" Aku mencintaimu, Adibah." Reza.
" Stop mengatakan cinta padaku, Reza. Kamu itu adalah suami adikku!" Adiba.
Aisyah tanpa sengaja mendengar pernyataan yang sangat begitu amat menyakitkan hatinya mendengar suaminya menyatakan cinta kepada kakaknya sendiri.
lalu bagaimana dengan perasaan Aisyah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
" Emmm, apa itu artinya malam ini kamu bakalan minta jatah?"
" Eh ...?" Reza tertegun mendengar perkataan Aisyah yang asal ceplos tanpa pikir panjang itu. Bahkan pisau yang dia pegang sampai terjatuh ke lantai sangking tak percayanya. Bahkan dirinya saja belum sampai memikirkan kearah sana, tetapi istri itu sudah mengajukan pertanyaan pasal meminta jatah alias hak-nya sebagai seorang suami.
" Ya Allah, Mas. Kamu gak apa-apa?" Aisyah khawatir, dia meraih tangan Reza dan melihat memastikan jika tidak ada luka disana.
" Aku nggak apa-apa, Aisyah. Tapi ... Kenapa kamu menanyakan hal itu?" Tanya Reza menatap lekat wajah istrinya, apakah wanita ini sudah lama menunggu momen itu yang telah ia abaikan melakukan ibadah hubungan suami istri tersebut.
" Kenapa? Apa ada yang salah?" Tanyanya balik. Seharusnya tidak ada masalah dari pertanyaan itu kan? Tetapi melihat reaksi Reza, Aisyah paham.
" Oke, aku tidak akan menanyakan hal itu lagi. Maaf kalau sudah membuatmu terkejut. Kamu boleh melanjutkan masak nya, aku mau ganti baju dulu." Aisyah memaksakan senyumnya, dia memang sangat pandai menyembunyikan kekecewaannya.
Perlahan Aisyah melangkah meninggalkan Reza yang mematung dalam kebungkaman. Wanita itu masuk ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di kasur. Aisyah menatap langit-langit kamarnya dan tersenyum miris sambil menutup kedua matanya.
" Apa yang sudah aku lakukan. Tentu saja mas Reza terkejut, dia baru saja mulai mencintai ku. Bodoh!" Aisyah mengerutuki kebodohannya.
" Ah, seharusnya aku tidak langsung memintanya, pasti mas Reza berpikir aku tidak sabaran untuk itu, aaaakkh ..." Aisyah frustasi. Dia tidak tahu dengan wajah apa nantinya saat berhadapan dengan Reza.
" Tapi, mas Reza sepertinya belum mau melakukan itu denganku. Apa masih ada keraguan dihatinya?" Sedikit merasa kecewa memang melihat reaksi Reza tadi yang sangat terkejut. Itu artinya dalam waktu dekat tidak ada nafkah batin lagi walaupun sudah mengungkapkan perasaan padanya.
Asiyah menghela nafas panjang lalu dia bangkit dari rebahan dan berjalan menuju lemari untuk mencari baju karena sangat gerah sekali dan dia pun menghapus kembali make up nya. Karena tidak memungkinkan akan makan di luar karena hari masih hujan deras dan Reza sudah memasak makanan untuknya.
Saat Aisyah berada di dalam kamar, Reza masih memikirkan perkataan Aisyah yang menanyakan pasal minta jatah malam ini. Istrinya itu sungguh berbeda sekali dari wanita kebanyakannya yang tidak akan berani menanyakan hal tersebut dengan terus terang.
" Apa dia tidak malu menanyakan hal itu?" Reza berjongkok bersandar di lemari kolong dapur sambil mengusap wajahnya.
Bukan karena tidak suka atau tidak menginginkannya jujur saja saat ini Reza sangat malu sekali dan merasa gemuk wajahnya bahkan sudah merah bak kepiting rebus. Dia membayangkan malam panas bersama istrinya yang belum pernah ia rasakan, yang belum pernah ia lakukan sama sekali pada wanita manapun. Tentu saja ia terkejut karena dia sudah menikah dan itu artinya Sudah saatnya ia harus melepaskan perjakanya itu.
" Apa yang harus aku lakukan. Aku sama sekali tidak berpengalaman akan hal itu, aku takut dia kecewa!" Reza malah tidak fokus dengan masakannya dia malah sibuk memikirkan tentang malam pertama yang belum pernah mereka lakukan dengan menggunakan gaya apa dan bagaimana cara memulainya dari awal.
Karena merasa putus asa, akhirnya Reza pun mengeluarkan handphone dari kantong celananya kemudian ia mencari di Google saat pertama yang harus ia lakukan di awal untuk melakukan hubungan intim bersama pasangan.
" Oke, pertama-tama aku harus mencium bibirnya dulu dengan lembut, kemudian membuat dia puas dengan rangsangan, setelah itu baru aku langsung tancap gas." Reza mengingat apa yang tertulis dari mbah dudel. Dia bahkan menghitungnya dengan jari.
" Tapi, bagaimana kalau aku sangat kaku? Apa dia bakalan menyukainya? Aaarrrrggh ...!" Reza menjambak rambutnya frustasi.
Braaaak. Terdengar suara pintu tertutup, berarti istrinya keluar dari kamar. Reza langsung berdiri dengan panik lantaran bukannya masak malah sibuk memikirkan gaya apa yang akan ia lakukan nantinya.
Bergegas Reza memotong bawang. " Auuuw." Karena dalam keadaan panik dan terburu-buru, Reza pun tanpa sengaja mengiris jarinya sendiri.
" Mas, kamu kenapa?" Aisyah melihat jari telunjuk suaminya mengeluarkan darah. Ia bergegas menghampiri dan meraih tangan tersebut lalu mengemutnya mengeluarkan.
Deg ... Darah itu semakin mengalir deras, Reza merasakan sensasi berbeda, di tambah lagi detak jantungnya berpacu cepat untuk pertama kalinya. Reza memperhatikan Aisyah yang sedang ngemut jarinya pikiran pun langsung traveling kemana-mana membayangkan jika yang di **** itu adalah miliknya. Euhg kotor sekali pikiran Reza ya ...
" Tunggu sebentar, aku ambilkan kotak obat dulu." Setelah memastikan darah tidak lagi keluar, Aisyah pun berlari untuk mengambil kotak obat yang tersimpan di lemari dekat meja makan.
Reza tidak bergeming, dia malah menatap jari telunjuknya yang di **** tadi, masih merasa bibir itu menempel di jarinya. Entah apa yang merasuki dirinya, jari telunjuk itu pun sekarang berada dalam mulutnya.
" Masih mengeluarkan darah?" Reza seketika terkejut spontan melepaskan jari telunjuknya dari mulutnya dan menoleh dengan perasaan gugup menatap Aisyah yang sedang mencari obat dan kasta untuk membalut luka kecilnya itu.
" Apa ini sakit?" Tanya Aisyah, mungkin dirinya bakalan menangis jika terluka seperti ini yang lumayan cukup dalam mengingat betapa tajamnya pisau dapur itu.
" Iya masih sakit," jawab Reza bohong. Ketimbang merasa sakit, ia malah merasakan bekas emuttan bibir istrinya yang masih sangat kerasa. Rasa yang lain mampu membuat diri dan pikirannya melayang, Reza rasanya ingin melukai lagi jarinya yang lain agar bisa kembali merasakan sensasi lain yang di berikan oleh istrinya itu.
" Kenapa bisa sampai teriris begini? Lagi ngelamun apa sih? Untung tidak sampai putus jari kamu, lain kali jangan ngelamun kalau lagi memegang benda tajam," omel Aisyah sambil membalut luka suaminya.
" Maaf," cicit Reza pelan, gara-gara dirinya terlalu pusing memikirkan malam pertama yang tertunda itu. Dirinya malah tidak jadi memasak padahal istrinya sudah sangat kelaparan. Seharusnya ia selesaikan dulu tugasnya baru memikirkan masalah itu setelah selesai. Reza mengerutuki kebodohannya.
Aisyah menghela, dia melihat belum ada yang selesai apapun yang mau di masak suaminya, padahal dia di dalam kamar sudah sangat lama sekali. Entah apa yang dilakukan suaminya itu, Aisyah bertanya - tanya dalam hatinya.
" Kamu duduk saja, biar aku yang melanjutkan masaknya." Aisyah mengambil pisau dapur, disana masih ada bekas darah yang menempel lalu ia mencucinya bersih kemudian memotong bawang yang tertunda.
Reza sangat bersalah, dia tidak pergi duduk tapi malah memeluk Aisyah erat dari belakang.
" Maafkan aku, gara-gara aku lagi-lagi kamu harus menahan rasa lapar. Dan seharusnya aku yang masak tapi malah kamu yang meneruskannya."
Assalammu'alaykum