"Kau siapa?" Charlotte tak menemukan jejak ingatan siapa laki-laki yang berdiri didepannya dengan hanya handuk dan rambut basah di kamar hotel itu.
"Kau tak tahu aku siapa? Kau tidur di ranjangku..." Bahkan bajunya sudah berganti dengan baju kebesaran dari pria itu.
Sial! Bahkan namanya pun tak bisa diingatnya. Nasib sial apa yang menimpanya sekarang.
Dari kecil dia tak pernah percaya cinta, tak percaya pangeran berkuda putih, Charlotte Blaine adalah pengacara perceraian paling dicari di London, melihat begitu banyak perceraian dalam hidupnya dan tidak mempercayai cinta, tapi sekarang dia jatuh ke pelukan pria asing karena minum di Monaco.
Apapun yang terjadi semalam tetap tinggal di Monaco. Begitu batinnya.
Benarkah kisahnya begitu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24. Just Stay With Me 2
"Tidak, aku akan menyimpan semua dokumen ini untuk ke klien. Thanks Robert..."
Aku akan bertemu Anna secepatnya setelah dia berada si London.
----------***** -----------
Joshua kembali ke London tiga hari kemudian, aku banyak berpikir tentang hubungan kami saat dia di Dublin. Aku ke apartmentnya saat dia kembali, dia telah memberiku kunci apartmentnya beberapa saat sebelum dia pergi ke Dublin.
Dia langsung menghempaskan dirinya ke sofa saat dia datang.
"Kasus berat?" Aku memijat pundaknya. Dia menarikku duduk dipangkuannya.
"Hmm seperti biasa, banyak yang harus dipikirkan, ... aku merindukanmu...." Aku tersenyum, menangkap wajahnya dan memberinya ciuman singkat.
"Aku juga merindukanmu... " kami hanya saling menatap, saling memeluk dan terasa begitu tenang beberapa saat.
"Kau bekerja besok?" Josh bertanya padaku. Besok adalah akhir pekan, tapi seringkali jika kami punya sidang kami harus masuk ke kantor. Jam kerja kami tidak pasti.
"Aku hanya harus bertemu Anna Bowen siang hari, kau bekerja?"
"Aku bertemu junior partner untuk briefing kasus... " dia menghela napas sebelum melanjutkan.
"Kau tahu, sejak kau menerimaku, aku selalu berpikir, sesibuk apapun aku, aku akan selalu pulang dan bertemu denganmu, seperti aku punya entahlah ... seseorang yang menungguku di rumah." Aku tersenyum, itu kalimat yang manis.
"Dan aku berpikir kau bahwa aku punya teman yang selalu sabar mendengarku, dan seseorang aku percayai..."
"Maaf, kau harus bertemu dengan Susan sendiri, tak usah perdulikan dia. Dia tidak punya hak untuk mengatakan apapun tentang kau dan aku. Aku akan mengurus ini dengan hati-hati, ... yang aku minta hanya satu, tetaplah disampingku. Bisakah aku meminta itu?" Entah kenapa mendengarnya bicara, semua perasaan kuatirku menguap, dia selalu berusaha bersikap tenang menghadapi apapun.
"Josh, aku tidak yakin bisa berhadapan lagi dengan keluargamu saat ini, bisakah kita membuat ini antara kita. Maksudku untuk sementara didepan orang lain kita hanya teman, tapi kau tahu kita bisa memiliki satu sama lain..."
"Untuk sementara ini sampai semuanya selesai, apapun asal aku dan kau tetap bersama."
"Josh, apa kau dan Susan dijodohkan dari kecil seperti yang dia bilang?"
"Perjodohan itu hanya ucapan spontan orang tua kami, aku dan dia teman masa kecil, kami sempat pacaran dan hampir menikah tiga tahun yang lalu, tapi kemudian dia menemui seseorang pria yang lain. Aku melepasnya, karena dia memintaku mengakhiri hubungan kami. Tapi kemudian saat aku mulai nyaman dengan hubungan kita mungkin hampir satu satu yang lalu, dia mulai berusaha meminta maaf dan menginginkanku kembali padanya. Dia minta maaf ke orang tuaku dan bersikap begitu manis agar dia diterima kembali. Dia wanita yang manupulatif, bahkan dia bisa meyakinkan orang tuaku untuk mendukungnya...."
"Dia cantik, kaya, sempurna... " Josh menutup bibirku dengan jarinya.
"Sejak kapan kau punya kebiasaan memuji sainganmu?" Aku cuma tersenyum.
"Entahlah, rasanya sedikit tak percaya diri melawan ratu lebah provokatif seperti dia...."
"Bukankah kau ratunya drama ... " Josh tersenyum lebar dan mencubit kedua belah pipiku.
"Berbeda jika itu adalah hidupmu sendiri. Menyebalkan rasanya." Aku tertawa.
"Just stay and fight with me Honey..." dia menciumku dan membalikku berbaring di sofa besar itu. Memberi ciuman panas yang membuatku mengelinjang geli.
"You even haven't changing your clothes..." ** aku menahan wajahnya yang berada diatasku, yang menyuruk ke lekukan leherku dan memberikan gigitan yang membuatku menahan napas.
"You will took that off, why shoud I bothered my self to change."* Aku tertawa, dan menikmati ciumannya di leherku. Napasku memburu dan ****** puas lolos dari bibirku saat dia memindahkan ciumannya lebih kebawah.
"I love you Charlotte ..."
"I love you Josh."
Rasanya baru kali ini walaupun hanya dengan saling menyentuh satu sama lain itu sudah cukup. Asal dia ada disampingku, itu sudah cukup. Aku tak mau kehilangan perasaan nyaman ini.
---------------------
● You even haven't changing your clothesKau bahkan belum mengganti pakaianmu
● You will took that off, why shoud I bothered my self to change."**Kau akan melepasnya, kenapa aku menyusahkan diri sendiri berganti pakaian.
KEREN
setuju pakai banget...
klo indo ?? Whatever