersandar pada bangku taman yang kotor itu dan menatap langit yang tertutupi awan berwarna abu-abu.
Mata berwarna perak miliknya tampak lelah dan redup. Dia terlalu lelah dengan kehidupan panjangnya, dan sekarang dia terlalu lelah dengan masalah panjangnya yang tiada henti.
****
Kegelapan menyelimuti sejauh mata memandang, jika kegelapan malam di terangi lampu, bulan dan bintang yang bersinar. Maka kegelapan dalam visi yang terlihat sekarang adalah kegelapam total tanpa penerangan.
"Edward?" Suara manis bergema dalam kegelapan yang mencekam itu.
Mata berwarna amber berkedip ringan dengan rasa takut yang melintas. Sosok pemilik mata indah itu tidak lain adalah Candy. Dia memeluk lututnya erat saat perasaan kesepian membanjiri.
Candy menangis terisak. Sejak dia membuka mata miliknya, hanya ada kegelapan membentang yang terlihat. Ini sudah cukup lama dan kegelapan itu tetap ada tidak kunjung lenyap.
"Candy..."
"..." wajah Candy terangkat ketika dia mendengarkan suara ibunya yang tidak mungkin terdengar. Dengan bingung pandangan matanya menjelajah hanya untuk mendapati kegelapan yang mencekam.
"Candy..."
"Ibu?" Pada akhirnya Candy bersuara dengan tidak yakin.
Tidak ada jawaban yang terdengar dan hanya ada kesunyian menyelimuti.
Keheningan yang cukup lama hingga Candy mulai berpikir bahwa dia berhalusinasi.
Sampai ketika...
Sebuah cahaya kecil berkedip, semakin cahaya itu dekat kearah sosok Candy terduduk semakin jelas sosoknya tertangkap oleh mata berwarna Amber Candy.
"Ibu..." suara Candy lirih ketika dia mulai berdiri dan berlari kearah cahaya itu berada. Dia memeluk tubuh ibunya yang telah lama pergi, Candy terisak dan menangis dengan sangat buruk dalam pelukan hangat yang dia rindukan.
"Apakah Candy baik-baik saja?" Melihat anggukan kecil Candy sebagai jawaban, Stella tersenyum lembut dan mengusap rambut kepala putrinya "Maaf karena ibu meninggalkanmu!"
Candy menggeleng pelan dan mengangkat wajahnya untuk menatap sang ibu "Tidak, aku baik-baik saja. Jangan meminta maaf!"
"Yah, kau terlihat sehat. Ibu bahagia!"
"Ibu apa kau datang untuk menjemputku?" Candy bertanya lirih dengan perasaan tidak nyaman di hatinya.
Dia memang merindukan ibunya, tapi entah kenapa di masih tidak ingin pergi bersama sang ibu.
Stella tertawa kecil dan menjawab pelan "Jika ibu bilang, ibu datang untuk menjemputmu! Apa kau akan pergi bersamaku?"
Melihat keheningan Candy dan raut wajahnya yang tampak rumit, Stella menghela nafas lirih dan kembali bersuara "Ibu tidak datang menjemputmu, Ibu hanya berkunjung! Ada seseorang yang tengah menunggumu, jadi kau masih belum bisa pergi!"
"Ibu, aku..."
"Candy, dengarkan!" Wajah Stella tampak tegas dan serius "Ibu selalu mengatakan untuk menjauhi Vampire karena mereka Jahat. Tapi, ada satu Vampire yang ibu ingin Candy jaga. Dia adalah Vampire paling kesepian dan menyedihkan yang pernah ibu temui. Kuharap Candy bisa menyelamatkannya dari rasa kesepian dan penderitaannya..."
"Siapa Vampire itu?"
"Kau sudah tahu jawabannya!" Stella tersenyum lembut sebelum sosoknya mulai memudar "Ibu berharap Candy akan hidup bahagia terlepas dari apapun keputusan yang kau buat! Hiduplah bahagia dan tidak terikat pada masa lalu atau pun Ibu dan Ayah..."
"Ibu..." Candy berteriak sedih saat dia melihat sosok ibunya yang perlahan menghilang menjadi serpihan debu.
Visi gelap Candy perlahan pudar dan di gantikan cahaya menyilaukan matanya. Dia berkedip ringan saat bulu matanya bergetar dan mulai terbuka.
Hamparan putih dari atap rumah membentang sejauh Candy memandang. Gadis itu bernafas lirih ketika mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi hanya ada rasa sakit yang menusuk dan membuatnya kembali terdiam.
Dengan penuh kebingungan dan segudang pertanyaan, Candy mulai memeras otaknya untuk mengingat hal terakhir yang dia ingat.
Itu benar! Dia terluka dan tengah dalam perjalanan kerumah sakit bersama Edward. Melihat tempatnya terbaring, dia pasti berada di rumah sakit.
Saat Candy mulai mengingat semua hal itu, dia mulai menggerakkan mata indahnya untuk menjelajah mencari sosok yang dia ingin lihat.
"A-pa, Kau bangun? Wah... Aku akan memanggil Dokter!" Hanya sosok wanita dengan pakaian perawat yang Candy tangkap oleh kedua matanya.
Perawat itu berhambur pergi ketika selesai mengucapkan kalimat itu dengan terkejut.
Sekali lagi, hanya keheningan dan hamparan langit atap rumah berwarna putih yang menemani Candy dalam kesunyian.
Gadis itu menghela nafas berat dengan alat bantu pernapasan yang menutupi hidungnya. Hanya ada 1 pikiran dalam benaknya saat ini.
Dia ingin Melihat Edward!
Seolah pikirannya terjawab, sosok yang dia ingin lihat begitu buruk itu muncul dalam Visinya.
Wajah tampan dengan kedua mata berwarna peraknya menatap kearah Candy, wajah itu terlihat begitu lembut dengan kedua matanya yang tampak kelelahan.
Senyuman Candy terbentuk ketika setetes air mata jatuh dari kelopak matanya. Dia bisa melihat dari raut wajah lelah Edward, pria itu pasti telah melewati banyak hal selama dia tidak sadarkan diri.
[Aku baik-baik saja!] Candy berucap lirih dalam benaknya, dia menatap Edward yang tengah tersenyum dan mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Tolong tunggu di luar! Kami akan memeriksa kondisinya!" Seorang Dokter pria datang dengan beberapa perawat wanita di belakangnya. Dia mendorong Edward untuk kembali keluar ruangan Candy dirawat.
Edward terdiam mematung di depan pintu ruang perawatan Candy. Dia diam layaknya sebuah patung dan tidak melakukan apapun.
Mata berwarna peraknya menatap kedalam ruangan dimana Candy terbaring dengan Dokter yang memeriksanya. Helaan nafas keluar dari bibirnya.
Saat dia terhanyut dalam pikirannya di taman, Visi Edward yang melihat segalanya menemukan Candy terbangun. Dia bangkit dari tempatnya dan bergerak kearah Candy secepat mungkin.
Setelah melihat gadis itu dan bahkan mendengarkan pikiran yang dia katakan, bahwa 'Dia baik-baik saja!' Hati Edward serasa di hantam sebuah palu kebenaran realita.
Gadis itu, dengan hanya melihatnya dan mendengarkan suaranya. Edward tahu pada akhirnya apa yang harus dia pilih.
Sebuah pilihan yang akan membuat Edward terluka!
Walaupun begitu, hanya itulah jawaban yang bisa Edward berikan.
Edward meremas gengaman tangannya yang terkepal erat sebelum menarik nafas panjang. Dia sudah memutuskan jadi tidak akan jalan kembali. Apapun yang terjadi dia harus bertahan hingga akhir, sebuah akhir yang mungkin tidak pernah ingin dia lihat.
sungguh mantap sekali ❤️❤️
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘