NovelToon NovelToon
Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Cintamanis / Patahhati / Balas Dendam / Romansa Modern / Konflik Rumah Tangga-Pembalasan dendam / Tamat
Popularitas:5.5M
Nilai: 5
Nama Author: embunpagi

IG: embunpagi544
Elvan bersumpah, ia akan membalas dendam atas kematian tunangannya yang di sebabkan oleh seorang gadis buta, bernama Vada.


Yang lebih membuat Elvan meradang adalah, ternyata Vada justru mendapat donor mata dari Zoya, tunangannya yang memang jauh-jauh hari sudah mendaftarkan diprioritaskan sebagai pendonor mata di sebuah rumah sakit.

Elvan membalas dendam dengan mengikat kebebasan yang dimiliki oleh Vada dengan melibatkan dirinya sendiri dalam sebuah pernikahan.



Siapa sangka, jika ia justru terjebak dengan perasaannya sendiri. Cinta itu datang tanpa bisa ia kendalikan.

Seiring berjalannya waktu, kenyataan demi kenyataan dari masa lalu terungkap. Membuat Elvan tak memiliki pilihan lain kecuali melepaskan istrinya.


💞💞💞

Vada, ia harus membayar mahal atas kedua mata yang ia dapatkan entah dari siapa tersebut. Tiba-tiba ia di paksa menikah dengan laki-laki asing yang mengaku berhak atas kedua mata indahnya tersebut tanpa bisa menolak.


"Kau harus bertanggung jawab atas kematian tunanganku!" kata Elvan dengan sorot mata penuh kebencian.

"Kenapa harus aku?" tanya Vada terbatas.

"Karena demi menghindari dirimu, dia meninggal,"

"I-tu bukan salahku!" sangkal Vada cepat.

"Saya tidak peduli! Dan kau tahu, mata ini..." Elvan mengusap lembut mata Vada yang otomatis mengedip tersebut.

"Adalah mata tunanganku. Apapun yang tersisa darinya, adalah milikku!" imbuhnya dengan nada yang sangat dingin, bahkan Vada sampai merinding mendengar kalimatnya.

"Lalu? Saya harus apa? Apa saya harus mengembalikan mata ini kepada Anda? Bukankah percuma? Tunangan Anda tidak akan bisa melihat Anda lagi," meski dengan nada bergetar, Vada membalas ucapan Elvan.

"Pakailah gaun itu, lima belas menit lagi kita menikah!" ujar Elvan tanpa bisa di bantah. Ia melangkah pergi setelah mengatakan yang ia rasa perlu di katakan.

"Tapi.... Saya tidak mau! Ini pemaksaan namanya!"

Elvan menoleh dan menatapnya tajam, membuat nyali Vada langsung menciut.

"Saya sedang tidak sedang membuat penawaran. Saya tidak butuh jawaban darimu!"

Brak!

Vada berjengit saat pintu itu tertutup dengan kasar.

Dan kisah mereka di mulai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embunpagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Vada berjalan menuju ke dapur, ia akan memasak untuk makan siang nanti.

"Cah ayu, kamu pucat, apa kamu sakit?" tanya mbok Darmi.

"Cuma agak pusing mbok, kayaknya mau flu gara-gara kejadian di kolam tadi," sahut Vada.

"Buat istirahat saja, Cah ayu. Biar simbok buatkan teh herbal buat kamu dan tuan muda," kata mbok Darmi.

Vada menggeleng, "aku nggak apa-apa mbok. Itu mbok Darmi buat teh untuk tuan muda?" tanyanya.

Mbok Darmi mengangguk,"Simbok buatkan sekalian buat kamu ya?" tawarnya lagi.

"Ngga usah mbok, sini biar itu aku yang bawa ke kamar!" Vada menyiapkan nampan.

"Ya sudah kalau begitu," mbok Darmi mengalah.

"Mbak. Tolong bantu bersihkan brokolinya dulu ya, aku mau ke atas dulu," ucap Vada kepada pelayan.

"Baik nona," sahut pelayan.

Vada tersenyum lalu pergi.

"Ya sudah, kerjakan yang cah ayu suruh," kata mbok Darmi sebelum akhirnya ia pergi ke dapur yang letaknya terpisah dengan mansion tersebut, dimana ada koki khusus di sana. Sejak kehadiran Vada, tugas mereka memasak untuk Elvan di gantikan oleh nyonya baru mereka tersebut. Mereka kini justru memasak untuk para pekerja yang ada di mansion yang jumlahnya puluhan. Tak ada peraturan khusus untuk hal itu, semua berjalan begitu saja.

"Hachu!" sesaat setelah Vada membuka pintu kamar, ia bersin.

Elvan yang sedang menelepon seseorang menoleh.

"Hem, aku mengerti," ucap Elvan pendek lalu memutus panggilan. Sesaat ia terdiam seperti memikirkan sesuatu.

"Ada apa?" tanyanya datar.

Vada mendekat, "Hachu! Ini aku bawakan tuan Teh herbal, hachu!" ucapnya seraya bersin.

Elvan hanya menatapnya lekat.

"Tehnya aku taruh meja saja, silahkan tuan minum," Vada meletakkan teh tersebut di meja, "Permisi tuan!" pamitnya.

"Tunggu!" sergah Elvan.

"Ya?" Vada menoleh.

"Siapa yang menyuruhmu langsung pergi?Bukankah kau belum menerima hukuman atas kesalahanmu hari ini?" tanya Elvan.

Vada melepas handle pintu lalu mendengus, "Aku kan tidak salah, tuan. Kenapa harus di hukum. Zora saja hanya di pulangkan ke orang tuanya sebagai hukuman. Enak banget, adahal bisa aku masukin penjara, dia sudah merugikan mental saya! Bahkan minta maaf saja enggak. Tuan pilih kasih, sebegitu sayangnya sama Zora sampai langsung menyuruhnya pergi, takut banget aku tuntut kayaknya. Hachu!" protes Vada.

Elvan memejamkan matanya demi mendengar suara Vada yang terdengar melenhking di telinganya, cerewet sekali, pikirnya.

Elvan menjentikkan jarinya supaya Vada mendekat.

Vada menggeleng, ia tahu sudah lanang bicara. Dimana ia langsung mendapat tatapan tajam dari suaminya.

"Aku lagi flu tuan, takut nular, jangan cium dulu, apalagi begituan," ucap Vada polos. Ia pikir pasti hukumnya tidak jauh-jauh dari ranjang. Dan sungguh, badannya kali ini benar-benar sedang tidak fit.

Astaga! Elvan benar-benar hanya bisa menghela napas berat dengan ucapan sang istri. Sebenarnya di sini yang mesum siapa.

" Mendekat!" titah Elvan. Namun Vada tetap bergeming, "Tidak mau! Beneran aku meriang,"

"Benar-benar meriang maksudnya. Angkatan mau flu. Bukan merindukan kasih sayang. Nggak bohong!" sambungnya cepat.

"Padahal merindukan kasih sayang juga sebenarnya, rindu mas Mirza, huaaa," batin Vada nelangsa.

"Mendekat!" titah Elvan lagi seolah ia tak mendengar ucapan Vada.

Dan Lagi-lagi Vada menggeleng, ia semakin merapatkan tubuhnya ke pintu.

"Nevada!" sentak Elvan. Ia heran, istrinya itu sepertinya suka sekali di bentak.

"Hutang dulu Hukumannya, tuan. Please!"

"Mendekat, atau aku yang maju?" tantang Elvan.

"Simalakama ini mah, sama saja," gumam Vada. Pelan tapi pasti ia maju mendekat.

"Hachu!" Vada tidak bisa mengerem bersinnya. Alhasil kesembur sudah wajah tampan suaminya.

Elvan langsung memejamkan matanya, rahang nya yang kokoh semakin keras, tangannya mengepal menahan kesal.

"Nevada!" gertaknya.

"Maaf tuan, tidak sengaja. Tadi kan aku sudah bilang lagi flu. Hachu!" dan sekali lagi wajah Elvan kesembur air liur Vada.

"Ya ampun, maaf maaf tuan," Vada langsung mundur jaga jarak aman.

"Kau...!" Elvan benar-benar kehilangn kesabarannya. Wanita ini benar-benar jorok, pikirnya.

"Wajah tuan masih aman kok, tetap tampan," ucap Vada takut-takut tapi jujur. Ia menunduk tak berani menatap mata Elang suaminya.

"Eh?" Vada terkejut, tiba-tiba Punggung tangan Elvan menempel di keningnya.

"Demam," gumam Elvan dalam hati.

Elvan menarik tangan Vada ke sofa, "Aduh tuan, jangan sekarang. Di sofa lagi, sempit!" ujar Vada.

"Apa kau benar-benar ingin sekali aku gagahi sekarang?" tanya Elvan jengkel. Pikirn istrinya itu benar-benar hanya hukuman enak-enak sepertinya.

Vada hanya menatap suaminya cemberut, "Kenapa? Salah lagi? Bukankah kau mau menghukumku, tuan?" batinnya.

"Minum tehnya!" titah Elvan, gadis itu sedang tidak sehat, lebih baik dia yang minum teh itu, pikirnya.

Vada menggeleng, "Itu teh buat tuan muda, bukan buat saya," tolaknya.

"Kau menyuruhku minum teh itu?" tanya Elvan mengernyit.

"He.em.ada yang salah, tuan?"

"Air liurmu! Bagaimana bisa aku minum teh yang kamu sembur?" kata Elvan beralasan. Ia terlalu gengsi mengutarakan sedikit rasa pedulinya atau tidak mau wanita di depannya itu kegeeran dan ngelunjak jika di kasih hati.

"Oh ya ampun, iya! Maaf tuan, aku akan buatkan lagi. Hachu!" Vada langsung ingat, ia tadi bersin-bersin teat di atas cangkir teh tersebut.

"Tidak perlu! Kau minum saja teh ya, habisnya lalu tidur!" titah Elvan.

"Tapi, tuan... Aku mau masak buat makan siang. Tidurnya nanti saja, ini baru jam berapa? Hachu!" Vada mengusap hidungnya yang terasa gatal. Ia salah paham, ia pikir Elvan mengajaknya tidur berdua dan pergumulan akan kembali terjadi.

"Minum!"

"Eh iya iya!" Vada berjengit kaget, dan langsung menghabiskan teh tersebut.

"Sudah, tuan. Saya mau ke dapur, mau masak buat tuan," Vada berdiri. Baru satu langkah kakinya melangkah, Elvan dengan cepat membopong tubuh rampingnya.

"Keras kepala!" ucap Elvan. Ia membawa tubuh Vada ke ranjang.

"Dih, di bilangin di sofa sempit, sekarang mau di kasur. Benar-benar nggak punya hati ini suami beruang kutub!" rutuk Vada dalam hati.

"Apa?" tanya Elvan menatap Vada curiga. I

"Nggak apa-apa," sahut Vada.

"Eh? Terkejut aku!" batin Vada saat Elvan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Wajahnya tetap saja... Datar.

"Merem!" perintah Elvan.

"Ya ampun, beneran deh, dari pada tidir tapi di pelototi begitu, mending aku masak aja. Nggak apa-apa lagi mering juga. Lagian ini badan ringkih amat, cuma kecebur kolam aja pakai meriang segala, jangan manja Vada!" ucap Vada dalam hati.

"Nevada!"

"Ya?"

"Merem!"

"Baik," Vada langsung memejamkan matanya. Tapi, tetap saja ia tidak bisa terlelap. Ia merasa seperti sedang di awasi dan benar saja, saat ia membuka matanya, Elvan masih berdiri tegak di samping ranjang menatapnya dengan tatapan... Entahlah, hanya yang punya mata yang tahu. Membuatnya terpaksa menutup matanya kembali.

🖤🖤🖤

Beberapa saat kemudian, tak ada tanda-tanda kehidupan lain selain dirinya, Vada kembali membuka matanya. Suaminya sudah pergi.

Vada menghela napas lega, di awasi sedemikian dekatnya dan terus di tatap, membuat Vada kesulitan meskipun sekedar untuk bernapas.

Vada turun dari ranjang, ia membuka sedikit pintu kamar lalu menyembulkan kepalanya keluar untuk memastikan kalau Elvan benar-benar pergi.

Vada kembali menutup pintu seraya mengusap dadanya.

"Ya ampun, punya suami paket komplit deh. Gantengnya sih kebangetan, tapi dingin, jutek, pemaksa, napsuan, apa lagi ya?" Vada tampak berpikir.

"Galak, iya galak," gumamnya sendiri. Ia segera naik ke tempat tidur lalu mengambil guling dan memposisikan dirinya seperti ketika menyanyi di panggung.

Wis nasibe kudu koyo ngene

Nduwe bojo kok ra tahu ngapenake

Seneng muring omongane sengak

Kudu tak trimo bojoku pancen galak

Saben dino rasane ora karuan

Ngerasake bojoku sing ra tahu perhatian

Nanging piye maneh atiku wes kadung ora tresno

Senajan batinku ngempet ono njero dada

Yo wes ben nduwe bojo sing galak

Yo wes ben sing omongane sengak

Seneng nggawe aku susah

Nanging aku ora iso pisah

Tak tompo nganggo tulus ing ati

Tak trimo sliramu tekan saiki

Mungkin wes dadi jodone

Senajan kahanane koyo ngene

Vada menyanyi lagu bojo galak sebagai ungkapan isi hatinya dengan merubah kata yang seharusnya tresno( cinta) menjadi ora tresno (tidak cinta? Dan juga wegah pisah(tidak mau pisah) menjadi ora iso pisah(tidak bisa pisah).

Benar-benar mewakilkan kondisinya saat ini. Entah terlalu menghayati lagu yang ia nyanyian atau tidak mendengar karena suaranya yang keras namun tetap merdu mengalahkan deheman Elvan yang sudah beridiri melihatnya untuk beberapa saat.

"Ehem!" kali ini suara deheman Elvan lebih keras. Membuat Vada yang sedang mengatur napasnya menoleh.

"Astagfirullah! bojo galakku," gumamnya shock. Ia berharap suaminya tidak tahu apa arti dari lagu yang ia nyanyian jika suaminya mendengar.

Elvan menyipitkan matanya, "Apa? Lihat suami kayak lihat setan," ucapnya protes.

"Kau itu lebih menakutkan dari setan, asal tahu saja!" Tentu saja Vada berani mengatakannya hanya dalam hati.

"Sepertinya kau cepat sembuh dan siap menerima hukumanmu, Nevada!"

Mendengarnya, Vada langsung menjatuhkan diri dan menarik selimutnya.

"Aku masih demam, tuan. Cek saja kalau tidak percaya," ucapnya jujur, ia menenggelamkan wajahnya di balik selimut.

"Tapi kau punya tenaga untuk mengumpat Suamimu ini, itu artinya kau punya tenaga untuk mendesah bukan?" Elvan menyingkap selimut yang menutupi wajah Vada.

"Tidak!!!" pelik Vada bersamaan dengan sesuatu yang menempel di bibirnya.

Ternyata itu adalah kain yang sudh di basahi yang akan Elvan gunakan untuk mengompresnya. Tapi, karena ia terlalu berisik, maka di gunakan untuk membungkam mulutnya. Setelah Vada tenang, barulah Elvan menaruhnya di kening.

"Merem! Atau hutang hukumanmu akan menjadi tiga kali lipat!" titahnya lagi penuh ancaman.

"Baik," Vada kembali memejamkan matanya.

Setelah memastikan istrinya benar-benar terlelap, Elvan keluar. Di balik pintu, ia berhenti sejenak, ia tersenyum mengingat tingkah konyol Vada di atas tempat tidur tadi, sedikit menghibur, dan suaranya memang bagus, pikirnya.

"Hah, Bojo galak!" gumamnya. Sejak bayi, ia di asuh mbok Darmi, jadi sedikit banyak ia tahu arti dari lagu yang di nyanyikan oleh Vada. Marah, sudah pasti. Tapi, rasa marah ya kalah dengan tingkah menggemaskan sang istri dan ia akan menghukumnya nanti setelah istrinya sembuh yang pasti .

🖤🖤🖤

1
sari emilia
tulisanya byk yg tipo knp kecil jd cilik dll
sari emilia
lm2 crt nya ngelantur kesana kemari
sari emilia
aku jg ogah tokah cowo nya tuwe 🤣🤣...macam lk2 tak laku
Satri Ani
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Atin Warsito
Luar biasa
vicka luvasta
aku suka
Hasmina Nita
akhirnya 🥰
Hasmina Nita
andai q sekuat vada😭
Hasmina Nita
😭😭😭😭
Hasmina Nita
😭
Hasmina Nita
cocuittt Mr introvert🥰💕
Hasmina Nita
😂🤣😃
Hasmina Nita
/Scream//Facepalm/
Erna Ladi Yanti
elvan2 tidak hnya bodoh tapi lelet pdhl dia sngt kaya,pnts dia di selingkuhi krna g ngeh dgn apa yg di lakukan zoya dan Dimas dan skrg vada yg kena imbas.
Erna Ladi Yanti
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
✨️ɛ.
ceritanya bagus dan seru! cuman sayang banyak typo-nya yaa.. 😅
semoga othor punya keluangan waktu utk revisi biar lebih enak lagi bacanya.. 🫰🏻
semangat terus dlm berkarya! 💖
✨️ɛ.
diskusi sambil mendesaahh..
✨️ɛ.
bab ini gue lama²in bacanya..
✨️ɛ.
bapakmu bang toyib, nak..
3x puasa 3x lebaran gak pulang².. 😂
✨️ɛ.
trus kalo lu ama Andra, apakah adil utk Kyara?
pikirkan anakmu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!