Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maryati
Suara tangisan Bayi terdengar begitu kencang hingga membuat Maryati semakin panik. Bingung bercampur takut itulah yang dirasakan wanita itu. Bagaimana tidak, bayinya selalu mengeluarkan darah dari mata kanannya tanpa henti. Ia takut anaknya akan mengalami kebutaan atau cacat karena mata kanannya yang tidak normal. Sudah hampir dua bulan Joko di rawat di rumah sakit karena luka di mata kanannya itu, namun belum ada tanda-tanda membaik. Bahkan dokter menyatakan jika matanya sudah membusuk dan Joko mengalami kebutaan.
Perasaan sedih pun dirasakan juga oleh Pranyoto. Ia yang juga khawatir dengan kondisi putra ketiganya segera melakukan semedi di kamar peteng. Seperti biasa ia meminta petunjuk kepada para leluhurnya, bagaimana cara mengobati penyakit bayinya tersebut.
Pranyoto pun akhirnya mendapatkan sebuah jawaban. Ia menyuruh istrinya untuk menjilati mata Joko yang berdarah setiap pagi. Wanita itu selalu membersihkan darah yang keluar dari mata joko dengan menjilatinya hingga bersih.
Setelah melakukan semua yang diperintahkan oleh para leluhur mereka, kondisi Joko berangsur membaik. Darah itu berhenti mengalir dan matanya menjadi bening. Dokter yang menyatakan ia sudah buta pun terkejut saat mengetahui mata itu tiba-tiba sembuh dan membaik.
#Feedback off
Pranyoto menatap lekat wajah Joko.
"Jadi sebenarnya dari dalam kandungan kamu sudah memiliki penglihatan gaib, hanya saja kamu tidak menyadarinya, penglihatan mu itu baru kamu sadari setelah kamu melakukan ritual di alas Roban," ucap Pranyoto
"Jadi itu alasan bapak melakukan poligami??" tanya Joko
Pranyoto tersenyum dan mengangguk.
Ia kini menoleh kearah Rizki.
"Terimakasih sudah menjaga dan melindungi Joko, setidaknya aku lega karena Joko punya teman seperti mu,"
Setelah pembicaraan itu, Joko mengerti kenapa sang ayah selalu menikah di tahun genap. Meskipun sebenarnya ia tidak suka jika ayahnya terus menikah di usianya yang sudah tua, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Itu adalah jalan hidupnya, sama seperti dirinya yang harus memiliki istri Gaib Dewi Poncowati.
Setelah pernikahan Pranyoto, ia dan Rizki pamit pulang.
"Apa sekarang kamu sudah lega??" tanya Rizki
Joko terdiam sesaat, "Tentu saja tidak," jawab Joko
Joko kemudian menceritakan bagaimana hidup ibunya setelah ayahnya menikah lagi untuk beberapa kali.
"Meskipun Ibu terlihat tegar, tapi aku tahu tidak dengan batinnya. Itulah kenapa ia memilih hidup terpisah dengan bapak. Meskipun bapak selalu memberi nafkah tetap saja ada yang kurang?" jawab Joko
"Nafkah batin??" Rizki mengedikkan alisnya
Joko tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia kemudian membisikkan sesuatu kepada Rizki hingga membuat pemuda itu membelalakan matanya.
"Serius Jok??"
"Dua rius Ki,"
Joko kemudian menceritakan ia pernah melihat sang ayah masuk ke enam kamar istrinya secara bersamaan.
"Wah, wah, hebat tenan yo, gak usah pake obat kuat kalau kaya gitu," celetuk Rizki
"Ya kan sudah pakai ilmu Ki,"
"Jadi istri-istri bapakmu itu tinggal bareng dalam satu rumah??" tanya Rizki
"Itu dulu waktu aku SMP, tapi setelah itu Ibu ku memilih tinggal sendiri, begitu pun dengan bapak, dia memilih tinggal bersamaku. Tapi ia tetap memberi nafkah lahir dan batin kepada semua istrinya dengan adil," jawab Joko
"Oh, makanya semua istrinya rukun, dan dia selalu memberitahu semua istrinya saat akan menikah lagi?"
"Iya Ki, ia bahkan memperkenalkan calon istrinya kepada istri-istrinya dan juga anaknya," jawab Joko
"Oh begitu, dahsyat juga ajian Arjuna telon itu ya, aku jadi pengen mempelajarinya,"
"Jangan!" seru Joko
"Kenapa??"
"Pokoknya jangan," sergah Joko
Setelah hari itu Rizki berpamitan dengan Joko, ia akan segera lulus dan pergi merantau ke luar pulau.
Joko pun mengikhlaskan kepergian Rizki dan berjanji untuk selalu berkirim kabar. Namun pada kenyataannya, komunikasi mereka hanya sampai satu tahun saja. Setelah itu Joko kehilangan kontak dengan Rizki karena ia fokus mengurus sang ibu.
Setahun setelah pernikahan Pranyoto yang ke sepuluh, Maryati jatuh sakit. Wanita itu bahkan meminta Joko untuk pulang dan merawatnya.
Saat itu Joko memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan memilih merawat sang ibu. Setibanya di Cirebon, kampung halaman sang Ibu, joko langsung di sambut hangat olehnya.
Wanita itu tampak begitu bahagia melihat kedatangan putra bungsunya.
Maryati memeluk erat Joko dan menyuruhnya masuk.
Kali ini ada yang berbeda di kediaman sang ibu. Joko merasa rumah itu terasa nyaman dan sejuk meski tidak menggunakan AC.
Maryati buru-buru menyiapkan makanan kesukaan Joko meskipun tubuhnya sedang tidak fit. Joko sudah melarangnya namun wanita itu tetap bersikeras untuk membuatkan makanan kesukaan Joko.
Joko membantu wanita itu di dapur. Meskipun Maryati sudah berusia lanjut namun kecantikannya masih terpancar jelas di wajahnya. Joko mengamati foto-foto keluarga sang ibu yang terpajang rapi di dinding rumahnya.
Seorang wanita cantik keluarga bangsawan keraton Cirebon, mungkin kalau tidak menggunakan ilmu Arjuno telon, Maryati tidak akan mau menikah dengan Pranyoto yang waktu itu hanya seorang pedagang keliling, gumam Joko.
"Ayo Le kita makan," ucap sang ibu
Wanita itu kemudian mengajak Joko ke ruang makan. Malam itu untuk pertama kalinya Joko menikmati makan malam terenak dalam hidupnya. Sudah lama ia tak menikmati makanan ibunya semenjak wanita itu memilih berpisah dengan ayahnya.
"Mas Danu sama Mas Raga kemana Bu?" tanya Joko membuka percakapan
"Danu sekarang tinggal di Jakarta bersama istrinya, kalau Raga dia tinggal di Palimanan dengan istrinya,"
"Tapi mereka masih sering ke sini Bu??" tanya Joko
"Paling kalau lebaran saja,"
"Syukurlah, setidaknya mereka masih ingat sama Ibu. Gak seperti aku!" jawab Joko
"Kamu itu ngomong apa toh le, udah makan cepat, abis itu istirahat. Kamu pasti capek kan?"
Joko mengangguk. Selesai makan ia segera masuk ke kamar untuk beristirahat. Kamar itu terlalu nyaman untuknya hingga baru sebentar ia merebahkan tubuhnya ia langsung terlelap.
Namun tidak lama ia merasakan tubuhnya panas, saat mendengar suara ibunya membaca Al-Qur'an.
Ia berusaha untuk bersemedi untuk menghalau energi yang berbenturan dengannya itu. Namun semakin ia melawan justru ia merasa seperti terbakar.
"Aaa, berhenti Bu, cukup... Joko tidak kuat!" pekiknya membuat Maryati langsung berhenti mengaji.
Mendengar anaknya berteriak kesakitan wanita itu pun menghampirinya.
"Ada apa apa Le??" tanyanya
Saat wanita itu memegang lengannya Joko kembali berteriak.
"Panas!" serunya
Maryati reflek mengangkat tangannya.
"Astaghfirullah,"
"Tolong Joko Bu!" serunya
Joko melepaskan pakaiannya karena merasa kepanasan. Maryati pun duduk di sebelahnya. Ia mengusap ujung kepala Joko sambil membaca doa. Seketika Joko merasakan sesuatu yang dingin mengalir dari dalam tubuhnya.
Namun entah kenapa ia merasakan tubuhnya benar-benar lemas seperti tak mempunyai tenaga.
"Bu, ibu menyuruh Joko untuk pulang merawat ibu, tapi kenapa malah sekarang Joko yang di buat sakit, kalau tahu begini jadinya, Joko gak mau ke sini!"
Tabarakallah....
Alhamdulillah....
setelah mengetahui Joko merasa kepanasan maka Maryati reflek membacakan doa sambil mengusap kepala Joko
karena Maryati sering membaca ayat-ayat Al Qur'an seeeh
padahal saat itu, Pranyoto bukan lah berasal dari kaum bangsawan atau pejabat lhooo tapi bisa memperistri Maryati yang berasal dari bangsawan
ada apa gerangan yang terjadi dengan rumah Maryati ??
kenapa mendadak hawa di rumah nya menjadi sejuk meski tak ada AC
pake maen bisik-bisik segala neeeh
kita-kita kan jadi ikutan keeepooo 🏃🏃
lalu kamu mau apalagi lhooo Joko ???
kenapa kamu masih aja belum merasa puas👉👈
jaadiiii.... secara tak langsung Maryati juga ikutan menelan darah itu donk😱😱😱
selama 2 bulan, mata kanan Joko mengeluarkan darah lalu dokter juga udah memvonis jika matanya Joko membusuk😭😭😭
tentu aja hal ini yang membuat Maryati semakin sedih
kenapa mata kanan Joko terus-menerus mengeluarkan darah saat barusan dilahirkan 👉👈