Cerita ini mengandung humor yang tinggi. Wajib dibaca sendirian!
Jika tidak anda akan dianggap gila karena tertawa sendiri sampai guling-guling, jingkrak-jingkrak, salto-salto.
Season 2
Kehadiran buah hati Sean dan Mauren menambah hari-hari mereka semakin penuh makna. Seina dan Daleon, kakak beradik yang akan membuat sempurna rumah tangga mereka.
Bagaimana Sean dan Mauren yang sangat konyol merawat anak-anak mereka?
Season 1
Apa jadinya jika Mauren si gadis bodoh dan konyol mendadak menikah dengan pria yang baru dikenalnya? Pria itu adalah Sean seorang presdir muda berumur 25 tahun memiliki wajah tampan tetapi sama bodoh dan konyolnya seperti Mauren.
Mereka menjalani hari-hari dengan kekonyolan yang tak terduga terlebih lagi Mauren bekerja satu perusahaan dengan Sean. Padahal Sean membuat aturan di perusahaannya bahwa tidak boleh sesama pegawai memiliki hubungan spesial yaitu berpacaran, saudara kandung bahkan menikah.
Bagaimana mereka menjalani pernikahan yang disembunyikan?
Cerita ini hanya fiktif belaka jika ada kesamaan nama, tempat dan lain-lain itu tanpa ada unsur kesengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata dia gay?
Mauren mengetik berkas milik Lala dan Desy, ia mengerjakan dengan wajah merengut.
Pikirannya melayang jauh dan seringkali berhenti mengetik lalu mulai melamun.
Dia berpikir apakah kisah cintanya berakhir tragis seperti dengan Reza yaitu sang mantan? Dia berhenti sejenak dan kepalanya bersandar di tembok. Ia memejamkam mata dan mulai berpikir untuk menyingkirkan wanita menyebalkan itu dari Sean.
Perempuan ganjen itu selalu menggoda Seanku. Bagaimana caranya untuk menjauhkannya dari oppa?
Apa harus ku ajak bertengkar di sungai lalu ku dorong dia supaya jatuh dan di makan buaya? Tidak! Tidak! Kenapa malah aku yang jadi antagonis? Aku kan pemeran utamanya disini.
Desy dan Lala melirik Mauren seolah tau jika temannya itu sedang galau, mereka menepuk bahu Mauren membuat gadis itu kaget.
Kening Mauren berkerut ketika kedua temannya menatapnya.
"Ada apa denganmu hari ini?" tanya Desy.
"Suamiku di goda oleh pelakor" jawab Mauren jujur.
Desy dan Lala saling memandang, mereka terkejut mengetahui jika Mauren yang baru lulus sekolah sudah menikah.
Mereka berpikir jika Mauren hamil di luar nikah lantas mereka memandang perut Mauren.
"Hey itu tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku baru saja menikah seminggu yang lalu," ucap Mauren sambil menutupi perutnya.
"Cieee... Ngebet ingin kawin ya?" Ejek Lala.
Apaan kawin? Bahkan kami belum melakukannya. Batin Mauren.
**
Di ruangan Sean.
Gadis itu menunduk ketakutan, terlihat air matanya menetes di pelupuk mata.
Pancaran kesedihan tergambar nyata di wajahnya. Dia sangat mencintai pria yang ada di depannya tetapi pria itu selalu dingin.
Padahal dulu Sean sangat menyayangi Alana tetapi hanya sebagai teman saja. Dia tidak menyangka jika Alana merespon rasa sayangnya lebih dari itu.
"Kamu dulu berjanji Sean akan selalu bersamaku tetapi sekarang apa omonganmu omong kosong saja!"
"Hah! Aku memang pernah berjanji seperti itu tetapi untuk bersamamu tidak harus dengan menikah! Kita masih bisa berteman baik tanpa melakukan pernikahan. Tolong mengertilah Alana!" ucap Sean kesal.
Alana menggigit bibir dengan kencang, air matanya kian menetes dengan deras.
Sean sudah muak mendengar tangisan itu, i lantas berdiri dari kursinya dan menyeret Alana untuk keluar dengan kasar.
Asisten Kim hanya bisa menatap sang tuan yang marah, ia tidak berani ikut campur karena pasti Sean akan bertambah marah.
Tangan Sean mencengkeram dengan kuat sampai menyebabkan bekas merah di tangan Alana. Dia sudah bosan mendengar celotehan Alana tentang perjodohan.
"Sakit Sean!" ucap Alana kepada Sean yang menyeretnya tanpa ampun ke luar gedung.
Para pegawai memandangi mereka, tetapi Sean tidak memperdulikan. Sean sudah muak atas kunjungan Alana yang hampir setiap hari, Sean merasa terganggu atas kedatangan Alana apalagi tadi gadis itu membuat Mauren tidak melanjutkan aktivitas yang memuaskan Sean.
Mauren memandang mereka dari jauh, ia tak menyangka Sean bisa sekasar itu pada perempuan.
"Hari ini jangan ada kesalahan, suasana hati Pak Sean sedang buruk, ia akan marah jika ada kesalahan sedikitpun," ucap Desy membuyarkan lamunan Mauren.
Mauren menatap seluruh pegawai di ruangannya, mereka mulai panik jika tiba-tiba Sean mengecek pekerjaan mereka.
Mauren dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya, ia tidak ingin menjadi pelampiasan amukan dari bosnya.
Setelah berhasil menyeret Alana dari gedung itu, Sean segera kembali ke ruangannya dengan wajah yang garang, para pegawai yang bertemu dengannya sangat takut dan tidak berani menyapa.
Sean berjalan melewati lorong panjang, ia melihat sebuah botol kosong yang nampak tergeletak di lantai, amarahnya semakin memuncak melihat salah satu dari pegawainya membuang sembarangan.
Dia memaki setiap orang yang lewat bahkan mengancam akan memotong gaji mereka.
Bos besar memang gila. Kami tidak tau apa-apa juga terkena makian bahkan akan memotong gaji kami. Batin salah satu pegawai.
Disisi lain Mauren tengah mengantar berkas dari lantai X ke lantai Y setelah itu ia dipanggil oleh salah satu atasannya. Atasannya ingin meminta tolong Mauren untuk mengantar dokumen penting ke ruangan Sean.
"Pak Sean hari ini suasana hatinya tidak baik, tolong antarkan dokumen ini ke ruangannya. Kamu anak baru pasti ia tidak akan memarahimu"
Mauren ingin menolak tetapi ia tidak enak dengan seniornya itu, dengan berat hati Mauren melangkahkan kakinya ke ruangan Sean. Dia berdoa supaya Sean tidak memarahinya atau memecatnya jika terjadi kesalahan.
Di ruangan Sean.
Sean sedang duduk di kursi termahalnya, kepalanya bersandar di kursi sambil memejamkan matanya. Hari ini ia sangat lelah dan ingin mengistirahatkan diri.
Tetapi suara ketukan pintu seakan mengganggunya, mulutnya berdecak dan membuka mata seolah ingin tau siapa yang datang.
Amarahnya menjadi naik ketika yang datang adalah asistennya, ia lantas berdiri dan mulai menghampiri asisten Kim.
"Ayo bertengkar Kim! Hari ini aku ingin sekali memukul orang," ucap Sean sudah membuka jaz hitamnya dan melemparkannya ke lantai.
"Maaf Tuan. Tetapi ini ada berita penting menyangkut perusahaan anda"
"Masa Bodo! Aku tidak peduli! Aku ingin sekali menghajarmu"
Asisten Kim berusaha menghindar setiap tuannya mengarahkan pukulan ke wajahnya.
Dia tidak ingin meladeni sang tuan apalagi menyakitinya karena Asisten Kim lebih jago dalam berkelahi ketimbang Sean.
Sean merasa geram karena asisten Kim menghindarinya, dengan cepat ia mendorong tubuh asisten Kim ke sofa, ketika itu Sean mengarahkan pukulannya tepat di wajah sang asisten tetapi sepatunya yang licin membuatnya terjatuh menindih badan asisten Kim. Mereka dalam posisi yang cukup ambigu bagi setiap yang melihatnya.
"Tuan Sean?" ucap Mauren membuka pintu.
Matanya terbelalak dan mulutnya ternganga melihat posisi mereka yang sangat ambigu.
Dia juga menjatuhkan dokumen yang di pegangnya. Mauren sangat syok sampai membuat kakinya bergetar dan membuatnya jatuh terduduk.
Sean segera berdiri dan mengambil jasnya yang tergeletak di lantai, ia lalu berjalan menghampiri Mauren.
"Stop! Jangan mendekatiku Tuan Sean!"
Mauren bergantian menatap tajam asisten Kim, ia menelan ludah. Dua lelaki didepannya sangat menyeramkan.
"Jadi selama ini rumor tentang kalian gay itu benar? Berarti sainganku selama ini bukan gadis itu dan juga bukan sekertaris Yuna? Sainganku sebenarnya yaitu kau Asisten Kim?
Kalian sudah melakukan apa saja?"
"Apa yang kau katakan hah? Aku bukan gay!" ucap Sean membela dirinya.
"Iya tapi kau biseksual!"
Mauren berdiri lalu mengambil dokumen yang berserakan di lantai, ia menyerahkan dokumen itu kepada Sean secara langsung setelah itu segera pergi meninggalkan ruangan Sean.
Sean menatap Asisten Kim, ia sangat kesal dengan pria itu.
"Sekarang pukul saya saja Tuan. Kali ini saya tidak akan menghindar"
"Pergilah kau geblek! Gara-gara kau istriku salah paham"
Asisten Kim menuruti permintaan Tuannya, ia segera meninggalkan Sean sebelum amarahnya terkumpul kembali.
______________________________________
Jam pulang selalu di tunggu-tunggu oleh semua murid. Termasuk Zara salah satu murid terpintar di kelasnya. Dia selalu melirik jam tangan mewah di tangannya, ia berharap bel pertanda pulang segera berbunyi.
Ding dong ding dong
Dia merasa girang setelah mendengar bunyi bel tersebut, seluruh siswa segera berhamburan keluar termasuk Zara.
Zara menunggu Sera untuk pulang bersama, mereka saudara kembar yang cantik dan begitu populer di sekolahnya.
"Hari ini mampir ke restoran Ananta ya, aku mau makan siang disana," pinta Zara.
"Ciee... Mau mampir makan atau mau ketemu pemilik restorannya?" ejek Sera.
Zara tersenyum malu, ia sedari dulu sangat menyukai pemilik restoran itu yaitu Reno.
Apalagi setelah kabar perceraiannya membuat Zara semakin bersemangat untuk mendapatkan hati Reno.
Setengah jam kemudian.
Mereka menyantap makanan lezat itu dengan lahap, Zara sesekali mengarahkan semua pandangannya untuk mencari keberadaan Reno. Tetapi nihil, Reno sepertinya sedang tidak berada di restoran.
"Menyerahlah Zara! Nanti kau ujung-ujungnya sakit hati, kalian sangat jauh perbedaan umurnya bahkan hampir 10 tahun. Apalagi jika Kak Reno tau kalau kau masih sekolah, ku pikir dia tidak akan pernah melirikmu," ucap Sera.
Zara merengut mendengar ucapan saudara kembarnya itu, bukannya menyemangati tetapi malah membuat Zara patah semangat.
"Eh itu Kak Reno datang," ucap Sera.
Zara menatap Reno tanpa berkedip, Reno yang tampan dengan baju hemnya membuat Zara terpesona. Dia ingin sekali menjadi pacar Reno walaupun tidak mungkin terjadi.
Reno nampak tidak melihatnya, ia tengah fokus berjalan ke ruangannya.
Kak Reno. Sekali ini saja tataplah aku!
Membayangkannya saja membuat jantungku ingin meledak.
#########