Ameer Alfatih adalah seorang ustaz muda yang menolak dijodohkan dengan Hana Karimah. Sepupunya yang cantik dan penghafal Qur'an.
Satu-satunya alasan Ameer menolak wanita yang hampir sempurna itu adalah Meizia, seorang wanita yang terkesan misterius tetapi berhasil merebut hati Ameer di pertemuan mereka.
Namun, sebuah kenyataan pahit harus Ameer terima ketika ia tahu Meizia adalah seorang wanita malam bahkan putri dari seorang mucikari.
Maukah Ameer memperjuangkan cintanya dan membawa Meizia keluar dari lembah dosa itu?
Dan maukah Meizia menerima pria yang merupakan seorang Ustaz sementara dirinya penuh dosa?
Lalu bagaimana dengan nasib Hana?
"Aku terlahir dari dosa, membawa dosa, sebagai dosa bagi ibuku dan hidupku pun penuh dosa. Kau terlalu suci untukku." Meizia
"Tak ada manusia yang luput dari dosa, tetapi juga tak ada manusia yang lahir membawa dosa meski ia terlahir dari dosa." Ameer Alfatih
"Ikhlas dengan takdir Tuhan adalah kunci ketenangan hidup." Hana Karimah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Saatnya Melepaskan
Mami Lala tentu sangat murka karena lagi-lagi Meizia kabur darinya, yang membuat wanita itu lebih murka adalah pria yang selalu ikut campur dalam hidup Meizia.
Semalaman seluruh anak buah mucikari muda itu mencari Meizia, tetapi mereka tak menemukannya apalagi Mami Lala tak tahu siapa nama pria yang membawa Meizia pergi.
Namun, ia berpikir seharusnya Jenny tahu.
"Kamu pasti tahu, kan?" Mami Lala membentak Jenny tetapi wanita itu tetap menggeleng pelan.
"Jangan bohong, Jenny!" sentak Mami Lala untuk ke sekian kalinya.
"Aku memang tidak tahu, Mam," ujar Jenny berusaha tenang.
"Pasti Mei pernah bercerita tentang pacarnya itu, kan? Jujur saja, Jen, atau kamu mau Mami suruh melayani tiga pria sekaligus, huh?"
Jenny terkesiap mendengar ancaman mengerikan Mami Lala, dan Jenny sangat tahu wanita itu selalu melakukan apa yang dia inginkan tanpa perduli perasaan orang lain.
"Aku tidak tahu, Mam, yang aku tahu cuma satu. Pria itu seorang Ustaz," kata Jenny. "Namanya Ameer."
🦋
"Atas nama siapa laporan ini?"
"Ameer al-Fatih." Ameer menjawab dengan tegas sembari melirik Meizia yang duduk di sisinya.
Sejak masuk ke kantor polisi, Meizia terus menunduk dalam dan Ameer melihat kedua tangan Meizia yang saling bertaut dan gemetar.
Sesuai saran Shafa, pagi ini Ameer, Meizia dan Shafa pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan.
"Kami tidak bisa melanjutkan laporan ini tanpa adanya bukti dan saksi yang kuat, apa kau punya bukti dan saksi?"
"Meizia akan bersaksi," jawab Shafa dengan tegas sembari menyentuh pundak Meizia.
"Katakan, apa yang kau ketahui tentang Mami Lala? Dan apa saja yang dia lakukan?"
Meizia melirik Shafa, ia masih gemetar sampai merasa kesulitan untuk berbicara.
"Katakan saja yang sebenarnya, Zia," tukas Ameer dengan lembut.
"Kapan lagi kamu menyelamatkan diri dan teman-temanmu, Zia?" Shafa menimpali. "Jangan takut dan tidak perlu merasa kasihan untuk melaporkan sebuah kejahatan sekalipun itu adalah ibumu sendiri."
Meizia menggigit bibirnya, kedua mata wanita itu sudah mulai berkaca-kaca. Ia menarik napas panjang dan memejamkan mata, mengingat kembali apa yang telah ia alami selama ini.
"Dia menjualku," ujar Meizia kemudian dengan suara yang bergetar. "Dan beberapa gadis lainnya." Air mata Meizia tumpah mengingat apa yang telah ia lalui karena sang Ibu.
"Dia juga menyiksa kami saat kami mencoba melawan atau melarikan diri." Bibir Meizia bergetar, air mata semakin deras bahkan sampai membuat pandangannya rabun. Shafa langsung menggenggam tangan Meizia untuk menguatkan wanita itu, memberi tahu bahwa ia ada di sisinya.
Tentu saja hal itu berhasil menyentuh hati Meizia, memberi kekuatan untuknya.
Dengan terbata-bata, Meizia menceritakan semua tentang ibunya juga rumah bordil sang Ibu. Serta kegiatan apa saja yang terjadi di sana.
"Apa kau punya bukti?" tanya polisi itu. "Karena kesaksian saja tidak cukup untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan."
"Bukti apa lagi yang kau mau, Pak?" tanya Ameer penuh penekanan.
Meizia sudah bercerita panjang lebar dan polisi itu masih ingin bukti yang lain? Tentu saja Ameer merasa kesal.
"Kami tidak bisa menangkap seseorang hanya berdasarkan cerita satu orang saja," tukas polisi yang membuat Ameer dan Shafa langsung menghela napas panjang.
Sementara Meizia tertunduk dalam, memikirkan cara bagaimana agar polisi itu percaya padanya.
Hingga tiba-tiba Meizia beranjak dari kursi. "Meizia?" lirih Ameer.
Namun, Meizia tak menyahut. Ia justru berbalik badan dan mengangkat kaos yang ia pakai, memperlihatkan punggungnya yang memang memiliki beberapa bekas luka.
"Apa ini masih kurang sebagai bukti?" geram Meizia yang membuat polisi itu tercengang.
Sementara Ameer langsung menarik Meizia agar kembali duduk serta menyuruh wanita itu merapikan kembali bajunya. "Kamu tidak perlu melakukan ini," desis Ameer yang juga sangat terkejut dengan aksi Meizia.
Namun, Meizia masih tak memperdulikan Ameer. Wanita itu kini justru menunjukan kedua pergelangan tangannya.
"Lihat yang ini!" desis Meizia. "Bekas lukanya masih ada karena aku menyayat dengan sangat dalam, supaya aku cepat mati tapi ternyata masih hidup. Dan lihat yang ini!" Meizia memperlihatkan pergelangan tangan yang masih diperban.
Bahkan, wanita itu juga melepas perbannya.
"Meizia, jangan lakukan ini," tegur Ameer, tetapi Meizia kini seperti orang gila yang tak ingin mendengarkan siapapun.
Sambil menangis, Meizia tetap membuka perban itu hingga memperlihatkan lukanya yang masih basah.
"Lihat ini!" geram Meizia di tengah tangisnya. "Aku sangat ingin berhenti dari pekerjaan menjijikan ini, Ameer datang hendak membawaku pergi. Ibu bilang dia akan membiarkan aku pergi tapi setelah aku melayani satu pria lagi yang katanya membayar ratusan juga."
Tangis Meizia semakin menjadi, bahkan tanpa sadar Shafa ikut menitikkan air matanya seolah ia merasakan betapa sakitnya menjadi Meizia. "Lalu aku harus apa? Berdandan dan pergi pada setan-setan itu? Aku tidak mau karena itulah aku ingin mati!" Meizia berseru penuh emosi, sorot matanya tak hanya memperlihatkan kesedihan tapi juga ketakutan.
Shafa langsung merangkul pundak Meizia, mengusapnya dengan lembut untuk menenangkan wanita itu yang tampaknya sedang terbakar emosi. Sementara polisi dan Ameer hanya bisa termangu dengan dada yang bergemuruh.
"Hanya itu bukti yang aku punya," lirih Meizia kemudian. "Jika kau ingin lebih banyak bukti, datangi saja rumah bordil itu. Kau akan melihat neraka di sana!"