Bagaikan buah simalakama. Aku pergi, dia hancur. Aku bertahan, aku yang hancur. Lalu, jalan seperti apa yang harus aku ambil?
Siapa yang tidak mengharapkan hubungan harmonis dengan keluarga pasangan. Setiap pasangan pasti berharap hubungan yang baik-baik saja dalam keluarga besarnya. Pepatah mengatakan, jika kau siap untuk menikah dengan anaknya, maka kau pun harus siap menikah dengan keluarganya? Lalu apa jadinya ketika orang tua pasangan kita tidak menerima kita sepenuhnya? Pilihannya hanya ada dua. Bertahan, atau melepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jawaban Daniar
Daniar duduk termenung menatap hamparan bunga mawar. Hari ini, genap seminggu waktu yang diberikan oleh Dadan bagi Daniar untuk menjawab pernyataan cintanya.
Jujur, Daniar sendiri masih belum bisa memutuskan apa pun. Di satu sisi, dia tidak pernah ingin mengecewakan Dadan yang notabene masih memiliki kekerabatan dengannya. Namun, di sisi lain Daniar juga belum siap untuk kecewa jika Dadan menolak dirinya atas masa kelam yang pernah dia lewati.
Daniar berpikir, jika ada seorang laki-laki yang akan menjadi jodohnya, maka dia tidak akan pernah menyembunyikan hal apa pun darinya. Dia pernah berjanji, siapa pun laki-laki itu, jika memang ditakdirkan untuk menjadi imamnya, maka lidah Daniar pasti tidak akan kelu untuk berkata jujur. Namun,Dadan? Entahlah, rasanya lidah Daniar seakan terkunci untuk mengungkapkan semua kebenaran tentang dirinya kepada Dadan.
Tiba-tiba, dering telepon membuyarkan lamunan Daniar. Gadis itu pun segera merogoh saku cardigan untuk mengambil benda pipih tersebut. Dahinya berkerut saat melihat nama Dadan di layar ponsel. Segera Daniar menjawab telepon dari laki-laki itu.
Daniar : "Assalamu'alaikum, Kak!"
Dadan : "Wa'alaikumsalam. Lagi ngapain, Niar?"
Daniar : "Niar cuma lagi bengong aja, Kak.
Dadan : " Ish, kok bengong sih. Hati-hati loh, entar kemasukan Nyai Kunkun. Hehehe...."
Dadan menggoda Daniar di ujung telepon.
Daniar : "Dih, apaan sih Kak Dadan. Nggak lucu ah!"
Daniar menukas gurauan Dadan.
Dadan : "Lagian, sore-sore gini ngelamun. Ya sudah, daripada kamu bengong, mending kamu siap-siap, gih! Habis magrib, Kakak jemput kamu untuk makan malam."
Daniar terhenyak.
Daniar : "Makan malam? Kok ngedadak sih, Kak?"
Terdengar helaan napas di ujung telepon.
Dadan : "Ini nggak ngedadak, Niar. Bukankah hari ini adalah hari yang kamu janjikan untuk memberikan sebuah jawaban?"
Daniar menarik napasnya panjang. Sebenarnya dia ingat jika hari ini adalah hari terakhir dia memberikan keputusan kepada Dadan.
Daniar : "Baiklah, nanti malam kita makan malam, Kak."
Dadan : "Ya sudah, Kakak tutup teleponnya, ya. Nanti Kakak jemput sekitar pukul 19.00. Bye, assalamu'alaikum!"
Daniar : "Wa'alaikumsalam."
Daniar meletakkan ponsel di sampingnya. Dia kembali menerawang menatap hamparan bunga mawar. "Jawaban apa yang harus aku berikan," gumamnya pelan.
.
.
Tiba di rumahnya, Yandri begitu terkejut mendapati Siska yang sedang berbincang dengan Habibah di teras.
"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri.
Habibah dan Siska seketika menoleh saat mendengar salam. Senyum pun terukir di kedua sudut bibir Siska saat melihat Yandri tengah membuka sepatunya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Habibah, "kok tumben pulangnya sore banget, Yan?" tegur Habibah.
"Iya, Kak. Tadi Yandri ngurusin dulu laporan di rumah DosPem," jawab Yandri seraya meletakkan sepatu di tempatnya. Setelah itu, Yandri memasuki rumah tanpa sedikit pun menoleh ke arah tamu sang kakak.
"Eh, Yan. Kok masuk sih? Ini Siska nungguin kamu dari tadi loh," tukas Habibah seraya mengejar adiknya memasuki rumah.
"Maaf Kak, Yandri capek ... Yandri mau istirahat," tolak halus Yandri.
Habibah mengejar Yandri memasuki kamar. "Jangan seperti itu, Dek, nggak sopan! Temuilah Siska, kasihan dia sudah nungguin kamu pulang dari tadi," tukas Habibah.
Yandri menghela napasnya. "Kenapa Kakak tidak suruh dia pulang saja tadi? Bukankah Kakak sendiri tahu jika aku belum pulang. Kenapa harus menahannya?"
"Kakak sudah mengatakan jika kamu belum pulang dari kampus. Namun, saat Siska memutuskan untuk menunggu, ya Kakak bisa bilang apa, Dek?" Habibah berusaha membela dirinya.
Yandri semakin merasa kesal. Sepertinya dia tidak punya pilihan lain. Dia kemudian kembali ke teras untuk menemui Siska.
.
.
Lepas pukul 7 malam, sebuah mobil sport berwarna putih sudah terparkir di halaman depan rumah Daniar. Ya, mobil siapa lagi kalau bukan mobil Dadan. Pria itu terlihat tampan mengenakan t-shirt berwarna maroon yang dipadukan dengan celana jeans.
Hari ini Dadan tampak begitu ceria. Dirinya sudah tidak sabar ingin segera mendengar jawaban Daniar atas pernyataan cintanya seminggu yang lalu. Dengan wajah sumringah, Dadan kemudian menekan bel pintu rumah Daniar.
Tak berapa lama, pintu terbuka. Daniar berdiri di ambang pintu dengan begitu anggunnya. Menggunakan blouse berwarna putih tulang yang dipadukan rok berbahan sutra dengan motif bunga, membuat aura Daniar semakin terpancar. Daniar bukan tipe wanita yang suka memoles wajahnya. Namun, semua itu tidak mengurangi keayuan Daniar sebagai seorang wanita.
"Cantik sekali kamu, Niar," puji Dadan saat melihat Daniar.
"Terima kasih, Kak," jawab Daniar. "Kita jalan sekarang?" tanyanya.
"Boleh," kata Dadan.
"Ya sudah, ayo!" ajak Daniar.
"Eh, kita nggak pamit dulu sama ayah dan ibu kamu, Niar?" tanya Dadan.
"Ayah sudah kembali ke Jakarta. Sedangkan ibu, beliau sedang mengikuti pengajian malam Minggu di masjid depan. Danita pergi ke luar bersama tunangannya. Dan Danisa, ya Kakak juga tahu sendiri kalau dia sangat jarang berada di rumah. Jadi, di rumah nggak ada siapa-siapa, Kak," tutur Daniar.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Kita berangkat sekarang saja," timpal Dadan.
Dadan mengulurkan tangannya untuk menggandeng Daniar. Namun, entah kenapa Daniar semakin risih dengan perlakuan Dadan. Ah, andai hari ini bukan hari untuk mengeksekusi pernyataan Dadan, mungkin Daniar tidak akan pernah mau diajak keluar.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Dadan tiba di restoran yang diakui sebagai restoran favoritnya. Dadan membuka safety belt dan segera turun hendak membukakan pintu mobil untuk Daniar. Pokoknya, malam ini dia harus bisa membuat kesan yang begitu berarti di mata Daniar.
Setelah Daniar turun, Dadan kembali menggandeng tangan Daniar memasuki restoran. Di mata para pengunjung, mereka merupakan pasangan yang serasi. Yang pria begitu tampan dan maskulin, sedangkan si wanita begitu anggun dengan paras yang elok dipandang mata.
Dadan mengajak Daniar menaiki tangga menuju private room yang sudah dipesannya. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah meja yang telah begitu indah dihias. Daniar sedikit terpaku melihat suasana romantis yang disuguhkan oleh Dadan.
"Kenapa harus seperti ini, Kak?" tanya Daniar terasa sesak.
"Karena aku ingin malam ini menjadi sempurna bagi kita, Niar," jawab Dadan.
Daniar hanya bisa menghela napas. Rasanya dia tidak tega harus mengecewakan Dadan. Namun, dia lebih tidak tega harus membohongi Dadan tentang perasaannya.
"Kenapa melamun? Duduklah!" perintah Dadan yang ternyata telah menarik kursi untuk Daniar duduki.
Lagi-lagi Daniar dibuat tidak nyaman oleh sikap Dadan. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak ingin Kak Dadan terlalu jauh berharap. Lebih cepat aku berikan keputusan, mungkin itu jauh lebih baik daripada aku harus tersiksa oleh sikapnya yang seolah berharap penuh, batin Daniar.
"Hei, ayo duduklah!" Dadan kembali memberikan perintah.
Daniar menatap Dadan. Dadanya semakin bergemuruh. Rasa sesak sudah tidak bisa dia tahan lagi. Dia sadar, jika Dadan adalah jodohnya, seharusnya dia mampu berbicara jujur tentang masa lalunya kepada laki-laki itu. Namun, entah kenapa melihat sikap Dadan, Daniar semakin merasa takut.
"Ma-maaf, Kak. Tapi Niar tidak bisa."
aarhh...bikin emosi aja
ngeyel sih
Semangat Thot, Luar biasa ceritanya