Dihianati pacar dan sahabat, membuat Danisa atau yang akrab disapa Nisa enggan menjalin hubungan percintaan dan persahabatan dengan perempuan lagi.
Dari itu dia hanya dekat dengan Senopati, atau yang akrab disapa Seno, hanya dengan Seno dia merasa nyaman.
Saking akrabnya, Seno sudah seperti suami bagi Nisa. Sebelas tahun menjalin persahabatan, rasa cinta mulai tumbuh di hati Seno. Namun, tiba-tiba cinta masa lalu Nisa datang lagi.
Apakah Nisa memilih cinta masa lalunya atau berbalik memilih sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daffo Azhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Nisa menggeliat di tempat tidur. Matanya perlahan terbuka, melirik weker sudah pukul 7:20. Ia langsung terperanjat kaget.
"Ya ampun ... gue kesiangan! Gara-gara Lala nih semalam." Nisa menggerutu lantas ia berlari ke kamar mandi. Sesudah mandi, Nisa mengirim pesan pada Lena bahwa ia akan terlambat. Walaupun kesiangan, Nisa pantang pergi ke kantor tanpa makeup, ia pun berdandan seadanya. Nisa melirik lagi wekernya. 8:10.
"Aduuuh ****** gue! Sekarang ada meeting jam 9 lagi!" Nisa berlari secepat yang ia bisa keluar apartemen.
"Gue harus pesan ojol nih!" Nisa membuka aplikasi ojek online di hapenya, semantara tangan yang lain menenteng beberapa berkas yang ia bawa kemarin.
Untungnya selang lima menit ojek yang ia pesan datang, dan berhasil membawa Nisa ke kantor tepat sebelum meeting dimulai.
Nisa menghempaskan tubuh ke singgasananya lalu menghela napas lega. Sebenarnya, ia kesiangan gara-gara semalam ia membaca novel 'DANISA' sampai selesai. Walaupun novel itu mengisahkan dirinya, tapi Nisa masih saja terbawa suasana dengan kata demi kata yang Viko tulis. Brian bilang bahwa nanti royalti novel itu untuknya, tapi Nisa merasa tidak berhak menerimanya. Jadi ia memutuskan royalti itu akan ia berikan sama yang membutuhkan, karena itu akan menjadi ladang amal untuk Viko. Bukankah pahala sodakoh jariah akan terus mengalir walaupun ia sudah meninggal?
"Mang Yanto ...!" seru Nisa pada Office Boy yang kebetulan lewat di depan ruangannya.
"Iya, Mbak?" Yanto menyembulkan kepalanya ke ruangan Nisa.
"Tolong buatkan saya teh madu, ya?"
"Siap, laksanakan."
"Terima kasih, Mang ...."
Nisa merebahkan punggungnya ke sandaran kursi yang tinggi. Ia meletakan tangannya ke dahi, rasanya ia tidak enak badan. Ia berharap teh madu itu bisa menolongnya.
"Mbak ... ini laporan yang kemarin." Lena tiba-tiba berdiri di depan meja sambil meletakan map.
"Oh, makasih ya, Len," sahut Nisa. Lena menatap Nisa khawatir.
"Mbak, kenapa? Apa lagi gak enak badan?"
"Iya nih. Badan aku agak demam, tapi nanti juga baikan kalo udah minum teh madu. Oh iya, ngomong-ngomong tadi Pak Danu nyariin aku gak?" Nisa terduduk tegak.
Lena terlihat cemas mendengar pertanyaan Nisa.
"Iya, Mbak. Waktu tau Mbak belum dateng dia agak bete gitu," tutur Lena. Nisa kembali menjatuhkan punggungnya.
"Aduh gimana nih, sekarang mau meeting lagi."
"Mbak tau gak, kayaknya meeting ini juga mau ngebahas tentang kunjungan ke London, deh."
"Hah? Kok, aku gak tau. Kata siapa?" Nisa mengerutkan keningnya.
"Pak Danu. Tadi waktu dia nyariin Mbak bilang gitu," jawab Lena.
"Kenapa ngedadak gini, ya? Apa jangan-jangan aniv tahun sekarang di sana?"
"Gak tau tuh."
Nisa melihat jam di ponselnya. Sudah waktunya meeting. Sepintas ia melihat angka satu pada menu Gmail namun ia mengabaikannya.
"Ya udah aku ke ruangan meeting dulu, ya." Nisa menyiapkan laporan-laporan yang akan dibahas, mengganti sepatu tepleknya dengan sepatu hak, lalu pergi ke ruangan meeting.
"Mbak Nisa ... ini teh madunya," seru Yanto saat melihat Nisa pergi dari ruangannya.
"Taro aja di meja, Mang ...."
💝💝💝
Rupanya teh madu tidak menolong demam Nisa. Apalagi lusa Nisa harus berangkat ke Inggris buat menghadiri anniversary perusahaan bersama Nadya dan pimpinannya. Bagaimanapun Nisa tidak boleh sakit, bisa gawat kalau sakit.
Setelah makan siang, Nisa mencoba minum paracetamol 500mg. Semoga demamnya bisa teratasi dengan obat itu. Dan selang dua jam obat bereaksi, demam Nisa turun.
Sebelum jam kantor habis, Nisa minta izin pulang untuk istirahat, ia ingin memulihkan badannya agar nanti saat ke Inggris badannya segar.
Sesampainya di apartemen Nisa langsung tidur. Ia tidur nyenyak selama 5 jam lalu terbangun pukul 9 malam. Nisa meletakan lagi tangannya di dahi. Lumayan, setelah tidur ia sedikit merasa baikan, namun sekarang ia merasa perutnya lapar.
Sayup, Nisa mendengar ada suara TV menyala di ruang tengah. Siapa ya? Nisa keluar kamar. Terlihat adik bungsunya sedang makan mie instan dalam kemasan cup sambil menonton tv.
"Angga? Kapan kamu datang?"
"Tadi magrib. Aku udah telepon tapi Teteh enggak jawab."
"Oh, aku lagi gak enak badan jadi tidur deh dari sore. Ngomong-gomong kamu ngapain ke Jakarta, Bukannya audisi nyanyinya gagal kemarin?"
"Kalau aku bilang pasti Teteh kaget."
"Apaan emang?"
"Aku dilirik Produser musik, mau diorbitin jadi penyanyi."
"Ah, bercanda kamu!"
"Ya udah kalau enggak percaya. Kata dia aku memiliki potensi dan punya nilai jual, tau deh, mungkin karena aku ganteng kali."
Nisa semringah, ternyata adiknya ada baiknya juga. "Widih selamat ya, bentar lagi aku punya adik seorang artis dong."
Angga mengernyitkan dahi, "Bukan artis, tapi penyanyi!" seru Angga tidak terima. Padahal menurut Nisa artis sama penyanyi itu sama saja.
"Iya-iya deh penyanyi," sahut Nisa sambil berlalu ke dapur mengambil roti dan minum.
"Teh, tadi aku telepon sampe 20 kali, loh. Busyet tidur udah kayak kebo, gak denger apa?" seru Angga.
"Pules banget ...," sahut Nisa dari dapur. Sesaat kemudian Nisa sudah duduk di samping Angga sambil mengunyah roti.
"Ga, lusa teteh mau ke Inggris, ada urusan kantor. Kamu jaga rumah, ya ...."
"Ke Inggris? Ketemu Bang Seno, dong." Mendengar ucapan Angga, jantung Nisa serasa mau copot. Benar juga. Kenapa ia tidak terpikir kalau pria itu ada di Inggris? Di kepalanya cuma ada pekerjaan saja. Nisa meneguk air putih agar roti yang bercokol di tenggorokannya mengalir ke perut.
"Berapa hari?" tanya Angga lalu menyeruput mienya.
"Kurang lebih lima hari lah."
"Oh. Oke deh, nanti aku jaga rumah. Kalau ketemu Bang Seno, salam ya ...."
Nisa mengerjap, entah kenapa dadanya jadi berdebar. Padahal belum tentu ia bisa bertemu Seno karena siapa tahu Nisa akan sibuk di sana. Apakah ia harus memberitahu Seno soal kabar ini?
Nisa rindu ....
Rindu yang entah bagaimana lagi untuk mengungkapkannya. Akhirnya ia bangkit mencari ponsel, Nisa memutuskan untuk memberitahu Seno.
Saat ponsel sudah di tangan, pupil matanya menangkap ada angka satu di menu Gmail. Dari siang angka itu sudah ada, tapi Nisa abaikan. Akhirnya tangan Nisa tergerak untuk membuka menu itu.
Setelah terbuka Nisa mendelik. Ternyata email itu dari Seno. Tumben dia ngirim email, pikir Nisa. Perlahan ia membaca emailnya Seno. Lalu setelah menangkap isi email itu, ia hampir saja menjatuhkan ponselnya.
Belum puas, ia membaca lagi email itu berulang kali takut salah baca atau cuma halusinasi. Nisa mencubit pipinya sendiri.
"Aduuuh." Ternyata sakit. Ini bukan halusinasi.
Nisa menitikan air mata bahagia. Perasaannya campur aduk, entahlah, sulit digambarkan rasanya. Demi Tuhan ia tidak pernah selega ini selama hidupnya. Ia sangat lega karena apa yang Niken bilang benar adanya.
Senopati__sahabatnya, ternyta mencintainya. Dan yang bikin Nisa tidak menyangka adalah, pria itu mencintainya sejak pertama kali bertemu di Singapore.
Nisa memegang kedua pipinya, rasa hangat dari hatinya menjalar ke pipi, membuat kedua pipi itu memancarkan semburat merah.
Inikah jatuh cinta itu? Kenapa rasanya sangat malu? Nisa membenamkan wajahnya ke bantal, dan ia tidak bisa berhenti tersenyum.
'Tolong kendalikan aku Tuhan.'
Tak lama Nisa bangkit mengambil ponselnya lagi, lalu membalas email Seno.
"Tunggu aku di Manchester!"
💝💝💝
Perjalanan Jakarta-London kurang lebih 14 jam, transit sebentar di bandar udara Schipol, Amsterdam, untuk mengisi bahan bakar, lalu perjalanan dilanjutkan ke London dengan memakan waktu 90 menit. Karena perbedaan waktu di London lebih lambat, maka perjalanan terasa sangat singkat.
Sial! Saat di perjalanan, Nisa demam lagi dan tenggorokannya mulai tidak enak, sepertinya ada yang salah dengan tenggorokannya. Biasanya kalau sudah begini ia akan flu berat.
Akhirnya pesawat mendarat dengan selamat di bandara Gatwick, London. Semua penumpang dan awak pesawat keluar dari pesawat. Sebelumnya Nisa sudah pernah beberapa kali melakukan kunjungan kerja. Ke Paris--yang memang pusat perusahaan sepatu itu di sana, ke Malaysia, Thailand, Turki dan sekarang London. Tapi entah kenapa kunjungannya kali ini sangat melelahkan karena jantungnya tidak berhenti berdebar-debar.
Ini seperti pertama kali jatuh cinta, semua rasa bercampur di dada. Nadya sampai heran melihat Nisa begitu semangat dengan kunjungan ini.
Begitu menginjakan kaki di bandara, Nisa menghirup udara dengan mata terpejam dan bibirnya terus mengulum senyum.
"Ndut ... sekarang kita menghirup udara yang sama di negara ini. Gue kangen banget sama lo, sumpah." Nisa bertutur dalam hati.
Selang lima belas menit jemputan Nisa datang, lalu langsung membawa Nisa dan Nadya ke hotel, sedangkan pimpinannya, akan menemui anaknya dulu yang kebetulan kuliah di Inggris.
Acara kunjungan kali ini hanya untuk acara anniversary perusahaan saja, jadi Nisa akan punya waktu luang di sini. Si Nadya bahkan sudah punya rencana untuk keliling London dan foto-foto buat di instagramnya. Tuh anak memang bakatnya tukang pamer dari lahir.
Jadwal dua hari ke depan Nisa akan sibuk di kantor untuk menghadiri acara inti, jadi tidak mungkin untuk bertemu Seno besok atau lusa. Mungkin sehari sebelum Nisa pulang ke Indonesia baru bisa bertemu Seno.
Sesampainya di kamar hotel, Nisa langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur.
"Aduh, kenapa harus sakit sih! gue gak bawa obat lagi." Nisa meletakan tangannya di dahi. Panas. Di tenggorokannya juga seperti ada biji kedondong yang bercokol, ia sampai sakit menelan ludahnya sendiri.
Nisa melirik jam tangannya. 7:15 malam, tapi matahari masih bersinar. Di negara Ratu Elizabeth saat musim semi sampai musim panas memang memiliki siang yang lebih lama. Dari itu bagi siapapun yang ingin jalan-jalan ke negara ini, sebaiknya saat musim semi atau musim panas agar memiliki banyak waktu untuk menyusuri seluruh kota pada siang hari.
Nisa mengambil ponsel di koper lalu menyalakannya. Saat ponselnya menyala ada satu pesan masuk. Jantung Nisa seperti mau melompat keluar saat tahu siapa pengirim pesan itu.
"Nis, lo beneran mau ke Manchester? Serius? Demi apa? Apa gue lagi mimpi? Elo enggak bercanda, kan?"
Nisa terkikik-kikik membaca pesan itu. Kemudian Nisa langsung mengetik balasan.
"Serius! Nih, sekarang gue udah di London. Kalau lo gak percaya video call aja." Nisa memencet tombol send. Sesaat setelah pesan itu terkirim, Seno Video call. Astaga pria itu memang tidak sabaran.
Sebelum menerima panggilan itu, Nisa bercermin merapikan rambutnya yang sedikit kusut.
"Hai ...," sapa Nisa setelah wajah Seno terlihat di layar ponselnya. Nisa menelan ludah dengan susah payah karena sakit dan gugup, tapi sekarang lebih dominan karena gugup.
"Hai juga ...," Seno berkata lalu ******* bibir untuk mengusir rasa gugupnya, namun tidak berhasil. Dada Seno berdesir halus, lihatlah kekasih hatinya sekarang ada di hadapannya walaupun hanya di layar ponsel. Namun, seketika mata Seno mengernyit. Ia menangkap ada yang berbeda dari Nisa.
"Nis, kok muka lo pucat? Sakit, ya?"
"E__enggak. Gue gak sakit, kok."
"Jangan bohong, gue sangat tahu gimana wajah elo saat sehat atau sakit."
Nisa mengerjap. Benar. Saat ini ia sedang berhadapan dengan Seno yang lebih tahu dirinya dari siapa pun bahkan dirinya sendiri, jadi Nisa tidak mungkin bisa bohong.
"I__iya gue demam, tenggorokan gue juga sakit."
"Tuh kan ... elo bawa obat?" Seno sangat khawatir. Nisa menggeleng.
"Ya udah tungguin gue, lo nginep di hotel apa?"
Mata Nisa mendelik. "Sen, lo mau ke sini?"
"Iya. Gue mau bawa obat buat lo," jawab Seno.
"Eh, enggak usah, gue bisa beli sendiri." Nisa langsung menyergah.
"Jangan bawel! Elo enggak tau seluk beluk kota London. Gue enggak mau nanti lo jadi daftar salah satu orang hilang di sini." Nisa meringis.
'My man ... lo tetep jadi mother fierce-nya gue.'
"Dari Manchester ke London cuma 2 jam doang naik kereta. Sekarang baru jam setengah 8, sebelum jam 10 gue udah di tempat lo. Tungguin gue, oke?"
Nisa tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menganggukan kepala.
Rasa haru dan senang menyeruak di dadanya. 'Tuhan ... terima kasih. Kau telah mengirimkan Senopati dalam hidupku,' lirih Nisa dalam hati.
💝💝💝
Ternyata Seno menepati janjinya, sebelum jam 10 malam ia sudah ada di hadapan Nisa. Berdiri dengan segala kegugupan yang ada, bingung, salting, dan jantungnya berdegup kencang sampai-sampai Seno takut Nisa bisa mendengarnya. Rasa cinta dan rindu membuatnya ingin memeluk wanita di hadapannya itu, namun ia segan. Akhirnya Seno cuma memegangi dahi Nisa.
"Kamu panas," ucapnya. Kemudian ia menyodorkan bungkusan plastik berisi obat untuk Nisa.
"Nih, jangan lupa diminum. Jangan sampai kamu sakit di negeri orang," seloroh Seno. Tenggorokan Nisa tercekat. "Makasih, ya."
"Ya udah deh, aku pulang ya. Kamu istirahat gih!" Seno berkata masih gugup.
"Pulang?" Nisa berseru antara kaget dan tidak rela.
"Kamu enggak istirahat dulu di sini sebentar? Enggak capek apa?" Seno menyeringai sambil mengusap tengkuknya.
"Capek," ucapnya dengan muka tertunduk.
"Ya udah, yuk." Nisa mengajak Seno duduk di cafe kecil yang ada di lobi hotel.
Entah kenapa panggilan mereka yang berubah menjadi aku-kamu membuat Seno kikuk, Nisa juga sama. Mereka tidak tahu bagaimana caranya agar suasana kikuk ini mencair. Padahal saat video call tadi mereka masih memanggil elo-gue.
Sekarang mereka duduk berhadapan ditemani dua cangkir Americano.
"Hm." Seno berdeham.
"Diminum, Nis." Seno berucap sambil menggerakan tangannya mempersilahkan.
"Aku mau minum obat, jadi enggak minum kopi."
"Oh iya lupa, mau aku pesankan yang lain?"
"Enggak usah, deh."
"Oh, ya udah."
Hening lama.
Pandangan Seno berkeliling, ia sedang berpikir untuk membuka obrolan. Sumpah, rasanya ia mau mati karena kikuk. Saat ia asik dengan pikirannya, tiba-tiba Nisa berucap.
"Sen, manggilnya jangan aku-kamu, deh. Grogi nih gue ... kita__biasa aja, ya." Dada Seno lega mendengar ucapan Nisa.
"Oke. Ngomong-ngomong, elo ke sini sengaja mau nyamperin gue karena__email itu?"
Jantung Nisa tersentak. "Bukan. Gue ke sini ada acara anniversary perusahaan gue yang tahun ini diadakan di London."
"Oh." Seno menunduk. Jujur, Seno agak kecewa, tadinya ia kira Nisa sengaja ke sini hanya untuk bertemu dengannya.
"Tapi__gue suka banget sama emailnya." Nisa berucap malu-malu. Seno langsung mendongak, sedetik kemudian seulas senyum langsung terbit di bibirnya.
"Alhamdulillah ...." Seno berucap nyaris berbisik, namun Nisa bisa mendengarnya. Nisa pun tersenyum.
"Kenapa baru sekarang, Sen? Kenapa elo buat gue menderita dulu? Kalau saja dari dulu elo bilang, gue enggak mungkin sama Viko. Karena__" Ucapan Nisa terhenti, ia memasok udara ke paru-parunya.
"Karena?" Seno mengernyitkan dahi.
"Gue juga cinta sama lo. Entah sejak kapan perasaan ini ada, tapi semenjak elo pergi, gue semakin yakin dengan perasaan gue ini." Nisa menundukan pandangan. "Walaupun saat itu gue sama Viko, tapi hati gue tidak bersamanya. Gue rasa ... gue udah mencintai elo jauh dari sebelum Viko kembali ke kehidupan gue. Rasa nyaman saat sama lo, dan ketergantungan gue sama lo selama ini membuat perasaan itu tumbuh perlahan dan diam-diam, gue enggak menyadarinya sampai elo pergi."
Saat itu kaki Seno seperti tidak memijak bumi. Ia seperti melayang ke langit London yang memancarkan semburat kemerahan. Awal musim panas yang hangat telah mempertemukan Seno dengan takdirnya. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa sahabatnya adalah cinta sejatinya. Nisa telah menghentikan Seno menjadi playboy cap paus yang terdampar. Pencarian Seno sudah sampai ujung, tidak ada lagi yang ingin ia cari, karena ia sudah mendapatkannya.
Nisa mendongak melihat mata Seno yang berair. Dan tatapan mata itu pertama kali ia lihat selama mengenal pria itu.
"Makasih, Nis." Seno berucap sambil meraih tangan Nisa di meja. Namun, karena gugup dia menarik kembali tangannya.
"Gue janji, akan bikin elo bahagia. Gue janji, gue enggak akan membuat elo kekurangan satu apapun. Dan gue janji gue enggak akan poligami, akan menjadikan elo satu-satunya cewek dalam hidup gue sampai gue mati, sampai gue hidup lagi di akhirat." Nisa terkikik-kikik geli mendengar celotehan pria di hadapannya itu.
"Poligami? Emang elo mau nikahin gue gitu?"
"Loh, emang elo enggak mau jadi nyonya Senopati?" Wajah Seno sedikit tegang.
"Bukan gitu, lo lupa ya? Gue kan janda. Emang lo mau nikah sama janda?"
"Elo janda sampe 7 kali juga gue tetep mau." Seno berujar sambil mengerlingkan mata dengan genit.
"Bokis! Geblek lo emang." Keduanya gelak tertawa. Tangan Seno terulur lalu mengacak rambut Nisa dengan sayang. Hati Nisa terenyak senang.
"Ngomong-ngomong, Sen, perut off side lo kemanain? Kok sekarang jadi rata gitu, sih? Gue sampe pangling tadi pas pertama liat elo lagi."
Seno menunduk malu sambil mengusap-usap tengkuknya, kemudian mendongak menatap Nisa. "Gue kurus gini, karena gue patah hati, tauk!"
"Hah? Serius lo?" Nisa terlohok.
"Enggak, gue bercanda, deng. Akhir-akhir ini, gue nyempetin ngegym sama temen gue." Padahal memang benar, Seno sering ngegym, karena dia ingin melupakan patah hatinya.
Nisa menatap Seno kagum, jujur ia lebih menyukai Seno yang seperti ini. Namun, bagaimanapun bentuk fisik Seno, Nisa tidak masalah, karena yang ia suka darinya bukan karena fisiknya semata, melainkan karena ia adalah Senopati yang ia kenal selama ini.
💝💝💝
sumpah
lanjutt thorr