NovelToon NovelToon
Unperfect Wife

Unperfect Wife

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Sisca Nasty

"Perjuangan yang sungguh-sungguh akan membuatmu berhasil mencapai apa yang kau inginkan. Berjuanglah dan tanamkan satu target dihadapanmu!"
~Lara Alessandra

Sebagai wanita dengan berat badan 107 kilogram, Lara kerap kali merasa berkecil hati. Kedatangan keluarga Alex untuk melamar dirinya sudah seperti anugerah terindah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sayangnya, pernikahan sempurna yang dibayangkan Lara tidak sama dengan kenyataan. Alex ternyata mau menikah dengannya karena sebuah paksaan. Bukan karena cinta apa lagi mau menerima Lara apa adanya.

Namun, Lara tidak pernah menyerah. Dia terus berjuang agar Alex mau mencintainya dan menerima dia apa adanya. Ketika perjuangan Lara masih setengah jalan. Dia justru memergoki sang suami sedang bersenang-senang dengan wanita lain.

Apakah Lara akan berhasil membuat Alex jatuh cinta padanya atau justru dia akan menyerah dan memilih untuk meninggalkan Alex?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Pemakaman

Suasana hari itu dipenuhi air mata. Bukan air mata dari Lara, Ny. Moritz dan Greta saja. Tetapi semua orang yang ada di pemakaman juga ikut menangis. Tuan Moritz dikenal sebagai pria yang baik dan dermawan. Semua karyawan yang pernah bekerja di bawah pimpinannya merasa kehilangan. Bagi semua orang, kematian Tuan Moritz masih seperti mimpi.

Alex berdiri dengan ekspresi tidak terbaca. Walau sudah jelas-jelas dia-lah orang yang sudah menyebabkan Tuan Moritz meninggal. Tetapi, tetap saja tidak ada rasa bersalah sedikitpun di wajahnya. Ia justru terlihat tenang dan lega karena satu-satunya orang yang menjadi penghalang hubungannya dan Fiona kini sudah tiada.

Setelah pemakaman selesai, semua orang kembali pulang. Lara memanfaatkan momen itu untuk mendekati pemakaman Tuan Moritz lebih dekat lagi. Sejak tadi ia tidak mau terlalu dekat karena tahu mertuanya tidak akan suka dengannya.

Lara kembali meneteskan air mata sambil memegang batu nisan bertuliskan nama ayah mertuanya. Kepalanya menunduk. Ia masih belum siap kehilangan lagi.

"Pa ...," lirih Lara. Isak tangisnya membuat Lara susah berbicara. Bernapas saja sulit karena tangisannya tersedu-sedu.

"Lara ... Lara." Lara berusaha mengucapkan sebuah kalimat. Tetapi, ia masih belum sanggup. Hingga akhirnya tangis wanita itu kembali pecah. Ia jatuh di atas tanah yang masih basah. Menangis, mengadu, melampiaskan apa yang kini ia rasakan.

"Papa ... jangan tinggalkan Lara," lirihnya. Siapa saja yang mendengar akan menjadi kasihan dan ikut menangis. Tangisan itu sangat tulus. Lara benar-benar merasa kehilangan.

Dari dalam mobil, Greta memandang ke arah makam Lagi. Walau posisi Lara membelakangi jalan, tetapi Greta tahu kalau wanita yang kini ada di makam ayahnya adalah Lara. Sosok yang belum lama menjadi kakak iparnya.

"Apa dia juga merasa kehilangan? Atau ini semua hanya akting saja?" gumam Greta di dalam hati.

***

Malam kembali tiba. Lara pulang ke rumah setelah seharian ada di pemakaman. Tubuhnya terlihat sangat kotor. Tanah yang ada di pemakaman menempel di sekujur tubuhnya dan baju yang ia kenakan. Lara juga belum makan seharian hingga membuatnya merasa lemas dan tidak bertenaga. Jalan saja sudah tidak sanggup karena pemandangan di depan terlihat goyang.

Setibanya di dalam rumah, Lara melihat Alex duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Pria itu tidak sendirian. Ada seorang pria dengan penampilan yang sangat rapi duduk di depan Alex. Mereka terlihat sedang membahas sesuatu yang penting. Setelah Lara muncul. Obrolan mereka tertahan.

"Kau kembali ke rumah ini juga ternyata! Apa kau tidak punya malu? Kau sudah tidak di terima lagi di rumah ini, Lara!" sindir Alex.

Lara hanya diam. Ia berniat melangkah ke kamar. Setelah mandi dan merapikan barang miliknya, ia sudah memutuskan untuk pergi dari rumah itu dan tinggal di rumahnya yang lama.

Namun, saat baru beberapa langkah. Alex sudah berteriak. Pria itu menatap wajah Lara dengan sorot menikam.

"Ke mari!"

Lara memandang wajah Alex sekilas sebelum menunduk dalam. Wanita itu berjalan mendekati posisi Alex berada tanpa mau mengatakan satu katapun.

"Duduklah," pinta Alex. Dengan wajah angkuh, pria itu memperhatikan penampilan Lara dari ujung kaki hingga ujung kepala. Senyum menghina terukir jelas di wajahnya. Alex mengambil sebuah dokumen yang tergeletak di atas meja sebelum melemparkannya ke arah Lara.

"Tanda tangani," ucap Alex.

"Apa ini Kak?"

"Surat cerai," ketus Alex.

Deg. Lara kembali membisu. Dengan tangan gemetar dan hati yang perih, ia berusaha mengambil surat cerai tersebut. Pria yang ada di dekat Alex ternyata seorang pengacara. Pria itu memberikan sebuah pulpen dan memberi tahu Lara bagian mana saja yang harus di tanda tangani.

Lara melihat tanda tangan Alex yang sudah terukir di sana. Sebenarnya Lara juga sudah ikhlas jika harus berpisah dengan Alex. Namun, tiba-tiba saja permintaan terakhir Tuan Moritz mengisi pikirannya. Lara tidak mau setelah perceraian ini Alex akan segera menikah dengan Fiona. Ia tidak mau membuat Tuan Moritz tidak tenang.

Tiba-tiba saja hal tidak terduga terjadi. Lara menyobek surat cerai itu dan menaburkan potongan kertasnya ke udara.

"Gak, Kak! Lara gak mau cerai dari kakak?" ketus Lara.

Perbuatan Lara membuat Alex geram. Ingin sekali pria itu menggambar wajah Lara seperti sebelumnya. Tetapi pengacara yang ada di sana mencegah Alex melakukan semua itu.

"Berani sekali kau! Aku tidak mau memiliki istri seperti dirimu, Lara!" teriak Alex hingga suaranya memekakan telinga.

"Lara tidak mau Kak Alex menikah dengan Fiona," jawab Lara.

"Apa hakmu melarangku menikah dengan Fiona?" teriak Alex lagi. "Kau hanya wanita pembawa sial. Papa meninggal karenamu! Sekarang, apa lagi yang kau rencanakan? Apa kau mau membuat semua orang di rumah ini menjadi mati?"

Lara menggeleng kepala. Lagi-lagi air mata menetes. Wanita memutar tubuhnya dan melangkah pergi ke luar rumah. Ia tidak mau lebih lama lagi di maki oleh Alex. Tanpa mandi dan membawa barang miliknya, Lara segera pergi meninggalkan rumah yang sempat ia tinggali beberapa minggu.

"Aku akan kembali ke rumah ini! Aku akan kembali dan membuktikan kepada semua orang. Aku bukan wanita pembawa sial. Aku bukan wanita yang menjijikkan," gumam Lara di dalam hati.

Lara naik taksi menuju ke rumahnya yang lama. Uang yang ia miliki hanya cukup untuk membayar taksi hingga ke rumahnya yang lama. Tadi Lara tidak sempat masuk ke dalam kamar dan mengambil uang yang ia miliki.

Setibanya di depan rumah tersebut, Lara kembali tersenyum. Belum juga masuk ke dalam, ia sudah bisa membayangkan kenyamanan yang ada di rumah tersebut.

"Hanya di rumah ini aku bisa menjadi diriku sendiri," gumam Lara. Ia melangkah lagi untuk masuk ke dalam. Namun, tiba-tiba saja seorang wanita yang sangat asing di mata Lara muncul. Wanita itu memasang wajah bingung ketika melihat Lara.

"Maaf, anda siapa? Kenapa anda bisa ada di rumah saya?"

Lara mematung. Ia tidak menyangka kalau ada yang berani mengakui rumah peninggalan kedua orang tuanya sebagai rumahnya. Jelas-jelas sejak kecil Lara di besarkan di rumah itu.

"Ini rumah saya," jawab Lara.

"Maaf, kami baru saja membeli rumah ini tadi pagi," jelas wanita itu lagi.

"Membeli? Tapi saya tidak menjual rumah ini," sangkal Lara.

"Kami membelinya dari Tuan Alex. Semua surat-suratnya sudah di urus. Sekarang rumah ini sudah atas nama suami saya."

"Kak Alex? Kak Alex yang melakukan semua ini?" lirih Lara. "Kenapa dia tega. Apa salahku?" Lara tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang.

Uang peninggalan kedua orang tuanya juga ada di rumah utama keluarga Moritz. Kini Lara tidak memiliki apapun lagi selain ponsel dan jam tangan pemberian Tuan Moritz. Dengan hati yang sedih dan kecewa, Lara pergi meninggalkan rumah tersebut. Wanita itu kini melangkah tanpa tujuan.

"Papa ... Mama ... tolong Lara."

1
Nur Cahyani
benar2 pria brengsrk
Nur Cahyani
jooos rasain lex
Nur Cahyani
alex suka pas cantik doang buat apa
Safa Almira
lanjut
Hartaty
semoga Alex palsu cepat ketahuan
Hartaty
🤣🤣🤣🤣
Hartaty
wahhh alamat ada yg cemburu nih🤣🤣🤣❤️
Hartaty
dr Alfred teman lara kan
Hartaty
SM Fabio aja,ayo lara kurusin badan mu
Ran Aulia
👍👍👍👍
terimakasih author, ceritanya manis manis seru 😍😍😍
Ukhty fillah
🥰
Imam Sutoto Suro
top deh lanjut
Imam Sutoto Suro
keren thor lanjutkan seruuuu
Imam Sutoto Suro
keren thor lanjutkan
Imam Sutoto Suro
top deh lanjut thor
Imam Sutoto Suro
good luck thor lanjutkan
Imam Sutoto Suro
lanjutkan thor
Kecombrang
yeay.... 👏👏👏 setuju
Ester Yaru
asyik dan seru
amihcint
bagus bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!