Di saat resepsi pernikahan. Anjani Thalia harus menerima kenyataan pahit jika calon suaminya tiba-tiba saja membatalkan pernikahannya.
Keluarga Anjani merasa malu dan marah karena merasa di permainkan oleh Arjuna . Calon menantu mereka.
Bahkan yang paling mengejutkan, ternyata Arjuna memilih wanita lain. Dan yang lebih mengejutkan dia memilih teman Anjani sendiri sebagai calon istrinya.
Saat keadaan kacau Anjani terlihat pasrah dengan kehancuran di depan matanya. Namun siapa sangka seseorang justru menyelamatkannya dari kehancuran itu.
Keandra Alarick. Mantan Anjani datang dengan tiba-tiba dan ingin menikahinya. Hal itu pun membuat semua orang terkejut.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Apa Anjani akan melanjutkan pernikahannya dengan Keandra?
Apakah setelah ini kehidupan Anjani akan bahagia?
Ikuti kisah mereka sampai selesai.
Jangan lupa follow. Beri like dan komentar kamu ya!
Happy Reading...! 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Keributan di kantor
"FELICIA!" bentak Keandra marah. Tidak terima Anjani di perlakukan seperti itu.
"Kenapa Keandra? Kenapa, kamu selalu membela perempuan ini?!" tanya Felicia , balas membentak. "Apa jangan-jangan, kamu menyukai perempuan ini?"
Keandra terdiam. Benar. Ia memang sangat menyukai Anjani. Tidak. Malah lebih. Mencintai dan menyayanginya. Namun sayang, ego yang tinggi menjadi pembatas antara Anjani dan Keandra.
"Kenapa kamu diam, Keandra?" tanya Felicia kesal. Baginya diamnya Keandra adalah jawaban atas pertanyaannya. "Jadi benar, kamu menyukai perempuan murahan ini!"
"CUKUP!" bentak Keandra geram. Marah. Sebab Felicia mengatai Anjani. "Jangan pernah berbicara seperti itu! Dia wanita baik-baik."
Felicia tersenyum miring. "Kalau dia wanita baik-baik. Tidak mungkin, dia mendekati calon suami orang. Jangan-jangan selama ini, dia selalu menggoda mu. Sampai-sampai, kamu membelanya mati-matian."
Keandra mengeraskan rahangnya. Jika terus diladeni, permasalahan ini tidak akan cepat selesai. Di tambah lagi, mereka sedang berada di kantor. Tidak ingin memancing perhatian semua karyawan, yang pastinya mendengar keributan di ruangannya.
Di sisi lain, Anjani hanya diam terpaku. Matanya menatap Keandra, yang terlihat kesal dan marah. Kini ia tahu, bahwa Keandra rupanya masih menyimpan perasaan padanya. Namun Anjani tidak ingin terbawa suasana. Takut, jika semua itu hanya alasan Keandra untuk menghindari Felicia.
Felicia yang marah dan kecewa pun, memutuskan pergi dari sana. Hatinya benar-benar kecewa, sebab Keandra tidak menahannya sama sekali. Sebelum pergi, Felicia menatap tajam Anjani yang juga menatapnya. Kini ia benar-benar mengibarkan bendera perang, pada Anjani.
"Jangan senang dulu! Aku akan membuat Keandra mencintai, ku. Dan aku pastikan, kamu tidak akan pernah memiliki Keandra." gumam Felicia, penuh penekanan. Benar-benar pergi meninggalkan ruangan Keandra.
Anjani hanya terdiam. Menatap kepergian Felicia dari ruangan itu. Kini tatapannya beralih pada Keandra, yang berjalan menghampirinya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Keandra. Memperhatikan pipi Anjani, yang merah akibat tamparan Felicia.
"Aku baik-baik saja." jawab Anjani singkat.
Keandra mengangguk pelan. Suasana menjadi canggung. Anjani memutuskan untuk duduk kembali di kursinya. Namun tidak dengan Keandra. Tetap memperhatikan Anjani, dengan tatapan sulit di artikan.
Sebenarnya saat ini, Keandra merasa tidak enak hati. Karenanya Anjani harus menerima perlakuan buruk dari Felicia. Keandra ingin meminta maaf. Tapi lidahnya terasa kelu, saat hendak mengucapkan kata maaf.
Siang hari
Waktu makan siang tiba. Semua karyawan beristirahat. Begitu juga dengan Anjani. Terlihat sedang menikmati makan siang, seorang diri.
BRAAAAKKK!
Anjani seketika terlonjak kaget. Untung saja, ia yang sedang makan tidak tersedak.
"Heh! Dasar wanita tidak tahu diri! Berani-beraninya, kamu merebut kekasih nona Felicia!" Dengan tatapan penuh kemarahan, Shella memarahi Anjani. Membuat suasana di kantin menjadi sedikit ricuh.
"Apa maksud mu, Shella? Siapa yang merebut kekasih Felicia?" tanya Anjani, bersikap biasa. Walaupun ia tahu, arah pembicaraan Shella mengarah kemana.
"Ck." Shella berdecih. Matanya mendelik dengan sinis. "Jangan sok polos, deh! Kita semua tahu, kalau kamu memang merebut pak Keandra dari nona Felicia. Sadar diri dong kamu, Anjani!"
Anjani melihat ke sekeliling kantin. Memang benar, semua orang menatapnya sedikit berbeda. Ada yang nampak jijik saat melihatnya. Ada yang terlihat mengejek. Bahkan hampir semua orang terlihat senang, saat dirinya di rendahkan oleh Shella.
"Aku tidak pernah merebut siapa pun. Sepertinya kamu salah orang."
"Mana ada maling ngaku!"
Anjani menghela nafas. Rasanya percuma menjelaskan semuanya pada Shella. Sebab wanita di depannya itu tidak mau kalah. Dan terlihat sengaja, memprovokasi semua orang untuk memojokkannya.
Merasa nafsu makannya hilang, Anjani memutuskan untuk pergi dari sana. Namun saat beranjak dari duduknya, Shella dengan cepat menahannya.
"Mau kemana kamu, Anjani? Siapa yang mengizinkan mu pergi?" tanya Shella, mencekal tangan Anjani dengan kuat.
"Lepas, Shella." ringis Anjani kesakitan. "Biarkan aku pergi."
Shella tersenyum miring. "Kamu boleh pergi, setelah kami puas memberikan pelajaran."
Anjani mengerutkan dahi. Sedikit mencerna apa yang di katakan oleh Shella.
"SEMUANYA." seru Shella dengan begitu nyaring. Memberikan aba-aba pada semua oorang, ntuk melempari Anjani dengan minuman dan makanan.
Anjani seketika melindungi dirinya. Menutup wajahnya dengan satu tangannya. Sebab tangan yang satunya lagi, masih di genggam oleh Shella.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN? TOLONG BERHENTI! KALIAN HANYA MEMBUAT DIRI KALIAN DALAM MASALAH!" teriak Anjani.
Shella tersenyum puas. Meskipun bajunya ikut kotor, tapi ia merasa puas melihat Anjani tidak berdaya. Dipermalukan di tempat kerjanya.
Keadaan kantin sangat kacau. Kotor dan berantakan. Penjaga kantin yang kewalahan pun memanggil security. Sebab semua orang di sana, tidak mau mendengarkan perkataannya.
"BERHENTI!!!"
Seketika semua orang di sana menghentikan aksinya. Saat seseorang masuk ke dalam kantin dengan wajah marahnya.
"HENTIKAN!!" ucap laki-laki, yang rupanya adalah Aditya. Maksud ingin bertemu dengan Keandra, malah melihat Anjani yang sedang di rundung. "Jika kalian tidak berhenti, maka saya akan melaporkan kalian semua ke pihak yang berwajib."
Semua orang terdiam. Rasa takut dan khawatir seketika mengusik perasaan mereka. Memperhatikan laki-laki asing, yang tiba-tiba saja membela Anjani.
"Lepaskan dia!" titah Aditya, menatap tajam Shella yang masih memegang tangan Anjani.
Shella yang terkesima pun langsung melepaskan tangan Anjani. Memperhatikan laki-laki asing, berparas tampan di depannya itu.
"Siapa yang bertanggung jawab atas kekacauan ini?" tanya Aditya tegas. Memperhatikan semua orang yang berada di sana, sama-sama menundukkan kepala merasa takut. "SIAPA?" bentaknya marah.
Shella yang berada dekat dengan Aditya seketika terkejut. Rasa khawatir perlahan muncul pada hatinya.
"Aditya. Sudah. Aku baik-baik saja." Anjani mencoba menenangkan Aditya. Tahu jika laki-laki itu sudah marah, maka semuanya akan semakin rumit.
"Tapi...."
"Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kita pergi dari sini."
Aditya tidak berkutik, jika Anjani sudah berbicara seperti itu. Menurutinya. Pergi dari kantin itu. Namun sebelum pergi Aditya membuka jasnya. Sebab kini keadaan baju Anjani basah, membuat pakaiannya sedikit tembus pandang.
Semua orang membelalakan mata. Melihat Aditya yang begitu perhatian, pada Anjani. Dalam hati mereka bertanya-tanya. Siapa laki-laki itu? Ada hubungan apa dia dengan Anjani?
Anjani dan Aditya keluar dari kantin. Namun seketika langkah mereka terhenti, saat Keandra tiba-tiba saja menghadang jalannya.
"Ada apa ini?" tanya Keandra datar. Belum menyadari, jika keadaan Anjani terlihat kacau. "Apa yang sedang kamu lakukan di kantor, ku?" Beralih bertanya pada Aditya.
"Pak Keandra, aku bisa jelaskan. Tapi sebelumnya ,izinkan aku mengganti baju dulu." ucap Anjani.
Keandra memperhatikan penampilan Anjani. Tatapannya menajam, saat melihat jas yang di pakai oleh Anjani.
"Lepas jas itu." ucapnya dingin. Sadar jika jas yang di pakai Anjani adalah jas milik Aditya.
Anjani mengangguk. Melepaskan jasnya. Memberikan kembali pada pemiliknya. Namun seketika Keandra berdiri tepat di tengah-tengah. Membuka jasnya. Memakaikan nya pada tubuh Anjani.
"Pakai. Sekarang ikut dengan ku. Dan ganti baju mu." ucap Keandra, tegas.
Anjani hanya mengangguk pelan. Sementara Aditya memutar bola matanya malas, saat melihat sikap Keandra yang berbeda.
lanjutin ceritanya sampai tamat