Pernikahan selama sepuluh tahun tidak bisa membuat dirinya mengandung walaupun dengan melakukan inseminasi buatan.
Karena keluarga suami yang menginginkan ahli waris akhirnya menyingkirkan dirinya dengan memberikannya sebuah perusahaan sebagai kompensasi perceraiannya dengan sang suami.
Bagaimana kelanjutan hidupnya setelah diceraikan oleh suaminya?
Apakah Nikita menemukan kembali cinta dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. CHAPTER 25
Nikita dan tuan Kenzo menghabiskan sarapan mereka sebelum berangkat ke perusahaan. Sebelum Nikita berangkat, gadis ini masih berjibaku dengan pekerjaannya.
Ia mempersiapkan power point untuk meeting siang nanti. Tuan Kenzo tidak ingin menganggu istrinya karena ia juga sibuk menghubungi asisten pribadinya yang berada di Paris Perancis.
"Tuan, apakah anda tidak berniat pulang ke Paris untuk menengok keadaan perusahaan?"
"Aku tidak bisa meninggalkan istriku yang sedang hamil besar. Apakah ada masalah?" Tanya Kenzo cemas.
"Tidak Tuan, semua berjalan lancar." Ucap asistennya.
"Kalau begitu tanggung jawab semua perusahaanku aku limpahkan kepadamu, tolong jaga dengan baik. Bonus untuk mu akan aku lipat gandakan dalam tahun ini. Tapi kamu boleh cuti setelah bayiku lahir dan aku akan kembali ke Paris begitu istriku melahirkan." Ucap tuan Kenzo.
Keduanya mengakhiri percakapan mereka. Nikita yang sudah terlihat rapi menghampiri suaminya yang baru saja mengakhiri obrolannya dengan asistennya.
"Apakah kita bisa berangkat sekarang, sayang?" Tanya Nikita lembut.
Hati Tuan Lorenzo sangat berbunga-bunga, kalau istrinya memanggilnya dengan sangat mesra. Begitulah Nikita yang tidak terlalu memperlihatkan kemesraannya pada suaminya kecuali di atas ranjang.
"Silahkan bidadariku!" Kenzo memberikan lengannya kepada Nikita agar istrinya menggandeng lengannya saat menuruni anak tangga.
Nikita tersenyum bahagia karena saat ini hatinya sedang senang.
"Apakah kamu sudah mempersiapkan power point untuk meeting nanti siang?" Tanya Kenzo sambil memasang seat belt pada istrinya.
"Sudah sayang. Semuanya lancar." Ucap Nikita. " Ade, doakan mama ya!" Bisik Kenzo pada perut istrinya.
Mobil itu bergerak membawa keduanya ke perusahaan mereka Lik Nikita. Pagi itu, jalanan cukup padat merayap membuat Nikita sedikit kesal.
"Aku ingin sekali naik helikopter setiap kali berangkat ke perusahaan kalau melihat kemacetan jalanan ibukota Jakarta." Ucap Nikita.
"Apakah kamu menginginkannya?" Tanya Kenzo yang cepat tanggap pada keluhan istrinya.
"Jangan terlalu serius Kenzo, aku hanya sedang kesal aja." Ujar Nikita.
"Kalau kamu mau, besok aku pesankan untukmu sayang untuk memperlancar mobilitas kamu dalam beraktivitas." Ujar tuan Kenzo serius.
"Sudahlah, lupakan saja. Lagian nggak penting!" Ujar Nikita jengah dengan suaminya yang selalu saja mengabulkan semua permintaannya.
"Kalau aku minta kereta, bisa-bisa suamiku yang super kaya ini akan membelikan juga untukku." Gumam Nikita membatin.
Tidak terasa mobil mereka sudah tiba di halaman perusahaan milik Nikita. Keduanya turun dan di sambut beberapa karyawan yang berada di lobi.
"Selamat pagi Tuan, nyonya!" Ucap mereka bersamaan.
"Pagi semuanya!" Senyum cantik Nikita begitu mempesona dihadapan para staffnya ketika memasuki lift.
Di dalam lift, Nikita berbicara mesra pada suaminya. Tuan Kenzo tentu saja sangat gelisah mendapat perlakuan manja istrinya.
"Nikita sayang....ini masih pagi, mengapa kamu menggodaku sepagi ini sayang?" Gumam tuan Kenzo sambil memeluk istrinya yang sedang melingkarkan tangannya ke lehernya.
"Cium sayang!" Pinta Nikita.
Tuan Lorenzo Melu**t bibir sensual itu dengan lembut, hingga pintu lift itu terbuka. Beruntunglah tidak ada yang melihat tingkah pasangan ini, hingga keduanya melangkah memasuki ruang kerja mereka.
*
"Apakah kamu mau bercinta dulu sayang?" Sebelum memulai aktivitasmu sebagai CEO perusahaan ini?" Tuan Kenzo makin menggoda istrinya yang makin hari makin se*si dengan perut besarnya.
"Berhentilah bercanda Kenzo!" Aku ingin serius bekerja." Ucap Nikita ketus.
"Siap sayang!"
Tolong jangan terlalu capek bekerja karena aku ingin kamu menyisakan waktu dan tenagamu untukku nanti malam. Bukankah sudah hampir dua Minggu ini, kita sedang puasa bercinta?" Ucap Kenzo dengan mengedipkan sebelah matanya.
Nikita mengedikkan kedua bahunya dengan sedikit merinding, menghadapi tingkah konyol suaminya yang makin hari makin nakal ucapannya." Ihh, kesambet apa laki gue, ngomongnya tiap hari makin ngaco.
"Sayang, kalau kamu laki-laki, nanti kalau sudah besar jangan nakal seperti Daddy kamu ya!" Nikita menasehati calon bayinya sambil mengusap perutnya.
"Sayang, jika kamu lahir sebagai putriku, semoga cantik mirip seperti mami kamu, tapi jangan jutek-jutek sama cowok, kasihan dia bisa setress hadapin kamu." Bisik Kenzo dari jarak satu meter dari istrinya.
"Sudah tahu aku jutek kenapa juga masih mau." Nikita asyik mengetik kerjaannya sambil mengoceh.
"Makanya, jangan terlalu cantik kalau tidak mau aku jadiin bini." Timpal Kenzo.
"Dari mana kamu tahu kata bini?" Tanya Nikita heran.
"Bahasa Indonesia sangat mudah aku pelajari, apa lagi bahasa gaul daerah Jakarta, sebagian besar bahasa gaul Jakarta sudah aku mendalaminya. Dan saat ini aku ingin belajar bahasa Sunda, kedengarannya lucu juga saat kamu bicarakan aku dengan Meilan tadi pagi.
Deggg....
"Kurangajar!" Rupanya si bule ini senang menguping dan mengetahui bahwa kami berdua sedang membicarakannya. Bagaimana dia bisa mengetahuinya." Gumam Nikita membatin namun pura-pura serius menatap layar laptopnya.
Sebenarnya, apa yang sedang dibicarakan oleh istrinya dan asisten Meilan tadi pagi, tuan Kenzo sengaja merekamnya dan dia meminta anak buahnya Garry yang kebetulan asli orang Bandung untuk menerjemahkan obrolan itu untuknya, makanya dia mengetahui istrinya sedang membicarakan dirinya.
"Bisa-bisa semua bahasa daerah di Indonesia ini, dipelajari sama bule ini." Gumam Nikita lagi dengan matanya sengaja tetap fokus pada layar laptopnya sambil berpikir serius.
"Pintar sekali acting istriku ini. Dia sedang memikirkan diriku tapi pura-pura serius menatap laptopnya." Tuan Kenzo menarik sudut bibirnya sambil melirik istrinya.
Tok... tok...
Cek...lek..
Asisten Meilan masuk ke ruang kerja itu dengan wajah bersemu merah melihat pasangan ini sedang serius bekerja.
"Kompak banget kerjanya sampai kelihatan serius begitu." Goda Meilan.
"Ada apa Meilan?" Tanya Nikita dengan wajah datar.
"Semua sudah menunggu anda di ruang rapat nona Nikita." Ujar Meilan.
"Terimakasih Meilan, sepuluh menit lagi aku akan segera ke sana." Ucap Nikita.
"Kalau begitu aku ikut karena aku pemegang saham terbesar di perusahaan ini." Kenzo bergegas bangkit untuk ikut serta dalam rapat siang itu.
Nikita lupa kalau suaminya yang lebih banyak berperan dalam mengembangkan perusahaan miliknya.
"Aku tahu kamu pemegang saham terbesar di perusahaan ku, tapi jangan lupa kalau aku adalah CEO di perusahaan ini." Balas Nikita yang sangat kuatir kalau tuan Kenzo akan menjadi lebih mendominasi dalam rapat nanti.
"Saya hanya mendengarkan apa saja yang akan kamu sampaikan kepada kami sebagai pemegang saham sayang. Aku tidak akan mengaturmu walaupun kamu masih minim pengelaman dalam memimpin perusahaan." Ucap tuan Kenzo yang merasa Nikita tidak nyaman dengan kehadirannya.
"Baiklah!" Kalau begitu kamu bisa ikut dan tolong jangan memperlihatkan kelemahanku dalam memimpin rapat nanti. Aku ingin belajar banyak darimu sayang." Ujar Nikita melunak.
"Tumben kamu bisa mesra saat ini, apakah kamu sedang salah minum obat?" Tanya tuan Kenzo dalam hati ketika menerima perlakuan istimewa dari istrinya padanya saat ini.
"Wah, gitu dong jadi pasangan kompak. Kalian sangat so sweet hari ini." Goda Meilan tersenyum malu pada keduanya.
"Jangan terlalu banyak tersenyum Meilan, nanti kamu bisa kesambet seperti laki gue hari ini." Ucap Nikita.
Nikita mematikan laptopnya dan mencabut flashdisk miliknya lalu di masukkan ke dalam kantong blazernya agar mudah di ambil saat memulai prestasi.
Meilan membawa laptop milik bos-nya." Nikita, semua sudah hadir di ruang meeting. Mereka sedang menunggu anda." Ucap Meilan mempersilahkan kedua bosnya ini berjalan duluan.
Nikita melangkah terlebih dahulu dengan sedikit cepat. Kenzo menatap punggung istrinya dengan setengah tidak percaya karena gadis ini sedikit pun tidak mempedulikan dirinya.
"Sayang!"
Lenganku cukup kokoh untuk kamu menggandeng." Kenzo berjalan sejajar dengan Nikita lalu mengambil tangan kanan Nikita agar memeluk lengannya.
Nikita yang baru menyadari keinginan suaminya agar ibu hamil ini mengerti bahwa saat ini, Kenzo ingin menjadi orang yang paling penting dalam hidup Nikita.
Nikita mengencangkan pelukannya pada lengan suaminya sambil melangkah anggun memasuki ruan meeting.
Senyum pelit Nikita tebarkan kepada para peserta meeting sambil berjalan menuju kursi miliknya.
"Nikita... Nikita!" Apa sih yang ada dalam benak loe. Punya laki sempurna gitu, loe antepin. Coba kalau loe kasih gue, ruang hati gue masih sangat luas untuk tuan Lorenzo Miller." Meilan mempersiapkan presentasi bos-nya dan meminta flashdisk milik Nikita untuk di masukkan ke dalam laptop milik Nikita.
Nikita menyapa para peserta meeting yang rata-rata adalah para pemegang saham.
"Selamat siang semuanya!" Apa kabar!" Nikita menyapa para peserta meeting dengan memperhatikan wajah mereka satu persatu sebelum memulai presentasinya.
Setelah di anggapnya cukup dengan basa-basi di awal meeting, Nikita memulai presentasinya mengenai fashion yang saat ini mengikuti tren sesuai dengan permintaan pasar.
Memang Nikita sudah memiliki banyak desainer ternama yang direkrut di perusahaannya, ia juga bukan seorang yang buta dengan dunia fashion. Ia sudah banyak belajar bisnis ini hingga tidak begitu peduli dengan tuan Lorenzo bahkan bayinya sendiri karena ingin menunjukkan ekstensinya di bisnis yang sedang ia geluti.
Nikita berbicara lugas dan formal bahkan terlihat sangat profesional dan mengusai bisnisnya. Tuan Lorenzo makin kagum dengan keceriaan istrinya yang tampil memukau di prestasi kali ini.
Di saat ia sedang serius membahas fashion dalam presentasinya, tuan Richard mengangkat tangannya.
"Iya tuan Richard!" Apakah ada yang ingin anda sampaikan?" Tanya Nikita dengan senyum ramah.
"Nona Nikita!" Apakah presentasi yang saat ini anda bahas, apakah suami anda tuan Lorenzo Miller punya andil besar dalam memberikan ide-ide brilian yang anda sampaikan kepada kami?"
Deggg....
"Maaf tuan Richard...?" Kata-kata Nikita terhenti saat suaminya mengangkat satu tangannya mencegah istrinya untuk tidak meneruskan bantahan pada tuan Richard atas tuduhannya kepada Nikita.
"Terimakasih atas perhatiannya tuan Richard!"
Saya sangat senang dengan pertanyaan anda yang kelihatan sangat jeli dalam menanggapi presentasi istri saya siang ini.
Asal anda tahu, jangankan anda sebagai relasi perusahaan ini yang begitu terpesona dengan presentasi nona Nikita, saya sebagai suaminya saja hampir tidak percaya mendengar prestasi istri saya yang sangat hebat ini dengan ide-idenya yang sangat brilian seperti pujian anda barusan.
Itu berarti, anda harus tahu bahwa apa yang ia sampaikan kepada kalian semua murni dari otaknya yang sangat jenius karena ia sangat multi talenta untuk mengerjakan beberapa hal yang tidak hanya dunia kuliner yang menjadi impian sebelumnya.
Jika anda masih curiga terhadap istriku, anda tahu pintu keluar dari ruangan ini bukan?" Silahkan anda tinggalkan perusahaan istriku karena perusahaan ini tetap berdiri kokoh tanpa modal dari anda." Ucap tuan Kenzo dengan penuh kewibawaan membuat Nikita hampir mati jantungan melihat kepribadian asli dari seorang tuan Lorenzo Miller.