seorang pemuda bernama Yuda Gusti yang miskin dan sebatang kara di dunia mendapatkan keberuntungan yang sangat di inginkan oleh orang lain, yaitu di mana saat mulung rongsokan tidak sengaja menemukan jam tua, yang tidak di sangka jam itu mengubah Nasib nya!! di tambah sistem tiba-tiba aktif yang memberitahukan jam yang di temukan adlah jam Sakti yang bisa melintasi zaman, dari zaman modren ke zaman Dulu, zaman sebelum ada dunia modren... bagaimana keseruan Yuda yang terlempar ke masa lalu karena menemukan jam Sakti... Terus ikuti keseruan dan kisah yang mengasikan.. cusss..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIZQI ZEBRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Menolak Belalang Kaleng Dari Salwa
Malam berjalan dengan cepat menyapu kenangan pahit yang sudah terlewat, bulan yang bersinar mulai menghilang para bintang yang berkelap-kelip mulai di gantikan oleh sinar matahari pagi, sang Surya menampakkan diri menandakan waktu sudah berlalu, malam yang dingin sudah di usir menjadi pagi yang hangat layak nya keluarga Yuda di desa Rimba.
Desa kecil di ujung negri, tapi siapa sangka di saat kondisi negara sedang kacau, justru di sana Yuda hidup tentram dengan kedua istri nya. “Sayang!! ini sayur kamu cuci terus bawa ke sini lagi.”
Pagi ini Yuda berencana untuk kembali ke zaman modern, karena tidak ingin menyia-nyiakan energi jam pelintas zaman, yang sangat sulit terisi. Namun sebelum itu Yuda ingin membuatmu sarapan lengkap untuk kedua istri nya.
Yuda sedang menumis jamur dengan ayam goreng di sertai sambel goreng. “Mas kami baru lihat masakan ini, sebenarnya kamu dapat semua resep ini dari mana,” tanya Kirana yang fokus memperhatikan suami nya, memasak.
Kirana suka sekali memasak, dari kecil ia pernah bermimpi menjadi seorang pembuat makanan di istana, tapi itu hanya mimpi sekedar angan-angan. “Pokok nya ada deh, kalau kamu mau tahu, nanti mas ajarin buat masakan yang nggak pernah kalian lihat..!”
“Pasti ada syarat nya..!” Leni datang membawa pakaian yang selesai di cuci, lalu meletakkannya di dekat pintu kamar mandi, melihat suami dan adik nya, yang sedang mengobrol.
Yuda mendengar Leni pun hanya tersenyum, istri nya begitu pintar menebak isi pikiran nya. “Gampang kok, kalau di depan suami kalian, cukup pakai pakaian yang mas belikan itu, jangan pakaian kayak gini.”
Yuda yang memang asal dari zaman modern tidak gampang berdaptasi dengan pakaian zaman ini, jadinya Yuda ingin mengubah berpakaian istri nya, dengan pakaian modern yang ia belikan dan hadiah dari sistem.
“Cuman itu mas?” tanya Kirana, kalau hanya itu, sudah pasti ia akan mudah memasak karena hanya berpakaian yang sedikit mengekpos tubuh, lagian hanya di depan suami mereka.
Yuda mengangguk santai, lalu menuangkan tumis jamur. “Kirana setuju,....!”
Leni hanya menggeleng pelan, adik nya begitu bersemangat tapi Leni pun bangga, karena asal bisa membuat suami nya senang, maka itu sudah menjadi kewajiban mereka sebagai istri bahkan mereka di perlakukan seperti ratu oleh suami nya.
Makan di masakan, bahkan dengan makanan yang sangat enak, di tambah pakaian, tidak seperti sebelum nya, perut kelaparan pakaian seadanya.
“Kak biar Kirana yang jemur, kak Leni bantu mas Yuda aja di sini...!” ujar Kirana menawarkan diri, karena ia tak bisa mencuci jadinya ia bermaksud berbagi tugas dengan kakak nya.
“boleh, sekalian belajar jemur pakai juga, nih di depan aja...!” Leni tidak keberatan menyerah tugas nya, sedangkan dirinya lebih dulu masuk ke dalam kamar untuk mandi dan berganti pakaian sesuai kemauan suami nya.
Di depan rumah, Kirana sedang mesendawa sambil menjemur pakaian, harum dari dapur membuat perut nya merasa lapar ingin makan masakan suami nya.
“Siapa yang pagi-pagi sudah masak daging, mana harum sekali...!” seorang wanita lewat di depan rumah Yuda dan tanpa sengaja mencium aroma masakan Yuda membuat nya berhenti sesaat.
Salwa wanita, umur 32 tahun, yang di tugaskan menjadi wanita kesehatan dari ibu kota, untuk petugas kesehatan di desa Rimba ini..! Wanita itu pagi-pagi sudah keliling ke setiap sudut desa memastikan agar tidak ada rumah yang butuh pertolongan nya.
“Mba, Salwa pagi-pagi udah keliling aja, hebat banget..!” Kirana yang memang kenal dengan Salwa menyapa, walau tidak terlalu kenal tapi pernah beberapa kali bertemu.
“Eh, Kirana! iya biasalah takut nya ada penduduk desa sakit.. Kamu udah makan belum?”tanya Salwa dengan mata tajam.
“Be-belum..!” jawab nya jujur, karena pagi ini ia menunggu masakan suami nya, makanya belum makan.
Salwa yang mendengar itu menjadi emosi dan marah. “Sadar pria brengsek itu.!!”
“nggak gitu maks–...” ucapan Kirana langsung terpotong oleh Salwa yang langsung memotong ucapan nya.
“Udah! Kamu nggak usah lindungi dia, ini aku masih punya setengah belalang kaleng, kamu simpan untuk kamu dan kakak mu, jangan kasih ke suami kalian itu..!” Salwa menyerahkan kaleng berisi belalang, secara cepat agar tidak terlihat Yuda.
Kirana langsung bengong, karena bingung, ia setiap hari makan enak dan kenyang, di sangka tidak di beri makan oleh suami nya, bukan kan itu seperti lelucon. “Tap mba–...
“Aku paham, jadi wanita di zaman ini memang sulit, tapi bagaimana pun kita butuh makan... Dan di hargai,” ujar Salwa seolah apa yang di katakan nya, itu hal benar.
Kirana tak bergerak hanya tersenyum kaku, karena merasa ragu dengan belalang kaleng di tangan nya. “Ada apa ini sayang..!”
suara bariton terdengar dari arah pintu rumah, Yuda berjalan pelan tapi tegas, tampang yang sudah tidak bisa di ragukan, serta kemampuan yang di miliki nya, bukan lah tandingan orang lain di zaman ini.
“Eum, ini mas mba Salwa niat baik membagi belalang kaleng kepada Kirana,” jawab gadis itu polos, dan Salwa berdecak kesal, gadis itu tidak bisa di ajak menyembunyikan rahasia.
Yuda mengambil kaleng belalang itu lalu menatap ke arah Salwa yang masih berada di sana. “Wanita ini, selalu menganggap remeh ku, dan mengira aku menindas istri ku,” ucap Yuda dalam hati.
“Kami tidak makan belalang, jadi jangan so bersikap baik pada istri ku, makan nasi dan daging..!” Yuda mengembalikan kaleng itu kepada Salwa, membuat wajah Salwa merah karena menahan amarah.
“Mari kami masuk dulu, karena mau makan..!” pamit Yuda menyuruh istri nya untuk segera masuk, dan membawa bakul.
“Permisi mba Salwa..!” pamit Kirana tetap sopan, karena bagaimanapun Salwa wanita yang berjasa di desa mereka dan semua orang segan pada kemampuan nya.
buk.!!, buk..!
Salwa menyentakan kaki nya ke tanah, menahan rasa kesal kepada Yuda. “Sombong sekali..! Aku memberikan ini buat istri nya, dia tidak mau makan tidak papa.”
Tapi mengingat kalau dari arah rumah Yuda ia mencium daging, diam-diam Salwa curiga kalau Yuda benar-benar akan makan daging.
“Sudahlah.!! Dia sombong sekali bahkan ninggalin aku sendiri di sini..!” gumam Salwa lalu pergi dengan perasaan dongkol di hati nya akibat ulah Yuda yang tidak menghargai nya.
Andai saja Salwa tau, kalau di dalam setelah Yuda dan Kirana masuk, keduanya langsung duduk dan bersiap untuk menyantap sarapan pagi ini.
“Memang nya belalang kaleng seenak itu ya, sampe kayak nya terkenal banget..!” tanya Yuda kepada dua istri nya.
“Setidaknya para warga memilih itu, karena belalang masih layak, daripada rumput liar mas..!” terang Leni, bukan terlalu enak tapi mereka tak punya pilihan.
“Oke! Aku seperti nya, harus segera mendirikan stan untuk membantu warga desa kita..!”
“ ... Cring.. selamat point cinta Kirana meningkat 20%! Total point Cinta Kirana 70%, hadiah: keahlian memasak tingkat Gran Master..!”
“Ternyata hanya kasih makan saja bisa nambah point cinta istri kedua ku ini.. Hehe.”