Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warna baru
Satu minggu semenjak pertemuan canggung di perpustakaan umum, Faisal mendapati dirinya lebih sering melirik jam dinding di kelas. Bunyi bel pulang yang terdengar membosankan, kini menjadi melodi yang paling ia tunggu. Bukan karena ia malas belajar, atau karena ingin kembali ke kehidupan nya yang dulu. Tapi karena ia ingin segera mengganti seragamnya dan bergegas menuju perpustakaan umum, tempat yang sering dikunjungi Devina.
Saat Faisal tiba, Devina sudah duduk ditaman baca depan perpustakaan. Ia mengenakan kardigan warna biru langit yang kontras dengan suasana sore yang sedikit mendung. Di depannya terlihat ada beberapa buku dan segelas kopi panas yang masih mengepulkan uap.
" Devina, aku boleh duduk disini? " ucap Faisal, suaranya sopan.
Devina mendongak, terkejut melihat Faisal. Lalu buru buru melepas earphone nya.
" Ya ampun, kak. Kaget kirain siapa?! "
Faisal tersenyum.
" Emang kamu berharapnya siapa? Crush yang kamu rahasiain itu? " Faisal tertawa mengejek.
" Apaan sih, kak. Ngga lah aku cuman ga nyangka aja. Kak Faisal bakal sesering ini ke perpustakaan. "
" Iya, sebentar lagi kan kelulusan. Aku gamau nilai aku jelek. Makannya aku sering kesini, pinjem buku buat dipelajari. "
Devina hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Sore itu, mereka tidak hanya mengobrol seputar pelajaran. Devina mulai terbuka, ia menceritakan hobinya yang suka mengurus tanaman dan traveling. Ia bercerita tentang beberapa tanaman favoritnya yang mati karena terlalu sering disiram air. Ia menertawakan kegagalannya sendiri dengan cara yang membuat Faisal terpana.
Bagi Faisal yang terbiasa dengan hubungan penuh tuntutan dan terkesan terlalu serius, sifat Devina yang riang dan mudah akrab terasa seperti menghirup udara segar ditengah polusi perkotaan.
" Kalo hobi kak Faisal apa? " tanya Devina dengan nada penasaran.
Faisal terdiam selama beberapa detik, lalu membenarkan posisi duduknya.
" Aku sendiri juga bingung, ga tau hobi aku apa. Dulu aku ga pernah fokus sama hal hal kaya gini, aku selalu sibuk sama hal hal ga penting. Tapi aku selalu tertarik sama menggambar. "
Devina tersenyum, menggeser sebuah pulpen dan selembar kertas kosong ke arah Faisal.
" Coba gambar sesuatu kak, apa aja terserah. Jangan biarin kreativitas di diri kakak mati cuman gara gara mikirin masalalu kakak. "
" Yaudah, tapi kamu jangan liat prosesnya. "
Faisal mulai menggambar sebuah pedesaan di kaki gunung.
Devina hanya mengangguk, sambil sesekali mengintip.
" Udah jadi, ya emang sih cuma sketsa nya doang. Tapi tinggal ditambah beberapa detail warna, hasilnya pasti lebih maksimal. " Ucap Faisal sambil menyodorkan karya nya.
Devina menoleh, memperhatikan detail gambarnya dengan tatapan seperti tidak menyangka, takjub.
" Kak, beneran deh. Ini bagus banget, kakak ga butuh waktu lama buat bikin ini. " ucap Devina tersenyum kagum.
Ditengah obrolan mereka, ponsel Faisal bergetar. Terdapat sebuah notifikasi postingan dari akun sosial media Aruna yang sedang makan bersama Arya di warung sederhana yang biasa mereka datangi dulu. Rasa sesak itu sempat kembali, terasa seperti sebuah dentuman keras yang memantul di kepalanya. Faisal melirik ke arah Devina, ia menyadari satu hal.
- Bersimpati pada diri sendiri atas kejadian pahit di masalalu emang perlu, tapi menutup mata dari orang yang ada di depanku adalah sebuah kerugian besar. Gumamnya
" Kak? Kenapa ngelamun? "
" Ngga, gapapa. Na, kamu kan suka traveling. Mau ga kalo sekarang aku ajak jalan jalan? "
" Boleh sih, kak. Tapi aku ga bawa helm. "
" Tenang, aku bawa helm dua. Kaya biasanya, "
" Yaudah, ayo kak." Ucap Devina sambil meraih tangan Faisal.
Lampu kota di spion perlahan semakin mengecil, berganti dengan deretan pohon pinus yang berdiri kaku seperti penjaga rahasia. Mesin motor Faisal bergetar, berjuang melawan jalan menanjak yang tak ada habisnya.
" Kita mau kemana sih, kak? " tanya Devina sedikit berteriak agar terdengar.
" Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat, rahasia. Aku yakin kamu pasti suka. " jawab Faisal, suaranya nyaris tertelan deru angin.
Devina mencondongkan kepalanya ke bahu Faisal. Dan sesekali sepasang tangannya mencengkram ujung jaket saat jalanan berkelok.
Didepan mereka, langit mulai berubah warna menjadi jingga yang cantik. Setelah beberapa lama, mereka sampai di tujuan. Faisal menyandarkan motornya, membiarkan standar sampingnya menancap ditanah yang agak lembap. Devina turun lebih dulu, merapihkan rambutnya yang berantakan karena angin, lalu berjalan ke tepi pembatas jalan yang langsung menghadap ke perkotaan dibawah sana.
" Gilaaa ..... Ini bagus banget." Ucapnya lirih, suaranya pecah diantara hembusan angin. " Kamu bener bener tau kak, apa yang aku suka. Pemandangannya bener bener bagus, Aku suka. "
Faisal melepas helmnya, menyampirkan jaket parasut andalannya di atas jok motor.
" Aku bukan tipikal orang yang suka bohong, apalagi sama cewe. "
Devina menoleh sedikit, menatap Faisal dengan mata yang memantulkan cahaya kota d kejauhan. Ada senyum tipis yang tertahan d sudut bibirnya.
" Dingin banget ya kak disini, " ucap Devina, sedikit menggigil. Kedua bahu nya naik berusaha menutupi lehernya dari terpaan angin.
" Ya, wajar sih. Sebentar lagi mau malem, matahari juga udah mulai tenggelam. " ucap Faisal, membawa jaket parasutnya lalu memakaikannya ke badan Devina yang menggigil kedinginan.
Devina tertegun, tangannya refleks memegang kerah jaket Faisal yang kebesaran.
" Nanti kakak yang kedinginan, gimana? "
" Aku udah biasa, udah akrab sama yang namanya angin malam, " ucap Faisal sambil membantunya merapatkan jaket itu. " Lagian, kalo kamu sakit. nanti siapa coba yang bakal aku ajak kesini lagi?! "
Devina menunduk, menyembunyikan senyumnya dibalik kerah jaket yang menutupi sebagian wajahnya.
" Makasih ya, kak...... Jaket kakak, wangi aroma kakak banget. "
Faisal terkekeh pelan, berusaha tertawa meski jantungnya berdegup dua kali lebih cepat karena canggung. Faisal menunjuk ke arah matahari yang baru saja tenggelam.
" Liat itu, warnanya indah. Saling melengkapi satu sama lain, kaya kita sekarang. "
Devina tersipu malu, ia meraih tangan Faisal.
" Kak, aku pinjem tangannya ya. Aku kedinginan. "
Devina menoleh ke arah Faisal, matanya berbinar lebih terang dari cahaya lampu kota manapun. Faisal duduk disampingnya, menggandeng bahu Devina dengan satu tangan lainnya.
" Kalo mau bersandar, bersandar aja gapapa."
Devina tersenyum. Ia menyenderkan kepalanya ke bahu Faisal. Tangan mereka saling menggenggam, berusaha menghangatkan satu sama lain. Faisal merasakan kehangatan yang seolah memberi ijin baginya untuk melangkah lebih jauh. Kalimat ungkapan sudah ada di ujung lidahnya. Faisal hanya perlu mengucapkan ' Aku Suka Kamu '. Tiga kata sederhana yang seharusnya meluncur begitu saja dibawah langit malam. Namun, tepat saat Faisal hendak membuka suara, sebuah ingatan tentang masalalu menyeruak. Aroma parfumnya, cara dia tertawa saat mendengarkan ceritanya, hingga bagaimana rasanya saat genggaman erat itu perlahan melonggar dan hilang. Wajah Aruna muncul begitu saja, sangat jelas di pikiran Faisal.
Sial, kenapa harus sekarang?! Gumamnya.
Faisal menatap Devina. Dia sangat baik, ramah, sopan, cantik sudah pasti. Dan sepertinya, dia juga tulus. Tapi dihati faisal, masih ada ruang berantakan yang belum sempat dibersihkan. Masih ada nama lain yang terukir disana.
- Kalo aku bilang sekarang, apa ini beneran rasa cinta? Atau aku cuman lagi nyari pelarian biar ga ngerasa kesepian?
Faisal menarik nafas panjang, membiarkan udara dingin di perbukitan memenuhi paru parunya hingga terasa sesak.
-Aku ga mau menjadikannya sebagai obat untuk luka ku. Devina terlalu berharga untuk sekedar jadi penawar rindu.
" Kamu gapapa, kak? " tanya nya lembut, menyadari perubahan suasana.
Faisal tersenyum tipis, senyum yang terasa berat. Genggaman tangannya kini melonggar, meski ia tak melepaskan sepenuhnya.
" Gapapa, Na. Pemandangan disini terlalu bagus, jadi aku larut kebawa suasana. "
Faisal kembali mengubur dalam dalam kata kata cinta itu. Biarlah malam ini menjadi malam tentang pemandangan indah diatas bukit. Faisal belum siap, ia tak mau menarik Devina masuk ke dalam hatinya yang masih dihuni Aruna. Faisal harus belajar melupakan terlebih dahulu, sebelum benar benar meminta Devina untuk tinggal.