HIATUS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Ibu Anin
Pulau Bali
Setelah sampai di bali, Kevin dan Ans hendak berjalan keluar bandara, akan tetapi Kevin menghentikan langkahnya ketika melihat gadis yang tidak asing baginya, melintas keluar dari bandara digandeng oleh wanita paruh baya.
Kevin menyuruh Ans berangkat lebih dulu untuk menemui pak james menajer pabrik di pulau bali, Ans menuruti apa yang diperintahkan Kevin padanya.
Sementara Kevin terus mengikuti kemana gadis itu pergi.
Dan disinilah Kevin berdiri, didepan sebuah rumah yang terlihat sederhana, karena melihat wanita itu masuk kedalam rumah tersebut. Kevin melangkahkan kakinya mendekati jendela rumah tersebut dan menguping pembicaraan seseorang dari luar.
"Setelah kau tinggal dikota yang begitu besar, kau sudah merasa hebat dan melupakan ibu ?" bentak Sandra pada putri semata wayangnya.
"Ibu Aku mengaku, Aku salah," ucap Anin menundukkan kepalanya karena takut dengan tatapan tajam ibunya, lalu ia bersujud di depan ibunnya.
"Anin, kenapa kau sampai bersujud hanya karena kesalahan sepele, ibu marah padamu hanya kerena kau tidak pernah mengunjunginya" ucap Rara kakak sepupu Anin.
"Oh jadi ibu marah hanya karena itu, Aku kira dia marah karena mengetahui kehamilanku" batin Anin
Anin tersadar dari lamunanya saat mendengar teriakan seseorang dari luar yang semakin lama semakin dekat.
"Bibi ada masalah besar" ucap Jefri sembari mengatur nafaanya yang ngos-ngosan karena berlari.
"Memangnya ada apa ?" tanya Rara menghampiri sumainya.
"Anin, dia hamil dan sekarang seluruh penduduk sudah mengetahuinya." ucap Jefri
Kevin yang mendengar berita itu bagai tersambar petir di siang bolong, ia jatuh tersungkur di lantai dekat jendelan. Karena kakinya tidak bisa lagi menopang tubuhnya karena lemas, dengan susah ia menelan salivanya dan mencerna baik-baik yang di dengarnya barusan.
"kamu ada disini ?" tanya Jefri yang baru menyadari keberadaan Anin.
"ka...kamu ham..hamil ?" tanya Sandra dengan tatapan tajamnya pada Anin.
"Ibu maafkan Aku" ucap Anin lirih dan menundukkan kepalanya.
"Anin kamu hebat sekali ya? pacaran tanpa sepengetahuan ibu, dan bisa-bisanya langsung hamil ?" ucap Sandra dengan nada rendah tapi penuh penekanan, lalu sandra menghampiri Anin membawa sapu ijuk.
"Kenapa ibu bisa melahirkan putri sepertimu ?" bentak sandra dan tak terasa air mata jatuh membasahi pipinya, ia melayangkan tongkat sapu ijuk pada tubuh Anin.
"Dia sedang hamil jangan pukul dia !" Rara menahan tongkat sapu tersebut agar tidak mengenai Anin.
"Kamu minggir !" Sandra mendorong tubuh Rara kebelakang.
"Tidak bisakah kamu berpacaran dengan baik, lalu menikah dan melahirkan anak ?" bentak Sandra memukul sofa yang ada dihadapannya.
Kevin bergidik ngeri mendengar pukulan itu, dialam pikirannya Anin sudah disiksa habis-habisa oleh ibunya, karena Kevin tidak bisa menyeksikan itu, ia hanya mendengar suaranya dari luar.
"Kenapa kamu merugikan dirimu sendiri ?" bentak Sandra dan air matanya masih setia membasahi pipinya.
"Aku memang salah, maafkan Aku ibu" ucap Anin meneteskan air matanya.
"Anin siapa pria itu? dia membuatmu hamil dan dia harus bertanggung jawab" ucap Rara
"Ini semua bukan kesalahanya, dan aku tidak ingin menganggu kehidupannya. Lagi pula aku akan mengurus anak ini sendiri, ibu." ucan Anin sesegukan.
"Kamu ingin mengurusnya sendirian? kamu mau mengurus nya seperti apa? kamu dalam masalah seperti ini tapi masih membela dan melindunginya ?" tanya sandra dan menunjuk-nunjuk Anin dengan tongkat sapu.
"Kenapa kamu begitu mudah ditindas? bisakah sekali saja kamu seperti ibu? belajar untuk melindungi diri sendiri." tanya Sandra
"katakan siapa pria itu !" bentak Sandra
Anin diam saja karena tidak tahu harus mengatakan apa pada ibunya, hanya menangislah yang bisa ia lakukan saat ini.
"Kenapa kamu tidak menjawab ibu?" bentak Sandra dan melayangkan gagang sapu ke tubuh Anin.
"Akh....." rintihan Anin kesakitan
"Katakan !" Sandra lagi-lagi melayangkan pukulan ke tubuh Anin.
"Jangan memukulnya lagi!" ucap Rara mencoba menahan gagang sapu tersebut.
"minggirlah !" Sandra mendorong tubuh Rara hingga membuat Rara kehilangan keseimbangan, untung saja Jefri dengan sigap menagkap tubuh istrinya, jika tidak entah apa yang akan terjadi pada bayi yang ada didalam kandungannya yang sudah berumur tujuh bulan.
"Katakan!" Sandra lagi-lag melayangkan pukulan ketubuh anin karena sudah sangat emosi.
Sebelum gagang sapu tersebut mendarat di tubuh Anin, seseorang menahan tongkat tersebut.
Sandra menatap tajam pada seseorang yang berdiri dihadapannya, karena ia paling tidak suka jika ada orang lain yang mencampuri urusan keluarganya. Begitu juga Anin, Rara dan juga jefri.
TBC
Jangan lupa meninggalkan Jejak agar Author makin semnagat up nya