Mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tua angkatnya tidak lantas membuat Marissa tidak lepas dari beban pikiran. Wanita itu terlihat bahagia hidup bersama dengan kedua orang tua angkatnya.
Baru saja dirinya. Duduk di bangku Kelas XII di sebuah sekolah swasta ternama di kotanya. Marissa menemukan dirinya sedang hamil satu bulan. Dia tidak mengetahui siapa yang menjadi Ayah dari janin yang dikandung bahkan dirinya merasa tidak pernah melakukan perbuatan dosa hina itu.
Jadi siapakah yang tega menghamili Marissa yang terkenal baik dan murah hati di sekolahnya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Marissa
Malam pertama adalah malam yang indah dan juga malam yang panjang untuk pasangan pengantin baru. Tapi tidak untuk Arjuna dan Marissa. Malam yang diwarnai dengan rintik rintik hujan tidak membuat Arjuna maupun Marissa menginginkan malam kebersamaan itu. Arjuna bersedia tidur di paviliun karena desakan kakek Heri. Sedangkan untuk Marissa, bisa dikatakan dia tidak menginginkan sama sekali malam pertama tersebut.
Malam itu setelah makan malam, Marissa tidak mengetahui harus berbuat apa. Seharusnya, Marissa belajar malam ini tapi Arjuna dan Nisa tidak mengijinkan dirinya untuk ke sekolah lagi. Marissa pun akhirnya berbaring di ranjangnya dengan memikirkan masa depannya yang tidak lagi seindah yang dia bayangkan dulu.
"Untuk apa papa kemari?" tanya Marissa. Pintu terbuka tiba tiba dan menampilkan sosok Arjuna dari balik pintu. Ternyata otak Marissa masih berpikir jika Arjuna masih papa angkatnya.
"Mau tidur," jawab Arjuna singkat. Dia menutup pintu itu dengan kencang karena masih kesal dengan gangguan kakek Heri sehingga dirinya tidak dapat menuntaskan permainan nikmat itu dengan Nisa istrinya.
Di pintu penghubung rumah utama dengan paviliun. Kakek Heri tersenyum Setelah memastikan jika Arjuna sudah masuk ke dalam paviliun. Pria tua itu merasakan kebahagiaan karena sebentar lagi dirinya akan mendapatkan cucu. Dia tidak memperdulikan lagi bagaimana kehamilan itu terjadi. Yang pasti sekarang Marissa bukan lagi orang lain bagi keluarganya melainkan sudah menjadi menantu.
Sementara di dalam paviliun. Marissa langsung memperhatikan sekeliling. Ranjang sempit yang hanya muat satu orang. Bagaimana mereka bisa tidur berdua di ranjang itu. Selain itu Marissa juga merasa risih jika tidur berdua dengan Arjuna. Bagaimana pun rangkaian kejadian singkat itu tidak langsung mengubah hati Marissa untuk menganggap Arjuna sebagai suaminya.
"Aku bisa tidur sendiri dan tidak takut pa. Papa sebaiknya kembali ke rumah utama," kata Marissa pelan. Marissa juga sadar jika Arjuna kini sudah menjadi suaminya. Tapi untuk tidur berdua, Marissa belum siap. Dia masih menghargai Arjuna sebagai papa angkatnya.
Arjuna tidak menjawab. Dia justru duduk di ranjang sempit itu dan menyuruh Marissa supaya bergeser.
Marissa tidak bergeser karena dirinya sudah sudah tidak berjarak lagi dengan dinding. Marissa akhirnya turun dari ranjang itu dan memilih mengalah. Marissa tidak ingin kejadian di ruang tamu tadi terulang di paviliun ini.
Seakan tidak perduli dengan apa yang dilakukan oleh Marissa. Arjuna berbaring di ranjang sempit itu. Di tidur telentang di tengah ranjang. Entah dimana Marissa harus tidur jika Arjuna bersikeras tidur di paviliun itu. Marissa juga seperti itu. Wanita belia itu seakan tidak perduli dengan apa yang dilakukan oleh Arjuna. Dia juga memilih duduk di bangku kaya dekat dinding kaca. Marissa juga membelakangi Arjuna. Dia sangat yakin dalam hati jika Arjuna tidak betah di paviliun itu. Karena fasilitas seperti AC atau televisi tidak ada di paviliun tersebut.
Sedangkan di rumah utama. Mama Nisa merasa resah sendiri. Dengan desakan kakek Heri kepada Arjuna supaya tidur bersama di malam pertama ini membuat Nisa meyakini jika papa mertuanya itu sangat mendukung pernikahan Arjuna dengan Marissa. Nisa mengingat kondisinya yang tidak mungkin bisa mengandung lagi. Kekurangan yang tidak pernah diinginkan oleh setiap wanita Mana pun. Bukannya berusaha menerima takdir atas kekurangan itu, Nisa justru membuat sandiwara luar biasa yang akhirnya belum diketahui seperti apa.
Nisa tidak ingin pernikahannya kandas hanya karena kekurangan itu. Jika dia membiarkan Arjuna membagi waktunya dengan adil dengan Marissa. Nisa khawatir jika skenarionya tidak sejalan dengan kenyataan nantinya. Tidak mau skenarionya gagal. Nisa pun akhirnya keluar dari kamar. Dia sengaja memasang wajah sedih karena mengetahui jika kedua mertuanya masih di ruang tamu.
"Mama, Papa," sapa Nisa sebelum duduknya.
"Belum tidur Nisa?" tanya Nenek Rosa. Sedangkan kakek Heri hanya melirik Nisa sebentar kemudian kembali focus memandang ke arah televisi yang sedang menyiarkan berita yang sedang viral.
"Belum ma, masih jam sembilan," jawab bisa lesu. Nisa menyandarkan tubuhnya kasar ke sandaran sofa supaya kedua mertuanya mengetahui jika dirinya saat ini sedang kesal. Tapi baik nenek Rosa maupun kakek Heri seakan tidak perduli dengan kekesalan yang ditunjukkan oleh mama Nisa.
"Aku tidak menyangka Marissa bisa berbuat seperti ini kepada ku mama," kata Nisa akhirnya. Dia tidak ingin membuang kesempatan saat ini. Dia ingin kedua mertuanya memandang Marissa dengan penilaian buruk.
"Aku tidak bisa berkata apapun saat ini Nisa. Apalagi berkomentar tentang Marissa. Selama ini, aku melihat Marissa adalah anak yang baik. Berselingkuh dengan Arjuna adalah hal yang tidak mungkin menurutku. Tapi kenyataannya saat ini. Marissa mengandung anak Arjuna. Jadi kalau bisa, mama minta kamu juga bisa berbesar hati menerima ini semua. Mungkin inilah takdir kalian bertiga," kata nenek Rosa. Wanita itu tidak ingin menghakimi perbuatan Arjuna dan Marissa. Bukan karena Arjuna dan Marissa merupakan anak dan menantunya. Tapi nenek Rosa berkeyakinan bahwa setiap manusia akan menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.
"Arjuna masih normal dan pasti menginginkan anak kandung. Kamu saja yang tidak serius berobat. Coba kamu bisa memberikan anak kepada Arjuna. Kejadiannya pasti tidak seperti ini. Seharusnya kamu bersyukur, Arjuna memberikan adik madu seperti Marissa kepada mu. Marissa adalah perempuan yang baik. Dia pasti tidak akan menginjak harga dirimu sebagai istri pertama yang tidak bisa mengandung," kata Kakek Heri sinis. Ternyata hanya matanya saja fokus ke televisi tapi telinganya dipasang baik baik untuk mendengar pembicaraan Nisa dan istrinya.
Nisa merasakan jika waktunya sia sia berbicara dengan kedua mertuanya yang tidak menyalahkan Marissa saat ini. Dia ingin kedua mertuanya membenci Marissa seperti dulu ketika masih putri angkatnya. Tapi saat ini sepertinya kedua mertuanya itu sangat senang mempunyai menantu seperti Marissa. Bukan hanya itu membuat Nisa kesal. Kakek Heri selalu mengungkit dan menjadikan kekurangannya untuk membenarkan pernikahan Arjuna dan Marissa. Entah bagaimana nantinya jika kakek Heri mengetahui jika kehamilan Marissa adalah skenario Nisa.
"Dasar manusia manusia bau tanah," batin Nisa kesal. Dia meninggalkan kedua mertuanya tanpa kata. Gerakan tubuhnya tidak bisa menutupi kekesalan hatinya saat ini.
"Apa Arjuna mengetahui sikap istrinya seperti ini?" tanya Nenek Rosa kepada suaminya. Dia bisa melihat jika Nisa menghentakkan kakinya ketika hendak berlalu dari ruang tamu itu.
"Biarkan saja dia berbuat sesuka hatinya. Nanti Arjuna akan mengetahui sikap istrinya dengan sendirinya," kata Kakek Heri. Dia tidak perduli bagaimana pun sikap Nisa. Bagi pria tua itu, yang terpenting baginya saat ini hanya kehadiran seorang cucu.
Di kamarnya, Nisa juga tidak bisa langsung tidur. Dia menerka nerka apa yang saat ini dilakukan oleh suaminya dengan Marissa. Dalam situasi seperti ini, dia menginginkan kamar Marissa ada di rumah itu supaya dirinya bisa mengganggu atau bahkan bisa tidur bertiga dengan suaminya dan Marissa. Ternyata keputusannya untuk tidak tinggal terpisah dengan Marissa adalah hal salah. Dengan seperti ini, dia harus pasrah jika Arjuna tidur di paviliun milik Marissa. Dia tidak bisa mengganggu suaminya dan Marissa karena kedua mertuanya masih betah di ruang tamu pasti untuk mengawasi pergerakannya.
"Tidak, tidak mungkin Arjuna mengkhianati aku. Dia sangat mencintai aku," kata Nisa untuk menghibur dirinya sendiri.
Di paviliun, Marissa juga merasa bingung. Melihat Arjuna yang sepertinya sudah tertidur. Marissa jadi kebingungan. Dia kini tidak tahu harus tidur di Mana. Untuk tidur di lantai. Tikar atau semacamnya yang bisa dijadikan alas tidur tidak ada. Untuk mengambil ke rumah utama, hujan sudah mulai deras.
Setelah berpikir dan memperhatikan sekeliling. Akhirnya Marissa mengambil selimut yang tidak dipakai oleh Arjuna dari atas ranjang. Marissa membentangkan selimut itu di lantai. Matanya sudah mulai mengantuk membuat Marissa langsung berbaring di lantai itu tanpa bantal. Dia tidak mengetahui jika apa yang dilakukannya itu diketahui oleh Arjuna. Pria itu hanya berpura pura tidur.
"Jangan tidur dulu Marissa. Kita harus melakukan sesuatu di malam pertama ini," kata Arjuna dari atas tempat tidur. Marissa yang membelakangi Arjuna spontan duduk.
"Apa maksud Papa?" tanya Marissa.
"Jangan pura pura bertanya. Jika menjebak saja sudah kamu lakukan. Mengapa harus pura pura tidak mengerti apa yang seharusnya dilakukan oleh pengantin baru di malam oertama."
"Pa, percaya padaku. Aku tidak pernah menjebak papa. Pikiran untuk menjebak saja tidak pernah terlintas di pikiranku. Aku murni menghormati dan menghargai papa. Aku sudah sangat bersyukur menjadi putri angkat kalian pa. Sungguh aku tidak pernah berharap lebih dari itu," kata Marissa untuk membuat Arjuna percaya jika dirinya tidak pernah menjebak Arjuna.
"Setiap orang berhak untuk tidak mengakui kesalahannya. Tapi seorang istri tidak berhak menolak melayani suami apalagi di malam pertama," kata Arjuna mengabaikan perkataan Marissa.
Arjuna turun dari ranjang dan ikut duduk di atas selimut itu. Menyadari dirinya dalam jangkauan Arjuna. Marissa berpindah ke atas ranjang. Tapi apa yang dilakukannya tidak berarti apa apa. Mereka berada di ruangan yang tidak luas. Arjuna pasti bisa menangkap dirinya. Dan benar saja, Arjuna bisa menjangkau bahkan kini sudah menarik tangan Marissa.
"Pa, aku mohon. Jangan pa. Aku ini putri angkatnya mu pa," kata Marissa ketakutan ketika Arjuna sudah bisa mengunci tubuh Marissa dalam pelukannya.
Marissa menggerakkan kepalanya secara tidak beraturan supaya bibir mereka tidak bertemu. Dia juga sekuat tenaga ingin melepaskan dirinya dari Arjuna. Tapi apalah tenaga seorang wanita yang hamil muda. Tenaga Arjuna jauh lebih kuat dibandingkan tenaga Marissa.
Marissa merasakan tubuhnya gemetar ketika Arjuna semakin berusaha untuk membuat bibir mereka bertemu. Bukan karena gemetar karena menginginkan pertemuan bibir itu tapi gemetar karena ketakutan. Arjuna dapat merasakan itu lewat tangannya. Arjuna pun melepaskan pelukannya dan dapat melihat wajah Marissa sangat pucat.
Arjuna dengan cepat mengangkat tubuh Marissa ke atas ranjang. Dia membaringkan tubuh Marissa yang terlihat ketakutan.
"Tolong tinggalkan aku pa," kata Marissa pelan. Hanya dengan tidak melihat Arjuna. Ketakutan itu akan hilang.
Arjuna berpikir dan merasa bingung. Marissa sudah menjebak dirinya tapi mengapa ketakutan ketika Arjuna ingin meminta haknya sebagai seorang suami. Dia juga tidak mengerti mengapa dirinya bisa melupakan janjinya kepada sang istri pertama yang meminta dirinya untuk tidak membagi tubuhnya.
"Tidurlah Marissa. Aku tidak akan mengganggu kamu," kata Arjuna. Marissa menggelengkan kepalanya. Sungguh dirinya ingin sendiri saat ini.
"Pa, aku mohon. Aku ingin sendiri," kata Marissa. Dia merasa jijik kepada dirinya sendiri karena sudah diperlakukan Arjuna seperti itu.
Bukan hanya merasa jijik, Marissa juga semakin merasakan hatinya sangat sedih. Ternyata setelah bertahun tahun menjadi anggota keluarga Arjuna, Arjuna tidak bisa mengenali dirinya. Video itu memang nyata. Tapi menurut Marissa. Seharusnya Arjuna tidak langsung percaya atas skenario Nisa dan Dino. Seharusnya Arjuna juga harus menyelidiki mengapa dirinya dan Marissa bisa melakukan hal itu. Arjuna hanya mendengar keterangan dari Nisa tanpa mendengarkan kejujuran dari dirinya.
Arjuna tetap bertahan di dalam kamar itu.
"Pa, ijinkan aku keluar dari paviliun ini. Jika kalian menginginkan anak ini. Aku akan memberikan kepada kalian jika sudah lahir nanti," kata Marissa setelah ketakutannya perlahan hilang. Marissa kini bersujud di kaki Arjuna yang sedang duduk di bangku kayu. Bagi Marissa. Lebih baik merendahkan dirinya seperti itu di hadapan Arjuna daripada melayani Arjuna sebagai istri.
Arjuna tidak mengeluarkan satu katapun. Tapi hatinya berpikir jika dirinya mengijinkan Marissa pergi dari mereka.
"Aku berjanji pa. Pernahkah aku mengingkari jika aku sudah berjanji. Tolong sekali ini saja pa, ijinkan aku pergi. Anak ini akan tetap milik kalian sebagai balas jasa atas kebaikan kalian terhadap aku," kata Marissa untuk menyakinkan Arjuna. Tapi lagi lagi pria itu tidak bergeming. Bukan tidak percaya akan janji Marissa. Tapi pria itu memikirkan dimana dan bagaimana Marissa hidup jika dirinya mengijinkan Marissa pergi dari dirinya. Dia tidak berpikir, bagaimana Marissa bisa menjalani hidupnya selama beberapa bulan ke depan di paviliun sempit itu tanpa berinteraksi dengan dunia luar.
Arjun dah berasa seperti ABG lg krn menikah dengan yg msh ABG
Beruntung km Arjun dpt Marissa yg msh ori😆