Memiliki pacar kaya merupakan impianku. Mengejar cinta pria kaya, walaupun hanya Om-om gemuk. Ada alasan tersendiri mengapa aku melakukannya, hanya untuk merebut perhatian ayahku dari tiga saudaraku yang berhasil memiliki kekasih direktur, dokter dan pilot.
*
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipiku, terasa kebas."Dasar pelakor!" teriak seorang wanita paruh baya. Aku yang salah karena menyangka suaminya seorang duda, pria tua gemuk yang menipuku.
Hingga pertolongan itu datang. Tetangga kostku yang paling miskin dan pelit. Seorang pemuda dengan celana pendek dan kaos kutangnya.
"Pelakor?Dia bukan pelakor, kami sudah lama menikah,"dustanya. Pemuda yang hanya tersenyum merangkul bahuku.
"Aku minta makan"
"Aku pinjam uang"
"Boleh pinjam komputer?Aku lupa beli pulsa listrik!"
Benar-benar makhluk pengiritan sejati. Hingga pada malam gelap dia berkata.
"Aku meminta anak darimu,"
Satu yang tidak aku ketahui manusia pengiritan ini, adalah konglomerat irit, posesif yang akan menjeratku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Aku?
"Bagaimana pun cepat atau lambat kita akan menjadi keluarga. Aku akan---" Kata-kata Dwi yang hendak bangkit dihentikan oleh bekapan tangan Fumiko pada mulutnya.
"Kamu tidak takut padanya!?" tanya Fumiko.
Dwi menghela napas kasar, kembali duduk. Matanya menelisik, teringat dengan Imanuel yang menutup sebuah restauran hanya karena pelayanannya tidak sengaja menumpahkan soup ke pakaian kekasihnya.
Pria itu berfikir sejenak. Sepupu Imanuel yang jarang terliput media, itulah sosok yang dihadapinya saat ini, cucu kesayangan Pramana. Aura yang berbeda dengan Imanuel, seperti pemuda yang akan menjerat, memakan pelan-pelan. Benar-benar akan sulit dihadapi atau dimanfaatkan.
"Aku tidak berani," Dwi terkekeh.
Fumiko terdiam meminum air putihnya sesekali melirik ke meja tempat Raka duduk. Mengapa menunjukkan identitas asli, sedangkan menyuruh dirinya diam? Tentu saja agar Fumiko tidak melarang adiknya lagi tinggal dengan Raka.
Tujuan yang benar-benar berhasil. Wanita itu mengenyitkan keningnya. Inilah ikan besar yang mengikuti adiknya. Namun, tidak boleh bicara sedikit pun? Dirinya hanya dapat bungkam tanpa mengatakan apapun?
"Sial!" umpat Fumiko, menatap ke arah adiknya yang berbicara akrab dengan seorang pria bertopeng coklat. Bagaikan adiknya kini tengah memilih hadiah dalam sebuah kuis, ada mobil sport dalam salah satu tirai sedangkan adiknya memilih tirai yang lain. Fumiko hanya dapat menonton tanpa bisa bicara.
*
Sean mengulurkan tangannya, melihat musik yang mulai diputar. Beberapa orang berdansa, sesuai rangkaian acara. Tapi entah kenapa Fumiko yang seharusnya menjadi pusat perhatian memakai fresh care di bagian pelipis dan keningnya. Duduk menatap adiknya yang menari dengan orang lain penuh dendam. Bagaikan ada kata-kata tertahan yang ingin diteriakkannya.
"Tu...tuan mau menari denganku?" tanya seorang gadis pada Raka.
"Tidak," jawaban dari Raka, menatap ke arah sahabatnya yang menari begitu dekat. Dirinya tidak cemburu, sama sekali tidak, hanya mulai berimajinasi melempar pria yang menari dengan sahabatnya ke tempat sampah.
"A...aku tidak bisa menari, aku ..." Gadis itu terlihat malu-malu, kemudian di dorong oleh wanita lainnya.
"Mau minum denganku? Kita bisa bicara di beranda dan---" Ucapan wanita itu dipotong.
"500 juta per jam. Jika ingin aku bicara denganmu. Ikuti aturannya 500 juta per jam." Raka tersenyum, jika mau dia akan bicara tanpa henti selama satu jam. Walaupun melelahkan tapi lumayan daripada diam saja.
"A...aku hanya punya punya 150 juta. Kamu bercanda kan?" tanya sang wanita yang mungkin tidak lebih kaya dari Barbara.
"Tidak," jawaban singkat dari Raka.
Wanita itu mengepalkan tangannya, teringat dengan Imanuel yang memanjakan tunangannya. Keluar modal sedikit tidak apa-apa, dirinya mungkin akan memiliki nasib bagaikan Cinderella.
"50 juta ya?" tawar sang wanita, berusaha tersenyum walaupun sulit.
*
Jujur saja Fujiko merasa benar-benar tidak nyaman saat ini. Dirinya hanya berusaha tersenyum, pemuda yang terlalu agresif, tapi dirinya juga tidak boleh melewatkan kesempatan mendapatkan pria mapan.
Matanya menelisik berharap ada Raka disana. Atau pulang saja, benar-benar tidak betah rasanya. Ingin melepaskan gaunnya yang ketat, memakai kaos dan celana pendek, duduk bersila memakan masakan hangat dari si pelit.
Entah kenapa rasa bersalah ada dalam dirinya. Apa Raka sudah makan? Apa dia tidak mandi karena sabunnya menipis? Atau apa dia sakit? Semua perasaan campur aduk, bisa dibilang tubuhnya ada disini tapi hatinya di tempat yang lain.
Hingga tiba-tiba musik khusus untuk berdansa berganti dengan seseorang yang menyumbang lagu.
Yang kemarin ku melihatmu, kau bertemu dengannya. Kurasa sekarang kau masih memikirkan tentang dia.
Apa kurangnya aku didalam hidupmu? Hingga kau curangi aku.
Katakanlah sekarang bahwa kau tak bahagia, aku punya ragamu, tapi tidak hatimu.
Kau tak perlu berbohong, kau masih menginginkannya. Ku rela kau dengannya asalkan kau bahagia.
Benar lagu Armada, asal kau bahagia. Sukses membuat Fujiko hampir menangis. Dirinya membayangkan yang ada di atas panggung adalah Raka. Asalkan dirinya bahagia? Kini gadis itu menyadari, bagaimana jika Raka benar-benar menyukainya? Bagaimana jika Raka melihat dirinya dengan pria ini? Mungkin Raka akan meninggalkan tempat kost, menghilang dari hidupnya.
"Si kikir..." batinnya, membayangkan hidup tanpa Raka. Sahabat yang selalu mengangkat cuciannya, walaupun ada pakaian dalam tidak jijik sedikitpun.
Sahabat yang selalu menganggap serius ocehannya. Sahabat yang numpang makan padanya. Apa Raka menyukainya? Apa Raka akan pergi jika dirinya punya pacar?
Sedangkan Rosita dan Tari tersenyum senang. Walaupun tidak mengetahui siapa yang menari dengan adik mereka, tapi dari tamu undangan yang sebagian besar kalangan atas dapat dipastikan, gaji orang yang menari dengan adik mereka diatas 5 juta.
Berbeda dengan Fumiko yang ingin mengumpat rasanya, melirik kotak berisikan perhiasan. Ingin adiknya bahagia, kebahagiaan adiknya ada pada si kikir. Dan si kikir ternyata punya penghasilan lebih dari 5 juta."Sial!" umpatnya tidak dapat mengatakan pada adiknya yang mengambil ikan mujair padahal ada paus besar yang mengikutinya diam-diam.
*
"50 juta? Aku tidak punya waktu mengoceh satu jam untuk 50 juta," Raka tersenyum sinis. Kemudian bangkit, melewati dua gadis kalangan menengah keatas yang ada di hadapannya.
Perhatian semua orang yang tertuju pada Raka, menatap aneh saat pemuda itu bangkit. Mungkin akan mencari pasangan untuk menari atau berbicara dengan pengusaha lainnya. Para wanita merapikan pakaian mereka memasang pose se natural mungkin. Sedangkan para pria yang dari kalangan pengusaha, merapikan jas mereka bagaikan akan berhadapan dengan atasan. Mempersiapkan diri, siapa tau saja mereka adalah tujuan cucu kesayangan tuan Pramana.
Melewati orang-orang tersebut. Apa yang akan dilakukan seorang suami ketika istrinya berselingkuh? Tentu saja berkelahi dan mengumpat.
Tapi apa yang akan dilakukan teman, ketika temannya berselingkuh dengan pria lain?
"Lahan pertanian yang belum digarap ini milikku," batin Raka, terus melangkah hingga lantai dansa.
Bagian belakang jas pria itu ditariknya. Sedangkan Fujiko tertegun membulatkan matanya. Mau apa putra konglomerat ini disini? Apa dirinya dan Sean membuat masalah?
"Kamu!?" bentak Sean. Namun, hanya sesaat, tertunduk menyadari Raka menatap tajam padanya.
Sean melangkah mundur, hendak berjalan meninggalkan ballroom, terlihat kesal, melepaskan topengnya. Wajah yang benar-benar rupawan, sedikit melirik menghampiri Rosita, memberikan kartu namanya."Tolong katakan pada Fujiko, hubungi aku di nomor ini," ucapnya.
Rosita hanya mengangguk tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Terlalu cepat baginya.
Fujiko terlihat terdiam canggung, hendak meninggalkan lantai dansa. Namun, tanpa diduga pemuda ini menariknya, berdansa dengannya. Mendapatkan perhatian orang-orang, langkah demi langkah gadis itu terasa tegang. Dirinya tidak menginginkan ini, wanita yang paling mengerikan dalam pesta. Salah sedikit saja, sama dengan mati.
Seorang pemuda yang memiliki tinggi dan bentuk tubuh seperti Raka, bagian bibirnya juga. Wanita itu jadi baper lagi, ingin mengetahui Raka sedang apa? Dirinya benar-benar ingin pulang saat ini. Pemuda di hadapannya hanya membimbing gerakannya yang cepat tanpa bicara sepatah katapun.
Merengkuh pinggang Fujiko, tapi sesekali melepaskannya. Berdansa? Itu salah satu hal yang dapat dilakukan kalangan atas, bahkan gerakan diiringi musik salsa yang mengalun tiba-tiba.
Gerakan yang lebih intens mendekatkan tubuh mereka. Fujiko hanya mengikuti, tapi hatinya tidak disini terlihat dari sorot matanya.
Mungkin sedang berimajinasi melakukan tanda persahabatan dengan teman karibnya? Mungkin saja, tapi imajinasinya saat ini Raka yang mengenakan kaos kutang sambil memotong kuku kaki, menunggunya pulang.
Lampu tiba-tiba padam.
Fujiko tertegun diam, diikuti dengan teriakan beberapa orang. Hingga tubuh di hadapannya mendekapnya. Mencium bibirnya tiba-tiba.
Tangan sang pemuda terasa dalam kegelapan berada di tengkuknya. Sedikit membungkuk menikmati bibirnya. Sedangkan satu tangan lagi ada di pinggangnya mendekap tubuhnya.
Lidah yang membuainya untuk bermain-main dalam kegelapan. Gadis itu memberontak, namun sulit tenaga sang pemuda terasa lebih kuat.
Bau napas yang sama dengan Raka. Dirinya merindukan sahabatnya. Apa ini cinta? Dirinya tanpa sadar mencintai Raka, hingga tidak menginginkan pria lain?
Dirinya mungkin berimajinasi ini Raka. Namun, ini bukan Raka? Mencoba memberontak, namun sejatinya menikmatinya.
Seorang wanita ada di tempat pengaturan arus listrik. Siapa? Tentu saja Fumiko. Wanita yang tersenyum tidak melewatkan kesempatan sedikitpun, tidak ingin kepalanya sakit.