"Lepaskan aku, dasar pemaksa!" Nayla.
"Seharusnya kau senang karena menikah dengan pria tampan, kaya dan mapan sepertiku!" Reinhard.
Nayla, gadis polos dari desa yang terpaksa menikah dengan seorang mafia kejam, psikopat dan menyebalkan demi membayar hutang kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka di balik sikap kejam Reinhard, pria itu menyembunyikan banyak luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Selama berada di dalam perjalanan, Rein terlihat khawatir dan gelisah. Perasaannya benar-benar tidak tenang, seakan sedang terjadi sesuatu pada Nayla.
Satu minggu tidak bertemu membuatnya seperti orang bodoh.
Tentu saja memendam rindu tidaklah mudah. Apalagi bayang-bayang percintaan mereka untuk pertama kalinya saat itu, semakin membuat Rein menginginkan Nayla dan tidak ingin melepaskannya.
"Selamat datang, Tuan." Hana berjalan ke arah Rein, berniat untuk mengatakan sesuatu padanya. Namun, pria itu tak menghiraukannya sama sekali.
Rein melepaskan kasar jas nya dan menghempaskan nya begitu saja lalu berlari menuju ke kamar untuk menemui Nayla.
Langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat melihat Haikal yang baru saja turun dari tangga dengan raut wajah ditekuk.
"Apa yang kau lakukan di atas sana!" seru Rein dengan nada sedikit membentak. Membuat haikal langsung mendongak dan menatap pria yang berada di depannya saat ini.
"Tu-tuan anda sudah kembali?!" tanya nya sedikit gugup.
Bagaimana tidak gugup, Haikal kaget melihat penampakan wajah Rein yang datar tanpa ekspresi tersebut.
"Ada apa denganmu? Kau seperti baru saja melihat hantu!" ketus Rein.
Haikal menggeleng, pria itu bingung harus mengatakan apa pada Rein mengenai keadaan Nayla.
"Tuan, se-sebenarnya nona muda--"
"Nayla? Apa yang terjadi padanya, hah?!" Rein lebih memilih langsung melihat keadaan sang istri daripada mendengar penjelasan Haikal yang terbata-bata.
"Kenapa nona bisa sakit? Apa aku perlu memecat kalian berdua sebelum tuan yang melakukannya?!"
"Maafkan kami. Semenjak kepergian Tuan, nona sama sekali tidak mau makan. Bahkan hanya mengonsumsi buah-buahan asam. Lalu, tak lama setelah itu ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya," jelas Hana.
Mark memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing. Ya, pasti Rein akan memarahinya habis-habisan. Padahal, saat di mobil tadi pria itu tertawa saking bahagianya hanya karena pertanyaannya yang aneh.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana, Tuan?" tanya Hana. ia melirik Haikal yang masih diam di tempat tanpa pergerakan apapun.
"Ya sudah, pasrah saja. Tinggal pilih dada atau kepala!" ketus Mark berjalan meninggalkan mereka berdua yang sedang menatap satu sama lain seraya memegang dada dan kepalanya masing-masing.
"Semua gara-gara kau Haikal! Aku masih ingin hidup, aku juga belum menikah!" membayangkan nyawanya melayang hari ini saja sudah membuat Hana ketakutan.
"Ck! Aku tidak peduli," jawab Haikal yang juga menyusul Mark karena ada sesuatu yang harus ia katakan pada pria itu.
"Dasar tidak bertanggung jawab!" umpat Hana.
"Aku tidak menghamili mu Hana! Jadi untuk apa aku bertanggung jawab!" teriak Haikal dari kejauhan. Ternyata pria itu masih mendengar suara Hana.
"Peka sekali pendengarannya..."
****
Ceklek!
Rein membuka pintu kamarnya lalu menutupnya kembali dengan perlahan. Ia tahu kalau saat ini Nayla pasti sudah tertidur.
Karena saat ia sampai, waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.
"Aku merindukanmu..." Rein mendekati Nayla, membingkai wajah cantik istrinya saat sedang tidur nyenyak.
Cup!
"Maaf, karena baru kembali dan selama ini tidak memberimu kabar sama sekali," Rein mencium dahi Nayla. "Apa kau juga merindukanku, sayang?" Rein terkekeh geli mendengar kalimat yang baru saja ia ucapkan sendiri.
"Tapi aku yakin, kau pasti senang. Tidak ada lagi yang membentak mu, juga mengganggumu! Aku senang, kau terlihat baik-baik saja." Rein beranjak, badannya berkeringat dan sedikit lengket. Ia memutuskan untuk segera membersihkan diri dan istirahat.
"Rein..." Nayla menarik pergelangan tangan Rein, berharap jika pria itu tetap berada di sampingnya.
"Hei, kau bangun? Apa suaraku membangunkan mu?!" Rein kembali duduk dan membatalkan niatnya untuk mandi.
"Hiks...jahat! Kau benar-benar jahat!" rengek Nayla dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.
"A-apa? Kenapa kau malah menangis dan mengatakan kalau aku jahat?!" tentu saja pria itu bingung, baru saja datang, Nayla sudah menuduh dirinya berbuat jahat.
"Kau menyebalkan hiks... Aku membencimu!" tangisan Nayla semakin menjadi, ia memukul dada suaminya berkali-kali.
Bukannya menenangkan sang istri, Rein malah diam mematung sakan tidak terjadi apapun. Susah sekali memiliki suami yang tidak peka rupanya!
"Shutt, jangan menangis. Lihat ingus mu itu menetes kemana-mana!" ketus Rein. Tanpa rasa jijik mengusapnya dengan kemeja yang ia pakai.
"Jorok! Kenapa tidak pakai tisu saja hiks..." Nayla menarik lengan Rein agar pria itu duduk di hadapannya.
"Untuk apa? Bahkan jika kau muntah di tubuhku, aku tidak akan---"
Hoeeek!
Benar saja, Nayla memuntahkan isi perutnya di dada. Sedangkan Rein, diam menganga tak percaya. Nayla benar-benar muntah dan mengenai tubuhnya.