Ongoing
Apa yang terjadi padaku ? kenapa aku tidak merasakan sakit ditubuhku.. Reini sang gadis cantik yg populer dikalangannya.
🌺🌺🌺🌺
Mengisahkan perjalanan seorang lelaki bernama Tristan yg mencari teman masa kecilnya.
Pertemuan tidak terduga pun terjadi pada sebuah universitas ternama di kota London. membuat lelaki itu jatuh hati pada seorang wanita yg baru pertama kali membuatnya merasa nyaman.
Apakah pertemuan itu hanya kebetulan semata atau memang mereka dijodohkan oleh sang maha kuasa.
Yuk baca terus kisah mereka!!! jangan mau ketinggalan kelucuan dan keseruan setiap peran yg ada didalamnya.
OTHOR SAYANG KALIAN ❤️😀
Jangan lupa terus dukung karya Author supaya lebih semangat lagi !!! 🙏😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEDEKATE DIMULAI
☘️☘️☘️☘️
Setelah kejadian gisele dan Rian berlalu, mereka kembali tengah tertunduk seakan pasangan yg baru saja jadian. istilah kata malu-malu kucing bagi orang yg melihatnya.
"Kalian kenapa?" tanya Liona pula.
"Pipi kalian merah tuh! abis ditabok ya," timpal Leo menyambung.
"Bising Lo," celetuk Gisele sebal.
"Kalian habis ngapain di dapur?" timpal Rei bertanya heran.
"Khem, kami tidak abis ngapa-ngapain," protes Rian melangkah ketempat duduknya.
Gisele yg hanya tertunduk seakan tak berkutik lagi entah kenapa tubuhnya sepeti ditimpa batu yg sangat besar.
"Sel...." sapa Rei melirik Gisele.
"Ah, iya..."
"Duduk," titah Rei heran melihat tingkah Gisele saat kembali dari toilet.
Deg. jantungku kenapa ya? apa aku harus periksa kesehatan mulai sekarang!!! sadar gisele.... ini hanya kebetulan!! batin Gisele ngedumel sendiri.
"Rei, habis ini kamu mau kemana?" tanya gisele kembali ketempatnya.
"Aku..."
Ting. new message.
Disaat Gisele berbicara pada Rei bunyi pesan yg masuk diponselnya terdengar jelas cepat dia merogoh didalam tasnya.
Gisele mulai membuka bergegas membacanya.
*ibu*
Gisele... hari ini kamu tidak lupa kan kalau kita akan bertemu dengan calonmu?
...Iya... Gisele ingat!!...
*ibu*
Pulang sekarang gisele. kau kan tau ayahmu bagaimana tempramennya? kalau telat sedikit saja bisa-bisa dia akan marah besar padamu.
Setelah Gisele membaca pesan ibunya dia tidak membalasnya lagi dan segera memasukkan ponsel itu kembali kedalam tas.
Begitu juga pada Leo yg baru saja menyimpan ponselnya didalam saku celana setelah menerima sebuah pesan yg telah dibacanya.
"Rei... sepertinya aku harus pulang! ada urusan dirumah," ucap Gisele menyandang tasnya.
"Loh! kok gitu? acaranya kan belum selesai..." serentak Rei juga Liona.
"Lain kali kita akan merayakannya diluar! oke," antusias Gisele penuh semangat.
"Yaaah... Gisele gak asik!" sarkas Liona cemberut.
"Udah... muah,muah." gisele cipika cipiki pada Liona juga Rei sembari pelukan hangat.
"Kau pulang dengan siapa?" tanya Rei memegang telapak tangan Gisele.
"Taksi online banyak kok," sarkasnya pula.
"Aku juga mau pulang! sedikit ada urusan. bareng aja kalau mau," sambung Rian pula tanpa ragu.
Urusan apa pula anak ini. batin Tristan mencibir.
"Ogah!" celetuk Gisele cuek.
"Bener tuh! daripada kamu nunggu taksi online lebih bagus lagi sma dokter Rian," ujar Rei pula melirik Rian.
"Rei. apa-an sih! aku kan bisa pesan taksi..." ketusnya jengkel.
"Udahlah... terima aja tawaran dokter Rian! mumpung gratis," timpal Liona berargumen.
"Kalian ini ya..." terlihat jengkel membuang wajahnya.
"Bagaimana? apa kita bisa gerak Sekarang?" seru Rian bertanya kembali.
"Terserah!" cetus Gisele berlalu pergi.
"Rei, Tristan. semua! saya pamit deluan ada urusan dirumah sakit," ujarnya berdiri dari tempat duduk.
Alasan!!! batin Tristan ngedumel.
"Permisi," ucapnya sembari menepuk pundak Tristan pelan.
"Ah, Rei... aku juga mau balik deluan! ibuku sudah menunggu dirumah," ujar Leo pula.
"Lo,loh! kalian kok pada balik pulang? gak dihabisin dulu makananny?" tanya Rei panik.
"Udah kenyang! Mari pak, Rei..." berdiri melangkah ingin pergi.
"Oh, aku juga ingin pulang Rei, bnyak tugas dirumah," sambung Liona tersadar akan menjadi orang ketiga.
"Kalian barengan?" tanya Rei melirik Leo.
"Ah, hahaha... iya? rumah kami searah," timpal Liona asalan.
Sejak kapan rumah ku searah dengan dia??? ngimpi ni orang!!! batin Leo ngomel.
"Yok. buruan," ajaknya males.
"Aku pulang Rei, muah."
Rei membalas kecupan liona padanya.
Setelah semuanya berlalu pergi dari meja makan terbilang ukuran P 220 x L 100 x T 78 Cm itu membuat suasana sedikit melompong tidak ada yg bersuara dari Rei maupun Tristan. mereka sibuk pada lamunannya masing-masing.
"Rei. apa kau canggung duduk berdua denganku?" tanya Tristan memecah lamunan Rei.
"Ti- tidak... aku senang kau menemaniku disini," berbicara namun tak menatap Tristan sembari sibuk mengunyah.
"Kau masih ingat kan dengan ajakanku?" hikmadnya dengan sengaja.
"Ingat kok," ujarnya pula sembari menghayati hidangannya.
"Rei.. kau seperti anak kecil saja kalau sedang makan," ujarnya merapikan rambut Rei yg hampir terkena sambal.
Dan juga Tristan menghapus sisa makanan dipinggir bibir Rei dengan tangannya sendiri secara lembut.
"Tuh liat. sampai wajahmu ikutan makan juga," seloroh Tristan terus menghapus sisa makanan dipinggir bibir Rei.
Bagaimana bisa Tristan melakukannya dengan mudah sementara Rei menahan detakan jantung yg hebat serta menahan kepanikannya. ditambah lagi hidung Rei kembang kempis berusaha menahan aliran nafas yg tertahan didada.
"Nah? sudah bersih," terlihat santai seolah hal biasa.
"Rei... kenapa kau diam?" memanggil Rei yg telah berlabuh dalam lamunan.
Namun Rei belum menjawab seakan terlihat asap keluar dari kedua telinganya.
"Rei. apa kau sakit?" menatap Rei cemas.
"Tidak... aku tidak panik."
"Loh, aku bertanya apa kau sakit? bukan panik," jawab Tristan menahan tawa krna gemas.
"A. ahahaha... ya? maksudnya aku gak sakit," sarkas Rei mengalihkan wajah malunya.
Perasaan Tristan saat itu bahagia sekali melihat tingkah lucu Rei padanya. gadis kecilnya membuat dirinya semakin terpikat apalagi wajah gemasnya membuat jantung Tristan berdebar. dan juga Rei sudah membuat hatinya sulit berpaling pada wanita manapun kecuali Rei disisinya. Hasratnya semakin membludak seolah ingin segera hidup selamanya bersama Rei, hanya Rei yg bisa membuat hari-harinya lebih berwarna dan lebih tepatnya Rei penyemangat hidupnya.
"Rei... kriteria seperti apa lelaki idamanmu?" tanya Tristan yg sebelumnya terus menatap Rei.
"Kenapa kau bertanya begitu?" ucapnya pula.
"Aku hanya sekedar ingin tau saja," sarkasnya cepat mencari alasan.
"Tidak ada hal yg istimewa dari kriteria idamanku, hanya saja...."
*A*ku ingin mempunyai kekasih setulus dan sebaik dirimu tristan... namun, itu hanya khalayan ku saja yg tinggi!!! Mungkin saja kau sudah mempunyai pendamping hidupmu. batin rei kecewa.
"Hanya saja apa Rei...?" seru Tristan melihat Rei melamun lagi.
"Hanya saja idaman itu masih jauh! mungkin saja tuhan punya rencana yg lain untukku," peluh Rei memaksa tersenyum.
Bukankah aku pemberian dari Tuhan untukmu Rei... apakah kau tidak peka dengan perhatian yg ku berikan akhir-akhir ini?! batin Tristan menghela nafas pelan.
"Apa yg kau pikirkan Tristan? apa kau tidak nyaman ngobrol dengan ku," sarkas Rei pula.
"Tidak Rei, aku nyaman bisa ngobrol santai dengan mu."
*A*ku sangat sangat nyaman Rei. ingin kupeluk,kucium,kudekap kau ditubuhku.. apapun itu asal kau disampingku, gadis kecil yg selama ini menghilang dari kehidupanku telah kembali . kenyamanan itu datang setelah kehadiranmu lagi. sulit bagiku melupakanmu sejak dulu! batinnya meringis berusaha menahan air mata bahagia.
"Baguslah aku jadi lega mendengar pengakuanmu, mulai sekarang apa kau mau menjadi teman sekaligus sahabatku?" timpal Rei menumpu dagunya dengan tangan.
Sahabat?? batin Tristan protes.
"Baiklah... sekarang suka dan duka kita akan bersama."
Seolah terdengar sperti .... batin Rei terheran.
"Maksudnya selalu bersama?" beo Rei pula.
"Apakah sahabat tidak boleh selalu bersama?" berkilah.
*T*ak apa Rei kau menganggap ku sahabat.. seiring berjalan waktu kau akan mengerti arti sahabat itu. batin Tristan yakin.
"Ya boleh... memang seharusnya sahabat selalu ada disaat suka maupun duka! kau benar Tristan, sahabat sejati tidak akan mengkhianati," hikmad Rei pada Tristan.
"Janji sahabat," memberi jari kelingking tepat didepan Rei.
"Apasih," seketika Rei tertawa kecil melihat tingkah Tristan yg lucu.
Pada akhirnya Rei melekatkan jemari kelingkingnya bersatu pada kelingking Tristan.
Kau sudah berjanji Rei padaku. meja makan ini menjadi saksinya!!! batin Tristan menahan tawa.
Setelah melakukan perjanjian mereka saling melepaskan satu sama lain apalagi dari sorotan mata Rei yg tak lepas memandang wajah Tristan.
"Sekarang aku sudah harus pulang Rei, jangan lupa kau juga harus bersiap-siap," titahnya tersenyum manis.
"Aku akan menjemputmu," ujarnya lagi.
"Tidak perlu tristan... aku bisa pergi sendiri," pintanya menolak secara halus.
"Apa kau lupa janji sahabat kita yg selalu bersama?" timpalnya lagi.
"Mm..." tak bisa berkata.
"Karna kau diam berarti sudah ingat."
"Oke... aku pamit dulu," berdiri dari tempat duduk.
Rei yg sedang dilanda bingung ikut tergerak berdiri dari duduknya.
"Oh iya! bagaimana aku bisa menghubungi mu, kalau aku saja tidak tau nomor mu," sengaja memancing.
"Ohiya, lupa."
"Nih, ketik aja langsung." Tristan menyodorkan ponselnya.
Tanpa berkilah lagi Rei meraih ponsel milik Tristan dan mengetik nomor pribadinya diponsel Tristan seolah terlihat lancar sekali.
"Sudah?" menerima kembali ponsel yg diberikan Rei.
"Sudah..." ujarnya tertunduk malu.
"Rei, aku pulang dulu... aku akan menjemputmu sekitar jam dua," melangkah keluar dari pintu rumah.
"Baiklah, kau hati-hati dijalan," seru Rei mengiring dari belakang.
"Iya," menyentuh rambut Rei pelan.
"Da....." lambai tangan Tristan berjalan kearah mobilnya.
"Da..." membalas pula.
Loh!! kenapa aku membalas lambaian tangannya.. terlihat seperti pasangan suami istri ?! ah, tau akh!!! gumam Rei salting sendiri.
............
Bersambung....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA🤭😚
🥰😍 MAMAK SAYANG KALIAN🥺❤️
bisa aja lu cari alasan Rick 😂
makasih thor sdh kasih tau aku😅
knp kok sewot gitu, cuma gegara di blng keras kepala
baunya sampe kesini ya, cptn Rick pergi, bisa"kamu nanti yg bauu