Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 10
Dia tidak akan membunuh Rowena. Dia akan meminum darah gadis itu setiap hari sampai akhir hidup mereka, ketika waktunya tiba. Dia juga tidak akan memberi tahu siapa pun tentang semua dosa yang Rowena lakukan padanya, karena jika orang lain tahu, Rowena akan dikurung.
Dan dia ingin Rowena tetap berada di dekatnya, di tempat yang tidak akan bisa diselamatkan oleh siapa pun.
“Karena kamu harus tetap dekat denganku,” ujarnya akhirnya. Lebih aman begitu. Lagipula, nanti dia juga akan menghapus ingatan Rowena.
Dia sempat mengira Rowena akan panik, tetapi ternyata tidak. Gadis itu hanya duduk diam sepanjang perjalanan. Saat dia bersiap menghilangkan ingatannya, dia langsung menyergapnya. Rowena terkejut. Dia menahan kepala gadis itu dengan kedua tangan.
“Lupakan Paragon Asylum,” bisiknya sambil menancapkan pandangan ke mata Rowena. Gadis itu membuka mulut dan menarik napas dalam. Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun, membuatnya sempat berpikir cara ini tidak akan berhasil.
“Lupakan semuanya tentang Paragon. Lupakan aku yang bekerja di sana, lupakan siapa pun yang kamu lihat. Lupakan bahwa dia pernah ada.”
Rowena mengangguk pelan.
“Malam ini kenapa kamu pergi ke Paragon?”
“Aku tidak tahu. Untung aku ada di sana, jadi aku menemukanmu lebih dulu sebelum sesuatu yang lebih parah terjadi.”
“Malam ini kamu hanya pergi ke kantor tempat kita biasa bertemu, kita menjalani sesi terapi, dan aku mengantarmu pulang.”
Lebih aman menautkan cerita itu pada kebiasaan yang masih mirip, agar ingatannya tidak timpang.
“Kamu mengantarku pulang,” jawab Rowena lemah.
“Kita tidak bicara apa-apa sepanjang jalan.” Dia mengangguk. Sebelum melepaskannya, dia sadar masih bisa melakukan lebih.
Dia bisa saja mencumbu Rowena dan menghapus ingatannya.
“Sekarang umurmu berapa, Rowena?” tanyanya.
“Delapan belas,” jawab Rowena datar. Pikirannya berantakan, setengah terhipnotis.
“Bagus,” desahnya sambil mendekat.
Dia punya aturan, dan menyentuh anak di bawah umur jelas terlarang baginya.
Dia membenamkan hidung ke rambut Rowena. Aromanya manis, nikmat, menggoda. Aturannya jelas, tidak boleh karena gadis itu masih terlalu muda. Namun tetap saja, mengisap Rowena, bahkan sekadar mencumbu sedikit pun, tidak benar. Tidak boleh.
Belum waktunya.
Dia punya rencana dan harus menaatinya.
Dia makin mendekat, menempelkan hidung ke kulit leher Rowena sambil mendengar detak jantungnya. Kencang. Kuat. Dan semakin keras ketika jarak mereka menipis. Suaranya memenuhi telinganya.
Mulutnya terbuka di leher Rowena, menyusuri nadi yang berdenyut. Godaannya nyaris tak tertahankan.
Dia tidak boleh mencicipinya.
Pikirannya mulai menyusun seribu alasan untuk membenarkan tindakannya.
Menunggu terasa menyiksa.
Kenapa harus menunggu?
Taringnya turun, menggores tipis kulit pucat itu. Satu gerakan kecil saja, dia bisa merobeknya, merasakan semuanya, menelan semuanya.
“Kamu terlalu menggoda,” bisiknya di leher Rowena.
Dia menggigit pelan bagian yang paling diinginkannya. Hanya gigitan ringan, meninggalkan cekungan kecil di kulit dengan taringnya. Rowena menggeliat dalam pelukannya.
Satu gigitan sungguhan, dan semuanya akan hancur. Seluruh rencananya akan gagal total.
Dia mengumpat pelan dan menatap mata biru Rowena.
“Lupakan yang barusan,” desahnya sebelum akhirnya melepaskannya.
Rowena kembali duduk di kursi mobil. Sesaat gadis itu hanya menatap jalan di depan, lalu berkedip, menarik napas, dan merapikan dirinya sebelum menoleh dengan ekspresi penasaran. Bibirnya terbuka seolah hendak bicara, lalu menutup lagi. Setelah itu, dia keluar dari mobil.
Dia mengetukkan jari ke setir sambil memperhatikan Rowena masuk ke dalam rumah. Aroma gadis itu masih tertinggal di mobilnya.
Dan dia tahu, ini bukan terakhir kalinya dia harus menghapus ingatan Rowena.
Tidak ada yang bisa lolos darinya. Tidak Rowena.