Latizia adalah wanita yang bersuami. Parasnya yang cantik dan nyaris sempurna melekat tapi tak bisa merubah kenyataan rumah tangganya.
Ia harus menerima kepahitan saat melihat suaminya bercinta dengan wanita lain di kamarnya sendiri.
Tibalah suatu malam Latizia tak sengaja menyaksikan hubungan panas kakak iparnya bersama istri pria itu.
"Kau pasti juga ingin merasakannya, bukan?!" Desis sesosok pria bertubuh kekar tinggi yang tengah membekapnya dalam kegelapan.
Sejak saat itu Latizia terlibat hubungan terlarang dengan kakak iparnya yang bahkan lebih bengis dari sang suami. Pria itu menekankan jika hubungan mereka hanya sekedar saling memuaskan dan terlepas dari masalah apapun, pria itu tak ingin ikut campur.
Bagaimana nasib Latizia selanjutnya?! Mampukah ia terus bertahan dengan hubungan terlarang dirinya dengan pria bangsawan itu?!
......
Tinggalin like, komen and subscribe-nya ya say..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerajaan Madison sangat kejam
Pagi ini kakek Teans datang ke penginapan Latizia bersama Zehen. Mereka sudah di sambut oleh Darren di depan penginapan seraya memperhatikan apa pria tua itu membawa orang lain atau tidak.
"Tenang saja! Aku datang hanya dengan muridku!" Ujar kakek Teans pada Darren yang segera membuka pintu mempersilahkan mereka masuk.
Zehen mengamati tempat ini. Mereka di arahkan duduk di kursi ruang tamu dimana sudah di suguhkan air teh oleh seorang wanita tua yang segera pergi ke belakang.
"Dimana putri Latizia?"
"Dia akan segera datang. Kalian duduklah dulu!" Jawab Darren yang di turuti kakek Teans.
Zehan berdiri di belakangnya dengan tatapan waspada. Pria muda berpedang itu siaga saat ada yang datang dari arah pintu masuk ruang tamu.
"Pria itu," Gumamnya saat melihat Milano yang datang dengan wajah tampan tanpa ekspresi berlebih.
Ia duduk di kursi singel berhadapan dengan kakek Teans yang tampak tenang.
"Tuan! Sesuai ucapanmu semalam. Aku datang untuk menemui putri!"
"Hm, dia akan datang!" Jawab Milano santai. Ia mengeluarkan bungkusan rokok di sakunya lalu merokok dengan tenang tanpa ada rasa sopan sama sekali.
Satu kakinya bertopang tindih dengan gestur arogan yang hanya dia yang memilikinya. Zehen yang melihat itu di buat naik pitam tapi, kakek Teans seperti memaklumi sikap semena-mena Milano.
"Kakek!"
Suara ceria nan lembut datang dari arah kemunculan Milano tadi. Kakek Teans sontak berdiri dengan tatapan penuh rindu pada Latizia yang tampak senang mendekat ke sini.
"Putri!"
"Kek! Akhirnya aku bisa bertemu denganmu," Ucap Latizia tak segan memeluk kakek Teans yang juga membalasnya.
Hubungan keduanya seperti ayah dan anak. Latizia sangat menyayangi kakek Teans terbukti dengan wajah cantik wanita itu berbinar dan penuh haru.
"Kek! Aku sangat merindukanmu. Kau apa kabar? Sudah lama kita tak bertemu."
"Putri! Justru aku yang sangat ingin menemui-mu. Aku begitu khawatir jika terjadi sesuatu hal yang buruk padamu. Tak ku sangka kau sudah tumbuh secantik ini," Decah kakek Teans mengusap kepala Latizia yang tak berhenti mengembangkan senyuman.
Tatapan manik ungu mistiknya beralih pada Zehan yang tampak mematung. Pria itu termenung kosong menatap wajah cantik Latizia memang sangat khas dan penuh pesona.
"Ini.."
"Dia Zehan. Kau kenal-kan?" Tanya kakek Teans menepuk bahu Zehan memperkenalkannya pada Latizia yang diam sejenak tapi segera ingat.
"Ouhh..kau Zehan anak yang dulu di perintahkan menjagaku oleh ayah, bukan?"
"I..iya putri!" Jawab Zehan gugup dan bersemu saat Latizia begitu ramah padanya. Wanita itu sama sekali tak berubah, bahkan kecantikannya membuat Zehan pangling tak terkira.
Saat Latizia ingin menjulur-kan tangannya untuk lebih dekat tiba-tiba tangan kekar Milano langsung menariknya agak kuat hingga terduduk di kursi di samping pria itu.
"Milano!!" Tegur Latizia karna terlalu tak sopan.
"Waktuku tak banyak. Jika ingin bicara, maka cepat!" Tegas Milano dengan hawa tak bersahabat.
Kakek Teans mengambil nafas dalam kembali duduk di tempatnya sementara Zehen merasa muak dengan sikap dan tempramen Milano yang buruk.
"Putri! Kenapa kau bisa datang jauh-jauh ke sini?"
"Kek! Aku butuh bantuan mu untuk menyembuhkan seseorang," Jawab Latizia mulai pada tujuan mereka.
Milano diam. Sedari tadi ia menguarkan hawa membunuh pada Zehan tak melepas pandangannya dari wajah cantik Latizia.
Namun, wanita itu seperti tak peduli dan terus bicara menari-nari di atas kesabaran Milano yang sangat tipis.
"Dia mengalami kelumpuhan sejak umur 7 tahun. Ada masalah pada tulang belakang dan sumsumnya jadi, apa kakek bisa membantu?"
"Ini bukan penyakit sejak lahir-kan?" Tanya kakek Teans menimbang-nimbang.
"Tidak kek. Hanya saja dia sudah sering berobat tapi tak ada kemajuan. Mungkin agak sulit!"
Kakek Teans mangut-mangut mengerti. Ia sudah terbayang apa saja yang harus di lakukan untuk memeriksa pasiennya kali ini.
"Untuk lebih jelas, aku harus memeriksanya secara langsung."
"Iya kek, kalau kau bersedia ikut kami turun gunung maka, kau pasti akan di bayar mahal oleh seseorang!" Jawab Latizia melirik Milano dari ekor netra cantiknya.
Milano yang merasa di sindir segera memandang tajam Latizia dengan malas. Keduanya terlihat tak berhubungan begitu baik membuat Zehan lega karna Latizia tak begitu dekat dengan brandal satu ini.
"Putri! Ada yang ingin aku tanyakan padamu!"
"Apa? Kek!" Jawab Latizia merasa wajah serius kakek Teans terlalu mendebarkan.
"Apa kau tahu, kalau kerajaan Garalden sudah di bantai habis oleh Madison?"
Degg..
Sontak Latizia terkejut. Ia beralih menatap wajah datar Milano yang tak bisa menutupi hal ini terlalu lama.
"M..maksudnya?"
"Putri! Setelah kabar kematian raja dan ratu karna wabah saat itu, tiba-tiba saja orang-orang dari Madison datang dan membantai seluruh rakyat bahkan membakar kerajaanmu!"
"Apaa???" Syok Latizia dengan tatapan mata melebar dan berair. Kedua tangannya mulai terasa dingin bahkan jantung Latizia berdebar tak tentu arah.
Merasakan jika batin Latizia terguncang, Milano langsung mengambil tindakan. Ia letakan puntung rokoknya di atas meja lalu mulai serius.
"Itu benar. Dan perlu kau ketahui jika yang membunuh kedua orangtuamu saat itu bukanlah wabah."
Mata Latizia berkaca-kaca. Tatapan yang penuh luka dan kekecewaan terdampar di netra ungunya sampai dada Latizia terasa sangat sakit.
"Saat itu aku tahu rencana besar Raja Barack ingin menikahkan Delvin dengan putri kerajaan besar hanya untuk mengambil alih kekuasaan. Tapi, tak ku sangka itu kau. Mereka membuat konspirasi besar-besaran."
"T..tidak..kau..kau salah, ha..hari itu dia bilang padaku kalau kedua orangtua-ku mereka... Milano, katakan itu.."
"Putri! Yang dia katakan semuanya benar!" Sela kakek Teans membuat Latizia berpeggangan ke lengan kursi berusaha menopang tubuhnya yang lemas.
Air mata Latizia lolos, ia ingat hari itu Delvin datang mengatakan jika kerajaanya dilanda wabah penyakit hingga kedua orang tuanya meninggal dunia. Kesedihan yang terasa masih amat sangat kental membuat Latizia linglung sesaat.
"Aku sudah menyelidiki wabah itu. Sebenarnya itu bukan wabah biasa melainkan racun yang bisa merusak sistem pernafasan dan bisa menghentikan aliran darah ke otak. Itu karenanya tubuh Yang Mulia saat itu di penuhi memar biru."
Latizia lemas. Air matanya terus menetes dengan wajah yang pucat dan mata menunjukan kekacauan.
"I..Ibu.. m..mereka.."
"Kedua orang tuamu perlu keadilan!" Tegas Milano beralih menggenggam tangan dingin Latizia yang tak bisa berkata-kata.
Ia menggeleng seperti tak terima orang-orang yang ia cintai mati dengan mengenaskan tanpa ia ketahui selama ini.
"Nona!"
Lirih Darren saat Latizia berusaha berdiri walau ia tampak tak kuat. Milano membiarkan Latizia pergi kembali ke kamar karna pasti dia tengah sangat kacau dan terluka.
"Putri sangat tertekan. Dia begitu menyayangi kedua orang tua dan tanah airnya. Orang-orang Madison memang sangat kejam!" Geram Zehen mengepalkan tangannya erat dan wajah mendidih marah.
Kakek Teans hanya bisa diam menatap sendu kepergian Latizia.
"Tuan! Terus dampingi putri. Dia pasti sangat terluka!"
"Mau tak mau dia harus menerima kenyataan," Jawab Milano yang merasakan kesedihan Latizia. Ia juga pernah di posisi itu dan rasanya seperti di khianati seluruh dunia.
"Baiklah. Aku akan menyiapkan semua bahan obat untuk turun gunung. Kita harus pergi sebelum banyak orang yang tahu keberadaan, Putri!"
"Hm, tentukan waktu yang baik," Gumam Milano berdiri dan pergi menyusul Latizia.
Darren mengantar kakek Teans keluar bersama Zehan yang sebenarnya ingin sekali menenangkan Latizia tapi kondisinya tak tepat.
......
Latizia yang ada di dalam kamar sana hanya diam menangis di dalam selimut menjadi kebiasaan yang sering ia lakukan.
Suara isakannya dapat di dengar oleh Milano yang membuka pintu kamar dengan pelan.
Ia tak tahu harus apa, tak ada bakat menghibur kesedihan seseorang sama sekali bahkan, ia hanya bisa melampiaskan segalanya dengan membuat keributan.
"Ehmm!" Dehem Milano bersandar di ambang pintu.
"Pergiii!!! Kalian orang-orang Madison memang sangat jahat, hiks! Apa salahku pada kalian, ha??? Apaa??" Teriak Latizia melempar Milano dengan bantal di sampingnya.
Matanya sembab dan berair. Milano sangat mengerti jika sekarang Latizia menyalahkan dirinya sendiri dan yang berkaitan dengan kerajaan Madison.
"Kalian..kalian membunuh orang tuaku!! Jika..jika bukan karna mereka aku tak akan setuju menikah!!! Aku tak pernah mau menikah!!! Hiks, aku..aku tak pernah mau," Isak Latizia tampak kacau melempar apapun yang ada di sekitarnya ke arah Milano yang membiarkan itu.
Di rasa Latizia tak punya tenaga lagi, barulah ia mendekat duduk di tepi ranjang.
"I..Ibu! Maaf, maafkan aku!" Lirih Latizia membekap wajahnya sendiri.
Milano menarik Latizia ke pelukannya. Ia hanya bisa melakukan apa yang biasa kakaknya lakukan ketika kecil padanya.
"M..Milano! K..kenapa? Kenapa mereka sangat kejam, hiks?! D...Delvin aku..AKU MEMBENCINYA!!! DIA YANG SELAMA INI MEMBOHONGIKU!!!" Teriak Latizia memaki Delvin yang sudah berulang kali menyakitinya.
"Dia..dia bersama wanita lain di depan mataku aku..aku diam. Aku tak pernah berniat mencelakainya, tidak pernah hiks! Tidak pernah!" Isak Latizia mencengkram punggung Milano yang membiarkan Latizia menangis di dadanya.
"A..aku bahkan tak datang ke pemakaman mereka, aku putri yang buruk, hiks!"
Kedua tangannya mengepal erat dengan wajah kelap dan mendidih. Tangisan Latizia membuat kebenciannya pada orang-orang sialan itu semakin terasa pekat.
"Tunggu saja. Aku bersumpah akan membalas berkali-kali lipat dari ini," Batin Milano tak akan melepaskan para tikus kerajaan itu.
....
Vote and like sayang..
kak Frank aduh dia yg kegirangan
sukses untuk mu thorr