Ini cerita tentang sebuah pulau yang penghuninya zombie semua.
Hingga suatu hari ada beberapa korban kecelakaan pesawat yang selamat dari ancaman maut dan terdampar di pulau zombie.
Bukannya mendapatkan pertolongan disana, tapi malah mati satu persatu diserang makhluk yang mengerikan itu.
Akankah ada yang selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Mereka yang ada di atas rooftop sangat antusias sekali begitu mendengar suara pesawat di angkasa, mereka melihat dengan jelas pesawat itu walaupun terlihat sangat kecil karena jarak mereka yang begitu jauh, sayangnya mereka tidak bisa berteriak karena takut terdengar zombie yang mungkin ada di tangga darurat sana.
Diego, Dave, dan Victor terus melambaikan tangan ke atas, bahkan Dave naik ke atas benteng melambaikan kemeja Diego yang belum sempat di pakai lagi, berharap ada salah awak pesawat melihat mereka.
Sialnya tak ada satupun yang melihat mereka.
Marsell yang sibuk menahan pintu, dia segera berlari ke balkon, melihat pesawat yang jaraknya semakin jauh , "Ah sial! Seharusnya kita lari ke rooftop." keluhnya pada Rere.
Marsell sama sekali tidak tau di rooftop sana ada orang yang selamat.
"Menurut kamu apa mungkin Ana, Mira, dan Dave selamat?" tanya Rere sambil memperhatikan para zombie yang berlalu lalang di bawah.
"Entah lah, aku tidak peduli. Mungkin saja mereka sudah mati." Marsell sebenarnya sakit hati semalam Ana lebih memilih keluar untuk mengelabui para zombie dibandingkan tinggal dengannya di apartemen ini, Ana sangat nekad sekali demi menolong Dave dan orang-orang lainnya. Marsell sangat tahu Ana diam-diam sering memperhatikan Dave di kampus, mungkin waktu itu Ana tidak menyadari perasaannya.
Marsell kembali lagi ke dalam, harus membantu Rangga dan Alan untuk menahan pintu walaupun sudah di tahan oleh lemari TV.
Hari sudah mulai sore, tak ada lagi pesawat atau helikopter yang melintasi pulau ini.
Diego, Dave, dan Victor mencari sesuatu ke setiap sudut rooftop, tidak ada alat atau apapun yang bisa mereka gunakan untuk menarik perhatian pesawat atau helikopter jika melintasi pulau ini.
Dave menemukan sebuah tali carmantel, tali yang biasa digunakan rope access, untuk membersihkan kaca gedung apartemen. Dave menunjukkan tali itu pada Diego dan Victor, siapa tau tali itu ada gunanya. "Aku hanya menemukan tali ini."
"Oh itu tali carmantel. Sayangnya aku gak pernah memanjat dinding bahkan tebing." Victor sangat menyesal mengapa dulu tidak pernah melakukan rock climbing saat kuliah dulu.
Diego memang pernah mengikuti rock climbing ataupun wall climbing, tapi itu saat dia masih kuliah, dia rasa tidak ada salahnya dia mencobanya lagi untuk menemukan sesuatu di apartemen sana, mungkin saja dia menemukan barang yang berguna untuk mereka, ataupun makanan yang belum kadaluwarsa. "Biar aku coba pakai ini."
Rachel mendengar ucapan Diego, dia tidak menyetujuinya karena resikonya terlalu bahaya. "Aku gak setuju, itu bahaya sekali."
Diego meyakinkan Rachel, " Kita tidak bisa diam terus seperti ini, Rachel. Disini tidak ada barang apapun yang bisa kita gunakan. Kita harus mencari sesuatu, termasuk makanan untuk Cindy dan Adel, mereka belum makan, hanya sepotong coklat saja itupun pagi tadi."
Rachel pun terdiam, dia memandangi Cindy yang sedikit lemas, begitu juga Adel, walaupun mereka lagi bermain, tapi mereka tidak akan sanggup menahan lapar lebih lama lagi. Apalagi dia tidak tahu sampai kapan mereka akan terus terjebak seperti ini.
Tanpa banyak berpikir, Diego mulai mengikat pinggangnya dengan tali, dia memastikan ikatan tali di pinggangnya sudah kuat. Dia ingin mencoba memasuki apartemen, mungkin saja dia menemukan apapun yang bisa mereka gunakan. Yang penting jangan pergi ke lantai yang ditempati Marsell karena di lantai sana sudah pasti banyak sekali zombie berkeliaran.
Dave mengikatkan tali ke sebuah tiang tembok dengan kuat, dia menatap Diego yang sudah berdiri di benteng rooftop, "Hati-hati bang."
Diego menganggukkan kepala, dia mulai turun ke bawah pelan-pelan dengan terus berpegangan pada tali.
Begitu menegangkan jika melihat ke bawah sana, dia melihat ada ribuan zombie melihat ke arahnya sambil meraung kelaparan.
"Aagghhrrkkk...Aagghhrrkkk..."
Walaupun jarak mereka begitu sangat jauh tapi suara zombie itu menggangu konstrasi Diego, Diego melewati setiap jendela apartemen, dia bisa melihat bagaimana suasana disetiap ruang apartemen. Ternyata banyak sekali zombie disana.
"Aagghhrrkkk!"
Diego dikejutkan oleh satu zombie yang tiba-tiba muncul di dinding kaca melihat kearahnya. Sampai Diego terlonjak bergelantungan tak tentu arah.
"Oh Diego!" Victor dan Dave yang mengatur tali di atas sangat terkejut melihat Diego yang bergelantungan tak bisa mengendalikan talinya.
Rachel segera melihat ke bawah sana dengan perasaan cemas, padahal dia awalnya tidak ingin melihatnya sama sekali karena sangat takut melihat Diego yang nekad melakukan rappeling di dinding apartemen. Dia begitu gelisah, sangat mencemaskannya, hatinya sungguh tidak tenang.
Apalagi dibawah sana para zombie semakin antusias menatap ke atas, saling menindih untuk bisa memangsa santapan mereka di sore hari.
Diego berusaha untuk mengatur keseimbangannya, dia menapakan kakinya kembali ke dinding apartemen sebagai pijakan.
Dengan hati-hati dia mencoba memperhatikan lagi kesetiap jendela yang dia lewati. Diego tidak melihat zombie di ruang apartemen itu, dia mengayunkan kakinya mencoba untuk untuk memecahkan kaca.
Prang
Diego diam sejenak di tempat beberapa menit, siapa tau tiba-tiba ada zombie muncul menyerang dirinya.
Tidak ada reaksi apapun.
Bisa dipastikan disana tidak ada zombie, dia segera masuk ke dalam melewati jendela yang pecah, membuka tali dari badannya, dia berjalan dengan hati-hati memasuki kamar itu.
Lalu Diego membuka pintu kamar dengan pelan dengan perasaan berdebar-debar, takut ada zombie di ruang tengah apartemen sana.
Diego ngusap dadanya, sama sekali tidak ada zombie disana. Diego mencari apa saja yang ada disana, siapa tau ada yang diperlukan.
Diego melihat ada banyak makanan, sejujurnya dia juga sangat lapar, tapi sayangnya semua makanan disana sudah kadaluwarsa. Diego melirik ada beberapa ember cat disana. Dia rasa tidak membutuhkan itu. Lebih baik dia pergi mencari ruang apartemen yang lain.
Tiba-tiba muncul sebuah ide pada ember cat itu. Diego membuka ember cat, beruntung sekali cat disana belum kering. Diego memilih membawa yang berwarna merah saja biar warnanya mencolok. Dia menjinjing ember cat dan mengikatnya pada tali.
Victor dan Dave segera menarik tali ke atas membawa ember cat itu, sementara Diego masih menunggu di ruang apartemen yang ada di lantai 13 sana.
"Cat? Buat apa?" tanya Mira begitu melihat ember cat itu berhasil dibawa ke atas.
"Mungkinkah untuk menulis sesuatu?" Ana mencoba berpikir.
"Kita harus menulis kata Help berukuran sangat besar dan tebal, siap tau ada pesawat atau helikopter yang melintas melihat kata itu." jawab Victor.
"Biar kita saja yang buat." Rachel rasa dia Ana, dan Mira harus ikut membantu juga.
"Nah iya benar." Ana sangat setuju.
Lebar Rooftop sangat lumayan luas, mereka bisa menulis kata HELP dengan ukuran yang sangat besar, kurang lebih satu hurufnya sekitar 7 meteran. Sangat berharap ada yang melihat keempat huruf itu nanti jika ada pesawat atau helikopter yang melintas.
Diego membawa tali carmantel yang diturunkan lagi oleh Dave dan Victor, dia mengikat kembali pinggangnya, dan turun lagi ke bawah menuju lantai 12, dia rasa di lantai itu tidak ada zombie juga.
Prang
Diego menendang jendela kembali. Sialnya dia mendengar raungan zombie disana.
"Aagghhrrkkk....Aagghhrrkkk....Aagghhrrkkk..."
Para zombie berlarian menuju jendela.
Diego memberikan kode pada Victor dan Dave untuk menarik talinya sedikit ke atas agar para zombie tidak menjangkau dirinya.
Diego sangat gemeteran melihat para zombie yang berlari begitu cepat menuju jendela. Dia terkejut ada satu zombie naik ke jendela yang pecah itu, karena melihat ada Diego yang bergelantungan naik ke atas.
"Aagghhrrkkk!"
Zombie itu meloncat untuk meraih kaki Diego.
Beruntung Victor dan Dave segera menarik tali sehingga Zombie itu tidak gagal mendapatkan kaki Diego, malah terjun ke bawah.
Victor memberikan kode pada Diego untuk naik ke atas, tapi Diego tidak setuju malah meminta menggeserkan posisi. Diego rasa hanya di lantai 13 sana tidak ada zombie, dia memilih menyusuri ruang apartemen lantai 13 saja.
Prang
Diego memecahkan kaca jendela ruang apartemen lagi. Seperti biasa, dia menunggu dulu apa ada zombie yang merespon pecahan kaca itu atau tidak.
Diego sangat bernafas lega, karena tidak ada respon zombie sama sekali .Diego memasuki ruang apartemen tersebut dengan pelan, sayangnya disana tidak ada apapun yang bisa dia bawa.
Namun dia tidak menyerah, dia terus membobol lagi ke ruang apartemen lainnya di lantai 13 itu. Sampai akhirnya dia menemukan tiga buah mie rebus yang belum kadaluwarsa mungkin terpaksa harus di makan mentah nanti, dia menemukan satu buah snack juga yang masih aman untuk dimakan. Dia memasukkan tiga mie dan satu snack itu ke bajunya. Diego seorang pengusaha kaya raya, begitu bebas dan mudah mendapatkan makanan apapun yang dia mau, kini dia harus merasakan untuk pertama kalinya susahnya mencari makan untuk sekedar mengganjal perut sampai harus mempertaruhkan nyawa.
Dia memperhatikan ruangan apartemen yang dia singgahi, dia melihat foto pemilik apartemen itu memakai baju dinas polisi.
Diego segera menggeledah ruangan tersebut, siapa tau dia menemukan sebuah senjata disana, namun dia hanya menemukan satu buah peta, Diego memasukannya ke saku celana siapa tau membutuhkan peta itu.
Dia melihat sebuah laci di kamar, dia membuka laci itu, dia terperangah begitu melihat ada sebuah pistol kecil berjenis FN 57, Diego memeriksa isi pelurunya, ternyata ada 18 peluru tersisa disana. Setidaknya dia bisa membunuh 18 zombie dalam waktu yang sangat cepat. Diego menyimpan pistol itu ke saku celananya.
Hari sudah mulai gelap dan sepertinya akan turun hujan, Diego harus kembali ke atas.
Sementara itu Marsell, Rere, Rangga, dan Alan semakin kawalahan karena para zombie semakin berutal menyerang pintu apartemen, sampai pintu itu rusak berhasil dibobol oleh para zombie disana.