Ini adalah kisah Kanina, gadis 20 tahun yang harus kehilangan masa depannya. Di tengah malam yang gerimis, seseorang menyeretnya dengan paksa. Memperlakukan gadis itu bagai binatang.
Alung, putra dari orang ternama di kota itu. Anak badung yang selalu membuat masalah. Kali ini, masalah yang ia buat bukan main-main.
Anggara Kusuma Dinata, pria 35 tahun yang sudah didesak sang ibu untuk segera mengakhiri masa lajang. Pria terpandang di kampung sebelah, dambaan para gadis desa dan mantu idaman.
Mana yang akan melangkah bersana Kanina?
Bagaimana kisah Kanina, setelah sebulan kemudian ia dinyatakan hamil?
Hai, selamat datang di novel terbaru Sept. Jangan lupa baca juga novel Sept yang lain.
1. Rahim Bayaran
2. Suamiku Pria Tulen
3. Istri Gelap Presdir
4. Dea I Love You
5. Wanita Pilihan CEO
6. Kesetiaan Cinta
7. Menikahi Majikan
Ig : Sept_September2020
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Suami Untuk Kanina
Mencari Daddy Bag. 25
Oleh Sept
Rate 18 +
Setelah mengerti Kanina dibawah pulang ke rumah Gara sendiri, bu Sadewo nampak gelisah. Kanina memang gadis baik, mengenai ia yang melahirkan di luar nikah, itu bukan karena gadis itu nakal. Tapi karena nasib buruk yang menimpa gadis itu.
Tapi, makin ke sini ia melihat gelagat aneh dari Gara. Apa itu yang menjadi sumber alasan, kenapa putranya menolak semua gadis pilihan yang ia tawarkan. Apa Gara lebih condong pada Kanina? Apa ini bukan hanya rasa kasihan atau simpati saja?
"Bu ... Bu ... Kita sudah sampai."
Bu Sadewo langsung menoleh, menatap ke luar jendela. Suara pak Ramlan membuat ia tersentak dari lamunan.
"Terima kasih, Pak. Pak Ramlan bisa langsung pulang. Nanti saya hubungi kalau saya akan pulang."
"Baik, Bu."
Turun dari mobil bu Sadewo bergegas masuk, ia segera mencari Kanina dan bayinya.
"Nin ... Nina!"
"Lagi nidurin bayinya, Ma."
Gara muncul sambil membawa secangkir kopi.
"Mama mau teh? Gara buatin."
Bu Sadewo langsung menggeleng kepalanya keras. Ia malah menarik legan putranya. Dan mengajak bicara serius.
"Bagaimana Kanina?"
"Maksud Mama?"
"Tidak mungkin kamu menyimpan gadis itu dan bayinya di sini terus-terusan."
Gara menelan ludah.
"Lama-lama warga akan curiga, Gar!"
"Lalu Gara harus bagaimana?"
Ganti bu Sadewo yang diam tidak berkutik, ia juga bingung harus apa putranya itu. Masa menyuruh menikahi Kanina?
"Mungkin antar ke rumah ibunya."
"Pasti diusir lagi, Ma."
Bu Sadewo nampak gelisah, kok dia jadi kepikiran dengan bayi tanpa dosa itu. Nanti malah nasibnya kaya Gendis. Jangan-jangan itu alasan Gendis dibuang di depan pagar rumahnya waktu itu. Tidak ingin drama Gendis terulang, akhirnya keluarlah saran yang ia juga tak habis pikir kenapa mengatakan hal itu.
"Kamu suka Kanina, tidak?"
"Mama bicara apa."
"Kamu gak bisa bohong di depan Mama, suka apa tidak? Kalau iya, sudah! Kamu aja jadi bapaknya bayi itu."
"Ma ..."
Gara menatap tak percaya.
"Kenapa? Mama suka kepikiran kalau dia dan bayinya nanti terlunta-lunta. Sedangkan menyimpan di sini tanpa status pasti akan menimbulkan masalah."
"Gara gak salah dengar? Gara pikir Mama gak akan setuju ide gila itu."
"
Bu Sadewo menghela napas dalam-dalam.
"Setiap pagi dan sore kamu selalu mencuri pandang pada gadis itu, kamu pikir Mama tidak tahu selama ini?"
Gara langsung menelan ludah. Rupanya dia sudah ketahuan oleh sang mama.
"Gara hanya anggap Kanina seperti adek, sama seperti Gendis." Gara masih mencoba menepis, meski sepertinya sulit.
"Benarkah? Ya sudah, Mama akan tanyakan pada pak Ramlan, barangkali ada pria di luar sana yang sudi mau menikahi Kanina."
"Loh." Mata Gara mau keluar.
"Nina gadis cantik, pasti banyak yang suka. Nanti biar bayinya Mama yang asuh. Biar jadi gadis lagi. Toh Kanina masih sangat muda. Biar Mama carikan jodoh. Karena sepertinya kamu juga cuma anggap adik."
Gara kembali menelan ludah, mana bisa Kanina diserahkan pada laki-laki lain? Yang merawat Kanina hamil selama ini sampai mendampingi gadis itu persalinan asalah dirinya. Jelas sekali hatinya menolak ide sang mama mencarikan Kanina suami.
"Pak Ramlan juga sempat cerita, ada saudaranya dari desa sebelah. Pemilik ternak lele, duda ditinggal mati, sepertinya lagi cari istri. Barangkali itu jodoh Kanina."
"Maaa!"
Sambil tersenyum tipis, bu Sadewo semakin gencar memanasi Gara. Bersambung.