Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Awalnya aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada dan aku tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi padaku.
Matanya yang menatap penuh keangkuhan, alisanya yang entah bagaimana berada di sana menambah kesan menawan di wajahnya, coklat gelap di matanya menatap berkeliling ruangan kelas dengan tajam, tidak ada kesan ramah di sana. Matanya sempat bertatap sebentar denganku.
Lalu tersungging sedikit senyum di bibirnya saat dia memperkenalkan diri.
" Halo semua, namaku Arkana Samudera Wijaya. Panggil saja aku Kana", dia berkata sambil menatapku tanpa malu-malu.
Dan aku berani bersumpah, dia mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum berjalan ke arah bangku yang ditunjuk guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Celah
Aku berdiri di depan gerbang sekolah. Enggan rasanya melangkah masuk ke dalam sekolah. Kemarin saat Tian membawaku keluar dari ruang futsal, dia tidak bertanya apapun. Tian memaksa untuk mengantarku pulang, tapi aku menolak.
Inka mengagetkanku. " Hayo kamu melamun apa? Kamu nungguin Arkana?", tanya Inka padaku.
" Tidak. Aku tidak nungguin Kana. Aku nungguin kamu", aku berbohong.
" Iya ya. Kan hari ini Kana tidak masuk sekolah", Inka mengangguk.
" Oh dia tidak masuk sekolah?", aku penasaran.
" Kana gak bilang sama kamu? Mereka teh mau Technical Meeting hari ini, buat pertandingan besok", Inka menjelaskan.
" Oh gitu. Iya Kana gak bilang sama aku", Aku sedikit murung.
" Memangnya kemarin kamu gak ketemu Kana?", tanya Inka heran.
Aku menggeleng cepat. Aku berbohong karena tidak ingin menceritakan apa-apa ke Inka. Seharusnya Inka senang, hubungan palsuku dan Kana sudah selesai.
" Yuk masuk... Nanti kita di marahi kalau telat", Inka menarik tanganku.
" Iya. Yuk", aku tersenyum simpul.
***
Kana memang benar tidak masuk seharian ini. Ada rasa sedih tapi juga lega. Sedih karena semakin ada jarak di antara kami dan lega karena aku tidak perlu menjelaskan banyak hal kepada Kana jika dia bertanya.
Aku mencoret-coret kertas di hadapanku. Mendengar Inka yang mengoceh tentang club mading nya. Konsep apa yang harus dia pikirkan untuk minggu depan.
" Perasaan", aku tiba-tiba nyeletuk tidak sadar menanggapi ocehan Inka.
" Ha? Perasaan apa?", tanya Inka bingung.
Aku pun kaget dengan kata yang aku keluarkan barusan. " Emmm iya... Itu maksudku ... Konsep tentang perasaan....", aku cepat-cepat memutar otak.
Inka menyipitkan matanya. Menunggu aku menjelaskan tentang ide konsepku barusan.
" Emmm gini ... Gimana kalau kalian sebulan dua kali buka kotak perasaan. Kotak perasaan itu setiap orang boleh masukin secarik kertas ke dalam kotak untuk mengungkapkan perasaan mereka kepada siapa saja. Gak perlu ada nama, anonymous gitu deh. Tapi orang yang di tuju harus jelas" , aku nyengir kayak kuda.
Inka menyipitkan matanya, sedang mencerna ide tidak jelas ini. Aku masih nyengir kayak kuda, semoga Inka tidak sadar kalau pikiranku ke mana-mana.
" Kamu memang jenius. Wah... Gak salah jadi sohib bertahun-tahun", Inka menepuk bahuku bersemangat.
" Haha... Bagus ya idenya... Haha", aku tertawa lega.
" Iya bagus banget. Kok gak pernah kepikiran ya selama ini", Inka menggelengkan kepalanya.
Aku mengelus dada lega. ' haduh... selamat ... Selamat.. Salah dikit pasti ketahuan aku lagi patah hati', batinku.
" Sudah ah... Yuk ke kantin. Haus banget nih", Inka menarik tanganku.
" Kamu besok pergi nonton futsal kan?", Inka bertanya saat perjalanan menuju kantin.
" Hm.. Belum tau. memangnya harus pergi ya?", tanyaku.
" Iya dong. Kan banyak anak sekolahan kita mau pergi dukung tim futsal. Sebagiannya lagi jadi suporter anak basket. Mereka mainnya beda gedung sih", Inka menjelaskan.
Aku mengangguk. " Nanti lihat besok deh, kalau gak banyak tugas rumah aku pergi", kataku sedikit niat.
" Nanti aku jemput kamu ya. Soalnya aku mau nonton juga. Kita naik mobil aku aja", kata Inka.
" Emang kamu sudah bisa nyetir?", tanyaku.
" his... Kan ada sopir atuh neng", Inka mencibir kepolosanku.
" Oh iya ya...", Aku mengangguk-angguk bodoh.
Aku mencomot gorengan yang di ambil Inka, sambil menyeruput es jeruk yang baru di antar.
" Hai...", seseorang duduk di sampingku.
Aku yang kaget hampir menumpahkan minuman di gelas. Sedangkan Inka langsung terbatuk-batuk saat melihat siapa yang muncul di hadapan kami.
Tian duduk di sebelahku dengan senyuman lebar. Senyuman itu menambah kesan tampan dan ramah dari dalam dirinya.
" Kamu ngapain di sini?", aku bertanya pada Tian.
Tian menatapku aneh. " Menurut kamu aku ke kantin buat apa? Belajar matematika?", tanyanya lagi.
" Oh iya. Pasti mau makan. Tapi kenapa duduk di sini?", aku bertanya lagi.
" Tempat yang lain penuh. Jadi aku duduk di sini. Memangnya tidak boleh?", Tian tampak serius.
" Eh... Boleh ... Boleh...", Inka menjawab cepat.
" wah makasih ya..", Tian tersenyum manis ke arah Inka.
Inka nyengir kayak kuda. Memang inilah yang Inka mau. Duduk bersama anak baru biar mudah di interogasi. Aku tau banget sifat temanku yang satu ini.
" Kamu anak baru itu ya? Pindahan dari mana?", tanya Inka tanpa basa basi.
" Iya... Aku pindahan dari Jakarta", jawab Tian sambil mengaduk-aduk jus di miliknya.
" ooh.. Boleh tau gak... Kamu aslinya mana?", tanya Inka makin menjadi.
" Boleh dong. Kan kita teman... ", jawab Tian memberikan jalan yang di harapkan oleh Inka. Yang di berikan jalan makin semangat bertanya.
" Papa aku orang Belanda, mama aku orang betawi.. Aku lahir dan besar di Jakarta. Hobinya apa ya... Kayaknya gak ada... Suka warna biru... Makanan kesukaan apa saja yang penting enak... punya adek dua ekor eh maksudnya dua orang... Dan sekarang aku TIDAK PUNYA PACAR", Tian menjelaskan dengan sejelas-jelasnya. Bahkan kata terkahir sangat di tekan olehnya.
Aku menatap Tian lalu tersenyum, dia ternyata sehumoris itu ya. Inka yang mendapat penjelasan seperti itu tampak berseri-seri dan langsung bertepuk tangan.
" Ada lagi yang ingin di tanyakan nona?", katanya pada Inka. Membuat aku dan Inka tertawa.
" Gak ada... Sudah sangat jelas.. Eh tapi kok milih masuk SMA Garuda?", Inka belum tuntas rasa penasarannya.
" Iya... Di suruh Awan", Tian menunjuk aku yang sedang mengunyah gado-gado.
" Kapan aku suruh? Fitnah kamu", kataku tidak terima.
" Kemarin waktu di halte", Tian mencoba mengingatkan aku.
" Gak .. Kan kamu yang nanya aku sekolah di mana, aku jawab SMA Garuda. Aku gak nyuruh kamu sekolah di sini", aku membela diri.
Tian tersenyum, mungkin ini jawaban yang dia tunggu sejak beberapa hari lalu. " Oh... Kamu ingat kejadian di halte itu?", kata Tian.
Aku mengerjapkan mata salah tingkah. " ya aku udah ingat", jawabku.
" Kok tidak bilang terima kasih ", katanya lagi.
Aku menatapnya bingung. Terima kasih untuk apa coba. Memangnya aku harus berterima kasih karena dia masuk SMA Garuda. ih ogah lah...
" Tissue" Tian memberikan penjelasan.
" Oh ya...", aku salah tingkah. " yaa.. Terima kasih banyak untuk tissue nya kemarin", kataku sambil tersenyum.
" Ya sama-sama", jawab Tian santai.
" Kalian memangnya sudah pernah ketemu?", tanya Inka penasaran.
" Ya".
" Tidak".
Tian dan aku menjawab hampir bersamaan.
" Jadi?", tanya Inka lagi.
Tian melihat ke arahku menunggu jawaban. Aku menghela nafas lalu menjawab.
" Kami tidak sengaja bertemu dan waktu itu kami sempat mengobrol", aku menjelaskan singkat dengan melewatkan adegan aku menangis sesenggukan. Nanti pertanyaan dari Inka makin panjang.
" Ooh begitu..", jawab Inka menyudahi keingintahuannya.
" Yaaaa.... Begitu... ", Tian ikut menimpali sambil tersenyum lebar.
Aku menginjak kaki Tian pelan agar dia tidak membuka mulutnya lagi.
" Oke...", Tian memberi isyarat kepadaku setuju.
" Yuk masuk kelas Inka... Bentar lagi bel atuh", aku menyeret Inka untuk kembali ke kelas.
" Bentar-bentar... Cilok aing sisa satu", Inka tidak mau rugi dan langsung melahap cilok itu.
" Awan ..", Tian memanggilku saat akan pergi ke kelas.
" Ya?", aku berhenti sejenak.
" Sebentar pulang sekolah aku antar ya", kata Tian dengan penuh harap.
" eh... Aku...", Aku ragu.
" Iyaa boleh... Kita pulang bareng bertiga", Inka mewakili aku menjawab.
" Ohh okeee... Aku tunggu di gerbang", Tian bersemangat. " Bye... Udah bel tuh", Tian berlalu dari hadapan kami.
Aku mencubit Inka pelan setelah Tian tidak terlihat.
" Gelo pisan ya...jawab seenak jidat", aku mengomel.
" Hehe .. Habis ganteng", Inka menjawab seenak jidat.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala.
***