Seorang gadis bernama Fira yang selalu dihantui rasa takut akan bayangan masa lalu ini pun tiba-tiba harus dihadapkan oleh beberapa peristiwa kematian yang selalu menghubungkan dirinya.
Disaat yang bersamaan ini lha, dia bertemu dengan seorang pria bernama Fathan yang juga memiliki rahasia.
awalnya, karena merasa kasihan terhadap Fira hingga akhirnya Fathan memutuskan untuk menjaga Fira.
Namun siapa sangka, Fathan pun menemukan kenyataan tentang siapa Fira sebenarnya yang akhirnya membuat dia yakin dengan perasaannya.
Hingga suatu saat terjadi kesalahpahaman dan Fira pun harus di hadapkan oleh kejadian yang cukup menakutkan seorang diri.
Apakah pada akhirnya Fira dapat melaluinya seorang diri ataukah Fathan akan muncul disaat-saat yang tepat dan menjelaskan semuanya? sebenarnya kejadian masa lalu seperti apa yang dialami oleh Fira sehingga peristiwa kematian pun selalu terhubung dengannya? lalu rahasia seperti apa pula yang dimiliki oleh Fathan sehingga membuat dia menjauhi Fira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Friska Nanda Raisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disekap
Di perjalanan, tiba-tiba saja aku merasakan firasat tidak enak dan di saat yang bersamaan aku juga teringat ucapan Pak Fathan agar aku lebih waspada pada Jio.
Dengan mencoba tetap tenang, aku pun berkata, “Yo, sebenarnya lo mau ajak gue ke mana?”
“Oh. Lo tenang aja. Pokoknya gue jamin lo bakalan suka deh,” ucap Jio.
Saat mendengar ucapannya, ingin rasanya aku tetap berpikiran positif. Tapi tetap saja. Entah mengapa rasa gelisahku ini semakin menjadi-jadi.
“Tenang Fir, tenang. Jangan sampai Jio tahu kalau dirimu mencurigainya,” ucapku mencoba menenangkan diriku sendiri.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan, tiba lha kami di sebuah rumah sederhana namun terlihat elegan yang berada tidak jauh dari pantai.
Jio pun menghentikan laju motornya dan melepas helm nya.
“Fir, turunlah,” suruhnya.
Aku pun kemudian turun dan kemudian melepaskan helm ku lalu memberikannya pada Jio.
“Bagaimana, Fir? Pemandangan di sini bagus kan?” tanyanya.
Aku pun mengangguk sambil menyahut, “Hum.”
“Lo suka gak?” tanyanya lagi.
“Lumayan Yo,” ucapku.
“Kok lumayan sih?” Protes Jio.
“Iya lumayan. Soalnya gue perhatikan, di sini tidak ada orang menjual makanan,” ucapku sambil menengak-nengok ke kanan dan ke kiri.
Sebenarnya di saat ini aku benar-benar merasa gelisah dan curiga dengan tujuan Jio mengajakku ke tempat ini. Namun aku harus tetap mencoba agar tetap tenang supaya Jio tidak mencurigai ku juga.
“Hehehe.. Iya ya. Gue baru sadar,...” ucapnya, “tapi lo gak usah khawatir soal itu.”
“Maksud lo?” tanyaku yang merasa semakin curiga dengan Jio.
“Lo lihat rumah yang di sana gak?” tanyanya sambil menunjuk sebuah rumah yang dari tadi memang sudah aku sudah lihat.
“Lihat. Emangnya ada apa dengan rumah itu?” tanyaku.
“Kita ke sana aja yuk,” ajaknya.
‘Deg’
“Gak ah. Gue gak mau ke sana karena tiba-tiba saja gue mau pulang saja,” ucapku yang merasa semakin gelisah dan juga takut.
“Ah elo mah gitu, Fir. Udah gak apa-apa. Kita ke sana aja dulu. Tanggung soalnya. Udah jauh-jauh datang ke sini kalau gak coba mampir ke sana,” bujuknya dan aku pun tetap kekeh menggelengkan kepalaku tidak mau.
“Sudahlah. Ayo kita ke sana sebentar aja. Setelah itu kita pulang. Ok?!” ucapnya dan kemudian menarik tanganku.
Aku yang sebenarnya sedang merasa takut ini pun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti Jio.
Setelah beberapa saat kemudian, kami pun sampai di halaman rumah tersebut. Kecurigaan dan ketakutan pun semakin menjadi nyata. Pasalnya rumah tersebut terlihat sepi dan tidak berpenghuni.
“Yo, lebih baik kita pulang aja yuk. Soalnya rumah ini kelihatannya kosong,” ucapku dengan nada takut.
“Lo lagi ketakutan, Fir?” tanyanya dan aku pun mengangguk.
“Hais. Ngapain juga lo takut gitu, Fir. Rumah ini kan rumah gue. Sesekali gue balik ke rumah ini,” jelas Jio.
“Oh begitu,” ucapku yang tiba-tiba saja merasa agak sedikit tenang.
“Ya sudah. Kalau begitu, lo udah gak merasa takut lagi kan, Fir?” tanya Jio dan aku pun menggelengkan kepala.
“Ya sudah. Ayo kita masuk,” ajaknya yang kemudian membukakan pintu rumahnya.
Aku pun akhirnya mengikuti Jio masuk ke dalam rumahnya. Sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, aku pun menangak-nengok ke setiap sudut rumah dengan seksama.
Dan ketika aku sedang fokus, tiba-tiba saja Jio berkata, “Fir, lo tahu gak. Sebenarnya gue selama ini serius lho sayang ma lo.”
‘Deg’
Lagi-lagi aku teringat ucapan Pak Fathan yang mencurigai Jio gara-gara sikap posesifnya terhadap diriku.
“Hehehe, Yo. Lo kan tahu sendiri kalau gue udah ada Pak Fathan,” ucapku.
“Iya. Gue tahu kok. Tapi boleh kan gue berharap ke lo buat kasih kesempatan ke gue?” tanyanya.
Aku pun terdiam sejenak dan berpikir tentang apa yang seharusnya aku jawab.
“Fir, lo kenapa diam aja?” tanyanya.
“Hmm, Yo. Sori. Kalau untuk yang lebih, gue gak bisa. Tapi kalau buat hanya sebatas teman saja, gue gak apa-apa,” jelasku.
“Jadi lo bener-bener nolak gue nih ceritanya!?...” ucapnya yang suaranya terdengar meninggi, “Ok.. Ok.. Kalau emang itu yang lo mau. Tadinya gue gak mau lakuin ini ke lo. Tapi gue gak terima kalau ternyata selama ini gue gak bisa dapetin lo.”
‘Deg’
“Maksud lo apa, Yo?” tanyaku gelisah.
Jio tidak menyahuti ucapanku. Dia justru meninggalkanku sendiri dengan mengunciku di dalam rumahnya.
“Yo, lo jangan kaya gini. Yo!! Tolong bukain pintunya!” teriakku sambil menggedor-gedor pintu rumahnya.
“Fir. Teriaklah sepuasmu. Aku gak akan pernah membukakan pintu rumah ini sebelum lo menerima cinta gue!...” teriaknya dari luar, “lo gak usah khawatir bakal kelaparan. Di dalam udah gue siapin makanan buat lo. Cukup untuk satu minggu.”
Setelah mengatakan itu, suara Jio sudah tidak lagi terdengar sehingga membuat aku syok.
“Yo, ternyata kamu benar-benar seperti ini sama aku,” gumamku lirih sambil terduduk lemas di belakang pintu.
Untuk beberapa saat aku terdiam hingga akhirnya aku ingat kalau aku membawa ponsel.
Ku coba menghubungi Pak Fathan dan meminta pertolongannya. Namun saat aku coba mengirim sekali, dua kali hingga beberapa kali tapi tetap saja gagal.
Saat aku melihat signal, ternyata di tempatnya ini tidak ada signal sama sekali.
“Sekarang aku harus bagaimana?” gumanku sedih.
***
POV 3
Di saat yang bersamaan...
“Fir, kenapa ponselmu gak bisa di hubungi?” gumam Pak Fathan yang mencoba berulang kali menghubungi ponsel Fira.
Setelah beberapa saat tidak juga berhasil, Pak Fathan pun langsung beranjak keluar dari kantornya untuk memastikan sesuatu.
Langsung di carinya Jio ke dalam kelasnya namun hasilnya nihil. Dia tidak dapat menemukan Jio di kelasnya.
“Perhatian semuanya, ada yang lihat Jio dan Fira tidak?” tanya Pak Fathan kepada semua teman sekelas Fira dan Jio.
Untuk sesaat, mereka semua terdiam. Hingga akhirnya ada salah satu mahasiswa yang menyahut, “Dari tadi mereka gak masuk, Pak. Mungkin bolos buat pacaran kali, Pak.”
“Oh begitu ya. Ya sudah. Terima kasih ya,” ucap Pak Fathan yang kemudian pergi.
Di lorong kelas, Pak Fathan pun berpikir kalau ini semua terasa aneh dan tidak mungkin juga Fira melakukan itu.
“Gak. Aku harus cari tahu dan selidiki lagi,” ucap Pak Fathan yang langsung bergegas ke kantor kepolisian.
Sesampainya di sana, Pak Fathan pun langsung meminta bawahannya untuk segera menyelidiki keberadaan Jio saat ini.
Di saat yang bersamaan...
“Than, kenapa kamu masih belum juga menyerah dengan Fira? Bukankah dia hanya batu loncatanmu saja supaya kamu bisa menangkap pelaku pembunuhan Adikmu?” ucap Gladis yang tahu-tahu datang tanpa di undang.
‘Brak’
Suara keras pukulan meja.
“Kamu! Mulai saat ini dan seterusnya, kamu itu tidak usah ikut campur urusanku. Karena kamu tahu kenapa!? Karena kamu bukan seseorang yang cukup berarti buatku melebihi Fira. Cam kan itu!”
Setelah mengatakan itu, Pak Fathan pun langsung pergi meninggalkan Gladis.
Bersambung...