setelah mengikuti pendekar pulau es 1 dan pendekar pulau es 2,tidak lengkap rasanya tidak membaca pulau es 3.
akhirnya Cia Bu Ki mendapatkan kipas lima naga yang di wariskan oleh gurunya,walau kipas lima naga berada di tanah Jawa,dengan takdir dewa Cia Bu Ki akhirnya dia tersesat ke pulau Jawa,
inilah awal dimana Cia Bu Ki berpetualang dengan menaklukan para pendekar di pulau Jawa yang maha sakti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BilQis Natasya Putriyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA MUSTIKA LIMA NAGA bag 1
" benarkah itu Jaka?"
" itulah yang saya ketahui nyai?sepertinya Bu Ki memang orang yang nyai maksud "
" Hem...saya hampir ragu Jaka,andai bukan saja kamu yang berbicara mungkin saya tidak akan percaya bila dia datang sendiri."
" sebenarnya apa yang terjadi nyai?bahkan Bu Ki sendiri tidak menceritakan dengan jelas,dia hanya mengemban tugas untuk mengambil mustika itu nyai."
" sangat panjang untuk menjelaskanya Jaka,tetapi saya mendengar bahwa kabar mustika itu telah tersebar di seluruh pulau Jawa,bahkan sudah menyebar ke luar pulau Jawa?"
" apa...mengapa sampai begitu nyai?"
" saya juga tidak mengerti,mengapa mustika yang di simpan dengan sangat rahasia,hanya beberapa orang saja yng mengetahui mustika itu termasuk gurumu Jaka."
" guru mengetahui tentang mustika itu?mengapa guru tidak menceritakan pada saya nyai?"
" karena mustika itu hanyalah titipan Jaka,dan saya sendiri tidak pernah menceritakan oleh siapapun termasuk pada murid murid saya Jaka."
" apa keistimewaan dari mustika itu nyai,sehingga harus dirahasiakan seperti itu nyai."
" saya tidak tau Jaka,hanya gurumulah yang telah menyaksikan kehebatan mustika kipas lima naga yang tersimpan di tempat tersembunyi."
" Bu Ki Memang beruntung,dengan usia semuda itu dia mewarisi mustika yang sangat sulit di cari tandingannya."
Jaka berulang kali berdecak kagum pada Cia Bu Ki yang saat ini sedang asik melihat latihan para gadis yang sepertinya tidak sadar kalau Bu Ki sedang memperhatikan mereka.
" Jaka sebaiknya pemuda itu kamu dampingi karena andai dunia persilatan tau,bahwa pemuda itulah kunci dimana mustika itu berada,pasti para pendekar akan mencarinya."
" pasti nyai,saya juga sudah anggap pemuda itu adik saya bahkan pemuda itu sangat sopan dan terpelajar."
" baguslah..Jaka,saya harap pemuda itu menjadi tamu khas istimewa kita,karena gurunya juga orang sakti,dan memiliki Budi pekerti yang baik."
" kalau boleh tau,siapakah gurunya nyai?"
" apakah pemuda itu tidak menceritakannya padamu juga Jaka?"
" tidak nyai?"
" memang pemuda yang sangat unik,pantas dirinya di angkat menjadi murid tokoh sakti dari negri Tiongkok itu."
" nyai malah membuat saya penasaran."
" maaf Jaka,bukan saya tidak ingin memberi taukan pada kamu, saya takut pemuda itu tersinggung."
" dasar nyai dari dulu selalu membuat saya penasaran saja."
" sebentar Jaka,saya akan memanggil murid kesayangan saya."
nyai darsih pun memanggil putri Andini.
yang baru saja menyelesaikan latihan para juniornya.
" salam paman Jaka."
Putri Andini pun memberi salam pada Jaka,dan mendekat pada gurunya.
" Andini ajaklah pemuda itu,sepertinya dia sangat jenuh,ada sesuatu hal yang akan kami bicarakan pada jaka."
" baik guru."
Jaka yang di panggil paman oleh Putri Andini hanya bisa menggaruk garuk kepalanya karena dia merasa sangat tua.
putri Andini yang sangat menghormati gurunya mau tidak mau harus mendekati Cia Bu Ki,walau sebenarnya dia sangat malu dan hatinya berdebar debat saat mendekati cia Bu Ki.
**
" maaf kisanak,saya di suruh guru untuk membawa kisanak melihat lihat padepokan,apakah kisanak bersedia saya temani?"
dengan sedikit malu Putri Andini bertanya pada Cia Bu Ki.
" apakah nona ingin mengantarkan saya?kebetulan saya ingin sekali melihat suasana tempat ini."
cia Bu Ki yang mengagumi kecantikan Putri Andini merasa sangat senang,ternyata tidak sia sia dirinya ikut ke pandepokan bersama Jaka.
putri Andini tidak menjawab,tetapi dia hanya tersenyum dan langsung berjalan sambil memberikan sinyal agar cia Bu Ki mengikutinya.
" nona panggil saja saya Bu Ki, sepertinya telinga saya agak aneh saat nona memanggil saya dengan sebutan kisanak."
" tetapi.."
" santai aja nona,saya lebih senang kalau nona panggil nama saya dan terasa lebih akrab bukan?"
putri Andini tidak dapat berkata apa apa lagi,baru kali ini semenjak dia dewasa bertemu seorang lelaki dan langsung bicara sehingga wajahnya mulai memerah dan dadanya berdegub kencang.
putri Andini tidak banyak bicara,dia selalu diam hanya cia Bu Ki yang sedikit banyak bicara.
entah mengapa di dekat Putri Andini cia Bu Ki lebih banyak bicara,padahal dahulu sejak dirinya di latih oleh gurunya, cia bu Ki adalah pemuda pendiam dan tidak banyak berbicara.
hingga saat mereka sedang melewati asrama pandepokan dimana para murid murid pandepokan sedang beristirahat karena lelah kerena seharian berlatih,para gadis melihat Cia Bu Ki dan Putri Andini sedang berjalan,banyak para gadis yang merasa iri dengan putri Andini yang bisa berdekatan dengan Cia Bu Ki.
kasak kusuk terdengar dari para gadis sehingga putri Andini yang mendengar melotot pada mereka dan membuat para gadis terdiam.
cia Bu Ki menyadari,kalau gadis gadis itu sangat segan terhadap putri Andini membuat cia Bu Ki pun kembali bertanya pada putri Andini.
" nona..sepertinya nona sangat di hormati di pandepokan ini?"
" Hem..itu hanya perasaan Kisa..maaf bu ki saja."
putri Andini mulai memanggil nama cia bu ki dan tidak memanggil dengan sebutan kisanak.
" begitulah?tetapi menurut pandangan saya nona,mereka sangat segan pada nona."
" untuk apa mereka segan pada saya,toh kami di besarkan di sini bersama sama sejak kami kecil."
" sejak kecil?"
" benar Bu Ki,kami kebanyakan adalah anak yatim piatu,dan kami di rawat oleh guru dan di berikan kehidupan yang layak serta di ajarkan ilmu Kanuragan oleh guru."
" sungguh Mulya hati guru kalian nona?"
" maaf Bu Ki,kenapa kamu selalu sebut nona?bukan kah dirimu ingin di panggil nama saja?"
" bagaimana saya mau panggil nona dengan nama,sementara nona tidak menyebutkan nama nona."
" maaf Bu Ki."
jawab Putri Andini tersipu malu.
" siapakah nama nona?"
" nama saya Andini,dan setiap murid di sini di beri nama depan oleh guru putri sesuai dengan nama pandepokan putri kencana."
" oh...nama yang sangat bagus,sesuai dengan wajahmu Andini."
walau cia Bu Ki berkata jujur, tetapi tidak dengan Putri Andini,wajahnya yang putih kembali memerah.
ingin rasanya iya berteriak kegirangan saat Cia Bu Ki memuji wajahnya.
putri Andini hanya menunduk malu menyembunyikan wajah merahnya pada Cia Bu Ki.
apa gedungnya gak beratap kali...