Kayana Putri & Gavin Adhitama
Kayana terpaksa menerima perjodohan itu karena dia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Kayana berusaha untuk menjadi isteri yang baik dan penurut, tapi usahanya tidak pernah di hargai oleh Gavin. Sampai pada suatu hari Gavin bertemu kembali dengan wanita di masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.M Arti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Suamimu
"Awaasss. . . " Teriak Ricko saat melihat Claudia mengejar Tuan Gavin dan Kayana dengan menggenggam sebuah pisau di tangannya.
Ricko tertujuk di bagian perutnya untuk melindungi Tuan Gavin dan Kayana. Melihat Ricko tertusuk, Claudia segera berlari kabur dari mereka. Namun Agil tak perduli, dia segera melepas dasinya untukn menutupi bekas tusukan supaya lendarahan tidak semakin banyak.
Agil membawa Ricko masuk ke dalam mobil dan segera membawa ke Rumah Sakit. Sedangkan Gavin membawa Kayana masuk ke dalam mobilnya, dan juga membawanya ke Rumah Sakit yang sama.
Sesampainya di Rumah Sakit, Agil berteriak minta bantuan karena Ricko sudah tak sadarkan diri, dan memintanya segera di berikan tindakan. Agil segera mengurus segala administrasinya agar Ricko segera di tangani. Sepuluh menit setelah Agil sampai di Rumah Sakit, Tuan Gavin juga datang dengan menggendong tubuh Kayana yang belum tak sadarkan diri.
Dua orang perawat segera membawa brankar dan menghampiri Tuan Gavin. Kayana segera di tangani dokter setelah melihat siapa yang menggendongnya, Gavin juga merupakan investor tertinggi di Rumah Sakit itu.
"Jangan beritahukan keluarga anak itu dulu, mereka masih dalam suasana bahagia. Kita saja yang mengurusnya, biar bagaimanapun dia sudah melindungi juga isteriku." Ujar Tuan Gavin pada Agil.
"Baik Tuan. . " Agil hanya menganggukan kepala tanda mengerti.
"Keluarga Nona Kayana. . " Panggil sekrang suster keluar dari ruangan.
Melihat Tuan Gavin yang hanya diam tak bergerak, membuat Agil segera memanggil Tuan Gavin dan memberitahukan perawat memanggilnya dan Tuan Gavin harus segera kesana.
"Tuan, perawat itu memanggil Tuan." Ujar Agil setengah berbisik.
"Dia memanggil keluarga pasien, bukan aku. . ." Ujarnya masih tak bergeming.
"Isteri Tuan namanya siapa?" Tanya Agil pada Tuan Gavin.
"Isteriku. . isteriku hanya dia. . .Tidak ada yang lain." Ujar Gavin dengan santainya.
"Aiiishhhhh. . .Isteri Tuan bernama Nona Kayana Putri Adhitama. . .Perawat memanggil keluarga Nona Kayana. Satu-satunya keluarga Nona hanya Tuan. . ." Ujar Agil menjelaskan.
"Kau memarahiku?" Ujar Tuan Gavin pada Agil.
"Astaga. . .Tidak Tuan, saya hanya memberitahu Tuan. . Sungguh. Sebaiknya Tuan segera kesana sebelum perawat memcari keluarga yang lain untuk Nona." Ujar Agil.
"Benarkah? Enak saja isteriku di berikan pada orang lain." Ujar Tuan Gavin langsung berdiri menghampiri perawat yang sejak tadi menunggu keluarga Kayana.
Aiissshh. . .nama isteri sendiri bisa lupa. Mulai hari ini aku harus menyebut nama Nona Kayana berkali-kali supaya Tuan tidak lupa lagi. . .
Agil segera pergi ke lorong lain untuk menunggu tindakan operasi yang sedang berjalan saat ini. Tusukan pisau yang di berikan Claudia merobek sedikit ususnya.
"Kau tidak akan bisa keluar dari hutan itu Nona. Anak buahku sudah ku kerahkan untuk memberimu pelajaran yang setimpal." Ujar Agil bergumam.
Satu jam telah berlalu, tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka dan keluar seorang dokter. Agil segera menghampirinya dan menanyakan kondisi Ricko saat ini.
"Bagaimana kondisinya Dok?" Tanya Agil.
"Ususnya ternyata robek, jadi kami harus memberikan, dan setelah ini kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada usus pasien. Untuk itu mungkin pasien harus puasa lebih dulu hingga pemeriksaan selesai." Ukar dokter.
"Apakah separah itu dok?" Tanya Agil.
"Hmm. . tapi untung saja pasien segera di bawa ke rumah sakit jadi kami bisa segera melakukan tindakan pada pasien." Ujar Dokter pada Agil.
"Terimakasih Dok." Ucap Agil.
Di sisi Lain. .
Tuan Gavin duduk di samping bed memandangi wajah Kayana, wanita yang sudah menjadi isterinya selama 9 bulan tapi bsru sekali ini dia melihat wajahnya. Perutnya bergerak, seperti gelombang membuat Tuan Gavin tertarik dan memegangnya.
Saat telapak tangannya menyentuh perut Kayana, tiba-tiba sebuah tendangan membuat Tuan Gavin terlonjak hingga berdiri dari duduknya.
Apa itu? Kenapa seperti ada yang menendangku? Sedang pingsan saja masih sempat-sempatnya menolah untuk pegang.
Perlahan Kayana membuka matanya, samar-samar dia melihat seorang pria sedang berdiri memgamati dirinya lebih tepatnya perutnya yang sudah semakin membesar. Kayana langsung menarik selimutnya ke atas untuk menutupi seluruh tubuhnya karena merasa malu di lihat Tuan Gavin.
"Kau kedinginan?" Tanya Tuan Gavin.
"Ti. . tidak. . " jawab Kayana menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kau memakai selimut seperti itu?" Tanya Tuan Gavin.
"Aku malu Tuan. . " Ujar Kayana.
"Jangan panggil aku Tuan. . aku suamimu. . ." Ujar Tuan Gavin pada Kayana.
"Ba. . baik. . " Ucap Kayana.
"Apakah perutmu sakit?" Tanya Tuan Gavin yang teringat sejak tadi perutnya bergerak seperti gelombang.
"Ti. . tidak. ." Jawab Kayana secara spontan.
"Lalu kenapa sejak tadi perutmu bergelombang?" Tanya Tuan Gavin.
"Ini anak. . ku sedang bergerak. . " Ujar Kayana dengan pelan karena bingung bagaimana mengatakannya.
"Bukan anakmu, tapi anak kita. . .Lalu kenapa dia membuatku kaget?" Tanya Tuan Gavin lagi.
"Benarkah?" Tanya Kayana yang memang tidak tahu jika bayi yangaada di dalam perutnya membuat Tuan Gavin kaget.
"Lupakan. . bagaimana perasaanmu sekarang? Apa yang keluhkan?" Tanya Tuan Gavin lagi.
"Tidak ada, aku baik-baik saja. Dimana Ricko? Apakah dia suda pulang?" Tanya Kayana yang ingat dia pergi bersama Ricko.
"Anak itu bersama Agil, kau tak perlu khawatir. Sekarang istirahat saja. . ." Ujar Tuan Gavin.
"Tapi. . .aku lapar. . " Ujar Kayana dengan malu-malu.
"Ini sudah malam. . besok saja makannya." Ujar Tuan Gavin.
"Apakah anda ingin membunuh anakku? Dia kelaparan, dan anda menyuruhku untuk menahan lapar. Keterlaluan." Ujar Kayana.
"Jadi itu anakku yang lapar? Bukankah dia belum bisa makan apa-apa?" Tanya Tuan Gavin.
"Aiiiissshhh sudahlah aku tidak jadi lapar. . biarkan sampai besok pagi saja." Ujar Kayana yang langsung terisak karena merasa kesal pada Tuan Gavin.
"K. . Kau menangis. . jangan menangis. . diamlah. . ." Ujar Tuan Gavin merasa bingung karena tiba-tiba Kayana menangis. " Kau mau makan apa? Aku akan memesannya. . Sudah jangan nangis ya." Ujar Tuan Gavin menepuk kepala Kayana dengan pelan seperti kakak pada adiknya.
"Apa saja. . aku lapar. . ." Ujar Kayana semakin kencang menangisnya seperti anak kecil.
Tiba-tiba Dokter Bayu masuk untuk visite pasien dan terkejut saat melihat Kayana menangis dan Tuan Gavin hanya menepuk-nepuk kepalanya.
"Apakah seperti itu caramu menenangkan istri, Tuan Gavin?" Ujar Dokter Bayu menggelengkan kepalanya.
"Apa salahnya? Dia meminta makan. Kau bisa memesankannya?" Tanya Tuan Gavin pada Dokter Bayu.
"Aku datang kemari untuk memeriksa Nona Kayana, bukan untuk menjadi pesuruh anda Tuan. Jadi Nona menangis karena tidak di beri makan? Kejam sekali. . " Ujar Bayu mengeluarkan stetoskop untuk memeriksa Nona Kayana.
"Apakah tidak apa makan jam segini?" Tanya Tuan Gavin.
"Untuk ibu hamil tidak ada pantangan Tuan, jangan suruh isterimu untuk diet. . Dia makan juga untuk kedua bayinya. . " Ujar Dokter Bayu.
"Dua Bayi?" Tanya Tuan Gavin dengan mata terbelalak kaget.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Maaf masih ada typo yang bertebaran.
Ditunggu kritik dan sarannya 🙏🙏
Mohon tinggalkan jejak untukku (Like, Komen, rate 🌟🌟🌟🌟🌟, vote juga boleh) 😄😄🙏🙏
Terimakasih 🌹🌹🌹🌹
Btw, aku pernah baca novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, itu keren banget. Kalo search jangan lupa tanda kurungnya