Pria tampan yang jutek, super bersih dan perfeksionis tak pernah menyangka akan terjebak dalam pernikahan konyol dengan Sheena, wanita jorok, ceroboh dan suka seenaknya saja. Perbedaan 180 derajat di antara keduanya menjadi ujian dalam pernikahan mereka.
Bersama? Atau perpisahan adalah jalan terbaik bagi keduanya? Kisah unik yang pastinya membuatmu penasaran.
**Yukkkk kepoin ceritanya.... Follow IG @dydyailee536
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 Akhir Cerita Cinta
Yukkkk like,komen dan vote yaaa,biar makin semangat nih authornya, makasih ya 🙏😘
...-Selamat Membaca-...
Setelah menghabiskan mienya, Sheena kemudian menyempatkan pergi menuju rumah sakit untuk menjenguk Fandi. Sesampainya disana, Sheena melihat Olivia yang juga baru tiba disana.
“Nona Olivia!” panggil Sheena. Olivia menghentikan langkahnya dan menoleh kea rah sumber suara.
“Sheena,”gumamnya.
“Nona, bagaimana kabar Fandi?”
“Masih sama Sheena.”
“Apa sudah boleh di jenguk?” tanya Sheena.
“Boleh tapi hanya satu orang saja.”
“Nona, ijinkan aku melihat Fandi sebentar saja.”
“Baiklah, ayo ikut denganku. Kebetulan Tante Citra dan Om Ifan baru saja pulang untuk istirahat.”
“Terima kasih ya Nona.” Kata Sheena dengan senyum yang mengembang dari bibirnya. Olivia lalu mengajak Sheena utnuk menemui Fandi yang masih berada di ruang ICU.
“Masuklah, Sheena. Aku akan berjaga di luar.” Kata Olivia.
“Sekali lagi terima kasih untuk kebaikan anda, Nona.” Kata Sheena sambil menggenggam tangan Olivia. Olivia hanya mengangguk dengan senyum kecilnya. Dengan menggunakan pakaian khusus, Sheena masuk ke dalam ruangan ICU. Air matanya seketika lolos saat melihat Fandi yang masih belum tersadar, Tiga hari sudah Fandi koma dan terbaring lemah disana.
“Fandi, bangunlah. Ini aku, Sheena. Kenapa kamu masih belum bangun juga? Aku ada disini, Fan.” Kata Sheena sambil menggenggam erat tangan Fandi.
“Aku merindukanmu dan mencintaimu, Fandi. Aku ingin mengganti posisimu saat ini denganku, supaya kamu bisa dengan mudah melupakan aku. Biar aku yang merasakan sakit ini dan berbaring disini. Bangunlah, Fandi! Kalaupun kita tidak bisa bersatu tapi yakinlah di kehidupan mendatang, kita akan bersatu.” Isak tangis Sheena sambil terus menggenggam tangan Fandi.
Dari balik pintu kaca yang terlihat, Olivia merasakan bahwa cinta keduanya sangat besar. Ia sendiri tidak kuasa menahan rasa sedih melihat Sheena dyang begitu tulus pada Fandi.
“Tuhan, aku siap pergi dari hidup Fandi jika Fandi menginginkan bersama dengan Sheena. Bagaimana mungkin aku bisa memisahkan mereka berdua,” gumam Olivia dalam hati.
“Bertahanlah dan kuatlah untuk aku, sekalipun kita tidak akan pernah bersatu. Bagiku, melihatmu bahagia dan dalam keadaan sehat, adalah bahagia untukku. Aku yakin bahwa kamu bisa, Fandi. Kita tunjukkan bahwa kekuatan cinta kita itu besar.” Kata Sheena sambil membelai wajah Fandi tanpa melepaskan genggamannya pada Fandi. Sheena lalu buru-buru menghapus air matanya karena ia harus kembali ke kantor.
“Fandi, aku pergi dulu ya karena aku harus kembali bekerja. Sekalipun aku tidak berada disisimu setiap saat tapi percayalah bahwa aku selalu beroda untukmu. Berdoa untuk semua kebahagiaanmu.” Kata Sheena. Sheena kemudian mengecup punggung tangan Fandi sebelum ia pergi. Namun tiba-tiba Sheena merasakan jemari Fandi bergerak seolah menggenggam tangannya, meskipun genggaman itu tidak terlalu kuat.
“Fandi, kamu meresponku? Tangan kamu bergerak,” kata Sheena dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Sheena lalu keluar dan memberitahu Olivia.
“Nona, tangan Fandi bergerak. Sebaiknya kita panggil dokter.”
“Sungguh Sheena?” kata Olivia dengan mata berkca-kaca pula.
“Iya Nona.”
“Kamu tunggu disini, aku akan memanggil dokter.” Olivia segera berlalu untuk memanggil dokter. Sementara Sheena kembali masuk ke dalam dan ia melihat jemari Fandi kembali bergerak.
“Ya Allah, terima kasih.” Kata Sheena dengan air mata bahagia. Perlahan Fandi pun membuka matanya. Dokter pun kemudian datang dan segera memeriksa kondisi Fandi.
“Sheena aku akan menghubungi orang tua Fandi. Mereka pasti akan sangat bahagia.”
“Iya Nona.”
“Syukurlah, pasien bisa melewati masa kritis dan komanya lebih cepat dari dugaan kami.” Kata Dokter paruh baya itu.
“Terima kasih, Dokter.” Kata Sheena.
“Kami akan menyiapkan kamar rawat inap untuk pasien. Kami permisi.”
“Silahkan Dokter. Sekali lagi terima kasih.”
“Sama-sama Nona.” Dokter kemudian pergi meninggalkan ruangan bersama suster yang mendampinginya.
“Fandi, akhirnya kamu sadar juga.” Kata Sheena.
“Kenapa aku bisa disini?” tanya Fandi dengan tatapan linglung.
“Kamu di rumah sakit karena kecelakaan beberapa hari lalu.”
“Kecelakaan? Kapan aku kecelakaan?” tanya Fandi yang semakin heran dengan situasi yang ia hadapi.
“Tiga hari yang lalu, Fan. Masa kamu tidak ingat?”
“Lalu, kamu siapa?” tanya Fandi. Mendengar ucapan Fandi, tiba-tiba dada Sheena terasa sesak dan nyeri.
“Aku, Sheena. Kamu jangan bercanda, Fandi.”
“Sheena? Sheena siapa?” tanya Fandi.
“Sebelum kecelakaan kita bertemu, kamu mendatangi rumah ku untuk membicarakan hubungan kita.”
“Fan, syukurlah kamu sudah siuman. Aku sudah menghubungi Om dan Tante,” kata Olivia saat masuk kembali ke ruangan ICU itu.
“Olivia, dia siapa? Kenapa aku bisa berada disini? Bukannya aku sedang perjalanan mengantarkan kamu ke bandara?”
Olivia pun merasa terkejut dengan apa yang di katakana oleh Fandi.
“Fan, dia Sheena. Dia wanita yang kamu cintai. Sudahlah jangan bercanda, Fan. Aku tidak suka dengan caramu bercanda.”
“Olivia, jangan paksa aku untuk mengingatnya. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Aneh-aneh saja kamu ini. Mentang-mentang kamu mau pergi kuliah ke luar negeri, terus kamu mencarikan aku seseorang untuk menghiburku? Persahabatan kita tidak akan bisa di gantikan oleh siapapun.” Kata Fandi. Air mata Sheena pun sudah jatuh membasahi pipinya sedari tadai. Sheena perlahan mundur dan meninggalakn ruangan itu.
“Sheena!” panggil Olivia yang hendak menghentikan Sheena namun Fandi mencegahnya dengan memegang pergelangan tangan Olivia.
“Olivia, kamu batalkan saja keberangkatnmu. Dan tetaplah disini jangan kemana-mana,” kata Fandi.
“Aduh, bagaimana ini? Fandi kenapa sih? Kenapa dia tidak ingat Sheena tapi mengapa dia mengingatku.” Gumam Olivia dalam hati. Fandi kemudian berusaha untuk bangun untuk duduk namun ia tidak bisa merasakan kakinya.
“Liv, kenapa aku tidak bisa merasakan kakiku?”
“Kamu jangan bercanda lagi, Fan. Ini tidak lucu!” kesal Olivia.
“Olivia, aku sungguh tidak bisa merasakan bahkan menggerakkan kakiki.” Fandi yang panik, lalu menyibak selimutnya tampak kedua kakinya masih utuh. Fandi dengan sekuat tenaga lalu berusaha keras menurunkan kakinya. BRUK! Fandi pun terjatuh tersungkur di lantai.
“FANDI!” Seru Olivia sambil berusaha membantu Fandi untuk bangkit.
“Lepaskan aku Olivia! Kenapa dengan kaki ku? Kenapa tidak bisa bergerak?” histeris Fandi. Olivia pun hanya bisa menangis melihat kondisi Fandi saat ini.
“Fandi, tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja,” hibur Olivia. Ia kemudian membantu Fandi untuk duduk kembali k etas tempat tidur dengan sekuat tenaga.
“Ada apa dengan kakiku?” teriak Fandi memekik.
“Fandi, kamu sudah sadar, Nak?” suara Nyonya Citra setibanya disana bersama Tuan Ifan.
“Mah,” lirih Fandi. Nyonya Citra kemudian memeluk putranya itu.
“Syukurlah kamu sudah siuman. Mama bahagia sekali.”
“Tapi aku tidak bisa menggerakkan kakiku, Mah.” Nyonya Citra bagai di sambar petir siang bolong saat mendengar apa yang di ucapkan oleh putranya.
“Tenanglah, Nak. Semua pasti akan baik-baik saja. Kamu akan segera pulih. Mama dan Papa akan menemui dokter.” Kata Nyonya Citra yang berusaha menenangkan putranya.
“Om-Tante, aku ingin bicara.” Kata Olivia.
“Fandi, Mama bicara sebentar dengan Olivia ya.” Fandi hanya mengangguk lemas mendengar ucapan Mamanya. Olivia lalu mengajak orang tua Fandi untuk bicara di luar. Olivia lalu menceritakan semuanya pada orang tua Fandi.
“Sepertinya Fandi amnesia Tante-Om. Karena dia tidak bisa mengingat bahkan mengenal Sheena. Dan yang Fandi ingat saat ini adalah, dimana dia mengantarku pergi ke bandara.”
“Apa? Amnesia. Ya Tuhan,” kata Nyonya Citra yang seolah kehilangan harapan untuk kesembuhan total Fandi.
“Ini semua karena wanita sialan itu. Dia membuat putraku seperti ini,” kata Nyonya Citra dengan sorot mata penih amah.
“Bukan saatnya untuk membahas ini, Mah. Sebaiknya kite temui dokter dan memintanya untuk memeriksa Fandi lagi,” kata Taun Ifan.
“Apa yang di katakan Om Ifan benar, Tante.”
“Olivia, tante mohon jangan tinggalkan Fandi ya. Saat ini kamu yang dibutuhkan oleh Fandi. Temani dai dan beri dia semangat.” Ucap Nyonya Ciitra sambil mengenggam tangan Olivia.
“Tante tenang saja ya. Aku akan selalu bersama dengan Fandi, apapun yang terjadi.”
“Terima kasih, Olivia.” Kata Nyonya Citra seraya memeluk Olivia.
BERSAMBUNG....
tapi kayaknya cowok si serbuk berlain itu bakalan luluh deh sama Shena.. hihihi
"Gadis Pejuang Bisnis Kecantikan Oriflame"