"Di tengah kesibukan kehidupan SMA di Jakarta, Yuki dan kelompok teman terbaiknya menjalani petualangan yang mengubah hidup mereka dari merawat kakaknya yang sakit, menemukan cinta pertama, hingga membentuk tim untuk lomba bahasa asing nasional.
Dengan persahabatan sebagai dasar kuatnya, mereka menghadapi segala rintangan: perbedaan cara pandang, tantangan kompetisi, dan bahkan menemukan makna baru dalam persahabatan antar budaya. Awalnya hanya sekelompok teman biasa, kini mereka membuktikan bahwa kerja sama dan cinta bisa membawa mereka meraih kemenangan yang tak terduga termasuk kesempatan untuk menjelajahi dunia luar!"
"Siapakah mereka? Dan apa yang akan terjadi saat mereka melangkah keluar dari zona nyaman Jakarta untuk menjelajahi dunia yang lebih luas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Kolim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 3
Keesokan paginya, Yuki terbangun dengan perasaan aneh.
Mimpi semalam masih membekas di kepalanya—taman kecil dengan ayunan berkarat, langit senja berwarna jingga, dan suara tawa dua anak kecil. Salah satunya jelas dirinya sendiri.
Yang lain… buram.
“Siapa…?” gumamnya sambil duduk di tepi tempat tidur.
Di dadanya, ada rasa rindu yang tidak memiliki tujuan.
Di kelas, Kinta sudah duduk di bangkunya saat Yuki datang.
Ia melirik sekilas, lalu berkata,
“itu-Terimakasih.”
Yuki terkejut.
“e-eh? Iya”
“aku..juga terimakasih.”
“hee....iya.”ucap kinta
Kinta melihat Yuki, lalu ragu sejenak.
“kamu keliatannya makin cantik.”
Yuki yang mendengar itu langsung memalingkan wajahnya dari kinta.
Mereka terdiam, lalu tertawa kecil bersamaan—tawa pendek yang cepat menghilang, tapi meninggalkan kehangatan.
“Untuk tugas literatur, kalian akan bekerja berdua,” kata guru.
Nama mereka kembali dipanggil bersama.
Seisi kelas mulai berbisik lagi.
Yuki menunduk, pipinya memanas.
“…Kita kerjakan di perpustakaan?” tanya Kinta.
“Iya,” jawab Yuki pelan.
Mereka duduk berseberangan di meja perpustakaan yang sunyi. Tumpukan buku terbuka di antara mereka, tapi fokus Yuki sering teralihkan oleh suara napas Kinta yang tenang.
“Kamu suka cerita seperti ini?” tanya Kinta sambil menunjuk novel klasik di tangannya.
“Entah kenapa… aku suka cerita tentang persahabatan,” jawab Yuki jujur.
Kinta membeku sejenak.
“…ohh.”
Sore hari, hujan turun lebih deras dari biasanya.
Yuki dan Kinta terjebak di koridor sekolah, menunggu hujan reda. Suara hujan menghantam atap terasa begitu dekat.
”yahh hujan lagi.”ucap Yuki yang sedang bersama kinta
“Kamu pulang lewat mana?” tanya Kinta.
“Lewat taman kecil di belakang stasiun.”
Kinta menoleh cepat.
“Taman… yang ada gambar di ayunan nya?”
Yuki terdiam.
“Iya,” jawabnya perlahan. “Kamu tahu?”
Kinta mengerutkan kening.
“Aku tidak tahu kenapa… tapi tempat itu menyimpan kenangan.”
Hujan semakin deras.
Jantung Yuki berdegup keras.
“…Aku juga.”
Saat hujan mulai reda, mereka berjalan bersama hingga gerbang taman.
Ayunan tua itu masih ada, berderit pelan tertiup angin.
Yuki melangkah mendekat tanpa sadar.
“Di sini…” bisiknya.
Kepalanya berdenyut hebat. Bayangan muncul cepat—dua anak kecil, roti di tangan, lonceng kecil berbentuk bintang.
“Yuki—!”
Suara itu menggema.
Kakinya goyah.
Kinta refleks memegang pergelangan tangannya.
“Yuki!”
Sentuhan itu membuat dunia berhenti.
“Aku…” Yuki menatapnya dengan mata berair. “Aku merasa… kita pernah di sini.”
Kinta menggenggamnya sedikit lebih erat.
“…Aku juga.”
Namun sebelum satu pun dari mereka bisa mengatakan lebih jauh, suara petir menyambar, memecah keheningan.
Mereka tersentak, realita kembali.
Kinta perlahan melepaskan tangannya.
“…Maaf.”
“Tidak,” Yuki menggeleng. “Terima kasih.”
Mereka berdiri saling berhadapan, hujan menyisakan tetesan kecil di rambut dan seragam mereka.
Ada sesuatu yang hampir terungkap—
namun masih tertahan oleh waktu.
Malam itu, Yuki menulis di buku catatannya:
Aku bertemu seseorang yang terasa seperti rumah,
padahal aku baru mengenalnya.
Di tempat lain, Kinta menatap lonceng bintang di meja kamarnya.
“…Kali ini,” bisiknya,
“aku tidak mau melupakanmu lagi.”
Hari-hari berikutnya berlalu dengan tenang, namun perasaan Yuki dan Kinta tidak pernah benar-benar diam.
Setiap kali mereka duduk berdampingan di kelas, setiap kali tangan mereka hampir bersentuhan saat bertukar buku, selalu ada getaran kecil di dada—seperti lonceng yang berusaha berbunyi, tetapi tertahan.
Kenangan yang Datang Saat Sendiri
Sepulang sekolah, Yuki kembali ke taman itu sendirian.
Ayunan tua berderit pelan saat ia duduk di sana. Angin sore menyentuh wajahnya, membawa aroma rumput basah.
“Apa aku suka dengan kinta…?” bisiknya.
Ia menutup mata dengan perasaan yang aneh
Seorang anak laki-laki berdiri di depannya, memegang dua roti krim vanila. Rambutnya berantakan, senyumnya cerah.
“Kalau kita besar nanti, kita jangan lupa satu sama lain, ya.”
“Janji,” jawab Yuki kecil sambil tertawa.
“Kalau lupa, kita ketemu lagi di sini.”
Yuki membuka mata dengan napas tertahan.
Air mata jatuh satu per satu.
“…Kinta.”
Nama itu meluncur begitu alami, seolah selalu ada di hatinya.
Ketakutan yang Sama
Di sisi lain kota, Kinta berdiri di dapur restoran setelah jam tutup.
Ia memegang roti krim vanila yang belum terjual.
Tangannya bergetar.
“Yuki, kamu selalu beli ini.”
“Soalnya ini rasanya sangat enak.”
“hahaha awas nanti gemuk,” ucap kinta dengan nada meledek.
“Gakkk.”ucap Yuki sambil marah
Setelah itu yuki Takut jika semua ini hanya sementara.
Takut jika akan berpisahan.
Keesokan harinya, kelas masih kosong saat Yuki tiba.
Kinta sudah duduk di bangkunya.
“Pagi,” ucapnya pelan.
“Pagi.”
Ada jeda panjang.
“Kinta,” kata Yuki akhirnya, menatap meja.
“Aku… ingin bilang sesuatu nanti di atas.”
Kinta menegang.
“…Tentang apa?”
“oke anak anak kita akan memulai pelajaran.....”
Kinta menarik napas panjang.
“huh.”menghela nafas kecil
Yuki menoleh melihat wajah kinta yang kesal sambil tersenyum kecil. Sesudah pelajaran mereka berdua menuju ke atap sekolah.
“anu...kinta...”ucap Yuki sambil ragu melihat ke arah kinta
Kinta menatapnya lama.
“ya?”
"a-apa kamu punya pacar?" dengan ragu kinta bertanya
“Aku tidak punya?, Ada apa?”
“Ah tidak tidak,”Dalam hati Yuki “Haaaaa!!, kenapa aku bertanya seperti itu!!.”
“Eh mau makan dikantin?.”ucap kinta
“Ayo.”
Dan untuk pertama kalinya, yuki tersenyum penuh—lembut, hangat, didepan kinta
Dalam hati kinta“imutt!!!.”
Mereka berdua ke kantin bersama.
Malam harinya Yuki tidak bisa melupakan percakapan dia dengan kinta.
“haaaa apa...aku suka kepada kinta?.”ucap Yuki sambil pipi nya memerah.