Dilarang spam promo di sini!
Warning! Banyak tindak kekerasan, penuh masalah moral. Harap ditanggapi dengan bijak!
Tahap Revisi!
Genre : Dystopia, High Fantasy, Romance, Action, Mystery, Psychology, Adventure.
Sakura, gadis yatim piatu berotak cerdas, yang selama hidupnya dibesarkan di sebuah Panti Asuhan.
Karena sebuah tragedi, ia dilahirkan kembali menjadi seorang Putri di Negeri Asing. Negeri di mana, seorang perempuan berusia empat tahun akan dipaksa bertunangan dengan seorang asing, lalu saat perempuan tersebut menginjak tujuh belas tahun ... Dia akan dieksekusi jika laki-laki yang menjadi tunangannya itu, menolak mentah-mentah dirinya.
Tak ada kebebasan untuk perempuan, yang ada hanyalah ... Hukum mutlak jika hanya laki-laki yang berkuasa, perempuan tak lebih berharga dari seekor hewan.
Ini kisah Sakura, yang berjuang untuk mendapatkan keadilan. Ini kisahnya, kisah yang akan membawamu ke sisi paling kelam kehidupan.
Semangat, cinta kasih, haru biru, memenuhi perjuangannya di dalam kisah ini. Perjuangan, yang akan membawa nasib perempuan untuk kedepannya.
2 chapter, up daily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FufuHima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter XXV
Berjalan aku kembali ke arah warga yang tengah fokus mengolah Jeruk di ikuti Tsubaru yang berjalan di belakangku...
"Apa kulit Jeruknya sudah selesai kalian rebus?" tukasku seraya menuju para warga yang tengah mengolah kulit Jeruk
"Hampir selesai, Putri." Ucap salah satu mereka yang tengah meniupkan udara ke api yang ada di depannya
"Kalau kulitnya sudah selesai kalian rebus, tiriskan sebentar. Lalu balurkan kulit Jeruk yang masih setengah hangat itu ke gula sampai seluruh permukaannya tertutupi gula. Jika sudah selesai, simpan kulit Jeruk yang sudah kalian balurkan gula tadi sekitar satu atau dua hari. Baru permen kulit Jeruknya bisa di konsumsi..." ucapku seraya menatap mereka
"Baik, Putri. Akan kami laksanakan sesuai perintahmu..." ungkap mereka satu persatu
"Aku tahu, aku bisa mengandalkan kalian..." tukasku berbalik seraya berjalan menjauh
"Putri.." suara seorang Perempuan memanggil dari arah belakangku
"Ada apa? Apa ada hal yang ingin kalian tanyakan?" ucapku seraya berbalik
"Tidak... itu..." ungkap mereka tertahan
"Terima kasih untuk Jeruk koramel nya, Putri" ungkap salah satu warga seraya tertunduk
"Itu disebut karamel bukan koramel..."
"Aku sangat senang jika kalian sangat menyukainya." Sambungku seraya menatap dan tersenyum ke arah mereka
Kulangkahkan kembali kakiku menuju warga lainnya yang tengah fokus membuat orange marmalade, berdiri aku di samping salah satu mereka yang tengah mengaduk-aduk rebusan Jeruk...
"Kalian harus terus mengaduknya hingga Jeruknya mengental. Kalau sudah, kalian tuangkan selai Jeruk ini ke dalam botol kaca yang sudah kalian masak tadi. Setelah tidak terlalu panas lagi, kalian tutup rapat botol kaca berisi orange marmalade itu dan simpan terlebih dahulu beberapa hari baru bisa kalian konsumsi atau jual." Ucapku seraya menatap mereka
"Baik, Putri" tukas mereka serempak
_____________
Malam pun menyelimuti kami, semua pekerjaan melelahkan siang tadi telah selesai, kami hanya perlu menunggu hasil akhirnya...
Para warga tampak saling bercengkrama satu sama lain di hadapan kami dengan sebuah roti kukus yang di masak para perempuan di tangan-tangan mereka...
"Aku haus sekali." bathinku seraya meneguk air ludahku yang hampir tak tersisa
Kuperhatikan anak-anak desa yang tengah membasuh tubuh mereka di pinggir sumur, bahkan salah satu dari mereka ada yang langsung meminum airnya tanpa dimasak...
"Apa kau haus? Haruskah aku menangis supaya adikku bisa meminum air mataku?" ucap Haruki seraya meletakkan lengan kanannya di atas kepalaku
"Kau haus, Tupai? Haruskah aku berlari dan mengeluarkan keringat untuk kau minum?" lanjut Izumi yang wajahnya tiba-tiba muncul di hadapanku
"Aahh sialan, entah kenapa aku ingin sekali meracuni mereka..." bathinku seraya menatap Izumi
"Aku hanya tidak tahu harus berkata apa, nii-chan. Aku tidak bisa membayangkan beberapa kali mereka harus membangun semangat mereka sendiri untuk bisa bertahan hidup" ucapku pelan kepada mereka berdua
"Barang-barang yang kau pinta pagi tadi akan kau gunakan untuk apa?" ucap Haruki seraya menurunkan lengannya dari kepalaku
"Membuat saringan air bersih, supaya mereka semua bisa mengonsumsi air yang lebih layak." jawabku singkat
"Apa itu mungkin?" kembali Haruki menatapku, kali ini tatapan nya terlihat lebih serius
"Tentu. Kita bisa membuat karbon aktif dari batok kelapa yang dibakar di ruang tertutup. Karbon aktif sendiri berfungsi untuk proses penjernihan dan pemunian air, dengan begitu para warga akan mendapatkan air yang sedikit layak untuk mereka konsumsi."
"Karbon aktif juga bisa digunakan untuk mengubah air laut yang asin menjadi tawar. Tidak hanya itu, karbon aktif juga berfungsi untuk bahan-bahan kecantikan maupun pengobatan. Sebuah produk yang sangat sempurna bukan?" ucapku seraya menatap kosong ke depan
"Aku tidak paham apa yang sedang kalian bicarakan" ucap Izumi seraya mengarahkan pandangan nya ke atas
"Kau tidak harus memahami semuanya.." sambung Haruki seraya melakukan hal yang sama
"Tubuh digunakan untuk membawa otak, akan tetapi hati lah yang menuntun otak itu sendiri..."
"Hanya, jadilah dirimu sendiri, Izumi. Jadilah adik laki-laki ku yang polos nan bodoh seperti biasanya..." sambung Haruki
"Aku benar-benar tidak tahu, harus membunuhmu atau memelukmu sekarang..." jawab Izumi seraya menurunkan pandangannya
"Hahaha aku sangat merasa terharu akan perkataan mu tadi, Izumi.." tukas Haruki seraya tertawa kecil
"Karena ibu kalian, menitipkan kalian berdua langsung kepadaku..." ucap Haruki seraya tertunduk
"Aku selalu menghabiskan waktuku dengan mereka selama mereka mengandung kalian berdua. Mereka sudah seperti ibuku sendiri..." ungkap Haruki tertahan
"Ketika kecil, aku sering sakit-sakitan. Mereka berdua lah yang telah merawatku, mereka membacakanku dongeng bahkan menyanyikan ku lagu sebelum tidur..."
"Kau tahu bagaimana bahagia nya wajah ibumu ketika kau lahir, Izumi. Aku masih sangat mengingatnya, begitupun dengan ibumu Sa-chan, aku masih sangat jelas mengingat senyuman hangatnya..."
"Saat aku mendengar kabar kematian mereka, aku sangat membenci Ayah. Aku sangat ingin membunuhnya saat aku besar nanti, itulah yang dulu selalu aku pikirkan..."
"Akan tetapi, saat aku mengetahui apa yang Ayah rasakan, aku sama sekali tidak bisa membencinya. Aku ingin melindungi apa yang sangat ingin ia lindungi.."
"Aku berharap dia akan tumbuh baik untuk mendukungmu, Haru-chan. Kalian harus saling mendukung satu sama lain sebagai saudara. Itulah kata-kata terakhir yang aku dengar dari mereka..." ucap Haruki seraya menitikkan air mata
"Karena itulah, aku berusaha mati-matian melatih tubuhku untuk lebih kuat. Aku bangun lebih awal dari siapapun untuk tumbuh kuat, untuk melindungi janji yang aku buat pada mereka..."
"Kau mempunyai mata seperti ibumu, Izumi. dan wajahmu sangat mirip dengan ibumu, Sa-chan" tukas Haruki menatap kami dengan mata memerah
"Karena itulah, saat aku melihat kalian berdua, aku langsung teringat pada mereka berdua..."
"Maaf, aku tidak bisa melindungi ibu kalian. Tapi mereka juga sudah seperti ibuku sendiri..." ungkap Haruki terisak
"Aku tidak bisa membayangkan, jika aku harus kehilangan kalian berdua. Kumohon Sachi, bertahan hiduplah selama mungkin untuk kakakmu ini. Dan untukmu Izumi, kumohon jangan membenci kakakmu ini..."
"Kau bodoh..." ucap Izumi dengan suara bergetar
"Aku sekalipun tidak pernah peduli akan takhta ataupun kekuasaan. Aku hanya ingin bersama keluarga ku. Aku bisa bertahan selama ini, itu karena aku mempunyai kalian. Aku tidak pernah membencimu, satu kali pun tidak pernah..." ucap Izumi terisak
"Apa yang harus aku lakukan pada kalian berdua..." ucapku yang ikutan menangis
"Akupun ingin selalu bersama kalian. Karena itu nii-chan, bantu aku untuk bertahan hidup lebih lama"
skrg malah baper bgeettttt
"aku membuat puding untuk kakak ku yang pecemburu"
haiii,aku d 2025