Ara sekertaris malang itu harus terjebak dalam sebuah masalah karena sebuah kesalah fahaman denga keluarga bosnya, Agra adalah bos di tempat Ara bekerja,
Ara baru memakan separoh dari makanannya, tapi tiba-tiba rasa mual menjalar di perutnya, rasanya ingin segera memuntahkan isi perutnya, karena tak tahan lagi Ara pun segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya
Hoek hoek hoek
Agra pun mengikuti Ara ke kamar mandi, ia menepuk pelan punggung Ara
“kamu nggak pa pa?”
“saya lemas pak”
“sabar ya ..., maafkan saya , ini salah saya”
“iya ini gara-gara bapak, karena bapak yang maksa saya, saya jadi mualkan” kembali lagi Ara memegang perut dan memuntahkan isi perutnya hingga tinggal keluar cairan putih
Hoek hoek hoek
“maaf ya ...”
“pokoknya bapak harus tanggung jawab” Ara pun sampai mengeluarkan air mata
“iya aku pasti tanggung jawab” Agra masih tetap menepuk punggung Ara
Hemmmm
Tiba-tiba sebuah deheman menghentikan aktifitas mereka, ternyata tak jauh dari tempatnya
Secuel di lanjut di sini ya :
Mempunyai saudara kembar bisa menjadi sebuah keberuntungan tersendiri bagi seseorang, tapi kadang kembar tak selamanya mulus, bagiamana kisah Sagara dan Sanaya ini.
Duo kembar yang memiliki sifat yang berbeda, Sagara dengan gaya cool nya dan Sanaya dengan segala manjanya.
Kisah ini akan di mulai dari kisah remaja mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
“Kenyataannya, ada tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Hidup
adalah pengendaraan yang gila dan tidak ada yang menjaminnya.” –
Eminem.
“augh ... sakit-sakit ...” Ara pun tak mau kalah langsung mencubit
perut Agra dan Agrapun langsung memegangi perutnya yang sedang nyeri karena cubitan Ara
“siapa suruh ngledek” Ara menyibirkan bibirnya mengejek Agra yang malah tampak lucu membuat Agra mengangkat sedikit garis bibirnya sehingga tidak di sadari Ara
“ya udah ayo kita makan” Agra menarik tangan Ara supaya bangun dari duduknya
"nggak ah pak" tapi ternyata Ara menolak
"kenapa?" tanya Agra heran
"aku males makan pak, aku tidur lagi saja ..." Ara malah berbalik ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya dan benar saja hanya dederapa menit Ara berebahkan tubuhnya sudah terdengar lagi suara nafas ara yang teratur menandakan jika Ara sudah benar-benar tertidur
Agra pun masih menatap tak percaya ..., gadis cerewet itu sudah begitu saja tidur, Agra pun segera mendekati ara dan benar ara sudah benar-benar tertidur
Agra pun akhirnya makan malam seorang diri tanpa ara karena ara lebih memilih rasa kantuknya dari pada rasa laparnya
setelah selesai makan, Agra merasa matanya benar-benar ingin di pejamkan, ia pun mengambil satu bantal di samping ara tidur dan membawanya ke sofa tak jauh dari tempat tidur
sebelum meninggalkan Ara, agra pun menyempatkan diri untuk menyelimuti Ara
"dasar tukang tidur ..., pantas saja pipimu cuby ..." gumam agra sambil memandangi wajah cuby ara di tambah matanya yang bengkak
***
agra bangun lebih pagi dari pada ara, ia sudah menyiapkan makanan untuknya dan Ara , setelah selesai menyiapkan sarapan agra kembali ke kamar tempat ara tidur, ia menghampiri ara
tampak dari kejauhan gadis itu sedang menggeliatka tubuhnya di atas tempat tidur, agra hanya bisa memandang dari kejauhan melihat tingkah ara yang menurutnya sangat imut dan natural
Agra menyilangkan tangannya dan menyandarkan tubuhnya miring di ambang pintu sambil terus memperhatikan tingkah polos ara seperti anak kecil, stelah mengliatkan tubuhnya dan meliak liuk , iapun duduk dan mengucek-ucek matanya karena pandangannya terlihat kabur karena matanya yang memang sudah bermasalah dan di tambah kabur karena bangun tidur
"wah ..., putri tidurku sudah bangun ya ...." ucap agra tanpa berpindah dari tempatnya
"pak agra ...?"
"ya ..., memang kamu pikir siapa lagi, ini rumahku ..., tapi kamu malah berlagak seperti tuan putri"
"maaf ..."
"aku maafkan ...karena hari ini aku memang sedang murah hati ..."
"ceh ...., menyebalkan" gerutu Ara
"ayo sarapan aku sudah lapar ..." ajar Agra yang masih memperhatikan Ara
"baik" ara pun hendak bangun dari tenpatnya duduk tapi tiba-tiba ia memegangi perutnya
"aduhhh ....."
"kenapa lagi ...?" agra yang hendak pergi mendahului ara segera menghentikan langkangnyadan berbalik pada ara
"asam lambungku kayaknya naik pak ..., sakit sekali ..." ara terlihat pucat sambil memegangi perutnya
"makanya kalau di suruh makan tuh makan bukanya tidur" walaupun memarahi agra tetap menghampiri ara "ayo aku bantu jalan, kita makan, nanti kalau tidak sembuh juga aku panggil dokter lagi"
Agra pun akhirnya mwnggendong Ara hingga ke dapur, kemudian mendudukkannya di salah satu kursi
di meja
makan itu sudah tersaji dua piring nasi goreng dan telur ceplok
“bapak yang masak?”
“ya iya lah, emang siapa lagi” Agra membanggakan diri “ayo cepetan
di makan aku tidak mau kamu tambah sakit dan merepotkanku”
“tapi kan saya sakit pak, kalau orang sakit itu kan biasanya di
buatin bubur, tapi ini kok malah nasi goreng sih, kan nggak sehat, aku nggak mau makan ini” protes Ara
sambil menatap makanannya malas
“crewet amet sih, aku nggak mau ada penolakan, mau makan sendiri apa mau aku suapin pakek mulut”
mendengar penuturan bosnya, Ara tak berani mengelak lagi walaupun mulutnya
masih terasa pahit dan harus makan nasi
goreng, ia menelan makanannya dengan susah payah
Ara baru memakan separoh dari makanannya, tapi tiba-tiba rasa mual
menjalar di perutnya, rasanya ingin segera memuntahkan isi perutnya, karena tak
tahan lagi Ara pun segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya
Hoek hoek hoek
Agra pun mengikuti Ara ke kamar mandi, ia menepuk pelan punggung
Ara
“kamu kenapa?" agra terlihat begitu khawatir "kamu nggak pa pa?”
“saya lemas pak” Ara menyandarkan tubuhnya di depan washtafle kemudian ara kembali memuntahkan isi perutnya
hoek hoek hoek
hingga yang keluar hanya cairan bening dari mulutnya yang terasa sangat pahit
“sakit sekali ya?..., maafkan saya , ini salah saya” agra menyesal karena telah memaksa ara memakan nasi goreng
“iya ini gara-gara bapak, karena bapak yang maksa saya, saya jadi
mualkan” kembali lagi Ara memegang perut dan memuntahkan isi perutnya
Hoek hoek hoek
“maaf ya ...” agra terus mengelus punggung ara memberi kekuatan agar rasa sakitnya berkurang
“pokoknya bapak harus tanggung jawab” Ara pun sampai mengeluarkan
air mata
“iya aku pasti tanggung jawab” Agra masih tetap menepuk punggung
Ara
-
-
-
-
“Hidup adalah serangkaian perubahan yang alami dan spontan.
Jangan tolak mereka karena itu hanya membuat penyesalan dan duka.
Biarkan realita menjadi realita. Biarkan sesuatu mengalir dengan alami
ke manapun mereka suka.” - Lao Tzu.
-
-
-
-
sudah mulai nih ....
apa yang terjadi ya selanjutnya ....?
kakak-kakak ...
LIKE dan KOMENTARnya begitu aku tunggu ya
apalagi kalau ada yang mau kasi VOTE
tambah cinta deh ...