Reva, datang ke Taiwan dengan niat bersungguh-sungguh untuk kuliah dan lulus dengan nilai terbaik.
Steven, pemilik apartemen yang ditinggali Reva dan tinggal di gedung sebelah. Menganggap Reva anak bawang tapi juga mengagumi kecantikan Reva yang mirip dengan Tia, penyanyi sekaligus istri bossnya.
Sosok yang menjadi standarnya saat mencari pendamping hidup.
Sandy, yang dianggap sebagai Om oleh Reva, selalu memberinya dukungan dan pertolongan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru.
Kisah cinta Sandy membuat Reva terpaksa membantunya dan membuatnya terjebak dalam kerumitan hubungan diantara mereka bertiga.
Hubungan Mereka bertiga, pacar Sandy dan pengagum Steven.
Siapa yang akan dipilih Reva?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EnderGamer 1256, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lapar
Beberapa bulan kemudian...
Menjelang Ujian.
Reva berjalan gontai.
Dia capek sekali.
Dan dia belum makan siang.
Tasnya rasanya berat sekali dengan diktat, laptop dan tab.
Mobil sport Josh berhenti di sampingnya.
"Revaaaa..." panggil Josh.
Reva mengangkat muka.
"Lesu amat.
Yuk..ikut makan !" ajak Josh.
Reva menunduk.
Disamping Josh ada Andrew.
Dibelakang ada Steven.
Andrew keluar, mendorong kursi.
"Ayo Va..." panggilnya.
Reva mengitari mobil lalu masuk.
Tasnya beradu dengan kursi.
Steven segera menyambut tasnya dan meraih tangannya untuk membantunya duduk.
Reva menghempaskan diri di belakang.
Andrew kembali mengembalikan kursinya lalu duduk.
Mobil melaju.
"Kapan sih salah satu dari kalian bakal beli mobil yang biasa-biasa aja ?" gerutu Reva.
"Biasa bagaimana ?" tanya Andrew.
"Yah yang biasa.
Yang penumpangnya masuk lewat pintu belakang.
Gak harus nyuruh penumpang depan turun dulu."
"Steve...beli gih !" kata Josh tersenyum.
"Ngapain ?
Kalo kamu mau naik mobilku ya duduk di sebelahku.
Di depan." jawab Steven tak acuh.
Reva mendelik.
"Nanti aku minta om Michael beli satu mobil biasa.
Supaya kalo kalian kesambet jemput aku di kampus kayak gini, pake mobil itu aja."
"Ah..gak seru Va.
Kalo pake mobil ini kan bisa nampang sama mahasiswa cantik kayak kamu.
Sukur-sukur kalo mau ikutan naik." sahut Andrew.
"Kalian ini !"
Kruk..kruk...
Reva memegang perutnya.
Malu.
"Laper banget Va ?" senyum Josh.
"Iya.
Tadi pagi gak sempet sarapan."
"Kamu ini !!
Beli roti dibawah kan bisa !" omel Steven.
Reva cemberut.
"Tadi pagi aku bangun kesiangan.
Boro-boro beli roti.
Hampir aja ditinggal sama bis."
"Ck..ck..ck.." decak Andrew.
"Steve, kamu kan deket, kalo mau berangkat, bareng aja sama Reva." usul Josh.
"Kamu ngomong sama Reva.
Dia yang gak mau keseringan aku antar."
"Ah enggak.
Mobil kamu eye catching.
Nanti semua menyangka aku cewek serokan !!"
"Ya sekarang pun kan kamu cewek serokan.
Baru aja diserok di jalan tadi." jawab Steven.
Reva memukulkan diktatnya ke dada Steven.
"Aduh !"
Steven menahan tangan Reva.
Reva mendelik. Dia berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Steven.
Ketika tidak berhasil, tangan satunya melayang menonjok dada Steven.
Steven cepat menangkap.
Reva yang kedua tangannya dipegang lalu menggunakan badannya untuk mendorong Steven.
Steven yang terdesak balas mendorong.
Badannya menekan Reva.
Reva melotot menatap Steven yang berada diatasnya.
Sementara bibir Steven tersenyum. Dia menatap Reva yang terdesak dibawahnya.
Menikmati wajah manis yang sedang menatap kesal padanya.
"Heh..heh..heh...
Kalo mau pacaran, nanti aja di kamar.
Jangan bikin orang iri." kata Andrew.
Josh tertawa. Dia berbelok ke parkiran.
"Udah nyampe nih.
Steve lepasin dong.
Nanti aja diterusin. Aku anterin ke apartemen."
Reva melotot.
Steven melepaskannya dengan waspada. Takut Reva memukulnya lagi dengan diktatnya yang tebal.
Andrew turun lalu memajukan kursinya.
Reva dan Steven pun turun.
Bersama-sama mereka masuk ke dalam restoran.
"Boss !!" lambai Andrew.
Michael, Robert dan Sandy menoleh.
"Lho...kalian jemput Reva ?" senyum Michael.
"Enggak jemput Boss.
Mungut dari jalanan kampus." kata Steven.
Tangan Reva melayang ke perut Steven.
Steven yang sudah waspada cepat menangkap nya.
Dan tidak dilepaskan.
Reva berusaha melepaskan tangannya.
"Tuh..dari tadi di belakang mobil udah kayak gitu Boss." senyum Josh.
"Pacaran melulu !" gerutu Andrew.
"Siapa yang pacaran?
Aku gak pacaran sama dia !
Dia udah punya pacar kok !!" sanggah Reva.
"Kamu selingkuh Steve ?" tanya Michael dengan nada berbahaya.
"Ah..enggak Boss." jawab Steven pendek.
"Ih..siapa juga yang mau sama dia !" delik Reva
"Udah..udah..udah..
Sini..duduk bareng aja." lerai Robert sambil tersenyum lebar.
Matanya melirik Sandy yang sejak tadi tidak menanggapi.
"Bener gak papa Boss ?" tanya Andrew sambil menarik kursi.
"Enggak dong.
Kita bareng aja." kata Michael.
Steven menarikkan kursi untuk Reva.
Tapi Reva berjalan memutar mendekati Sandy.
Sandy menoleh, tersenyum lalu berdiri menarik kursi untuk Reva.
"Duduk sini Va." katanya.
"Iya Om.." jawab Reva sambil menghempaskan dirinya.
Krukk...kruuk....
Reva kembali memerah.
"Laper banget Va ?" tanya Sandy tersenyum.
"Iya Om..
Tadi pagi gak sempat sarapan.
Aku kesiangan." jawab Reva malu.
"Ya ampuun..
Va ! Udah jam berapa ini ?!" omel Sandy.
Michael menyodorkan dou hua yang dipesannya.
"nih..diganjel dulu pake ini sementara kamu pesan makanan." katanya.
Sandy mengambilkan sendok.
"Ayo makan dulu." katanya.
kruk...kruk...
Reva kembali memerah.
Dia mengambil sendok dari tangan Sandy lalu mulai menyuap
"Hmm....enak Om." katanya menyapukan lidahnya ke sudut bibir.
Sandy yang sejak tadi menatapnya menelan ludah.
Pikirannya berkelana.
Sementara Steven yang mengamati dari seberang meja memicingkan mata melihat Sandy yang menelan ludah.
Sambil makan Reva mengamati buku menu.
"Hmm...
siapa yang bayar ?
Om Michael ya?
Om..boleh pesen banyak ya? " cetusnya.
Michael tertawa.
"Pesen aja sebanyak kamu mau Va."
"Va..kamu pesen semua yang ada di buku menu juga gak papa.
Di meja ini banyak yang mau bayarin !" cetus Andrew.
"Hah ?!
Oh..Om Robert ya.
Pasti mau bayarin aku.
Kalo enggak, Billy aku culik dua malam."
Robert tertawa.
"Maksudnya Andrew selain aku sama Om Michael, Va."
"Hmm..
Iya.
Selain om Michael sama om Robert ya..." gumam Reva.
Matanya masih mengamati menu. Pikirannya tertuju pada makanan enak apa saja yang dia inginkan sekarang.
Lalu perkataan Robert kembali terngiang.
"Hah?!
Selain om Robert sama om Michael ?
Maksudnya kalian semua ?" tanya Reva mengangkat matanya dari buku menu.
"Astaga Va !
Kamu pesen aja apa yang kamu mau.
Gak usah mikir bayar.
Kita semua pingin kamu makan makanan bergizi biar tetep pinter !" sembur Sandy gemas.
Reva tertawa.
"Eh..iya..iya..Om.
Tenang aja, aku pesen tiga porsi.
Aku lapeeer banget." kata Reva cengar-cengir.
"Aku mau ini, ini, ini, sama ini.
Minumnya ini, emmm...ini juga deh." tunjuk Reva pada waiter yang dipanggil.
"Kamu emang beneran laper." komentar Andrew.
Steven, Andrew dan Josh ikut memesan.
Saat pesanan datang, meja di depan Reva penuh.
Dan dia mulai makan dengan lahap.
Sandy yang berada di sebelahnya membantunya mendorong mangkok-mangkok makanan sehingga Reva dapat lebih mudah mengambil lauknya.
Sandy lalu menonton. Menikmati cara Reva makan.
Kepalanya yang dimiringkan disandarkan pada telapak tangannya.
"Va, nanti malam Om bawain bahan masakan.
Nanti Om masakin."
Reva mengangguk. Mulutnya masih sibuk mengunyah.
"Sekalian Om ambil kemeja Om."
Reva kembali mengangguk.
"Udah aku cuci Om. Lagi di jemur.
Tapi belum saya setrika Om." sahutnya.
"Ah gak papa Va.
Gak usah di setrika.
Kamu kan repot." jawab Sandy kembali mendorong satu mangkok.
"Kemeja ?
Lu ninggalin kemeja lu di tempat Reva?" tanya Michael mengerutkan kening.
Sandy menganggukkan kepalanya.
Matanya masih menatap Reva.
Reva mengangkat matanya memandang Michael.
"Dua hari lalu saya nabrak om Sandy pas lagi bawa panci.
Kemeja Om kotor.
Untung saya punya kaos besar.
Jadi Om Sandy pake kaos itu.
Kemeja nya saya cuci." terang Reva.
Michael menatap kepala Sandy yang dimiringkan.
Dia menutup mulutnya.
Ada orang lain di sini.
Ada Steven.
Dia akan menginterogasi Sandy nanti di mobil.
Sandy kembali mendorong satu mangkok dan memindahkan mangkok lain yang sudah kosong menjauh.
Reva tertawa.
"Om...kita ini emang berbeda seratus delapan puluh derajat ya.
Saya berantakan sementara Om orangnya rapi.
Kayak sekarang, saya makan, Om bantuin ngerapiin mangkoknya." Katanya dalam bahasa Indonesia.
Reva kembali menyuap.
"Makasih ya Om... selalu dibantuin ngeberesin apartemen." sambungnya.
"Berarti kita serasi Va." jawab Sandy juga dalam bahasa Indonesia.
"Serasi gimana Om ?
Serasi itu saling mengisi satu sama lain." bantah Reva.
"Nah iya..serasi.
Kamu ngeberantakin.
Om ngeberesin." senyum Sandy.
"Itu sih saya manfaatin kemampuan Om beres-beres. " tawa Reva.
Mereka berdua tidak sadar sedang diperhatikan oleh semua orang di meja.
Semua mendengarkan obrolan mereka berdua.
Steven menjaga wajahnya tetap datar saat menyadari Josh sedang meliriknya.
...⛰️🍎🎋...
Halo Readers....
Mana tim Sandy......?
Mana tim Steven.....?
Author sendiri juga gak tau siapa nanti yang akan dipilih Reva.
Yang tau cuma Reva..setelah melewati banyak kisah.
Oya....Terima kasih banyak untuk like, hadiah, vote dan komen-komen nya.
Semuanya membuat author jadi selalu semangat untuk update episode.
Salam semua.
Jaga kesehatan.
Tetap prokes.
kerennnnn
jangannbilang terjadi huru hara saat pesta lho kak author
baca novel ini....... !@#$^&*%!!
cheers 🥰🥰🥰