NovelToon NovelToon
Sistem Reinkarnasi Lucia

Sistem Reinkarnasi Lucia

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Crazy Rich/Konglomerat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Masuk ke dalam novel / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Chicklit
Popularitas:104k
Nilai: 5
Nama Author: Indirani

🏆 Juaranya 2 Lomba Tema Chiklit - Wanita Kuat S3

Aku Lucia. Seorang agent peringkat SSS di sebuah organisasi yang mengembangkan Sistem Reinkarnasi dunia modern di masa depan.

Masalah muncul pada dunia kecil yang terus bermunculan akibat manusia terus membuat novel dan komik.

Aku sebagai salah satu agent menjalankan reinkarnasi dan memainkan peran untuk mengubah isi novel atau komik karena permintaan dan ketidakpuasan pemeran pendukung pada bagian akhir cerita.

Aku bersama Momo si pendamping sistem menjelajahi berbagai dunia kecil dan dengan cepat meraih peringkat tinggi di organisasi.

"Nona, ada misi lagi. Wah, hadiahnya besar sekali kalau bisa menyelesaikan dengan peringkat sss."
Aku mendorong Momo ke pinggir hingga dia terjatuh karena kucing gemuk itu menutupi layar.

"Menjelajahi dunia kecil dan membersihkan sampah-sampah ini. Misi yang begitu mudah dengan hadiah yang besar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Suara angin mengantarkan dedaunan terbang di hari yang cerah. Dedaunan itu berayun lembut dan jatuh pada sosok berambut hitam diikat ke belakang itu yang sedang mengayunkan pedang dengan semangat.

Bulir keringat membasahi keningnya berjatuhan ke tanah. "Nona, aku menyerah." Pria yang agak dewasa itu mengaku kalah saat pedang Lucia berada di leher dekat urat nadinya.

Lucia menarik pedangnya dan menaruh benda tajam itu ke sarung pedang. Tatapan Lucia beralih pada Lion. Dia bertanya, "bagaimana?"

Lion mencatat sesuatu di kertas yang dia bawa dan berkata, "Selanjutnya." Lucia menatap tajam ke arah lawan di depannya yang sudah berganti orang.

Pria di depannya berkata dengan nada agak mengejek. "Nona, kelihatan sudah lelah. Aku adalah lawanmu yang ke 30. Kalau Nona ingin istirahat, kita bisa melanjutkannya setelah Nona tidak terlalu letih."

Pedang di tangan Lucia mengarah ke wajah pria itu. "Tidak perlu, dengan stamina seperti ini pun aku bisa mengalahkanmu," ujar Lucia dengan nada sedikit sombong. Sebenarnya bahkan jika dia menghadapi 1000 orang sekaligus atau bergantian, stamina Lucia hanya akan berkurang sedikit.

Mereka tidak pernah tahu bahwa di alam lain Lucia berlatih keras bahkan harus menghadapi ratusan monster sekaligus. Dia terlihat kelelahan hanya untuk menipu mata mereka semua.

Tidakah mereka akan heran jika Lucia tidak terlihat kelelahan sedikit pun saat bertarung? Pertanyaan dari Lion dan Duke pasti akan lebih banyak membuat kepalanya pusing.

Pria di depannya semakin bersemangat. "Baiklah, Nona. Saya tidak akan mengalah sedikit pun pada anda." Pria itu maju dan menyerang Lucia dengan pedangnya. Lucia menghindar tepat saat pedang itu hampir mengenainya.

Beberapa penonton yang semuanya terdiri dari Prajurit merasa adrenalin mereka terbakar melihat semua pertarungan Lucia. Awalnya mereka tidak percaya bahwa putri bungsu Duke sehebat ini.

Selama ini mereka hanya mengenal Tuan Muda Lion, Edith, atau Danny. Mereka tidak pernah mendengar dan tahu kalau Tuan Muda memiliki adik bungsu perempuan yang tidak hanya kecantikannya menggoncang hati mereka tapi juga kemampuan yang sangat luar biasa.

Saat itu mereka semua skeptis dengan Prajurit Khusus ke 123 yang menceritakan Nona Lucia. Tapi seiring berjalannya waktu prajurit-prajurit yang lainnya mulai mengatakan hal yang sama.

Mereka tidak hanya bertarung dengan Lion. Terkadang mereka juga akan bertarung dengan Nona Lucia. Tuan Muda Lion berkata akan melatih Lucia dengan cara bertarung melawan puluhan prajurit setiap harinya. Siapa lagi kalau bukan Prajurit Khusus yang datang setiap hari untuk mengevaluasi diri.

Awalnya mereka meremehkan Lucia yang terlihat lemah dan kecil. Anak perempuan usia 14 tahun menjadi lawan Prajurit Khusus yang sudah berlatih bertahun-tahun. Tapi saat mereka merasakan pukulan pedang dari Lucia barulah mereka sadar ternyata kemampuan Lucia hampir menyamai Tuan Lion.

Prang!

Pedang di tangan pria itu terjatuh dan patah karena ayunan tajam pedang milik Lucia. Pria itu terheran-heran dan syok. Dia dikalahkan oleh anak berusia 14 tahun. Pukulan pada mental pria itu sangat kuat hingga Lucia menarik tangan pria itu.

"Jangan kecewa. Aku adalah keturunan Lamboerge. Apakah ada keturunan Lamboerge yang tidak ahli ilmu pedang? Kemampuan ini adalah keturunan. Tapi aku juga berlatih dengan pelatihan neraka dari Tuan Lion. Lain waktu kita bertarung lagi dan melihat siapa yang akan keluar sebagai pemenang."

Pria yang kini telah berdiri karena uluran tangan Lucia itu matanya berkaca-kaca dan dia mengucapkan terima kasih karena telah pertarungan hebat itu yang tidak akan dia lupakan seumur hidup.

Semua Prajurit bersorak-sorai dengan kemenangan Lucia. Tatapan kagum juga memenuhi mata Edith dan Danny yang sedari tadi melihat adiknya bertarung. Dawson pun tidak pernah absen untuk melihat pertarungan Lucia bersama Prajurit Khusus. Pertarungan itu membuat dia banyak belajar mengenai pedang dan cara menggunakannya dengan Efisien. Ini semua berkat Lucia.

Tanpa istirahat Lucia mengalahkan semua Prajurit Khusus yang mengambil Evaluasi hari ini. Edith dan Danny entah pergi kemana karena urusan masing-masing. Dawson sedang bersama Prajurit lainnya membantu mereka memulihkan diri saat ada yang terluka.

Hanya tersisa Lucia dan Lion di sana. Sebuah bangku panjang berwarna putih menjadi tempat Lucia untuk bersandar sementara dari kelelahan. Sebuah botol berisi air mineral muncul di depan wajahnya.

Lucia mengambilnya dan melihat bahwa Lion yang memberikan. Lion pun duduk di sebelah Lucia dan memandang langit yang kini semakin menggelap.

Lucia meneguk cepat dan hampir menghabiskan air dalam botol tersebut. "Aku membencimu, Lucia." Perkataan yang tiba-tiba itu membuat Lucia kaget dan dia tersedak. Ada beberapa air yang masuk ke hidung dan tenggorokannyatenggorokannya membuat Lucia terbatuk-batuk.

"Uhuk, uhuk, uhuk." Lion membantu Lucia dengan menepuk pelan pundaknya. "Apa kau sudah gila? Bicara yang aneh-aneh dan mendadak saat orang lain minum."

Lion mendesah dan meminta maaf pada Lucia. "Kenapa kau bicara mendadak seperti tadi? Mengagetkan saja," tanya Lucia setelah batuknya hilang.

Lion menatap kembali langit yang telah dihiasi bulan dan bintang yang bertebaran. "Aku membencimu."

"Semua orang di Kediaman Lamboerge membencimu. Kehadiranmu membuat kami kehilangan orang yang paling kami cintai. Ibu sangat menantikan kehadiranmu. Dia berkata bahwa putri kecil dalam kandungannya akan membawa kebahagian bagi Kediaman Lamboerge."

"Dia juga mengatakan bahwa kami harus menjaga dan menyayangi adik kami dengan baik. Semula keadaan baik-baik saja hingga ibu akan melahirkan. Dia bertaruh dengan nyawanya saat melahirkanmu. Dokter bilang ibu hampir tidak selamat, tapi akhirnya kau lahir juga."

"Aku bersyukur ibu masih membuka matanya saat kami tiba di sana. Dia masih sempat menyusuimu walau badannya dalam keadaan lemah."

"Dia kemudian menitipkan bayinya pada perawat dan bicara pada kami berempat. Dia berkata merasa tidak sanggup lagi dan ingin menutup mata. Dia berpesan pada kami untuk merawatmu dengan baik dan jangan membencimu."

"Ibu menutup mata dalam damai di pelukan ayah. Saat aku memeriksa nadinya, tidak ada lagi denyutan di sana. Aku memeriksa hidung ibu juga tak ada lagi hembusan napas."

"Saat itu aku merasa seluruh hidupku hancur karena ibu telah pergi ke tempat yang sangat jauh. Aku tau aku tidak akan lagi bertemu ibu untuk selamanya."

"Ayah berteriak dengan sangat kencang hingga membuat adik-adikku yang masih kecil menangis. Aku melihat suara tangisanmu yang juga kencang. Ingin sekali aku mengambil pedang dan menusukmu. Aku beranggapan bahwa kau lah penyebab meninggalnya ibuku."

"Tapi aku masih ingat pesan ibu ku untuk tidak membencimu. Aku pikir kebencianku besar, ternyata milik ayah lebih besar lagi. Dia menatap tubuhmu yang kecil dengan sorot mata kebencian. Dia memerintahkan perawat itu untuk mengasuhmu dan menempatkanmu pada sebuah istana yang tidak layak."

"Tidak pernah sekali pun ayah, aku dan lainnya untuk melihatmu. Kami hanya mendengar kau sering di intimidasi. Aku tidak mau menolongmu karena kebencian dari hatiku. Begitu juga ayah."

"Beberapa kali Edith dan Danny membantu tanpa sepengetahuanmu tapi mereka dihukum oleh ayah. Dan setelah mereka tahu bahwa kau penyebab kematian ibu. Mereka tidak lagi pernah membantumu."

Lucia menatap Lion datar sehingga Lion pun tidak tahu apa yang Lucia pikirkan. "Lalu kenapa kau angkat suara saat kepala dayang Retta dan keluarganya berbuat hal keji?"

Lion menatap Lucia dan berkata seolah-olah itu hal biasa. "Itu karena kau telah menyebabkan kegemparan di seluruh kediaman. Jika Retta dan keluarganya tidak dihukum maka akan mempermalukan Kediaman Lamboerge."

"Jadi meskipun aku diperkosa dan aku diam padahal kalian tahu semuanya. Kalian tidak akan bertindak apa-apa?" Lion terdiam cukup lama dan itu sudah jadi jawaban yang cukup untuk Lucia.

Tanpa terasa buliran air mata menetes ke tanah. Denyut rasa sakit menyerang dada Lion. Tangisan tanpa isak milik Lucia baru kali itu membuatnya terenyuh. "Lucia yang sebelumnya sudah mati. Betapa malang dan sedihnya dia saat mendengar ini semua."

Lion menarik Lucia kepelukannya. "Maafkan aku Lucia jangan menangis lagi." Lucia melepaskan pelukan Lion dan berdiri untuk meninggalkan area latihan tersebut. Kata-kata terakhirnya membuat Lion merasa sangat terpukul.

"Lucia sudah mati. Jangan berharap dia akan kembali. Kau tidak pantas menjadi kakakku. Kalian tidak pantas menjadi keluargaku."

Sejak saat itu Lucia tidak pernah muncul lagi untuk berlatih dengan Prajurit Khusus. Prajurit-prajurit yang lainnya harus berlapang dada karena tak bisa bertarung dengan Lucia.

Lucia mulai jarang bertemu dengan kakak-kakaknya. Dia lebih sibuk pada urusan di Restoran Bintang dan lebih banyak beristirahat di Villa.

Seringkali dia tidak pulang ke istana Jasmine dan menghabiskan lebih banyak waktu di Villa.

"Kenapa seperti ini Nona? Nona harus menyelesaikan cerita dan mendapat peringkat sss kalau tidak peringkat Nona akan turun."

"Momo, aku jadi ingat kisahku sendiri. Ijinkan aku untuk beristirahat sebentar."

1
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
ingat Lucia pria itu Oyen🤣🤣🤣
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
kaya mendadak🤣🤣
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
wah² apa kh itu jodohnya Su Lu Xia🤭🤭🤭
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
Selir pencuri🤭🤭
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
selir yg licik
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
cerita baru pula
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
Sedihnya😭😭😭
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
hebat
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
bgus klau d hukum penggal terus😌
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
kakaknya Lois paling begok.. knp ngak diam saja😌
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
kejahatan Ayah Lucia lagi teruk, selama 14thn d abaikn smpai Lucia asli meninggoi, Ayahnya memang ngak layak d maafkn..
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
sedihnya wajar sekali klau Lucia marah, mereka tau semua kejadian apa lagi saat hampir d perkosa, dan mereka buat tidak tau saja 😣😣😣
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
aduiii kenapa bisa Thor kesian anat Emilia, kenapa ngak yg lain aja😣😣😣
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
lucu pula nama kluarga Lee🤭🤭🤭sdh lucu licik lagi.
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
hebat
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
mesti c Sok cantik kegatalan tu😤
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
ceh percaya diri sungguh
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
🤣🤣🤣🤣Momo pengkhianat🤣🤣🤣🤣
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
Lois jgn terlalu benci adik mu🤭
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
sepatutnya bgi Misi bagi Duke menderita ck ck 😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!