Hutang budi karena pernah ditolong, seorang pria kaya berjanji akan menikahkan putrinya kepada pemuda bernama Kosim anak orang miskin yang menolongnya.
Di lain pihak istri seorang kaya itu tak setuju. Dia tak rela bermenantukan anak orang miskin dengan rupa kerap dicemooh orang desa.
Namun sang suami tak mau ingkar janji, ia menyebut tanpa ditolong orang miskin itu entah bagaimana nasibnya mungkin hanya tinggal nama.
Akhirnya sang istri merestui namun dalam hatinya selalu tumbuh rasa antipati kepada sang menantu, tak rela atas kehadiran si menantu orang miskin yang buruk rupa.
Bagaimana jadinya? Ya, "Mertua Kaya Menantu Teraniaya."
Lebih rincinya ikuti saja jalan ceritanya di buku kedua penulis di PF NToon ini.
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fendy citrawarga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Melawan
"Fitri jelaskan lagi kepada Ibu, jangan-jangan tadi Ibu kurang dengar, tangga tidak ada di sini, kok Ibu bilang harus ada?!" ujar Fitri dengan suara lantang.
Ya, tiba-tiba saja Fitri punya kekuatan untuk melawan majikan orangtuanya ini. Habis sudah kelewatan tak percaya. Sudah dilihat tiga kamar dan dapur, bahkan kamar mandi, masih saja mau naik ke langit-langit rumah.
Dibilang tak ada tangga, masih juga menyebut harus ada.
"Ini sudah keterlaluan menginjak-injak harga diri orangtuaku," ujar Fitri dalam hati.
"Eeh, apa katamu bocah bau kencur? Berani ya ngomong seenaknya kepada orang yang memberi kamu makan dan hidup?" koar Amih Iah dengan pongahnya.
Bicara begitu Amih Iah sigap mau menjambak rambut Fitri seperti telah dilakukannya tadi hingga Fitri tak berdaya dan amat sangat ketakutan.
Akan tetapi itu tadi, tidak sekarang karena sekarang dia sudah mempersiapkan diri dengan sewaspada-waspadanya.
Terbukti ketika tangan Amih Iah mau mengenai kepala Fitri, sekilat Fitri menarik sebelah kakinya ke belakang, lalu kepalanya ia doyongkan ke belakang pula sehingga ia berada dalam posisi seimbang.
Sedangkan Amih Iah tak menyangka Ftri akan berkelit, sementara tenaga yang disodorkannya begitu kuat dan sarat emosi serta kebencian mendalam.
Akibatnya, tubuh Amih Iah seperti ada yang membedol amat kuat. Tak ayal lagi tubuhnya terjatuh dengan bibir mengenai papan lantai rumah Bi Icih.
Bi Icih benar-benar kaget melihat putrinya melawan. Tak hanya kaget, tetapi juga bingung dan takut sebab pasti Amih Iah bakal mengadu kepada Pak Soleh, lalu Pak Soleh diminta oleh Bu Haji untuk memecat Mang Koyod dari pekerjaannya.
Oleh karena itu, Bi Icih segera mengangkat tubuh Ami Iah yang tengah meringis kesakitan akibat bibirnya sedikit lebam mencium ubin kayu.
"Maafkan Fitri Bu. Fit jangan begitu," lirih Bi Icih.
"Maafkan-maafkan! Jangan sentuh tubuhku, tuh sentuh anakmu yang tak tahu sopan santun menasihati orangtua. Awas aja ya Bapakmu akan aku pecat lagi!" koar Bu Haji Iah sembari bangkit dan mengusap-usap bibirnya yang lebam serta terasa perih.
"Jangan takut Bu! Emangnya hanya dia yag bisa mempekerjakan Bapakku, banyak orang kaya lainnya yang membutuhkan tenaga Bapak!"
"Fitri!!!" ujar Bi Icih tak menyangka putrinya bakal bicara senekat itu.
"Eeh kamu tak tahu di untung sudah punya majikan kaya, ini malah menghina!" koar Amih Iah.
"Siapa juga yang menghina? Tanya diri sendiri mengapa anak seusia saya berani melawan?" Fitri kian berani yang maksudnya ingin menyadarkan majikannya.
"Emangnya apa yang harus ditanyakan pada diriku sendiri heh anak ingusan?"
"Di situ berlaku lebih dari anak-anak ingusan, sudah jelas-jelas yang Ibu cari enggak ada, masih saja tak percaya, masih mau naik langit-langit rumah. Dibilang tak ada tangga, harus ada tangga, keterlaluan!" ujar Ftri cukup lantang membuat Amih Ia kehabisan kata-kata yang akhirnya terdiam.
"Jangan sombong ya kamu anak ingusaan! Ingat kamu makan dari aku, kalau Bapakmu tidak bekerja di aku kamu sekalian bakal kelaparan!" Amih Iah tersulut lagi emosinya setelah barusan berpikir sejenak dan menemukan kekuatan dengan mengusung gengsi.
Ya, gengsi kalau harus kalah oleh anak seusia seperti Fitri yang berani melawan. Padahal semua orang di dekatnya selalu menghormati, ini malah memaki-maki.
Tak ayal lagi nafsu Amih Iah pun memuncak lagi.
"Awas, kalau kelak ketahuan kamu menyembunyikan anakku dan si Kosim, kamu bakal merasakan ini," ujar Amih sambiil menggesekkan lengannya ke lehernya.
"Jangan nanti-nanti, ayo sekarang saja tuh ada golok di dapur," kata Fitri, benar-benar melawan tanpa rasa takut sedikit pun.
Menyadari Fitri punya keberanian, tak seperti ibunya, Amih Iah mulai melemah dan mencari trik lain untuk melumphkan si bocah ini dengan berkata lemah lembut.
"Sudahlah maafkan Bu Haji tadi marah-marah kepada kalian. Sekarang kita berdamai," ujar Bu Haji Iah dengan nada suara lembut.
Namun tak mambuat Fitri silau atau mau tertipu dengan perubahan sikap mendadak majikan orangtuanya. Fitri pikir pasti ada apa-apanya di balik perubahan sikap yang mendadak itu.
"Nih lihat, apa? Ini uang satu juta rupiah, kamu ambl Fitri, lumayan buat jajan. Nanti ditambah lagi!" ujar Amih Iah sembari mengeluarkan uang dari balik bajunya bagian depan.
Tadi bilangnya kepada si Oyot tukang oje tak ada uang karena dompetnya ketinggalan. Ternyata uangnya disimpan di balik BH-nya.
Mata Bi Icih melotot melihat uang satu juta rupiah. Dia berharap Fitri mau menerimanya karena dikasih dan memang lumayan untuk jajan atau katanya untuk membeli HP baru yang tengah diidam-idamkannya.
"Tapi ada syaratnya. Ayo katakan di mana si Yani dan si Kosim. Firasat Ibu, keduanya pernah ke sini dan kalian berdua mengetahuinya. Ayo katakan, kita berdamai saja dan imbalannya Ibu akan mengasihkan uang ini untukmu Fitri," ujar Ami Iah.
"Sudah dikatakan tidak ada di sini dan Ibu pun telah memeriksanya ke setiap sudut rumah ini dan ternyata tidak ada, masih juga bersikeras mengusik kami. Jangankan uang sejuta, lebih dari itu pun aku takkan tergoda!" tandas Fitri.
"Dasar anak tak tahu di untung!" ujar Amih Iah, lagi-lagi tangannya mengulur mau menjambak rambut Fitri, namun dengan gesit Fitri menghindar sehingga tangan Amih Iah hanya mendapati angin kosong.
Amih Iah pun lalu meninggalkan Bi cih dan Fitri tanpa permisi, suara sandal beradu dengan ubin kayu bak kaki kuda yang lagi berjalan.
Amih Iah pun lalu berjalan menuju jalan raya desa dan mencari-cari tukang ojek, namun mendadak tukang ojek sepi mungkin lagi menarik penumpag ke tempat lain.
"Kurang ajar tu anak, awas saja nanti aku bikin perhitungan," gumam Amih Iah.
Namun perhitungan yang dimaksud bukan akan memecat Mang Koyod karena pasti suaminya, Pak Soleh takkan mengizinkan. Kalau tadi Amih Iah mengatakan akan memecat Mang Koyod, itu sekadar gertakan.
Lagian Pak Soleh takkan mau menerima jika Amih Iah mengadu kepadanya tentang apa yang barusan dilakukan.
Ya, apa yang dilakukannya kepada ibunya Kosim Mak Tiah dan tetangganya, lalu ke Bi Icih dan anaknya si Fitri barusan jika dilaporkan kepada Pak Haji Soleh tentunya dia bakal dimarahi habis-habisan alih-alih mendapat dukungan.
Heran saja Amih Iah mengapa suaminya lebih memilih dan membela orang lain daripada dirinya sebagai istri.
Istri yang telah memberikan 3 orang anak, istri yang begitu setia mendampingi, serta istri yang bercita-cita luhur ingin membahagiakan anak-anaknya, termasuk anak bungsunya, Yani.
"Aku harus mencari cara lain guna mengetahui di mana keberadaan Yani dan si Kosim. Firasatku keduanya masih ada di kampung sekitar sini," gumam Amih Iah lagi.
(Bersambung)