Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Restoran itu dipenuhi cahaya siang yang hangat. Jendela-jendela besar di restoran itu membiarkan matahari masuk tanpa sungkan, memantul di permukaan meja marmer dan peralatan makan yang berkilau. Musik instrumen mengalun pelan, alunannya cukup lembut untuk menciptakan suasana romantis tanpa mengganggu percakapan.
Samira duduk dengan anggun di kursinya, mengenakan gaun berwarna krem pucat. Rambutnya terurai hingga sebahu. Dari luar, tak ada yang akan mengira perempuan itu buta. Beberapa pasang mata bahkan melihat ke arahnya.
Di seberangnya, Arga tersenyum sambil menuangkan air ke dalam gelas Samira.
“Pelan-pelan minumnya,” katanya lembut. “Aku tidak mau kau terburu-buru.” Arga tersenyum lembut, memberi perhatian lebih pada perempuan di hadapannya itu.
“Terima kasih,” jawab Samira, jarinya menyentuh tepi gelas.
Ia mengangkat wajahnya ke arah suara Arga sambil tersenyum manis. “Sudah lama sekali kita tidak makan siang berdua seperti ini,” katanya jujur.
Arga mengangguk. “Aku tahu. Maaf jika aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Ada banyak sekali hal yang harus aku urus di perusahaan. Kau tahu bukan?”
Atau terlalu sibuk dengan istrimu yang lain, batin Samira, namun wajahnya tetap tenang.
Arga meraih tangan Samira yang berada di atas meja. Sentuhannya terasa hangat dan penuh kepemilikan. “Aku ingin memperbaiki semuanya, Samira. Kau istriku. Aku seharusnya lebih perhatian padamu.”
Samira menunduk sejenak, memainkan peran sempurna. “Aku senang mendengarnya.”
Arga tersenyum lalu mengambil buku menu. “Kau mau memesan apa, Sayang?” tanya Arga lembut.
“Aku akan memesan apa yang kau pesan saja.”
“Hm, baiklah, aku akan memesan menu terbaik untukmu, ya.” Arga langsung memanggil seorang pramusaji dan memesan beberapa hidangan mahal.
Samira tersenyum tipis. Lihatlah sikapmu, langsung berubah drastis saat kukatakan ada hal penting yang ingin kubicarakan. Selama 4 tahun menikah, kau hanya bersikap baik saat ada kemauan saja, batin Samira merasa kesal jika mengingatnya.
Di sudut restoran, satu meja dari mereka, Indira duduk tepat di belakang Arga. Ia mengeluarkan ponselnya dan bersiap melakukan perintah dari Samira. Dari tempat duduknya, ia memberi isyarat.
Ketika pesanan mereka tiba, seperti dugaanya, Arga menyuapi Samira sepotong pasta, dan Samira berlakon dengan tertawa kecil, Arga mengusap punggung tangannya dengan gestur lembut. Siapapun yang melihat itu akan percaya, mereka pasangan harmonis yang sedang jatuh cinta lagi.
Indira menahan senyum, menatap Samira dan mengangguk singkat, memberi perempuan itu isyarat bahwa ia telah selesai mengambil video romantis antara dirinya dan Arga.
Tak lama setelah hidangan penutup datang, Indira berdiri dan pergi. Begitu berada di luar restoran, ia langsung mengirim video itu ke satu nomor yang sudah tersimpan di ponselnya.
Larissa.
“Selesai,” gumam Indira seraya mengenakan kembali kacamata hitamnya.
Di rumah, Larissa sedang menunggu Arga pulang untuk memberitahunya bahwa Samira pergi keluar lagi saat tiba-tiba ponselnya berdenting. Ia menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras.
Video itu terputar tanpa suara, tapi gestur-gesturnya berbicara lebih dari cukup. Arga yang tersenyum penuh perhatian sambil menyuapi Samira. Tatapan lembut yang selama ini hanya ia dapatkan, juga ikut didapatkan Samira.
“Jadi begini,” gumam Larissa, napasnya tersengal. “Kau memperlakukannya seperti itu sekarang?”
Ia mengepalkan tangannya kesal bukan main, amarahnya bercampur cemburu membakar dadanya. Tanpa menunggu lama, ia menelepon Arga.
Nada sambung terdengar beberapa detik sebelum akhirnya diangkat.
“Ada apa? Kenapa kau menelepon?” Suara Arga terdengar hati-hati dan berbisik-bisik.
“Kau makan siang romantis dengannya?” tanya Larissa langsung menuduh. “Kau pikir aku tidak akan tahu?”
Hening terdengar di seberang sana.
“Larissa—”
“Kau menyuapinya!” bentaknya. “Kau memegang tangannya! Sejak kapan kau seromantis itu pada perempuan buta itu?!” Dada Larissa naik turun bersama dengan emosinya.
“Jaga nada bicaramu, Larissa.” Arga memperingatkan.
Larissa tertawa getir. “Oh, sekarang aku yang harus jaga sikap? Aku ini istrimu, Arga!”
“Kau tahu kita tidak bisa bicara seperti ini di telepon,” jawab Arga tertahan. “Kita bertemu nanti.”
“Tidak,” Larissa mendesis. “Aku ingin penjelasan sekarang.”
Arga menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab. Jika tidak memikirkan ia sedang bersama dengan Samira sekarang, ia benar-benar akan kehabisan kesabarannya. “Aku melakukan itu karena suatu alasan.”
“Alasan? Alasan apa? Alasan bahwa kau mulai menyukainya?!” seru Larissa, tidak percaya.
“Samira mulai berubah,” bisik Arga pada akhirnya. “Dia tidak selemah dulu. Dia mulai mempertanyakan banyak hal. Kalau aku tidak bersikap baik, dia bisa curiga.”
Larissa terdiam, namun amarahnya belum padam. “Jadi kau berpura-pura mencintainya?”
“Bukan pura-pura,” jawab Arga cepat. “Tapi inilah yang dinamakan dengan strategi. Bukankah sudah pernah kukatakan sebelumnya? Kenapa kau masih tidak mengerti juga, Larissa?! Aku melakukan semua ini untukmu!”
Larissa menggigit bibirnya. “Dan aku harus melihat itu?”
“Larissa,” katanya, suara Arga mulai melunak, “Kau tahu jelas apa tujuan kita sebenarnya. Semua ini untuk masa depan kita. Untuk anak kita.”
Nama itu membuat Larissa terdiam sepenuhnya.
“Kau pikir aku menikmati ini?” lanjut Arga. “Aku melakukan ini agar rencana kita berhasil. Kalau aku kehilangan kepercayaan Samira sekarang, semuanya akan runtuh.”
Akhirnya, Larissa menghela napas lelah. “Baiklah, tapi ingat. Jangan keterlaluan. Kau hanya milikku.”
“Aku tahu batasnya,” jawab Arga. “Percayalah padaku.”
Telepon ditutup tanpa kata perpisahan. Larissa duduk terdiam, ponselnya tergeletak begitu saja di pangkuannya.
Cemburu itu belum hilang sepenuhnya, tapi ketakutan kehilangan semuanya jauh lebih besar. “Tenang, Larissa. Tenanglah, ini hanya sandiwara,” katanya meyakinkan dirinya sendiri.
•••
Malam turun perlahan. Seperti biasa, rumah itu terasa sunyi, hanya lampu meja yang menyala redup di kamar Samira.
Ia duduk di tepi ranjang, mengenakan piyama sederhana. Rambutnya terurai, wajahnya terlihat tenang.
Tak lama, terdengar suara ketukan di pintu.
“Masuk,” ucap Samira.
Arga melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Wajahnya tampak ragu, seolah ia sedang menimbang sesuatu.
“Ada yang ingin kubicarakan,” katanya.
Samira mengangguk, menepuk sisi ranjang. “Duduklah.”
Arga duduk, menjaga jarak. “Tadi di perusahaan, kau sempat bilang ingin bicara sesuatu yang penting.”
Samira tersenyum kecil. “Benar.”
Ia menarik napas dalam, seolah sedang mempersiapkan diri untuk membuka rahasia besar.
“Ayahku,” katanya pelan, “Meninggalkan satu warisan lagi untukku.”
Arga menegakkan tubuhnya. “Warisan? Warisan apa? Kau tidak pernah mengatakannya padaku sebelumnya.”
“Dana pendidikan,” lanjut Samira seraya tersenyum tipis. “Nilainya sepuluh miliar.”
Mata Arga berkilat kala mendengar nominal yang fantastis itu. Ia langsung mendekat ke arah Samira dengan rasa penasarannya.
“Tetapi … dana itu hanya bisa diklaim jika aku memiliki seorang anak.” Samira menambahkan dengan hati-hati sambil melihat reaksi Arga dari ujung matanya.
Arga berusaha menjaga wajahnya tetap netral, tapi Samira melihat segalanya, kilatan nafsu, perhitungan cepat, rencana yang langsung terbentuk di kepalanya.
“Anak kandung?” tanya Arga.
“Tidak harus,” jawab Samira pelan. “Anak angkat juga bisa. Asal sah secara hukum.”
Hening menyelimuti ruangan itu selama beberapa saat.
“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” Arga akhirnya bertanya.
Samira menunduk. “Aku tidak pernah berpikir akan sampai pada tahap ini. Tapi … aku mulai ingin memiliki keluarga yang utuh.”
Kalimat itu terdengar lembut dan penuh harap namun sebenarnya hanyalah kepolosan palsu.
Arga menelan ludah. Otaknya bekerja cepat. Jika Samira mengadopsi anak, dan jika anak itu sah secara hukum, maka dana itu akan menjadi milikku juga bukan? pikirnya.
Sepuluh miliar bukanlah jumlah yany sedikit baginya. Dengan nominal itu, ia bisa melakukan apapun yang diinginkannya selama ini tanpa perlu berpura-pura lagi menjadi suami dari istri yang buta.
“Adopsi,” gumam Arga, seolah baru menemukan ide brilian. “Kita bisa mengadopsi seorang anak, Sayang.”
Samira mengangguk pelan, bibirnya menyunggingkan senyum puas karena telah berhasil menjebak Arga.
“Aku juga berpikir begitu, tapi di mana kita bisa menemukannya?”
Arga meraih tangan Samira, menggenggamnya erat. “Kita akan membicarakan ini lebih lanjut. Kau jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya.”
Samira tersenyum, sedikit menundukkan kepala. “Aku percaya padamu, Arga.”
Di balik senyum itu, Samira menahan tawa.
Adopsi anakmu sendiri, pikirnya dingin. Kau bahkan tidak sadar sedang melangkah ke dalam jerat.
Ketika Arga meninggalkan kamar dengan langkah ringan dan pikiran penuh rencana, Samira tetap duduk di sana, menatap pintu yang tertutup.
“Sepuluh miliar hanyalah umpan, agar kalian menjadi lengah,” gumamnya puas.